loading
Home/ All /You Are My Reason (INDONESIA)/05. Percaya

05. Percaya

Author: ruangbicara
"publish date: " 2020-08-14 11:44:41

Setelah menunaikan ibadah salat subuh berjamaah di masjid desa, Mahanta langsung masuk ke dalam kamarnya dan mulai berganti pakaian. Ia melihat Siera yang sedang tertidur di atas ranjang, kemudian mengelus rambutnya dengan gerakan pelan sebelum keluar dari kamar. Karena hanya hal sederhana itulah yang bisa ia lakukan.

"Sieranya mana, Ta?" tanya Hilda begitu Mahanta muncul di dapur rumah mereka dengan pakaian yang biasa dipakainya untuk bekerja. 

"Ada. Masih di kamar, Bu." Mahanta menarik salah satu kursi makan, dan duduk di sana. "Kenapa? Ibu ada perlu sama Siera?"

"Ibu enggak ada keperluan apa-apa sama dia! Tapi ...," Hilda menghela napas kasar, mencoba untuk tetap berbicara dengan nada sabar. " ... Ibu udah bilang kan kalau kamu udah mulai masuk kerja, dia enggak boleh leha-leha. Dan seharusnya dia yang ngurusin semua keperluan kamu sekarang, bukannya Ibu, Ta."

"Jadi, Ibu udah enggak mau ngurusin aku lagi?"

"Bukan begitu, Mahanta~" Hilda menyodorkan secangkir teh hangat ke hadapan Mahanta, dan ikut duduk di sana.

"Kamu kan udah nikah, seharusnya istri kamu yang ngurusin ini semua." Hilda menunjuk semua menu makanan yang sudah terhidang di atas meja. "Kalau istri kamu enggak ngurusin apa-apa, terus buat apa kalian berdua menikah?"

Mahanta hanya diam saja.

"Ibu heran, sebenarnya apa sih yang kamu lihat dari Siera? Wajah cantiknya?"

"...."

"Ta, cantik aja enggak akan cukup untuk membangun sebuah rumah tangga." Hilda bergegas dari atas kursi yang didudukinya, lalu mengambil kain lap, dan mulai membersihkan meja kompor yang sempat terkena tetesan minyak serta tetesan lainnya. "Sebenarnya Ibu mau kamu menikah dengan orang yang sayang sama kamu, mau ngurusin kamu, dan pengertian sama kamu."

"Bu ...." Mahanta mulai mendekati ibunya. "Definisi pernikahan setiap orang itu berbeda-beda, dan aku menikahi Siera bukan karena wajah cantiknya aja."

"Terus?!"

Mahanta hanya tersenyum simpul tanpa mengatakan apa pun.

"Ta." Hilda segera menahan sebelah tangan Mahanta saat laki-laki itu akan berlalu dari sana. "Kasih tahu Ibu kenapa kamu menikahi Siera?"

"Karena aku cinta sama dia."

Wajah Hilda langsung tertekuk masam. "Ya, sampe-sampe kamu buta dan selalu menutup mata tentang segala keburukan yang ada di dirinya Siera."

Kepala Mahanta langsung menggeleng pelan, tampak kurang setuju dengan ucapan ibunya barusan.

"Atau mungkin ... aku-lah yang terlalu pandai untuk melihat segala kebaikan yang ada pada dirinya."

Dan Hilda tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menertawakan Mahanta yang baru saja berbicara tentang kebaikan Siera. Karena ia merasa jika putra sulungnya itu sudah benar-benar dibutakan oleh cinta.

***

Siera baru bangun tidur sekitar jam delapan pagi, dan ia langsung bergegas untuk membersihkan diri. Setelah itu pergi tanpa pamit. Ia tidak peduli dimana keberadaan Mahanta, Hilda, ataupun Malika. Karena ia sudah punya janji untuk pergi dengan Jimmy. Bahkan laki-laki itu sudah meneleponnya lagi tadi pagi, hanya untuk memastikan bahwa mereka berdua jadi pergi hari ini.

"Mahantanya mana?" tanya Jimmy begitu melihat Siera sudah keluar dari pintu rumah dengan rambutnya yang masih sedikit basah sambil menenteng tas tangan berwarna merah.

"Udah pergi kerja kali," jawab Siera dengan nada cuek yang membuat Jimmy terkekeh. 

"Jadi, enggak apa-apa nih kalau aku ngajak kamu pergi hari ini?"

Siera tidak menjawab. Ia lantas naik ke atas motornya Jimmy sambil berpegangan pada bahu laki-laki itu agar mereka berdua bisa segera pergi dari sana.

Namun, keduanya tidak menyadari bahwa Hilda melihat interaksi mereka berdua dari dalam jendela kaca rumah yang hanya ditutupi oleh gorden tipis yang transparan. Bahkan Indira yang sedang menyapu di teras rumah sebelah pun, ikut melihat pemandangan yang sama. Tapi Indira hanya diam saja. Karena ia tahu jika Siera dan Jimmy memang sudah berhubungan sejak lama. Hanya saja ... Mahanta memilih untuk menutup mata dan tetap nekat menikahi Siera atas dasar ... cinta sepihak yang selama ini dimilikinya.

***

Mahanta adalah tangan kanannya Pak Rahmat yang dipercaya untuk mengurus semua perkebunan buah dan sayur yang dimilikinya. Bahkan Pak Rahmat juga lebih memercayai Mahanta ketimbang anak semata wayangnya, karena Mahanta adalah putra sulungnya Wira. Dan Wira-lah yang sedari dulu membantunya mengembangkan semua usaha perkebunan yang dimilikinya. Hingga ia sudah menganggap Mahanta dan Malika seperti anak kandungnya sendiri, sama seperti Jimmy.

"Mahanta." Pak Rahmat menegur Mahanta yang sedang sibuk menulis sesuatu di atas sebuah kertas.

Kepala Mahanta langsung mendongak, dan menemukan Pak Rahmat yang sedang berdiri di hadapannya. "Ya, Pak?"

Pak Rahmat berdehem pelan sebelum melanjutkan, “Kamu tahu kan kalau Jimmy ... Siera ... Mereka berdua ...."

Mahanta hanya membalasnya dengan sebuah senyuman, yang membuat Pak Rahmat semakin merasa tidak enak. 

"Iya, saya tahu, Pak." 

"Lalu ...," Suara Pak Rahmat terdengar ragu. " ... Kamu akan diam saja saat melihat mereka berdua pergi bersama?"

Senyum di bibir Mahanta belum juga sirna. "Maksud saya, saya tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka dan saya percaya pada Jimmy—anak Bapak."

"Tapi saya sendiri tidak pernah mempercayai Jimmy, Mahanta."

Kali ini Mahanta memilih untuk tidak memberikan komentar apa-apa lagi. Karena semua orang di desa ini pun sudah tahu akan hal itu. 

***

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

You Are My Reason (INDONESIA)   33. Sakit

33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku

You Are My Reason (INDONESIA)   32. Di Jakarta

32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a

You Are My Reason (INDONESIA)   31. Pertanyaan Aneh

31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”

You Are My Reason (INDONESIA)   30. Rumah Baru (2)

30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat

You Are My Reason (INDONESIA)   29. Pulang (2)

29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah

You Are My Reason (INDONESIA)   28. Konferensi Pers

28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung

You Are My Reason (INDONESIA)   19. Hari Pernikahan - Flashback

"Rencana apa lagi yang sedang kamu jalankan, Nak?" Denis memandang Siera dengan penuh tanda tanya. Karena ia masih ingat dengan jelas kalau putri sulungnya itu sempat menolak untuk menepati janjinya, dan tidak mau menikah dengan Mahanta. Tapi ia malah dikejutkan dengan ucap

You Are My Reason (INDONESIA)   18. Mengenai Janji - Flashback

Beberapa tahun kemudian, Mahanta sudah menyelesaikan pendidikannya dan sempat merintis usaha kecil-kecilan bersama dua orang temannya di Jakata. Hampir 3 tahun berselang, ia baru memutuskan untuk kembali menetap di desa bersama kedua anggota keluarganya yang masih tersisa. Karena ada satu alasan

You Are My Reason (INDONESIA)   17. Menghindar - Flashback

Setelah kejadian kurang mengenakkan yang dialaminya di rumah Soraya, perlahan-lahan Siera mulai menyadari segala kebaikan yang telah dilakukan oleh Ira dan ketiga anaknya. Ia tidak bisa menyangkal itu semua, karena semua orang yang ada di sana benar-benar m

You Are My Reason (INDONESIA)   16. Keinginan Hilda

Mencuci pakaian adalah salah satu kegiatan yang paling menjengkelkan bagi Siera setelah ia benar-benar pindah ke rumahnya Hilda. Karena setiap kali ia ingin mencuci pakaian kotor miliknya, Hilda tidak pernah mengizinkannya untuk memakai mesin cuci yang ada di sana dengan alasan kalau ia masih mud

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy