GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest

All Chapters of You Are My Reason (INDONESIA): Chapter 11 - Chapter 20

Home /  All /  You Are My Reason (INDONESIA) /  Chapter 11 - Chapter 20
33 Chapters

11. Janji - Flashback

Siera tidak mengerti dimana letak kelebihan Ira jika dibandingkan dengan Soraya—ibu kandungnya. Sehingga Denis bisa berpaling kepada Ira dengan begitu mudahnya, dan meninggalkan Soraya serta dirinya. Lalu membangun keluarga baru bersama Ira, di sebuah desa pula.  "Pa, sampe hari ini aku masih bertanya-tanya. Kenapa Papa lebih milih Tante Ira ketimbang Mama? Kan Tante Ira enggak ada apa-apanya kalau dibandingin sama Mama."  Denis langsung menoleh ke arah Siera yang sedang berjongkok di pinggir sawah sambil mencabuti rumput-rumput kecil yang ada di sekitarnya. "Kalau kamu mau tahu jawabannya, kamu harus deket dulu sama ...," Denis menjeda, karena ia ragu untuk meneruskan ucapannya. Tapi i
Read more

12. Tak Terduga - Flashback

Apa yang telah dilakukan oleh Mahanta benar-benar mengejutkan semua orang, kecuali Siera yang sudah mengetahuinya sejak awal. Karena laki-laki itu benar-benar mengutarakan niatnya di depan Denis sekeluarga, bahkan di depan Hilda dan Malika juga.  Sementara raut wajah sedih Indira langsung menarik perhatian Siera. Apa lagi adik tirinya itu tampak menarik diri dari sana, yang membuat hati Siera bersorak penuh kegembiaraan.  Karena keasyikan dengan euphoria yang sedang menguasai dirinya, Siera sampai tidak menyadari apa yang sedang dibicarakan oleh semua orang yang ada di dalam ruangan ini.  "Siera, kamu yakin?" Denis menyentuh punggung tangan putri sulungnya setelah berhasil meredakan kega
Read more

13. Dibuang - Flashback

Siera nekat membolos dari sekolah hanya untuk pergi ke Jakarta, dan menemui Soraya. Ia ingin memastikan sendiri kebenaran dari ucapan Bik Iyem yang sempat mengatakan kalau Soraya tidak mau mengurusnya. Meskipun ia sudah bisa menyadari sebuah fakta yang tak terbantahkan kalau kenangan masa kecilnya hanya dipenuhi dengan memori bersama Nenek Anisa saja, serta beberapa asisten rumah tangga— termasuk Bik Iyem juga. Siera baru sampai di kediamannya Soraya saat matahari hampir tenggelam. Ia lantas memanggil Pak Satpam yang sedang berjaga di pos jaga dekat pagar rumah.  "Loh? Non Siera?" Pak Herman langsung mengenali wajah Siera saat gadis itu berjalan mendekat ke arah pagar rumah. "Mama ada di rum
Read more

14. Sate Ayam

Setelah membersihkan dirinya karena akan bersiap untuk pergi bekerja, Mahanta langsung masuk ke dalam kamar dan tidak melihat Siera di dalam sana. Ia segera memakai pakaiannya dengan secepat kilat sebelum mencari keberadaan Siera diluar kamar mereka berdua. Lalu ia tidak menemukan Siera dimana-mana, sehingga ia langsung pergi ke rumah sebelah dengan hati yang bertanya-tanya.  Tepat saat ia menginjakkan kedua kakinya di atas lantai teras rumah sebelah, Mahanta melihat Genta yang baru saja keluar dari pintu rumah. "Siera ada di dalem gak, G?" "Kenapa nyariin Siera? Lagi berantem ya?" Genta menatap Mahanta dengan pandangan ingin tahunya. Sedangkan Mahanta terlihat terkejut begitu mendengar pertanyaan Genta barusan, karena ia merasa jika hubungannya dan Siera sedang baik-baik saja dan mereka berdua juga sedang tidak bertengkar.  "Bu, Sieranya ada?" Tanya Mahanta pada Ira yang baru saja keluar d
Read more

15. Pulang

Terhitung sudah 2 malam Siera tidur di rumah ayahnya, dan ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pulang ke rumah sebelah. Sedangkan Mahanta tidak bisa memaksa, dan hanya membiarkan apa yang Siera lakukan.  Namun Denis merasa kalau ia harus segera turun tangan, dan mengajak Siera untuk berbicara tentang beberapa hal. Karena ia tidak ingin masalah ini terus berlarut-larut hingga akhirnya akan berakibat fatal bagi rumah tangga putrinya. Apa lagi ia merasa jika putrinya itu belum bisa menjadi istri yang baik untuk Mahanta.  Jadi, ketika Genta dan Mika sudah berangkat sekolah, lalu Ira dan Indira juga sedang sibuk dengan urusan mereka, Denis segera mendekati Siera yang sedang bermain ponsel dengan layar televisi yang dibiarkan menyala begitu saja.  Denis duduk tepat di samping Siera tanpa mengatakan apa-apa, sehingga perempuan itu langsung menolehkan kepalanya. Tapi hanya sekilas, dan setelah itu ia kemb
Read more

16. Keinginan Hilda

Mencuci pakaian adalah salah satu kegiatan yang paling menjengkelkan bagi Siera setelah ia benar-benar pindah ke rumahnya Hilda. Karena setiap kali ia ingin mencuci pakaian kotor miliknya, Hilda tidak pernah mengizinkannya untuk memakai mesin cuci yang ada di sana dengan alasan kalau ia masih muda dan masih memiliki banyak tenaga. Bahkan ia juga sempat dibandingkan dengan Malika yang tidak pernah mencuci pakaian menggunakan mesin cuci di rumah mereka. Sehingga ia terpaksa mencuci pakaian menggunakan kedua tangannya.  "Mulai sekarang, kamu harus belajar nyuciin bajunya Mahanta juga." Hilda datang sambil membawa keranjang pakaian, dan menaruhnya di hadapan Siera. Keranjang pakaian itu berisi pakaian kotor milik Mahanta semua. Sedangkan Siera langsung mendongak ke arah Hilda, tampak tidak terima jika ia harus mencucikan semua bajunya Mahanta. "Biasanya juga Mamak yang nyuciin bajunya dia. Terus kenapa harus aku—"  
Read more

17. Menghindar - Flashback

Setelah kejadian kurang mengenakkan yang dialaminya di rumah Soraya, perlahan-lahan Siera mulai menyadari segala kebaikan yang telah dilakukan oleh Ira dan ketiga anaknya. Ia tidak bisa menyangkal itu semua, karena semua orang yang ada di sana benar-benar memperlakukannya bak seorang putri raja yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.  Namun, ia juga masih terlalu gengsi untuk mengakuinya secara terang-terangan. Karena rasa tidak rela itu masih bersemayam di dalam hatinya. Sampai suatu ketika, Siera yang sudah terbiasa menyusul Denis ke sawah, tiba-tiba saja melemparkan pertanyaan yang benar-benar tidak terduga.  "Pa ...," Suara Siera terdengar ragu saat ingin berbicara, tapi ia tetap melanju
Read more

18. Mengenai Janji - Flashback

Beberapa tahun kemudian, Mahanta sudah menyelesaikan pendidikannya dan sempat merintis usaha kecil-kecilan bersama dua orang temannya di Jakata. Hampir 3 tahun berselang, ia baru memutuskan untuk kembali menetap di desa bersama kedua anggota keluarganya yang masih tersisa. Karena ada satu alasan yang membuatnya ingin menetap di kampung halaman saja. Dan alasan itu adalah Siera. Lantaran Mahanta tahu jika perempuan itu sangat membenci kota Jakarta. Walaupun hubungan mereka berdua sudah tidak memiliki kejelasan, tapi Mahanta tetap nekat dan tetap ingin memperjuangkan Siera. Kepulangannya ke desa benar-benar disambut dengan suka cita oleh Hilda dan juga Malika. Bahkan Pak Rahmat langsung menggandeng dirinya untuk diajak bekerja sama, hingga beberapa bulan kemudian ia diberi kepercayaan dan resmi menjadi tangan kanannya Pak Rahmat untuk mengurus perkebunan miliknya. Sedangkan pria paruh baya itu memutuskan untuk mengistirahatkan dirinya, kar
Read more

19. Hari Pernikahan - Flashback

"Rencana apa lagi yang sedang kamu jalankan, Nak?" Denis memandang Siera dengan penuh tanda tanya. Karena ia masih ingat dengan jelas kalau putri sulungnya itu sempat menolak untuk menepati janjinya, dan tidak mau menikah dengan Mahanta. Tapi ia malah dikejutkan dengan ucapan Mahanta yang mengatakan kalau Siera sudah setuju untuk menikah dengannya, dan pemuda itu akan segera datang ke rumah bersama keluarganya untuk meresmikan lamaran sekaligus menentukan tanggal pernikahan. Lalu semuanya semakin jelas begitu ia melihat sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kiri putrinya. Karena sebelumnya, cincin itu tidak pernah ada.Siera langsung mengangkat bahunya dengan gerakan santai. "Enggak ada rencana apa-apa, Pa. Aku cuma mau nepatin janji aku ke Mahanta aja." Namun Denis tetap merasa curiga. "Apa pun rencana yang sedang kamu jalankan sekarang, Bapak cuma mau mengingatkan. Pernikahan itu buka
Read more

20. Rumah Baru

“Hari jumat kemarin adalah momen paling membahagiakan bagi model sekaligus pemain film, Soraya Amanda. Pasalnya wanita single berusia 44 tahun itu baru saja mengakhiri masa lajangnya. Ia dipersunting oleh seorang duda tampan yang—”  Siera yang sedang melewati ruang tengah rumahnya Hilda, langsung terpaku di tempat dan menatap layar televisi dengan pandangan nanar.  Entah siapa yang meninggalkan televisi dalam keadaan menyala, dan menampilkan acara gosip dari para artis ibukota. Yang jelas, perasaan Siera terasa campur aduk seketika. Karena setelah sekian lama, baru kali ini lah ia mendengar kabar pernikahan dari wanita yang bernama Soraya Amanda. Padahal wanita itu sering digosipkan bersama banyak pria, dan beberapa di antaranya adalah rekan sesama artis juga. Hingga ia bertanya-tanya, apa yang membuat wanita itu akhirnya memutuskan untuk menikah. Lagi. Untuk yang kedua kali. Meskipun tidak banyak orang y
Read more
Previous Page
Next Page
Download the Book
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy