loading
Home/ All /You Are My Reason (INDONESIA)/01. PROLOG
You Are My Reason (INDONESIA)

01. PROLOG

Author: ruangbicara
"publish date: " 2020-08-06 15:14:48

Mau test ombak dulu di aplikasi baru.

Untuk semua pembaca, jangan lupa kasih rating buat cerita You are My Reason ya, terus kasih komen yang banyak juga.

Btw, happy reading, guys!

*****

“Mahanta Arian, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya, Siera Alivia, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan sebuah kalung emas seberat tiga gram, dibayar tunai.”

“Saya terima nikah dan kawinnya Siera Alivia binti Denis Yudhana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

“Sah?”

“Sah!”

“Alhamdulillah.”

Mahanta benar-benar merasa lega begitu ia berhasil mengucapkan ijab kabulnya dengan satu tarikan napas dan suara lantang. Lebih lega lagi saat semua orang mengucapkan kata ‘sah’ dan ‘alhamdulillah’ yang terdengar sangat indah di telinganya. Bahkan ia juga sudah memamerkan senyum bahagianya di hadapan semua orang yang datang, setelah tadi tersenyum gugup ketika akan menjabat tangan Denis untuk melakukan ijab.

Berbeda dengan Mahanta, Siera yang sedari tadi duduk berdampingan bersamanya, malah memutar kedua bola matanya secara terang-terangan di hadapan semua orang. Tidak ada senyum di bibir bergincu merah miliknya, karena hanya ada raut wajah bosan yang tergambar jelas di wajah cantiknya. Sehingga para ibu-ibu mulai berbisik-bisik sambil melirik ke arahnya. Tapi ia tidak pernah mempedulikannya. Karena hal itu sudah biasa dialaminya, dan hampir semua ibu-ibu di sini memang tidak pernah menyukainya, mungkin semenjak pertama kali ia pindah.

Begitu Mahanta mulai menyodorkan punggung tangannya ke arah Siera, Hilda—ibunya Mahanta—tampak menampilkan raut wajah cemas dengan kedua tangan memilin ujung kebaya sederhana yang membalut tubuh agak berisinya. Ia takut jika si anak sulung yang selama ini telah menjadi tulang punggung bagi kedua anggota keluarganya yang tersisa, akan menanggung malu kalau sampai Siera menepis tangannya.

Bahkan nyaris semua orang yang melihat, langsung menampilkan raut wajah cemas yang serupa seperti Hilda, karena Siera belum juga menyambut punggung tangan Mahanta untuk dicium menggunakan bibirnya.

Dan Mahanta merasa jika awan hitam seakan baru saja menutupi kebahagiaan yang sedari tadi sedang meletup-letup di dalam dada, sehingga ia berniat untuk menarik punggung tangannya agar waktu tidak bergulir untuk hal yang sia-sia. Tapi sebelum ia benar-benar melakukannya, Siera sudah lebih dulu melakukan hal yang tak terduga. Sehingga awan mendung yang baru saja akan menutupi kebahagiaannya, perlahan-lahan mulai sirna, dan senyum bahagia di wajahnya kembali melengkung kian lebar.

Dasar ibu tiri! Siera mengumpat dalam hati, karena sempat melihat Ira yang tersenyum dengan penuh arti. Hingga ia terpaksa menyambut punggung tangan Mahanta, dan ... menempelkannya di pipi.

Sekali lagi, menempelkannya di pipi. Bukan untuk dicium menggunakan bibir sebagai salah satu bakti seorang istri, yang membuat Denis langsung menampilkan senyum tak enak hati.

Sedangkan Hilda langsung mengusap dada, tapi tak lupa untuk mengembuskan napas lega. Masih mending ditempelkan di pipi, ketimbang ditepis seperti perkiraannya tadi.

Dan Siera harus mengendalikan ketenangan diri begitu kecupan hangat dari Mahanta hinggap di atas dahi. Ia hanya mampu mengumpat dalam hati, tapi tetap menghadiahi laki-laki itu dengan tatapan setajam belati. Karena ia merasa tidak sudi jika dahinya dikecup seperti tadi.

Lalu Siera ikut menadahkan kedua tangannya ketika doa sudah mulai berkumandang untuk pernikahan mereka berdua. Ia sempat melirik sekilas ke arah Mahanta yang tampak khusyuk berdoa. Sepertinya laki-laki itu sangat bersyukur karena bisa menikahinya. Jelas saja, siapa pun orang yang menikah dengannya pasti akan mengucapkan syukur karena bisa memiliki istri secantik dirinya.

Kemudian ia dan Mahanta sibuk menandatangani berkas-berkas pernikahan. Setelah itu mereka berdua memamerkan cincin dan juga buku nikah ke arah kamera, dengan Siera yang menampilkan raut wajah ala kadarnya serta Mahanta yang tersenyum dengan raut wajah bahagia seperti seorang pengantin yang baru menikah pada umumnya.

Jimmy, sahabat Mahanta yang bertugas sebagai tukang foto gratis di sana, sudah sempat menyuruh Siera agar melengkungkan senyum di bibirnya. Namun perempuan itu hanya menatapnya dengan pandangan datar dan tetap menampilkan raut wajah yang biasa-biasa saja. Sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa, selain memotret kedua pasangan yang baru saja menikah tapi pernikahannya sudah terlihat ‘tidak baik-baik saja’.

Selanjutnya semua tamu undangan dipersilakan menikmati hidangan yang ada, sementara kedua pengantin beserta keluarga mereka berdua akan melakukan sesi foto bersama sebagai kenang-kenangan.

Lalu Jimmy meminta tolong pada ayahnya agar menggantikan tugasnya untuk sementara, karena ia juga ingin ikut berfoto bersama kedua pengantin yang sedang berbahagia—meskipun hanya Mahanta sendirian yang terlihat sangat bahagia di hari pernikahannya. Sedangkan Siera tampak biasa-biasa saja, seolah-olah tidak ada yang spesial di hari pernikahannya dengan Mahanta. Tapi tidak apa-apa, itu bukan masalah. Lagi pula Siera memang dikenal sebagai orang yang tidak pernah tersenyum di kampung mereka.

Bukan hanya berfoto bertiga, tetapi Jimmy juga mengajak ketiga saudara Siera serta adik perempuannya Mahanta untuk ikut berfoto bersama mereka semua.

Setelah acara pernikahannya selesai, Siera langsung masuk ke dalam rumah ayahnya tanpa pamit kepada siapa-siapa. Karena pernikahan tadi memang berlangsung di depan rumah ayahnya dengan tema outdoor yang tidak terlalu mewah—setidaknya bagi Siera. Sedangkan Mahanta yang tidak sempat menahan Siera, hanya diam saja.

Indira yang melihat kakaknya masuk ke dalam rumah, langsung menatap ke arah ayahnya yang duduk tak jauh dari sana. Dan mereka berdua hanya bertukar tatap sebelum ia melangkahkan kakinya ke arah rumah untuk menyusul Siera yang sudah lebih dulu masuk ke dalam sana.

"Kak, kamar pengantinnya kan ada di rumah Bang Mahanta." Indira berdiri di ambang pintu kamar Siera yang masih terbuka lebar, dan menatap kakaknya yang sedang duduk di hadapan cermin meja rias. "Apa ... enggak sebaiknya Kakak langsung ke sana aja?"

Siera yang baru saja memegang botol micellar water untuk membersihkan make up di wajahnya, langsung mendelik tajam ke arah Indira. Sehingga perempuan berusia dua tahun di bawahnya itu terlihat salah tingkah.

"Jadi, lo ngusir gue dari sini?"

Indira langsung menggeleng kuat. Ia hanya memberitahu Siera, dan tidak bermaksud untuk mengusirnya dari rumah. "Enggak gitu, Kak."

"Terus kedatangan lo ke sini, dan ngomong kayak tadi itu buat apa?" tanya Siera yang sudah bersedekap di hadapan Indira dengan raut wajah marah.

"Dia cuma ngasih tahu kamu, Siera."

Kedua saudara beda ibu itu kontan menoleh ke asal suara, dimana ada Ira yang baru saja memasuki ruang tengah sembari menenteng sepatu di tangannya. Saat akan melintas di depan pintu kamar Siera, ia kembali melanjutkan ucapannya. "Karena statusmu sekarang adalah seorang istri, dan kamu enggak mungkin tetap tidur di rumah ini. Kecuali kalau Mahanta juga ikut menginap di sini."

Wajah Siera langsung terlihat sangat jengkel, dan ia juga sempat mengomel. Meski omelan itu hanya dilakukannya di dalam hati. Karena sedari dulu, ia selalu merasa jika Ira sangat menantikan hari ini—hari dimana ia bisa pergi dari sini. Karena wanita tua itu memang memiliki keinginan terpendam untuk segera mendepaknya dari rumah ini.

***

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

You Are My Reason (INDONESIA)   33. Sakit

33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku

You Are My Reason (INDONESIA)   32. Di Jakarta

32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a

You Are My Reason (INDONESIA)   31. Pertanyaan Aneh

31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”

You Are My Reason (INDONESIA)   30. Rumah Baru (2)

30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat

You Are My Reason (INDONESIA)   29. Pulang (2)

29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah

You Are My Reason (INDONESIA)   28. Konferensi Pers

28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung

You Are My Reason (INDONESIA)   23. Setuju

“Jadi, anaknya Jimmy ya?” Siera berjalan mendekati meja makan sambil melepaskan handuk yang masih membungkus rambut panjangnya. Ia sempat tersenyum masam ke arah Hilda sebelum wanita paruh baya itu membuang muka, seolah-olah tidak sudi melihat kedatangan

You Are My Reason (INDONESIA)   22. Opini Hilda

Saat ini, nama Soraya Amanda memang sedang menjadi perbincangan hangat dimana-mana. Apa lagi setelah suaminya yang bernama Ricard mengajukan pembatalan pernikahan secara tiba-tiba, padahal berita pernikahan mereka berdua masih senter dibicarakan oleh media. Karena pernikahan itu baru saja berlang

You Are My Reason (INDONESIA)   21. Pusing

"Jadi ...," Mahanta berdehem sebentar. " ... Gimana sama rumahnya? Kamu suka?" Namun Siera malah mengabaikan pertanyaannya Mahanta barusan, dan balik melemparkan pertanyaan kepada suaminya. "Buat apa kamu bangun rumah seluas ini untuk dihuni sama dua orang aja?"

You Are My Reason (INDONESIA)   20. Rumah Baru

“Hari jumat kemarin adalah momen paling membahagiakan bagi model sekaligus pemain film, Soraya Amanda. Pasalnya wanita single berusia 44 tahun itu baru saja mengakhiri masa lajangnya. Ia dipersunting oleh seorang duda tampan yang—” Siera yang

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy