Cargando
Inicio/ Todos /You Are My Reason (INDONESIA)/07. Hal Kecil - Flashback (2)

07. Hal Kecil - Flashback (2)

Autor: ruangbicara
"Fecha de publicación: " 2020-08-15 17:51:58

Ada kemarahan yang terpancar di kedua bola mata Ira begitu melihat Siera keluar dari kamar saat jam makan malam telah tiba.

"Mas, lebih baik kamu bawa anak kamu makan di luar. Karena aku enggak sudi kalau masakanku dimakan sama dia."

Siera yang sedang memegang centong nasi di tangan kanannya, langsung melemparkan tatapan bertanya kepada semua orang yang duduk mengelilingi meja. Dan ia baru menyadari jika Mika tidak ada di sana. 

Denis lantas berdehem pelan. "Ra, kita makan di luar aja ya? Kamu suka kan makan sate ayamnya Pak Komang?"

Siera langsung menganggukkan kepalanya, karena sate ayamnya Pak Komang memang juara. Dan jujur saja, sampai saat ini ia masih kurang menyukai masakan Ira. Kecuali soto ayam buatannya. 

Mereka berdua makan di dekat balai desa, karena Pak Komang biasa memangkal di sana kalau tidak keliling di sekitaran rumah warga.

"Tadi siang kamu bolos sekolah ya, Ra?" tanya Denis saat mereka berdua sedang berada di perjalanan pulang.

"Iya, aku tadi bolos di jam terakhir." Siera tidak mengelak sama sekali, dan ia menatap Denis dengan berani. 

"Lain kali jangan pernah bolos lagi, Bapak sama yang lainnya beneran khawatir gara-gara kamu enggak pulang. Padahal hari udah sore."

Siera hanya diam saja, karena ia masih merasa asing dengan segala bentuk perhatian yang Denis berikan.

"Terus soal Mika ...," Denis berdehem pelan, ia tampak kebingungan ingin memulainya dari mana. " ... Apa bener kamu yang ceburin dia ke sungai?"

Siera langsung geleng-geleng kepala. "Siapa yang bilang?"

"Kamu jawab aja."

"Aku memang gak suka sama keluarga barunya Papa," kata Siera yang berterus terang. 

Seharusnya Denis tidak perlu merasa terkejut lagi saat mendengarnya, karena Siera sudah menunjukkan gelagat tak suka pada semua anggota keluarga di rumah sejak ia pindah ke Desa.

Namun Denis tetap tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya begitu mendengar ucapan Siera barusan.

"Tapi ...," Siera mengembuskan napas panjang dengan raut wajah sebal. " ... Udahlah, enggak usah dibahas, Pa. Aku lagi males ngomongin soal Mika."

***

"Kak Sie!"

Ira langsung menarik tubuh Mika dengan sigap saat melihat anak itu ingin menghampiri Siera yang baru saja pulang sekolah.

"Ibu, kenapa?" tanya Mika begitu menyadari jika raut wajah ibunya sedikit berbeda.

"Ibu enggak kenapa-napa," jawab Ira seadanya.

"Ibu lagi marah ya? Marah sama siapa?" Mika kembali bertanya setelah Siera melewati tempat mereka tanpa mengatakan apa-apa, lalu masuk ke dalam kamarnya. Seolah-olah tidak ada orang di sana. 

Ira langsung menggelengkan kepalanya. "Ibu enggak marah."

"Ibu marah sama Mika ya gara-gara Mika enggak masuk sekolah?"

Rupanya anak itu belum juga menyerah untuk bertanya-tanya pada ibunya. 

"Ibu enggak marah sama Mika." Ira menjawab sambil menangkup wajah Mika, dan mendaratkan beberapa kecupan di sana.

Lalu kedua orang itu asyik bercanda, dan saling memberikan kecupan di wajah.

Begitu Siera keluar dari kamarnya, ia melihat interaksi yang terjadi di antara Ira dan Mika. Namun ia langsung membuang muka, karena ia tidak pernah mendapatkan perlakuan serupa dari ibunya. Sehingga ia memutuskan untuk segera menjauh dari sana.

Hari-hari berlalu, jika sebelumnya hanya Genta yang menunjukkan ketidaksukaannya kepada Siera, maka sekarang Ira dan Indira juga melakukan hal yang serupa. Hingga Denis merasa jika rumahnya sudah seperti oven panas yang siap memanggang mereka semua.

"Bu, aku mau main sama Kak Sie!" Akhirnya Mika memberanikan diri untuk berseru keras kepada ibunya. 

Namun Ira tidak memberikan penjelasan apa-apa, dan menyuruh Mika untuk masuk ke dalam kamarnya saja. 

Main yang dimaksud oleh Mika adalah duduk di samping Siera yang sedang menonton TV di ruang tengah, bangku teras, ataupun saat mereka duduk mengelilingi meja makan. Ia senang mengamati wajah Siera yang sibuk menonton TV, mengunyah makanan, ataupun mengamati lingkungan sekitar. Tapi beberapa hari terakhir ibunya selalu melarangnya untuk mendekati sang kakak. Oh.... Bahkan ia lupa mengucapkan terima kasih pada kakaknya. Hingga sebuah ide mulai terlintas di dalam otak polosnya. 

Mika lantas menyobek buku tulisnya, dan mulai menuliskan sesuatu di sana. Membuat Genta bertanya-tanya, dan langsung berdiri di belakang adiknya sambil membaca setiap huruf yang ditulisnya dengan gerakan pelan.

[Terima kasih ya, Kak. Karina udah bantun aku. Aku—]

"Kamu nulis apa sih, Mik?"

Gerakan tangan Mika langsung terhenti. 

"Karina udah bantun aku? Bantun? Apaan?" Genta mulai tertawa, yang membuat Mika menoleh dengan wajah sebal.

"Itu tuh bantuin, bukan bantun!"

"Tapi tulisannya bantun." Genta kembali tergelak, lalu ia juga mencibir kata ‘karina’ yang ditulis oleh adiknya.

Mika mulai merengek. "Kalau gitu tulisin."

"Memangnya kamu mau nulis surat buat siapa?" Genta mengambil alih buku dan pensil milik adiknya, karena kertas yang tadi sudah lecek di genggaman tangan Mika. 

"Buat Kak Sie."

"Hah?! Buat apaan?!"

"Buat bilang makasih."

"Memangnya dia ngapain?!"

"Kan dia udah nolongin aku di Kali. Kata Ibu sama Bapak, kalau ada orang udah nolongin kita, kita harus bilang makasih ke dia. Tapi aku belum bilang itu ke Kak Siera." 

Ira yang berdiri di ambang pintu kamar, karena ingin mengecek keadaan anak-anaknya begitu mendengar nada tinggi dari suara Genta, langsung mematung seketika. 

Sejak saat itulah Ira menyadari, meskipun Siera terlihat tidak peduli dan kadang-kadang terkesan dingin, tapi dia juga manusia yang masih memiliki hati dan juga rasa simpati.

*** 

Siera yang baru saja terbangun dari tidur siangnya, langsung mendapati sesuatu di depan pintu kamarnya. Ia lantas menatap ke sekitar, tapi tidak ada orang. Sehingga ia memutuskan untuk mengambilnya, dan membuka surat yang diselipkan di antara pita yang ada di atas kotak. 

[Untuk Kak Siera, kesayangan Mika. 

Makasih ya, karena udah nolongin aku di sungai. Ini aku punya hadiah buat Kakak, biar Kakak enggak kedinginan lagi kalau pergi ke sekolah pagi-pagi.]

Siera tidak percaya kalau itu adalah tulisan tangan Mika, karena tulisan itu terlalu rapi untuk ukuran anak kelas 2 SD seperti dia. Lalu ia membuka kotak persegi panjang yang terdapat sebuah pita di atasnya.

Saat kotak itu sudah terbuka, Siera melihat jaket jeans berwarna pink yang terlipat rapi di dalam sana. Ia tertegun seketika, karena ada perasaan hangat yang perlahan-lahan menyusup di dalam dada.

Lalu ia kembali masuk ke dalam kamar sambil meyakinkan hatinya kalau jaket itu tidak ada apa-apanya ketimbang semua fasilitas mewah yang selama ini disediakan oleh ibu kandungnya.

Berkali-kali ia menekan dada, agar perasaan asing itu segera sirna. Namun mau apa dikata, rasa itu tetap ada di sana. Hanya karena hal kecil yang sangat sederhana, tapi berdampak sangat luar biasa bagi Siera. Dan ia merasa tidak terima, karena rasa itu muncul karena ulah dari salah satu anggota keluarga baru sang ayah. 

***

Want to know what happens next?
Continuar Leyendo
Capítulo anterior
Capítulo siguiente

Compartir el libro a

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Último capítulo

You Are My Reason (INDONESIA)   33. Sakit

33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku

You Are My Reason (INDONESIA)   32. Di Jakarta

32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a

You Are My Reason (INDONESIA)   31. Pertanyaan Aneh

31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”

You Are My Reason (INDONESIA)   30. Rumah Baru (2)

30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat

You Are My Reason (INDONESIA)   29. Pulang (2)

29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah

You Are My Reason (INDONESIA)   28. Konferensi Pers

28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung

You Are My Reason (INDONESIA)   27. Kangen

27. Kangen Mahanta masih berbaring di atas ranjang sambil terus menatap bagian kosong di sampingnya. Ia baru saja mengirimkan pesan singkat kepada Siera agar tidak lupa menunaikan ibadah. Meski ia tahu kalau perempuan itu jarang sekali menyentuh handphone-nya saat masih pagi

You Are My Reason (INDONESIA)   26. Langsung Luluh

26. Langsung Luluh Sekitar jam setengah 1 dini hari, Siera baru menyadari kalau ada seseorang yang sedang memeluknya saat ini. Ia lantas menggerakkan tubuh, dan segera menyingkirkan tangan yang sedang melingkar di atas perutnya itu. Begitu menyadari

You Are My Reason (INDONESIA)   25. Malam Terakhir

25. Malam Terakhir Siera akan pergi malam ini juga. Ia sengaja menuruti perkataan Denis untuk pergi dari rumah saat langit sudah lumayan gelap, supaya orang-orang tidak mengetahui tentang kepergiannya ke rumah Nenek Imah. Karena tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan d

You Are My Reason (INDONESIA)   24. (Tidak) Mengizinkan

Setelah menghabiskan satu porsi nasi uduk buatan Ira dengan penuh rasa keterpaksaan, karena sudah kehilangan selera untuk menyantap sarapan, Siera buru-buru kembali ke rumah sebelah lantaran Denis menyuruhnya untuk segera memanggil Mahanta. Mumpung laki-laki itu belum pergi bekerja, katanya.

Más capítulos
Descargar el libro
GoodNovel

Descarga el libro gratis

Descargar
Buscar lo que desee
Biblioteca
Explorar
RomancexiyuHistoriaUrbanHombre loboMafiaSistemaFantasiaLGBTQ+ArnolDMM Romancegenre22- 西语genre26-Españolgenre27-请勿使用Españolgenre28-Español
Cuentos cortos
CieloMisterio y suspensoCiudad modernaSupervivencia apocalípticaPelícula de acciónPelícula de ciencia ficciónPelícula románticaViolencia sangrientaRomanceVida Escolar/CampusMisterio/SuspensoFantasíaReencarnaciónDrama RealistaHombres LoboesperanzasueñofelicidadPazAmistadInteligenteFelizViolentoDulcePoderoso红安Masacre sangrientaAsesinatoGuerra históricaAventura fantásticaCiencia ficciónEstación de tren
Géneros populares
RomancexiyuHistoriaUrbanHombre loboMafiaSistema
Contáctanos
Acerca de nosotrosAyuda y sugerenciasNegocios
Recursos
Descargar appsBeneficios para escritorPolítica de contenidoPalabras claveBúsquedas PopularesReseña de libroFicción de fansFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Comunidad
Facebook Group
Síganos
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Condiciones de uso|Privacidad