Download the book for free
06. Hal Kecil - Flashback
Author: ruangbicaraAsing. Itulah perasaan yang Siera rasakan ketika berada di tengah-tengah meja makan sederhana bersama keluarga baru ayahnya. Ia hanya menjadi pengamat, dan mengamati setiap gerak-gerik semua orang yang ada di sana. Pada Ira yang menghidangkan beberapa jenis makanan di atas meja, pada Indira yang sedang menyusun piring dan gelas, serta pada Mika yang sibuk memainkan sendok di tangannya.
Pemandangan seperti itu tidak pernah ada di rumah ibu kandungnya, karena ia lebih sering makan sendirian kalau Nenek Anisa yang sudah sakit-sakitan tidak bisa menemaninya. Dan orang yang menghidangkan makanan di atas meja pun adalah asisten rumah tangga yang sengaja dipekerjakan oleh ibunya.
"Kalian tunggu sebentar, Ibu mau manggil Bapak sama Genta dulu di depan. Habis itu kita makan." Ira langsung pergi begitu saja setelah Indira menganggukkan kepalanya.
Tersisalah mereka bertiga di meja makan. Indira terlihat sedikit salah tingkah, karena Siera memiliki tatapan mata tajam yang memikat sekaligus agak menyeramkan di saat yang bersamaan. Sedangkan Mika sibuk sendiri dengan sendok di tangannya.
"Lho, kok kalian saling diem-dieman?" Suara Denis mulai terdengar. Dia langsung menarik salah satu kursi makan, dan duduk di sana.
Indira tidak menyahuti apa-apa. Sejujurnya, ia bingung bagaimana harus berinteraksi dengan Siera. Karena kakak tirinya itu terlihat tidak suka padanya.
Lalu mereka semua makan malam dengan tenang, dan ini pertama kalinya Siera makan bersama keluarga baru ayahnya. Karena ia baru sampai di desa sekitar pukul 5 sore waktu setempat.
"Kenapa, Ra? Makanannya enggak enak ya?" tegur Denis yang membuat semua orang di sana langsung memperhatikan Siera. Gadis itu tampak tidak menyentuh makanannya.
Siera hanya mengernyitkan dahinya, karena ia belum sempat mencicipi masakan Ira. "Aku enggak tahu makanan ini higienis apa enggak."
"Saya masaknya bersih kok," ucap Ira dengan nada suara yang terdengar tidak enak.
Namun Siera tidak menghiraukannya. Ia malah bergegas dari atas kursinya, dan berlalu dari sana tanpa mengatakan apa-apa. Membuat Denis menghela napas panjang, lalu menjauhkan piring di hadapannya.
"Bapak susulin Siera dulu ya? Kasihan kalau dia enggak makan apa-apa." Denis ikut berdiri dari atas kursi. "Kalian semua lanjut aja."
Selepas kepergian Denis dari sana, Genta langsung menyuarakan pikirannya kepada Ira.
"Aku enggak suka sama Siera, Bu. Dia itu terlalu belagu. Ibu yakin mau nerima dia tinggal di sini bareng kita semua?"
"Hush! Jangan ngomong begitu. Dia juga anaknya Bapak, sama seperti kalian semua." Ira memberikan tatapan tegas ke arah anak-anaknya. "Terus satu lagi, Genta. Kamu harus panggil dia dengan sebutan Kakak, karena dia lebih tua dari kalian."
Genta hanya menampilkan raut wajah jengkel yang tidak bisa disembunyikan. Ia merasa kurang setuju dengan ucapan ibunya barusan.
***
Siera tidak suka pada Ira, makanya ia tidak sudi memakan makanan yang dibuat oleh ibu tirinya. Karena wanita itulah yang telah merebut ayahnya dari ibu kandungnya.
Seumur hidupnya, Siera hanya pernah melihat wajah Denis melalui sebuah foto yang pernah diberikan oleh Nenek Anisa padanya. Dan pertemuan pertamanya dengan Denis baru terjadi tadi sore, saat ia baru sampai di Desa. Karena ia harus tinggal di sana untuk sementara atas perintah dari ibu kandungnya.
Sebenarnya ia sudah merasa tidak betah, dan ingin secepatnya pulang ke kota asalnya— Jakarta.
Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Nenek Anisa sudah tidak ada. Sehingga ibunya tidak ingin ia merasa kesepian di rumah besar mereka, dan memutuskan untuk memindahkannya ke Desa.
"Kamu mau makan itu gak?" Tunjuk Denis pada seorang penjual sate yang baru saja lewat di depan rumah. Karena Siera sedang duduk sendirian di atas bangku teras.
"Terserah."
Denis langsung memanggil tukang penjual sate, dan menghampirinya.
Tak lama kemudian, Mika muncul di ambang pintu rumah.
"Kak Siera, kenapa enggak makan?"
Siera hanya mendengkus sebal. Karena bocah ingusan itu sudah mulai berulah.
Sejak ia datang, Mika selalu saja menanyakan banyak hal yang entah kenapa malah membuatnya merasa muak. Sehingga ia malas menanggapinya.
Lalu Mika ikut duduk bersama Siera. Diamatinya sang kakak dengan sangat lekat, karena wajah cantik perempuan itu terlihat sangat memikat.
"Ini satenya." Denis mengulurkan sebungkus sate kepada Siera, dan langsung diterima olehnya. "Kamu jangan sampe enggak makan ya? Sedikit aja enggak apa-apa, biar enggak kosong perutnya."
Siera hanya menganggukkan kepalanya. "Aku masuk dulu ...," Ia tampak sedikit kebingungan, lalu melanjutkan ucapannya dengan suara yang amat sangat pelan. " ... Pa."
Siera sudah memutuskan untuk memanggil ayahnya dengan sebutan ‘Papa’ saja. Karena baginya, pasangan ‘Mama’ adalah ‘Papa’.
***
Seminggu tinggal di Kampung bersama keluarga baru ayahnya, Siera merasakan banyak sekali perubahan di hidupnya. Ia harus terbiasa berbagi kamar mandi bersama semua orang yang ada di rumah, karena di rumah ayahnya hanya ada 1 kamar mandi yang biasa dipakai bersama. Lalu ia juga harus terbiasa menaiki sepeda saat akan bersekolah. Tidak ada mall, dan kafe ternama. Yang ada hanyalah suasana pedesaan yang untung saja lumayan memanjakan mata. Bahkan ia juga harus terbiasa bangun di pagi buta untuk ikut salat bersama penghuni rumah yang lainnya.
Namun yang paling menjengkelkan dari semua itu adalah, penduduk desa yang seakan ingin tahu bagaimana asal-usulnya. Sehingga ia tidak pernah mau beramah-tamah dengan mereka semua. Pasti ujung-ujungnya mereka akan berkata, "Saya baru tahu lho kalau Soraya Amanda itu seorang janda, beranak satu pula." Atau, "Gak nyangka ya, ternyata Denis punya mantan istri seorang artis."
Dan saat ini, Siera sedang ingin menyendiri. Ia duduk sendirian di atas batu besar yang ada di pinggir kali.
"Kakak Sie!"
Siera langsung berjengkit kaget.
"Kenapa enggak pulang?! Kan ini udah sore!" Mika berlari sambil berseru kencang di antara embusan angin dan suara gemercik air.
Namun Siera tampak tak peduli, menoleh pun ia tak sudi.
"Tadi Bapak nyariin—" Seruan Mika langsung terputus, berganti dengan suara teriakan kencang disusul bunyi sesuatu yang jatuh ke dalam air kali. Membuat Siera langsung berdiri. Saat itulah ia baru menyadari jika Mika tidak bisa berenang, dan nyaris tenggelam.
Beberapa orang yang ada di atas jembatan langsung berteriak panik.
Karena tidak ada pilihan lain, dan secara diam-diam ia sudah menganggap Mika sebagai anak yang manis, Siera langsung melepaskan tas sekolahnya dan ikut menceburkan diri ke dalam kali.
Sedangkan di sisi lain, Genta yang masih berusia 11 tahun dan sibuk bermain kelereng, langsung berlari begitu salah satu orang memberitahunya kalau Mika sedang tenggelam di sungai.
Baru setengah perjalanan, ia sudah melihat Siera yang basah kuyup sambil menenteng tas dan sepatu sekolahnya. Ia lantas melemparkan tatapan benci kepada Siera, karena ia berpikir kalau perempuan itulah yang menyebabkan Mika tenggelam. Karena ia tahu jika Mika, Indira, dan ayah mereka sedang sibuk mencari keberadaan Siera yang tidak ditemukan di sekolah, tapi belum pulang juga ke rumah.
Begitu sampai di tempat tujuan, ternyata Mika sudah ditolong oleh beberapa orang. Sehingga Genta langsung membawanya pulang.
"Ya ampun, Siera! Kenapa badan kamu basah kuyup semua?" Ira yang sedang duduk di bangku teras, terlihat sangat khawatir dan langsung mengambil alih tas serta sepatu sekolah milik Siera.
Namun gadis itu tidak mengatakan apa-apa, dan langsung masuk ke dalam rumah.
Kemudian Ira mengekorinya, tapi ia hanya menunggu di depan pintu kamar Siera dan memberinya waktu untuk berganti pakaian di dalam sana.
Beberapa saat kemudian, Genta muncul sambil menggendong Mika yang menggigil kedinginan.
"Mika kenapa, Ta?!" Ira langsung bergerak untuk membantu Genta yang tampak kesulitan menggendong Mika.
"Aku enggak tahu pasti, Bu. Tapi kayaknya dia kecebur gara-gara Siera. Soalnya aku lihat—" Genta tidak menyelesaikan ucapannya, karena Ira langsung berlalu dari sana dengan Mika yang sudah berada di dalam gendongan hangatnya.
***
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
You Are My Reason (INDONESIA) 33. Sakit
33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku
You Are My Reason (INDONESIA) 32. Di Jakarta
32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a
You Are My Reason (INDONESIA) 31. Pertanyaan Aneh
31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”
You Are My Reason (INDONESIA) 30. Rumah Baru (2)
30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat
You Are My Reason (INDONESIA) 29. Pulang (2)
29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah
You Are My Reason (INDONESIA) 28. Konferensi Pers
28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung
You Are My Reason (INDONESIA) 15. Pulang
Terhitung sudah 2 malam Siera tidur di rumah ayahnya, dan ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pulang ke rumah sebelah. Sedangkan Mahanta tidak bisa memaksa, dan hanya membiarkan apa yang Siera lakukan. Namun Denis merasa kalau ia harus segera turun tangan, dan
You Are My Reason (INDONESIA) 14. Sate Ayam
Setelah membersihkan dirinya karena akan bersiap untuk pergi bekerja, Mahanta langsung masuk ke dalam kamar dan tidak melihat Siera di dalam sana. Ia segera memakai pakaiannya dengan secepat kilat sebelum mencari keberadaan Siera diluar kamar mereka berdua. Lalu ia tidak mene
You Are My Reason (INDONESIA) 13. Dibuang - Flashback
Siera nekat membolos dari sekolah hanya untuk pergi ke Jakarta, dan menemui Soraya. Ia ingin memastikan sendiri kebenaran dari ucapan Bik Iyem yang sempat mengatakan kalau Soraya tidak mau mengurusnya. Meskipun ia sudah bisa menyadari sebuah fakta yang tak
You Are My Reason (INDONESIA) 12. Tak Terduga - Flashback
Apa yang telah dilakukan oleh Mahanta benar-benar mengejutkan semua orang, kecuali Siera yang sudah mengetahuinya sejak awal. Karena laki-laki itu benar-benar mengutarakan niatnya di depan Denis sekeluarga, bahkan di depan Hilda dan Malika juga.
