GoodNovel

Téléchargez gratuitement le livre sur l'APP

Télécharger
Rechercher
Bibliothèque
Feuilleter
Romance法语HistoireUrbanLoup-garouMafiaSystèmeFantaisieLGBTQ+arnoldMM Romancegenre22- 法语genre26-FrançaisFrançaisgenre27-请勿使用FrançaisFrançaisgenre28-FrançaisFrançais
Histoire Courte
CielMystère et suspenseVille moderneSurvie à la fin du mondeFilm d'actionFilm de science-fictionFilm romantiqueViolence sanglanteRomanceCampusMystèreImaginationRenaissanceAmour réalisteLoup-garouespoirrêvebonheurPaixAmitiéIntelligentHeureuxViolentDouxPuissant红安Massacre sanglantMeurtreGuerre historiqueAventure fantastiqueScience-fictionGare
CréerAvantage écrivainConcours

Tous les chapitres de You Are My Reason (INDONESIA) : Chapitre 1 - Chapitre 10

Accueil /  All /  You Are My Reason (INDONESIA) /  Chapitre 1 - Chapitre 10
33 Chapitres

01. PROLOG

Mau test ombak dulu di aplikasi baru.Untuk semua pembaca, jangan lupa kasih rating buat cerita You are My Reason ya, terus kasih komen yang banyak juga.Btw, happy reading, guys! ***** “Mahanta Arian, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Siera Alivia, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan sebuah kalung emas seberat tiga gram, dibayar tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Siera Alivia binti Denis Yudhana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” “Sah?” “Sah!” “Alhamdulillah.” Mahanta benar-benar merasa lega begitu ia berhasil mengucapkan ijab kabulnya dengan satu tarikan napas dan suara lantang. Lebih lega lagi saat semua orang mengucapkan kata ‘sah’ dan ‘alhamdulillah’ yang terdengar sangat indah di telinganya. B
Read More

02. Subuh Pertama

“Bu, katanya anak Pak Denis baru datang dari Jakarta ya?” Mahanta yang baru saja pulang ke kampung tadi sore, setelah ikut bekerja di bengkel milik saudara mendiang ayahnya selama libur sekolah, langsung mendapatkan gosip terhangat dari Jimmy yang menghadang jalannya sebelum ia sampai di rumah. Malika yang mendengar pertanyaan kakaknya, langsung mendekat sambil menganggukkan kepala. “Iya, Bang. Cantik banget lho orangnya. Tapi sayang, aku belom sempet kenalan langsung sama dia.” "Kenapa?" tanya Mahanta dengan nada heran. Karena rumah Denis sekeluarga berada tepat di sebelah rumah mereka. "Soalnya dilarang sama Indira. Katanya, kakaknya itu masih butuh penyesuaian." "Bukan karena kakak tirinya Indira itu sombong ya?" Hilda yang sedang melipat pakaian, langsung menceletuk dari tempatnya tanpa menolehkan kepala. "Kok Ibu ngomongnya begitu
Read More

03. Rasa Cinta

Hilda langsung menoleh ke arah Mahanta saat putranya itu masuk ke dalam ruang ibadah yang ada di dalam rumah mereka. “Kamu ...," Hilda menaikkan sebelah alisnya sembari mengamati Mahanta dengan sedikit berlebihan. Membuat Mahanta, dan juga Malika kompak menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. " ... Enggak mandi wajib, Ta?" Wajah Mahanta kontan memerah begitu mendengar pertanyaan ibunya, kemudian mengusap tengkuknya dengan salah tingkah. Lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Sedangkan Malika sudah berbatuk-batuk dengan cukup keras sembari memegangi dadanya, kemudian tertawa pelan. "Kalian berdua ini kenapa?" Hilda memutar bola matanya. "Kan Ibu cuma nanya. Siapa tahu kamu lupa, Ta." Mahanta hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan ibunya. "Udah deh, Bu. Abang enggak mungkin seceroboh itu," sahut Malika dengan sisa tawa kecil di bibirnya. Ia lantas menatap pu
Read More

04. Terpana

Hilda menuangkan teh buatan Siera ke dalam cangkir, dan langsung memberikannya kepada Mahanta yang baru saja pulang dari pasar bersama Malika. Karena laki-laki itulah yang mengantarkan adiknya ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur mereka. Sedangkan Siera yang sedang memakan nasi gorengnya, langsung menatap hal itu dengan pandangan curiga. Karena ia sempat melihat Hilda yang tersenyum licik ke arahnya sebelum menyerahkan teh kepada Mahanta. Sebenarnya Hilda tahu jika Mahanta lebih menyukai teh celup ketimbang teh serbuk. Tapi ia lupa mengatakannya kepada Siera, dan tidak menyangka jika wanita modern seperti menantunya itu akan lebih memilih menggunakan teh serbuk dari pada teh celup. Sehingga ia berharap kalau Mahanta tidak tertarik untuk meminum teh itu. Karena ia ingin melihat bagaimana reaksi perempuan yang beberapa menit lalu mengatakan jika dia mau menikah dengan Mahanta hanya karena uangnya saja. 
Read More

05. Percaya

Setelah menunaikan ibadah salat subuh berjamaah di masjid desa, Mahanta langsung masuk ke dalam kamarnya dan mulai berganti pakaian. Ia melihat Siera yang sedang tertidur di atas ranjang, kemudian mengelus rambutnya dengan gerakan pelan sebelum keluar dari kamar. Karena hanya hal sederhana itulah yang bisa ia lakukan. "Sieranya mana, Ta?" tanya Hilda begitu Mahanta muncul di dapur rumah mereka dengan pakaian yang biasa dipakainya untuk bekerja.  "Ada. Masih di kamar, Bu." Mahanta menarik salah satu kursi makan, dan duduk di sana. "Kenapa? Ibu ada perlu sama Siera?" "Ibu enggak ada keperluan apa-apa sama dia! Tapi ...," Hilda menghela napas kasar, mencoba untuk tetap berbicara dengan nada sabar. " ... Ibu udah bilang kan kalau kamu udah mulai masuk kerja, dia enggak boleh leha-leha. Dan seharusnya dia yang ngurusin semua keperluan kamu sekarang, bukannya Ibu, Ta." "Jadi, Ibu udah enggak mau nguru
Read More

06. Hal Kecil - Flashback

Asing. Itulah perasaan yang Siera rasakan ketika berada di tengah-tengah meja makan sederhana bersama keluarga baru ayahnya. Ia hanya menjadi pengamat, dan mengamati setiap gerak-gerik semua orang yang ada di sana. Pada Ira yang menghidangkan beberapa jenis makanan di atas meja, pada Indira yang sedang menyusun piring dan gelas, serta pada Mika yang sibuk memainkan sendok di tangannya. Pemandangan seperti itu tidak pernah ada di rumah ibu kandungnya, karena ia lebih sering makan sendirian kalau Nenek Anisa yang sudah sakit-sakitan tidak bisa menemaninya. Dan orang yang menghidangkan makanan di atas meja pun adalah asisten rumah tangga yang sengaja dipekerjakan oleh ibunya. "Kalian tunggu sebentar, Ibu mau manggil Bapak sama Genta dulu di depan. Habis itu kita makan." Ira langsung pe
Read More

07. Hal Kecil - Flashback (2)

Ada kemarahan yang terpancar di kedua bola mata Ira begitu melihat Siera keluar dari kamar saat jam makan malam telah tiba. "Mas, lebih baik kamu bawa anak kamu makan di luar. Karena aku enggak sudi kalau masakanku dimakan sama dia." Siera yang sedang memegang centong nasi di tangan kanannya, langsung melemparkan tatapan bertanya kepada semua orang yang duduk mengelilingi meja. Dan ia baru menyadari jika Mika tidak ada di sana.  Denis lantas berdehem pelan. "Ra, kita makan di luar aja ya? Kamu suka kan makan sate ayamnya Pak Komang?" Siera langsung menganggukkan kepalanya, karena sate ayamnya Pak Komang memang juara.
Read More

08. Villa Erina

Siera mengedarkan kepalanya ke segala penjuru ruangan, dan ia tidak menemukan Jimmy di mana-mana. Entah di mana laki-laki itu sekarang, yang jelas ia sedang merasa kehausan dan ingin segera pulang. Karena hari sudah mulai malam.  "Hai, Ra. Dateng sama siapa?" Erik langsung duduk begitu saja di samping Siera yang sedang duduk sendirian di salah satu kursi kosong yang tersedia. "Mahanta ya?" tebaknya yang membuat Siera menggelengkan kepala. Lalu Erik melemparkan pandangan bertanya-tanya yang penuh dengan kepalsuan. Karena sejujurnya, ia sudah tahu jika Mahanta tidak ada di sana.  "Jimmy." "Oh ...." Erik mengangguk mengerti. Kemudian ia memberi isyarat kepada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua agar segera mendekat. Sementara Siera sedang sibuk dengan ponselnya, karena Mahanta mengirimkan banyak sekali pesan di waktu yang hampir bersamaan. Hingga membuatnya sedikit kewalahan
Read More

09. Kedinginan

Begitu motor yang dikendarai oleh Genta sudah berhenti tepat di depan rumah sang ayah, Siera langsung turun dari kendaraan adik tirinya, dan menerobos masuk ke dalam rumah. Ia lantas membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang setelah menaruh helm yang tadi dipakainya ke atas meja. Lalu ucapan Dokter di Puskesmas tadi kembali terngiang-ngiang di telinganya.  "Selamat ya, Bu. Anda sedang hamil, dan usianya baru lima minggu."  Siera mulai menutup kedua matanya, disusul dengan kedua telapak tangan yang menutupi area wajah. Kemudian ucapan dokter itu kembali mengganggu indra pendengarannya.  "Janinnya sehat, tapi Ibu tetep enggak boleh stress dan terlalu kecapekan. Karena janin di trisemester pertama itu biasanya masih rawan." Siera tidak sudi disentuh oleh Mahanta saat awal-awal menikah, tapi sekarang ia malah hamil anaknya Mahanta, d
Read More

10. Berbalik Arah

Mahanta menyodorkan pil anti mual ke hadapan Siera saat mereka berdua sudah kembali berada di dalam kamar, tapi perempuan itu tidak mengambilkannya. Karena yang dia lakukan adalah membuka mulutnya, yang membuat Mahanta tersenyum seketika, dan ia mulai menaruh pil itu ke dalam mulutnya Siera. Siera langsung meneguk air minum di tangan kanannya, hingga tandas— tak tersisa. Lalu ia memberikan gelas kosong itu kepada Mahanta.  Setelah itu Siera membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil memakai selimut tebal, tapi ia tetap merasa kedinginan dan membuatnya terus bergerak tak nyaman.  "Biar aku peluk ya?" Mahanta ikut masuk ke dalam selimut, dan langsung memeluk Siera tanpa mendengar persetujuan darinya, yang membuat perempuan itu membeku seketika. Karena rasa hangat dan nyaman yang mulai menjalar di sepanjang punggungnya.  Sebenarnya Mahanta sering memeluk Siera sec
Read More
Page précédente
Page suivante
Télécharger le livre
Genres populaires
Romance法语HistoireUrbanLoup-garouMafiaSystème
Contactez-nous
à propos de nousHelp & SuggestionCoopération
Resources
Télécharger AppsAvantage écrivainPolitique de contenuKeywordsRecherches populairesLes critiques de livresFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Communauté
Facebook Group
Suivez-nous
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Mode d'emploi|Politique de confidentialité