loading
Home/ All /You Are My Reason (INDONESIA)/08. Villa Erina

08. Villa Erina

Author: ruangbicara
"publish date: " 2020-08-15 17:52:41

Siera mengedarkan kepalanya ke segala penjuru ruangan, dan ia tidak menemukan Jimmy di mana-mana. Entah di mana laki-laki itu sekarang, yang jelas ia sedang merasa kehausan dan ingin segera pulang. Karena hari sudah mulai malam. 

"Hai, Ra. Dateng sama siapa?" Erik langsung duduk begitu saja di samping Siera yang sedang duduk sendirian di salah satu kursi kosong yang tersedia. "Mahanta ya?" tebaknya yang membuat Siera menggelengkan kepala.

Lalu Erik melemparkan pandangan bertanya-tanya yang penuh dengan kepalsuan. Karena sejujurnya, ia sudah tahu jika Mahanta tidak ada di sana. 

"Jimmy."

"Oh ...." Erik mengangguk mengerti. Kemudian ia memberi isyarat kepada seseorang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua agar segera mendekat. Sementara Siera sedang sibuk dengan ponselnya, karena Mahanta mengirimkan banyak sekali pesan di waktu yang hampir bersamaan. Hingga membuatnya sedikit kewalahan.

"Eh iya, Ra. Nih minum dulu. Kamu pasti haus," kata Erik setelah menerima segelas minuman dari seseorang yang kini sudah menjauh dari meja mereka.

"No, thanks." Siera menjawab tanpa mengalihkan tatapan matanya dari layar ponsel yang sedang menyala. Meski ia malas membalas pesan dari Mahanta, ia tetap memiliki keinginan untuk membacanya.

"Minum dulu, Ra." Erik menyodorkan bibir gelasnya ke depan mulut Siera, yang membuat perempuan itu langsung memundurkan kepalanya, dan menatap Erik dengan pandangan tidak suka. 

"Kok lo maksa?" tanya Siera dengan dahi yang berkerut-kerut samar, karena ia merasa tidak terima dengan perlakuan Erik barusan. Meski ia dan Erik masih tinggal di Kampung yang sama, tapi ia tidak akan percaya begitu saja. Karena Jimmy sudah berpesan padanya agar tidak menerima minuman dari siapa-siapa. Bahaya, katanya.

Lagi pula, untuk apa mereka berdua mampir dulu ke villa-nya Erina? Karena acara ulang tahun perempuan itu terlalu berani dan cukup berbahaya, banyak lelaki dan perempuan yang bermesraan di mana-mana. Hingga membuat Siera merasa jijik dan kurang nyaman. 

"Udahlah. Minum aja, Ra. Gak usah nolak." Salah satu orang mendekat, dan ikut bergabung di meja mereka.

Siera hanya mengerutkan dahinya, karena ia merasa jika mereka berdua tidak saling mengenal. Tapi orang itu mengetahui namanya. 

Seorang perempuan asing menyusul tak lama kemudian, membuat Erik menaruh gelasnya ke atas meja. Lalu tanpa aba-aba, Erik dan laki-laki tadi mulai memegangi kedua tangan Siera. Hingga perempuan itu berteriak marah. 

Namun perempuan asing yang baru saja datang, langsung mengambil alih minuman yang tadi sempat disodorkan Erik ke Siera dan memaksa perempuan itu agar mau meneguknya saat itu juga. 

***

"Sial. Sial. Sial." Jimmy mengusap wajahnya dengan kasar. Seharusnya ia sudah merasa curiga kepada Erina yang sempat jual mahal saat didekati olehnya, tapi tiba-tiba saja mau mengundangnya ke acara ulang tahun perempuan itu asalkan ia bisa membawa Siera ikut serta.

Karena tidak tahu harus berbuat apa, dan Siera masih terjebak di dalam sana, Jimmy langsung teringat pada Mahanta. Sehingga ia langsung menghubungi nomor ponsel sahabatnya. 

"Ya, Jim? Ada apa?" tanya Mahanta dari seberang sana. "Siera baik-baik aja, ‘kan?" 

"Ta!" Jimmy menghela napas kasar, dan mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. "Ke villa-nya Erina sekarang juga! Mereka mau ngejebak Siera. Cepetan!" 

Dengan tangan bergetar, Jimmy segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Ia menyesal telah berteman dengan Erik, dan mengenal Erina. Memang lebih baik ia berteman dengan Mahanta saja, meski laki-laki itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya setelah mereka lulus kuliah. 

Selama menunggu kedatangan Mahanta, yang bisa Jimmy lakukan hanya mondar-mandir di depan villa-nya Erina. Karena beberapa dedengkotnya Erina sudah mendepaknya dari dalam sana. 

Bosan mondar-mandir di sana, Jimmy malah berjongkok sambil menarik-narik rambutnya. Namun Mahanta belum datang juga. Sehingga ia nekat menggedor-gedor pintu villa, meski ia tahu kalau hal itu hanya akan berakhir sia-sia. Karena musik di dalam sana terasa memekakkan telinga, dan tidak ada orang yang akan mendengar gedoran pintu darinya. Lalu ia mendobrak pintunya, tapi tetap saja, percuma. Karena pintu ganda itu tetap berdiri kokoh di hadapannya. 

Sementara di dalam villa, Siera sudah merasakan efek dasyat dari minuman yang diberikan kepadanya secara paksa. Ia merasa jika tubuhnya mulai memanas, dan kesadarannya pun sudah hampir di ambang batas. 

"Sialan kalian!" Makinya kepada semua orang yang mengelilingi tempatnya. Kepalanya terasa berat, dan tubuhnya dibanjiri keringat. Ia sedang merasa kegerahan, sampai rasanya ingin menangis saja. Karena rasa panas itu mulai menjalar ke mana-mana, dan rasanya begitu menyiksa. 

"Sumpah! Aku udah enggak tahan." Erik segera menarik salah satu pergelangan tangan Siera, tapi perempuan itu masih bisa menepis tangannya. Padahal dia sudah terlihat tak berdaya. 

"Jangan pegang-pegang!" Lalu Siera mengusap wajahnya dengan kasar, karena sekujur tubuhnya benar-benar terasa terbakar. 

"Bro, mending batalin aja. Kasian. Mana dia udah nikah." 

Namun Erik mengabaikannya, dan tetap menarik paksa sebelah tangan Siera. 

"Justru karena dia udah nikah, jadi bekasnya enggak akan kentara." 

Erina menghampiri mereka semua, dan segera menyusul Erik yang sudah masuk ke dalam salah satu kamar bersama Siera yang masih bisa meronta-ronta lemah di dalam pelukannya. 

"Batalin aja, Rik! Perasaanku enggak enak!" 

Namun Erik tetap pada pendiriannya, dan mulai melancarkan aksinya yang membuat Siera langsung terkesiap. 

Erina memutuskan untuk meminta bantuan, karena Erik mengabaikan ucapannya barusan. Tapi semua orang yang ada di dalam villa pasti akan menolak jika disuruh untuk menghentikan obsesi Erik kepada Siera. Sehingga ia teringat pada Jimmy yang sempat diusir keluar oleh beberapa dedengkotnya. Ia yakin kalau Jimmy masih berada di sana, dan tidak mungkin meninggalkan Siera begitu saja. 

***

Dan kedatangan Mahanta belum juga membuat Jimmy bisa bernapas lega. Karena mereka berdua tidak bisa masuk ke dalam villa dengan mudah. 

Untung saja pintu ganda di hadapan mereka langsung terbuka secara tiba-tiba sebelum salah satu dari mereka melakukan hal gila agar bisa masuk ke dalam sana. 

"Di mana Siera?!" Todong Mahanta pada Erina yang baru saja membuka pintu villa. 

"Ada di dalam kamar," sahut Erina dengan sedikit ketakutan. Sedangkan Jimmy langsung mengumpat keras di depan wajah Erina. 

Mahanta lansung menerobos masuk ke dalam, dan di belakangnya ada Erina yang bersedia untuk menunjukkan jalan. 

Karena pintu kamar yang tidak tertutup dengan sempurna, jadi Mahanta bisa masuk ke dalam sana dengan sangat mudah. Sehingga ia langsung mendorong tubuh Erik, dan membuat laki-laki itu terguling. Lalu memberinya pukulan sampai berkali-kali. 

Sedangkan Jimmy langsung bergerak untuk menyelimuti tubuh Siera yang tampak tak berdaya. Kemudian tatapan matanya beralih kepada Mahanta yang berubah seperti orang kesetanan, hingga membuat Erik kewalahan dan tidak bisa memberikan perlawanan.

***

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

You Are My Reason (INDONESIA)   33. Sakit

33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku

You Are My Reason (INDONESIA)   32. Di Jakarta

32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a

You Are My Reason (INDONESIA)   31. Pertanyaan Aneh

31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”

You Are My Reason (INDONESIA)   30. Rumah Baru (2)

30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat

You Are My Reason (INDONESIA)   29. Pulang (2)

29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah

You Are My Reason (INDONESIA)   28. Konferensi Pers

28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung

You Are My Reason (INDONESIA)   22. Opini Hilda

Saat ini, nama Soraya Amanda memang sedang menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Apa lagi setelah suaminya yang bernama Ricard mengajukan pembatalan pernikahan secara tiba-tiba, padahal berita pernikahan mereka berdua masih senter dibicarakan oleh media. Karena pernikahan itu baru saja berlang

You Are My Reason (INDONESIA)   21. Pusing

"Jadi ...," Mahanta berdehem sebentar. " ... Gimana sama rumahnya? Kamu suka?" Namun Siera malah mengabaikan pertanyaannya Mahanta barusan, dan balik melemparkan pertanyaan kepada suaminya. "Buat apa kamu bangun rumah seluas ini untuk dihuni sama dua orang aja?"

You Are My Reason (INDONESIA)   20. Rumah Baru

“Hari jumat kemarin adalah momen paling membahagiakan bagi model sekaligus pemain film, Soraya Amanda. Pasalnya wanita single berusia 44 tahun itu baru saja mengakhiri masa lajangnya. Ia dipersunting oleh seorang duda tampan yang—” Siera yang

You Are My Reason (INDONESIA)   19. Hari Pernikahan - Flashback

"Rencana apa lagi yang sedang kamu jalankan, Nak?" Denis memandang Siera dengan penuh tanda tanya. Karena ia masih ingat dengan jelas kalau putri sulungnya itu sempat menolak untuk menepati janjinya, dan tidak mau menikah dengan Mahanta. Tapi ia malah dikejutkan dengan ucap

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy