Download the book for free
02. Subuh Pertama
Author: ruangbicara“Bu, katanya anak Pak Denis baru datang dari Jakarta ya?”
Mahanta yang baru saja pulang ke kampung tadi sore, setelah ikut bekerja di bengkel milik saudara mendiang ayahnya selama libur sekolah, langsung mendapatkan gosip terhangat dari Jimmy yang menghadang jalannya sebelum ia sampai di rumah.
Malika yang mendengar pertanyaan kakaknya, langsung mendekat sambil menganggukkan kepala. “Iya, Bang. Cantik banget lho orangnya. Tapi sayang, aku belom sempet kenalan langsung sama dia.”
"Kenapa?" tanya Mahanta dengan nada heran. Karena rumah Denis sekeluarga berada tepat di sebelah rumah mereka.
"Soalnya dilarang sama Indira. Katanya, kakaknya itu masih butuh penyesuaian."
"Bukan karena kakak tirinya Indira itu sombong ya?" Hilda yang sedang melipat pakaian, langsung menceletuk dari tempatnya tanpa menolehkan kepala.
"Kok Ibu ngomongnya begitu sih? Kan enggak baik." Mahanta mengerutkan alis. Ia tidak pernah suka jika ibunya sudah mulai membicarakan kejelekan orang lain.
"Ya, memang begitu kenyataannya, Ta. Kamu aja yang belom lihat anaknya. Baru tiga hari dia pindah, ibu-ibu udah banyak yang gak suka sama dia."
"Ibu-ibu itu ... termasuk Ibu juga ya?" Mahanta bertanya dengan nada yang entah bagaimana bisa terdengar sangat menyebalkan di telinga Hilda. Sehingga wanita itu langsung mendelik kesal ke arahnya. Padahal ia merasa kalau nada suaranya biasa saja.
"Pasti iya kan, Bu?" Malika ikut menimpali. "Buktinya Ibu bilang kalau dia itu kakak tirinya Indira, padahal Pak Denis udah sempet bilang kan kalau anaknya dateng—"
Mulut Malika langsung mengerucut begitu sang Ibu memberinya tatapan maut.
"Jadi, namanya Siera ya?" Mahanta bergumam setelah tertawa geli begitu melihat ekspresi menggemaskan yang ditampilkan oleh adiknya. Karena saat Jimmy bercerita, sahabatnya itu tidak sekali pun menyebutkan nama Siera, melainkan ‘anaknya Pak Denis’.
"Kata Indira sih memang itu namanya," sahut Malika yang ternyata mendengar gumamam Mahanta.
"Nanti kalau kamu udah dewasa, pokoknya kamu jangan cari istri kayak dia ya, Ta. Enggak bisa bikin betah di rumah. Harus amit-amit pokoknya." Hilda berujar secara tiba-tiba, yang membuat Malika langsung menertawakan kakaknya.
Tapi lihatlah sekarang, orang yang dulu sempat dibicarakan Hilda agar tidak dipersunting oleh putra sulungnya, malah masuk ke dalam rumah mereka dengan status yang baru saja berubah sebagai istrinya Mahanta.
Perempuan itu baru saja masuk ke dalam rumah mereka dengan menggunakan piama bermotif bunga-bunga, di belakangnya ada Mahanta yang tadi sempat pergi ke rumah sebelah untuk menjemput dirinya.
"Ibu udah tidur kayaknya," ucap Mahanta yang mulai mengunci pintu rumah.
"Malah bagus kalau dia udah tidur duluan," sahut Siera dengan lancar, dan tanpa rasa sungkan.
Mahanta hanya tersenyum kecil mendengarnya. Ia tahu jika Siera memang tidak pandai beramah-tamah. Tapi tenang saja, nanti ia yang akan mengajarinya. Hingga perempuan itu mulai terbiasa.
"Kamu mau langsung tidur, atau apa?"
Siera mengendikkan bahunya. "Langsung tidur aja, lagian udah malem juga."
Mahanta hanya mengangguk singkat, dan langsung membimbing Siera untuk memasuki kamarnya.
"Kamu enggak keberatan kan kalau kita berdua tidur di sana,” tunjuk Mahanta ke atas ranjang yang ada di dalam kamarnya.
Siera yang sudah memeluk guling sebelum merebahkan diri di atas tempat tidurnya Mahanta, tampak mendelik seketika. "Dari pada aku diceramahin sama Ibu kamu, iya, kita tidur berdua."
Sedangkan Mahanta langsung tersenyum lebar, dan menyusul Siera naik ke atas ranjang.
"Aku serius sama pernikahan kita," ujar Mahanta secara tiba-tiba untuk memecah keheningan yang langsung terjadi di antara mereka berdua.
Siera yang sudah mendekap satu-satunya guling di sana, dan berbaring miring memunggungi Mahanta, langsung menyahut dengan nada ketusnya. "Yang bilang kita berdua lagi bercanda, siapa?"
Mahanta yang sudah terbiasa dengan kebiasaan Siera yang sering menyahuti sesuatu dengan cara tak biasa, hanya tersenyum kecil begitu mendengarnya.
"Berarti kamu siap kan bangun keluarga sama aku? Selamanya...."
"Of course!" Siera berseru dengan nada pongah, tapi sedetik kemudian ia menampilkan ekspresi mau muntah tanpa sepengetahuan Mahanta.
"Termasuk punya anak," sambung Mahanta kemudian.
Dan Siera tidak langsung menjawab. Ia malah berbalik menghadap ke arah Mahanta setelah melepaskan guling yang sempat berada di dalam dekapannya.
"Enggak."
Kedua mata Mahanta langsung mengerjap. Kemudian mereka berdua saling bertukar tatap.
"Kenapa?" tanya Mahanta yang terdengar seperti bisikan. Kentara sekali kalau ia sedang berusaha kuat agar nada getir di dalam suaranya dapat tersamarkan.
"Kamu bisa pilih sendiri jawabannya. Antara aku yang belum siap, atau—"
"Oke, kamu belum siap."
Siera langsung menarik sedikit ujung bibirnya. Ternyata Mahanta cukup pintar untuk tidak mendengarkan kelanjutan dari ucapannya. Karena apa pun yang sudah akan terucap di ujung lidah, memang sangat berpotensi untuk menyakiti hati Mahanta.
***
Mahanta menatap wajah cantik Siera yang sama sekali tidak terpoles oleh make up. Kesan cantik dan mahal sangat melekat di dirinya, meskipun sudah hampir tujuh tahun dia menetap di Bandung, dan tidak pernah pulang ke Jakarta—tempat asalnya.
Dan sudah dua jam pula, yang Mahanta lakukan hanya memandangi wajah Siera. Dari pangkal rambutnya, turun ke bagian dahinya, lalu kelopak matanya, beserta bulu mata lentiknya. Kemudian beralih ke hidung mancungnya, berikut dengan kedua pipinya, serta bibir pink-nya. Terakhir, dagunya. Yang membuat Mahanta menatap bagian itu jauh lebih lama dari seharusnya, karena ia merasa gemas dan ingin sekali mendaratkan beberapa gigitan kecil di sana.
Namun Mahanta langsung meringis pelan. Entah kenapa, sedari dulu ia memang sangat tertarik dengan dagunya Siera, ketimbang bibir pink-nya yang kata Jimmy sangat menggoda iman meskipun sering melontarkan kalimat tajam yang menyakitkan.
Lalu adzan subuh mulai berkumandang.
Mahanta memang bukan orang yang terlalu taat pada agama, tapi sebisa mungkin ia selalu menjalankan ibadah. Meski hanya semampunya saja.
Dan ini adalah subuh pertama setelah ia menyandang status barunya, sehingga ia segera membangunkan Siera dengan sebelah tangannya yang bergerak untuk menepuk pelan pipi istrinya, tapi saat telapak tangannya sudah hinggap di sana, yang ia lakukan adalah mengelus pipi mulus istrinya. Karena ia merasa tidak tega jika harus menepuknya seperti rencana semula.
"Bangun, Ra. Kita subuhan." Mahanta berkata tanpa menaikkan intonasi suara.
Siera malah menggeliat pelan tanpa membuka kedua matanya. Kemudian menguap dengan cukup lebar sambil menutup mulutnya menggunakan sebelah telapak tangan.
"Ayo, bangun."
Perempuan itu belum juga merespon.
"Kita subuhan," lanjut Mahanta yang kali ini berhasil membangunkan Siera. Sehingga perempuan itu menepis tangannya sambil memberikan tatapan tajam yang cukup mematikan, serta dahi yang berkerut-kerut samar.
Tanpa mengatakan apa-apa, Siera langsung berbalik memunggungi Mahanta. Laki-laki itu sangat mengganggu tidur nyenyaknya.
Mahanta lantas terduduk di atas ranjang, dan hendak menyentuh bahu Siera, tapi suara ketukan pintu dari arah luar langsung mengurungkan niatnya.
"Bang? Ayo, kita subuhan. Katanya hari ini mau salat berjamaah di rumah."
Karena biasanya, Mahanta lebih sering salat subuh di masjid desa.
"Iya, Ka. Kamu siap-siap aja duluan."
Setelah itu terdengar langkah kaki Malika yang tampak menjauh dari depan pintu sana, dan Mahanta langsung mengembuskan napas panjang. Setelah hampir belasan tahun berlalu, kini pintu kamarnya kembali diketuk di waktu subuh.
Ia lantas berjalan mengitari ranjang, dan membungkukkan badan tepat di samping Siera sembari mengelus pelan rambut panjangnya yang cukup berantakan di atas bantal.
"Ikut subuhan ya? Nanti aku tunggu kamu di ruang ibadah."
***
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
You Are My Reason (INDONESIA) 33. Sakit
33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku
You Are My Reason (INDONESIA) 32. Di Jakarta
32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a
You Are My Reason (INDONESIA) 31. Pertanyaan Aneh
31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”
You Are My Reason (INDONESIA) 30. Rumah Baru (2)
30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat
You Are My Reason (INDONESIA) 29. Pulang (2)
29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah
You Are My Reason (INDONESIA) 28. Konferensi Pers
28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung
You Are My Reason (INDONESIA) 19. Hari Pernikahan - Flashback
"Rencana apa lagi yang sedang kamu jalankan, Nak?" Denis memandang Siera dengan penuh tanda tanya. Karena ia masih ingat dengan jelas kalau putri sulungnya itu sempat menolak untuk menepati janjinya, dan tidak mau menikah dengan Mahanta. Tapi ia malah dikejutkan dengan ucap
You Are My Reason (INDONESIA) 18. Mengenai Janji - Flashback
Beberapa tahun kemudian, Mahanta sudah menyelesaikan pendidikannya dan sempat merintis usaha kecil-kecilan bersama dua orang temannya di Jakata. Hampir 3 tahun berselang, ia baru memutuskan untuk kembali menetap di desa bersama kedua anggota keluarganya yang masih tersisa. Karena ada satu alasan
You Are My Reason (INDONESIA) 17. Menghindar - Flashback
Setelah kejadian kurang mengenakkan yang dialaminya di rumah Soraya, perlahan-lahan Siera mulai menyadari segala kebaikan yang telah dilakukan oleh Ira dan ketiga anaknya. Ia tidak bisa menyangkal itu semua, karena semua orang yang ada di sana benar-benar m
You Are My Reason (INDONESIA) 16. Keinginan Hilda
Mencuci pakaian adalah salah satu kegiatan yang paling menjengkelkan bagi Siera setelah ia benar-benar pindah ke rumahnya Hilda. Karena setiap kali ia ingin mencuci pakaian kotor miliknya, Hilda tidak pernah mengizinkannya untuk memakai mesin cuci yang ada di sana dengan alasan kalau ia masih mud
