Descarga el libro gratis
03. Rasa Cinta
Autor: ruangbicaraHilda langsung menoleh ke arah Mahanta saat putranya itu masuk ke dalam ruang ibadah yang ada di dalam rumah mereka.
“Kamu ...," Hilda menaikkan sebelah alisnya sembari mengamati Mahanta dengan sedikit berlebihan. Membuat Mahanta, dan juga Malika kompak menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. " ... Enggak mandi wajib, Ta?"
Wajah Mahanta kontan memerah begitu mendengar pertanyaan ibunya, kemudian mengusap tengkuknya dengan salah tingkah. Lalu memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Sedangkan Malika sudah berbatuk-batuk dengan cukup keras sembari memegangi dadanya, kemudian tertawa pelan.
"Kalian berdua ini kenapa?" Hilda memutar bola matanya. "Kan Ibu cuma nanya. Siapa tahu kamu lupa, Ta."
Mahanta hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan ibunya.
"Udah deh, Bu. Abang enggak mungkin seceroboh itu," sahut Malika dengan sisa tawa kecil di bibirnya. Ia lantas menatap punggung kakaknya yang sedang menggelar sajadah di depan sana. Terlihat sekali jika laki-laki itu sedang menghindari pertanyaan ibu mereka. "Oh iya, Bang. Kak Sieranya mana?"
Mahanta tidak langsung menjawab.
"Palingan masih tidur dia," gumam Hilda yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Mahanta dan juga Malika. "Kita mulai sekarang aja, Ta. Keburu habis nanti waktunya."
"Tunggu sebentar, Bu.”
Hilda hanya menghembuskan napas panjang, dan tetap duduk di atas sajadahnya. Sedangkan Malika hanya duduk tenang tanpa mengatakan apa-apa.
Mereka semua menunggu kedatangan Siera dalam keheningan, bahkan sampai beberapa saat ke depan.
Lalu Mahanta mulai menatap jam dinding yang ada di sana. Selanjutnya ia menoleh ke arah pintu ruang ibadah yang sengaja tidak ditutup olehnya. Karena ia yakin, jika Siera pasti akan menyusul mereka. Tapi sedetik kemudian, ia hanya mampu menghela napas pelan, dan kembali berbalik ke arah kiblat. Perempuan yang ditunggunya belum juga menampakkan wajah.
"Mulai sekarang, Ta. Enggak usah nunggu Siera." Suara Hilda kembali terdengar. Wanita paruh baya itu menatap Malika yang duduk diam di sampingnya. "Tutup pintunya, Ka."
Tanpa membantah ucapan ibunya, Malika bangkit dan langsung menutup pintu ruang ibadah.
Mahanta kembali menghela napas panjang sebelum berdiri dan membenarkan sarungnya.
Lalu suara grasak-grusuk di depan sana menarik perhatian mereka semua, hingga ketiga orang yang sudah berdiri untuk melaksanakan salat subuh itu menoleh ke belakang. Kemudian pintu terbuka, dan Siera muncul di sana lengkap dengan mukenah putih berenda yang sudah dipakainya.
Siera mengernyit sekilas. "Sori lama. Harus ngambil mukenah dulu di sebelah," ujarnya dengan nada datar.
"Alasan," desis Hilda yang suaranya masih bisa ditangkap dengan baik oleh telinga Siera.
Namun wanita muda itu membiarkannya saja. Karena ia tidak peduli dengan perkataan Hilda tentang dirinya. Lagi pula ia memang benar-benar datang ke rumah sebelah untuk mengambil peralatan salatnya yang ada di sana. Lantaran semalam ia datang ke rumah Mahanta hanya membawa serta telepon genggam dan baju tidur yang dipakainya. Sehingga ia harus bergegas ke rumah sebelah dengan mata yang belum terbuka sempurna. Untung saja saat ia sampai di teras rumah ayahnya, pintu rumah itu sudah terbuka, menampilkan Genta yang sudah siap pergi ke masjid desa. Dan sepertinya laki-laki itu bangun agak telat, karena biasanya dia pergi ke masjid bersama ayah mereka. Sedangkan Siera sudah tidak melihat keberadaan ayahnya di rumah.
Ira hanya terbengong-bengong begitu melihat Siera masuk ke dalam rumah dengan keadaan rambut yang agak acak-acakan, dan langsung menerobos ke dalam kamarnya untuk mengambil perlengkapan salat yang ia butuhkan. Lalu menyempatkan diri untuk mengambil air wudhu di sana sebelum kembali ke rumah Mahanta.
Setelah menutup pintu ruang ibadah secara asal-asalan, Siera langsung menggelar sajadah miliknya tepat di samping Malika yang melemparkan senyum ke arahnya. Sedangkan Mahanta yang sudah kembali menoleh ke arah kiblat, tidak bisa menahan senyum di bibirnya dengan hati yang berbunga-bunga. Mungkin kalau tadi ia tidak menunggu Siera—seperti perintah ibunya, pagi ini pasti akan dilaluinya dengan sebuah penyesalan. Karena istrinya itu tetap menunaikan ibadah salat meskipun agak susah dibangunkan.
Hilda yang sempat menangkap gelagat aneh dari putranya, langsung menampilkan raut wajah masam. Karena ia tahu, kalau Siera tidak perlu melakukan hal yang luar biasa agar bisa dicintai oleh Mahanta. Tapi sebaliknya, Mahanta-lah yang harus berusaha keras agar wanita itu mau membalas rasa cintanya.
Setelah menyelesaikan salat subuh dua rakaat secara berjemaah bersama keluarga barunya, sekaligus mencium punggung tangan Mahanta dengan rasa kesal yang berkumpul di dalam dada, Siera langsung masuk ke dalam kamarnya Mahanta yang sekarang sudah resmi menjadi kamarnya juga. Ia ingin kembali menyelami alam mimpi, agar durasi tidur malamnya tetap tercukupi.
***
Hilda yang sedang menggoreng pisang di atas wajan, melirik sekilas kepada Siera yang baru saja masuk ke dalam dapurnya. "Baru bangun?"
"Hmm." Siera lantas duduk di salah satu kursi makan sembari meminum air yang baru saja ia tuangkan ke dalam gelas.
"Enggak nyariin Mahanta?"
"Buat apa? Dia kan udah dewasa," sahut Siera dengan nada santai.
Hilda kontan mendelik ke arah Siera, tapi wanita itu terlihat sibuk dengan ponsel di tangannya.
"Kalau suami enggak kelihatan tuh seharusnya dicari, atau minimal ditanyainlah kemana dia pergi. Ini malah enggak peduli." Hilda mulai mengoceh sembari membalik pisang goreng.
"...."
"Nanti, kalau suami kamu diambil orang, baru tahu rasa." Hilda kembali melirik ke arah Siera sebentar, lalu mencibir pelan saat melihat anak menantunya itu tidak memberikan reaksi apa-apa dan tetap menggulir layar ponsel di tangannya.
Tak lama kemudian, Hilda sudah menghidangkan sepiring besar pisang goreng ke atas meja. Begitu Siera mendekatkan tangannya ke sana, bermaksud untuk memilih pisang yang tidak terlalu panas, Hilda malah menepuk punggung tangannya. Sehingga ia langsung menampilkan raut wajah kesal ke arah ibu mertuanya.
"Bikin teh dulu sana. Buat Mahanta aja enggak apa-apa."
"Sejak kapan Mahanta doyan ngeteh, Mak?" tanya Siera dengan wajah menyebalkan.
Siera memang sudah memanggil Hilda dengan sebutan ‘Mak’ sejak ia sungkeman kepada ibu mertuanya di hari pernikahan.
"Kamu enggak tahu apa-apa soal dia."
Namun Siera malah mengabaikan ucapan Hilda, dan mengatakan hal yang tak terduga bagi ibu mertuanya. Sehingga wanita paruh baya itu langsung melotot tak percaya.
"Bukannya dia doyan nyusu ya?"
Siera mengucapkan kalimat barusan sambil berdiri dari atas kursi yang diduduki, dan meninggalkan benda pipih yang menarik perhatiannya sedari tadi.
Ia lantas menjerang air. Lalu mengambil beberapa cangkir.
Sedangkan Hilda yang melihat itu semua, benar-benar tidak menyangka kalau Siera akan membuatkan teh untuk Mahanta. Ia kontan duduk di atas kursi makan sembari memegangi pelipisnya. Mahanta pasti akan semakin menjadi-jadi begitu mengetahui hal ini.
Tiba-tiba saja Siera menaruh semua cangkir yang diambilnya tadi ke atas meja makan, di dekat pisang goreng buatan Hilda.
"Kenapa cangkirnya ditaruh di sini? Di meja kompor itu kan ada tempat kosongnya. Kalau kamu nuangin air panas di sini, kejauhan. Bisa-bisa kamu kepeleset, terus air panasnya tumpah dan kamu kenapa-napa. Nanti semua orang pasti akan menyalahkan Mahanta. Baru sehari kalian menikah, Mahanta udah enggak becus ngurus istrinya."
"Cerewet banget sih, Mak? Pantes aja Mahanta sama Malika udah enggak kelihatan di rumah. Mereka pasti enggak betah sama omelan emaknya."
Hilda hanya mendengkus samar, dan segera memalingkan wajahnya.
Siera hanya menatap Hilda dengan kening berkerutnya. Lagi pula, apa ibu mertuanya itu tidak bisa melihat teko kaca yang ada di samping meja kompor sana? Padahal ia sudah mengisi teko kaca itu dengan teh dan gula.
"Kenapa enggak bikin teh buat Mahanta aja?" tanya Hilda begitu Siera sudah menghidangkan teko berisi teh buatannya ke atas meja.
"Nanti dia kepedean." Siera kembali duduk di atas kursi yang tadi sempat ia duduki. "Emak tahu kan kalau aku enggak cinta sama dia?"
Sebenarnya bukan ini jawaban yang Hilda harapkan. Karena yang ia harapkan adalah jawaban semacam, "Karena sekarang kita semua adalah keluarga, enggak mungkin aku cuma buatin teh buat Mahanta aja."
Tapi ....
Sekali lagi, yang dinikahi oleh putranya adalah Siera. Dia tidak mungkin mengucapkan kalimat manis seperti yang baru saja ia pikirkan.
"Iya. Saya tahu," jawab Hilda dengan suara pelan.
Siera mengangguk samar, "Baguslah."
"Tapi kenapa kamu mau nikah sama Mahanta? Kamu kan enggak cinta sama dia."
Siera menyeringai, dan Hilda langsung menyesali pertanyaan yang baru saja ia lemparkan kepada anak menantunya.
"Karena Mahanta banyak duitnya. Siapa pun perempuan yang dia ajak menikah, pasti mau sama dia."
***
Compartir el libro a
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Último capítulo
You Are My Reason (INDONESIA) 33. Sakit
33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku
You Are My Reason (INDONESIA) 32. Di Jakarta
32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a
You Are My Reason (INDONESIA) 31. Pertanyaan Aneh
31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”
You Are My Reason (INDONESIA) 30. Rumah Baru (2)
30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat
You Are My Reason (INDONESIA) 29. Pulang (2)
29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah
You Are My Reason (INDONESIA) 28. Konferensi Pers
28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung
You Are My Reason (INDONESIA) 27. Kangen
27. Kangen Mahanta masih berbaring di atas ranjang sambil terus menatap bagian kosong di sampingnya. Ia baru saja mengirimkan pesan singkat kepada Siera agar tidak lupa menunaikan ibadah. Meski ia tahu kalau perempuan itu jarang sekali menyentuh handphone-nya saat masih pagi
You Are My Reason (INDONESIA) 26. Langsung Luluh
26. Langsung Luluh Sekitar jam setengah 1 dini hari, Siera baru menyadari kalau ada seseorang yang sedang memeluknya saat ini. Ia lantas menggerakkan tubuh, dan segera menyingkirkan tangan yang sedang melingkar di atas perutnya itu. Begitu menyadari
You Are My Reason (INDONESIA) 25. Malam Terakhir
25. Malam Terakhir Siera akan pergi malam ini juga. Ia sengaja menuruti perkataan Denis untuk pergi dari rumah saat langit sudah lumayan gelap, supaya orang-orang tidak mengetahui tentang kepergiannya ke rumah Nenek Imah. Karena tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan d
You Are My Reason (INDONESIA) 24. (Tidak) Mengizinkan
Setelah menghabiskan satu porsi nasi uduk buatan Ira dengan penuh rasa keterpaksaan, karena sudah kehilangan selera untuk menyantap sarapan, Siera buru-buru kembali ke rumah sebelah lantaran Denis menyuruhnya untuk segera memanggil Mahanta. Mumpung laki-laki itu belum pergi bekerja, katanya.
