loading
Home/ All /You Are My Reason (INDONESIA)/04. Terpana

04. Terpana

Author: ruangbicara
"publish date: " 2020-08-13 08:52:31

Hilda menuangkan teh buatan Siera ke dalam cangkir, dan langsung memberikannya kepada Mahanta yang baru saja pulang dari pasar bersama Malika. Karena laki-laki itulah yang mengantarkan adiknya ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur mereka. Sedangkan Siera yang sedang memakan nasi gorengnya, langsung menatap hal itu dengan pandangan curiga. Karena ia sempat melihat Hilda yang tersenyum licik ke arahnya sebelum menyerahkan teh kepada Mahanta.

Sebenarnya Hilda tahu jika Mahanta lebih menyukai teh celup ketimbang teh serbuk. Tapi ia lupa mengatakannya kepada Siera, dan tidak menyangka jika wanita modern seperti menantunya itu akan lebih memilih menggunakan teh serbuk dari pada teh celup. Sehingga ia berharap kalau Mahanta tidak tertarik untuk meminum teh itu. Karena ia ingin melihat bagaimana reaksi perempuan yang beberapa menit lalu mengatakan jika dia mau menikah dengan Mahanta hanya karena uangnya saja.

Namun apa yang diharapkan oleh Hilda tidak pernah menjadi kenyataan. Karena Mahanta tetap meminum teh itu ... hingga tak tersisa, dan membuat ibunya terperangah.

"Nambah, Bang?" tanya Malika yang baru saja bergabung di tengah-tengah mereka setelah menaruh barang belanjaannya, dan melihat kakaknya sedang menuangkan teh ke dalam cangkir yang sama.

Mahanta hanya menganggukkan kepala sambil meneguk tehnya.

"Bukannya Abang gak terlalu suka sama teh serbuk ya?" Malika kembali bertanya setelah mengamati teh yang ada di dalam teko kaca. "Apa lagi kalau serbuknya enggak disaring begitu."

Mendengar hal itu, Siera sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Ia lantas menatap Hilda dengan sebelah alis yang terangkat. Lalu menumpukan kedua siku tangannya ke atas meja, dan menaruh dagunya di atas punggung tangan yang saling bertautan.

Ia sedang menantang Hilda. Dan tatapan matanya seolah-olah menyiratkan, ‘Mari kita dengar jawaban manis yang akan keluar dari mulut Mahanta—si budak cinta.’

Mahanta berdehem pelan sebelum memberikan jawaban dengan suara pelan. "Apa pun minuman dan makanan yang udah dibuatin sama Siera, Abang pasti bakalan suka, Ka.”

Malika langsung menangkup kedua pipinya dengan wajah yang berbinar bahagia. Ia ingin sekali memiliki suami seperti kakaknya.

Berbeda dengan Malika, Hilda malah mendengkus samar dan merasa tidak terima. Karena Mahanta juga pernah mengatakan hal itu kepadanya. Entah dia masih mengingatnya atau tidak. Tapi Hilda akan selalu mengingatnya. Karena Mahanta yang masih berumur lima tahun, hanya menirukan apa yang diucapkan oleh ayahnya.

Saat itu Mahanta menolak makanan yang Hilda berikan, sehingga Wira—mendiang ayahnya—mengatakan pada Mahanta agar jangan memilih-milih makanan. Karena Hilda sudah bersusah payah, dan memasak makanan itu tidaklah mudah.

Setelah memberikan pengertian singkat kepada putranya, Wira langsung meminta Mahanta untuk menirukan ucapannya.

"Mulai sekarang, apa pun minuman dan makanan yang udah dibuatin sama Ibu, Abang pasti akan suka. Karena masak itu enggak mudah."

Lalu Wira menyuruh Mahanta untuk meminta maaf kepada ibunya, dan Hilda hanya memberikan beberapa kecupan penuh kasih sayang di kepala Mahanta.

"Tahu darimana kalau itu teh buatan aku?" tanya Siera dengan nada menantang, yang membuat Hilda langsung tersadar dari lamunan singkatnya.

"Aku tahu kamu suka minum teh serbuk," jawab Mahanta sambil tersenyum salah tingkah ke arah Siera. Dan Siera hanya menganggukkan kepala tanpa membalas senyuman yang Mahanta berikan untuknya. Karena ia memang lebih menyukai teh serbuk, dan di rumah sebelah hanya dirinyalah yang sering mengkonsumsi teh itu.

"Terus nasi goreng ini buatan siapa? Ibu atau Kak Siera?" Malika menatap ke arah Hilda dan Siera secara bergantian sambil menyendokkan nasi goreng ke atas piringnya.

Baik Hilda maupun Siera tidak ada yang mau menjawab pertanyaan dari Malika. Mereka berdua kompak melanjutkan acara makan yang sempat tertunda.

"Nasi gorengnya enak," ucap Mahanta setelah mencicipi sesendok nasi goreng dari piringnya Malika.

Sebenarnya Hilda setuju dengan pendapat Mahanta barusan, karena rasa nasi goreng itu memang enak dan terasa pas di lidahnya. Hanya saja ... ia tidak mau mengakuinya secara terang-terangan, karena nasi goreng itu buatannya Siera, dan ia tidak ingin perempuan itu jadi semakin besar kepala setelah mendapatkan pujian darinya. Cukup Mahanta saja yang melakukannya.

***

Mahanta memandang foto pernikahannya dengan Siera yang baru saja ia pajang di ruang tamu rumahnya. Senyum di bibirnya tampak melengkung dengan sempurna. Teringat kembali bagaimana pertemuan pertamanya dengan Siera saat mereka berdua masih memakai seragam SMA.

Kala itu ....

“Seriously?! Naik ini?!”

Mahanta yang sedang memakai sepatu di dekat pintu, langsung terkejut saat mendengar teriakan itu.

"Iya." Denis menganggukkan kepalanya di hadapan seorang gadis berseragam SMA yang Mahanta yakini sebagai perempuan bernama Siera yang sempat diceritakan oleh Malika. "Kamu bakalan dibonceng sama Bapak, karena Bapak tahu kamu enggak bisa naik sepeda."

"Kalau gini caranya, mending aku pulang ke rumah Mama aja!" Gadis itu tampak bergerak gusar sembari menyugar rambutnya ke belakang.

"Ra ...."

"Pokoknya aku enggak mau sekolah! Apa lagi naik sepeda!" Gadis itu berteriak marah, lalu masuk ke dalam rumah—menolak menaiki sepeda menuju ke sekolah barunya.

"Ta." Hilda menegur Mahanta sambil memegang salah satu bahunya, yang membuat laki-laki itu langsung menolehkan kepala.

"Sana, berangkat sekolah. Nanti kamu kesiangan."

Mahanta tidak membantah, dan langsung berpamitan kepada ibunya. Ia berangkat ke sekolah bersama Malika, dan beberapa anak tetangga yang lainnya. Mereka semua berjalan kaki menuju ke sekolah. Bahkan ada Indira, Genta, dan Mika juga. Mereka bertiga adalah anaknya Denis dan Ira—tetangganya Mahanta.

"Dira, Kakak kamu tadi kenapa?" Malika bertanya kepada Indira yang sedang menuntun Mika—adik bungsunya yang masih kelas 2 SD.

Indira menggelengkan kepalanya, "Enggak apa-apa."

"Kalau enggak apa-apa, kenapa dia teriak-teriak?" Malika kembali bertanya kepada Indira tanpa menyadari ketidaknyamanan yang terpancar di wajah sahabatnya.

"Dia cuma belum terbiasa aja sama suasana di Kampung kita," ucap Indira dengan nada sabar.

Setelah itu Malika hanya menganggukkan kepalanya dan tidak bertanya-tanya lagi tentang ‘kakak’ perempuannya Indira yang baru datang dari Jakarta.

Begitu rombongan mereka sudah sampai di pertengahan jalan menuju ke sekolah, Mika tampak sibuk memanggil-manggil ayahnya yang sedang membonceng kakaknya yang bernama Siera.

Gadis yang duduk di boncengan Denis itu terlihat sedang menampilkan raut wajah sebal, dan tidak berniat untuk menutupi-nutupinya di hadapan semua orang saat Denis sengaja memperlambat laju sepedanya hanya untuk menyapa mereka semua. Lalu tersenyum lebar ke arah ketiga anaknya yang sedang berjalan kaki ke sekolah.

Saat itulah Mahanta menemukan sepasang bola mata coklat madu yang mampu menghipnotis dirinya, hingga membuatnya terpana. Karena tatapan mata mereka tak sengaja bertemu dalam beberapa detik yang sangat berharga.

"Cakep ya?" Jimmy merangkul bahu Mahanta, dan menampilkan senyum menyebalkan di wajah tampannya. Sedangkan Mahanta hanya berdehem pelan, lalu mengalihkan tatapan matanya ke sembarangan arah sambil terus berjalan. "Tapi sayang, masih adik kelas."

"Memangnya dia kelas berapa?" Mahanta mulai bertanya.

Jimmy langsung melepaskan rangkulannya di bahu Mahanta, dan tersenyum usil ke arah sahabatnya. "Kenapa nanya-nanya? Ikutan naksir dia juga?"

Namun lamunan itu langsung terputus begitu Mahanta mendengar teguran dari sang Ibu. 

"Ta! Bilangin dong istri kamu, masa kerjaannya cuma ongkang-ongkang kaki begitu?" Hilda menunjuk ke arah Siera yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

Mahanta hanya bisa meringis pelan sambil menggaruk belakang telinganya. "Iya, nanti aku bilangin."

"Jangan nanti-nanti! Kamu itu harus tegas dong sama istri."

***

Setelah memajang beberapa foto baru di ruang tamu, Mahanta juga memajang foto pernikahannya di salah satu bagian tembok kamar—tepatnya di atas ranjang.

Saat sedang asyik berbaring menghadap ke arah tembok kamar yang terdapat foto pernikahannya, pintu kamar terbuka secara tiba-tiba dan Siera muncul di sana. Sehingga Mahanta langsung menolehkan kepalanya dan menemukan Siera yang kesulitan membawa beberapa barang.

"Kamu udah mulai pindahan? Kenapa enggak bilang-bilang?" Mahanta segera mengambil alih keranjang berukuran cukup besar berisi sepatu yang dibawa oleh Siera. Sedangkan perempuan itu langsung menghempaskan tas besar berisi sebagian bajunya ke atas lantai. Karena sebagiannya lagi masih berada di rumah sebelah. 

"Mendadak, karena Ibu kamu masih mikirin apa kata tetangga." Siera menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang, dan berbaring miring di sana setelah menarik gulingnya.

Sedangkan Mahanta hanya diam saja. Sebenarnya ia tahu kenapa ibunya melakukan hal yang demikian. Karena ia dan Siera sudah tiga hari menikah, tapi perempuan itu masih sering bolak-balik ke rumah sebelah. Entah itu untuk makan, mandi, atau sekadar mengambil sesuatu yang sedang ia perlukan. Hingga membuat beberapa tetangga mulai membicarakan rumah tangga mereka, dan membuat ibunya merasa kurang nyaman.

"Ini ...," Mahanta mengambil tas yang tadi dihempaskan oleh Siera, dan membukanya untuk melihat isi di dalamnya. " ... Gak apa-apa kan kalau aku yang pindahin ke dalam lemari?"

"Terserah." Siera mulai memejamkan kedua matanya, dan membiarkan Mahanta membereskan semua baju-baju yang ia bawa.

"Oh iya, Ra. Besok pagi aku udah mulai masuk kerja lagi."

"Hmm."

"Kamu enggak perlu nurutin omongan Ibu kemarin. Senyaman kamu aja maunya gimana, aku enggak maksa."

Siera langsung mencibir. Kalau ia tidak menuruti apa kata Hilda kemarin, pasti wanita paruh baya itu akan mengomelinya lagi. 

***

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

You Are My Reason (INDONESIA)   33. Sakit

33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku

You Are My Reason (INDONESIA)   32. Di Jakarta

32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a

You Are My Reason (INDONESIA)   31. Pertanyaan Aneh

31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”

You Are My Reason (INDONESIA)   30. Rumah Baru (2)

30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat

You Are My Reason (INDONESIA)   29. Pulang (2)

29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah

You Are My Reason (INDONESIA)   28. Konferensi Pers

28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung

You Are My Reason (INDONESIA)   11. Janji - Flashback

Siera tidak mengerti dimana letak kelebihan Ira jika dibandingkan dengan Soraya—ibu kandungnya. Sehingga Denis bisa berpaling kepada Ira dengan begitu mudahnya, dan meninggalkan Soraya serta dirinya. Lalu membangun keluarga baru bersama Ira, di sebuah

You Are My Reason (INDONESIA)   10. Berbalik Arah

Mahanta menyodorkan pil anti mual ke hadapan Siera saat mereka berdua sudah kembali berada di dalam kamar, tapi perempuan itu tidak mengambilkannya. Karena yang dia lakukan adalah membuka mulutnya, yang membuat Mahanta tersenyum seketika, dan ia mulai menaruh pil itu ke dalam mulutnya Siera. Si

You Are My Reason (INDONESIA)   09. Kedinginan

Begitu motor yang dikendarai oleh Genta sudah berhenti tepat di depan rumah sang ayah, Siera langsung turun dari kendaraan adik tirinya, dan menerobos masuk ke dalam rumah. Ia lantas membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang setelah menaruh helm yang tadi dipakainy

You Are My Reason (INDONESIA)   08. Villa Erina

Siera mengedarkan kepalanya ke segala penjuru ruangan, dan ia tidak menemukan Jimmy di mana-mana. Entah di mana laki-laki itu sekarang, yang jelas ia sedang merasa kehausan dan ingin segera pulang. Karena hari sudah mulai malam. "Hai, Ra. Dateng sama siapa?" Erik langsu

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy