GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest

All Chapters of REVARA (Indonesia): Chapter 1 - Chapter 10

Home /  All /  REVARA (Indonesia) /  Chapter 1 - Chapter 10
24 Chapters

PROLOG

“Kamu kok ngelamun terus, Sayang? Apa ada yang mengganjal di pikiranmu?” tanya Diana pada puteri semata wayangnya.Gadis berusia 17 tahun itu menggeleng lembut. Matanya kembali menatap jalanan ibu kota yang sangat asing baginya.“Kamu tidak suka ya tinggal sama Mama?” Mata Diana berkaca-kaca.“Eh… nggak, Ma, nggak kok. Mama ini ngomong apa sih? Rara suka bang
Read more

Bagian 1 : Tentang Ketidaksengajaan

Tamara mengekori seorang guru biologi dan juga wali kelasnya di kelas XI IPA 3, beliau bernama Bu Naomi.“Kalau kamu ada kesulitan atau masalah, kamu bisa cerita ke Ibu sebagai wali kelasmu ya?” tawar Bu Naomi dengan lembut.Tamara mengangguk sembari tersenyum menjawabnya.Kelas yang sebelumnya ramai dan gaduh, kini menjadi hening ketika guru yang sedang hamil enam bulan itu masuk disusul oleh gadis
Read more

Bagian 2 : Kejahilan

Smartphone Tamara berdering, alarmnya berbunyi tepat pukul 04.30 membuat gadis itu menggeliat lalu terbangun.Dengan segera Tamara mematikan alarm di ponselnya, kembali pada layar utama di mana terdapat foto dirinya dan seorang pria 50 tahunan yang tak lain adalah ayahnya itu.Hanya ponsel itu satu-satunya yang ditinggalkan oleh ayahnya. Tadinya ia ingin menjualnya, namun Diana tak mengizinkan. Ibunya itu berkata jika ponsel itu adalah satu-satunya sarana melepas kerinduan pada ayah, meski tak dapat saling berkomunikasi. Tamara berlari menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan air dingin. Tak butuh waktu lama baginya untuk mandi dan berdandan. Kini tubuh mungil itu sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya, siap ke sekolah meski ia tahu jika ia tak akan tenang selama masa SMA ini."Sarapan dulu, Ra," kata Diana mengingatkan."Ma, Rara bawa bekal aja deh. Udah siang ini, takut telat," jawab Tamara."Lh
Read more

Bagian 3 : Hari-Hari Berat

Tamara keluar toilet -- melihat muka murungnya di pantulan cermin. Air matanya sudah kering dari tadi. Tamara membasuh mukanya dengan air, lalu berjalan kembali ke kelas diiringi tatapan aneh dan teriakan mengolok dari teman-teman kelasnya.Dengan segera Tamara mengemasi barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tasnya."Ra, ini kan belum jam pulang," kata Juna yang terheran-heran melihat apa yang dilakukan Tamara.Namun Tamara tak menggubrisnya sedikit pun. Gadis itu justru berlari pergi membawa tasnya keluar."Rara!" seru Juna memanggil, namun percuma saja, sang empunya nama sudah entah menghilang kemana.                                                       ***"Lho, kok udah pulang?" tanya Diana heran. Tak seperti biasanya putri tunggalnya itu pulang sepagi ini."Iya, Ma. Rara agak ngg
Read more

Bagian 4 : Tugas Kelompok

Seseorang dengan baju batik merahnya dipadu dengan hijab warna senada serta sepatu pantofelnya itu dengan anggun berjalan menuju kelas XI IPA 1, kelas penuh kebobrokan dan tingkah para penghuninya yang luar biasa itu.Masih terdengar alunan dangdut yang diputar Ganjar menggunakan speaker."Siapa yang putar lagu ini? Harap dimatikan karena pelajaran prakarya akan segera dimulai," kata guru yang kerap disapa Bu Yani itu.Namun sang empunya nama tak menghiraukan, ia masih asyik bergoyang.Yo wis ben duwe bojo sing galakYo wis ben sing omongane sengakSeneng nggawe aku susahNanging aku wegah pisah"GANJAR JULIAN!" Teriakan Bu Yani akhirnya mampu membuat Ganjar terkejut lalu mematikan musiknya."Kamu dengar nggak kalau bel masuk sudah bunyi sejak sepuluh menit yang lalu?""Enggak, Bu.""Jelas aja kamu nggak dengar karena lagumu itu keras banget sa
Read more

Bagian 5 : Penyesalan

Alyana terkejut bukan main mendapati putera sulungnya sudah tak sadarkan diri di bawah lantai bawah dengan darah yang mengucur dari kepalanya.Dengan segera ia memanggil ambulance dan membawa Revano menuju rumah sakit milik keluarganya. Tamara yang merasa menjadi penyebab semua ini pun ikut ke rumah sakit, menunggu dengan harap-harap cemas.Alyana dan Pram terus melirik tak suka ke arah Tamara. Gadis mungil itu sebenarnya tahu, namun ia tak peduli itu. Mulutnya terus komat-kamit berdoa agar Revano dapat segera disembuhkan.Tamara tak tahu lagi bagaimana jika hal buruk terjadi pada Revano pasca insiden ini. Hidup Tamara pasti akan sangat hancur. Bisa saja ia dikeluarkan dari sekolah atau yang terburuk ia dapat dipenjara karena mencelakai seseorang. Tentu hal itu akan berdampak buruk pada Diana.Sebuah ponsel berdering nyaring memecah keheningan di sana. Bukan ponsel Tamara -- itu jelas karena nada deringnya berbeda. "
Read more

Bagian 6 : Cantik Juga

Butuh waktu tiga hari untuk seorang Revano pulih. Saat itulah Tamara menjadi sangat kerepotan -- ia harus merawat Revano sepulang sekolah hingga pukul lima sore.Setiap kali Diana menanyakannya mengapa ia sekarang sering pulang malam, Tamara selalu menjawab jika sedang banyak tugas kelompok yang harus diselesaikan.Untung saja Diana percaya dan tak menanyakan hal lebih lanjutnya.Selama 'mengasuh' Revano, Tamara mulai tahu jika cowok itu sangat phobia terhadap kecoa."Lo beneran takut kecoa?" tanya Tamara suatu waktu."Kenapa?" Revano balik bertanya.Tamara menepuk jidat. Susah memang mengajak berbicara cowok di hadapannya itu."Gue tanya, Vano.""Gue juga tanya kok.""Maksud lo?" Tamara mengerutkan keningnya tak mengerti."Kenapa lo tanya gitu? Untung ruginya di lo apaan sih?"Tamara terdiam. Tidak ada untung maupun ruginya jika gadis itu mengetahui hal-hal tentang Revano. Namun apa susahnya menjawab iya a
Read more

Bagian 7 : Tentang Sebuah Rasa

Tamara tersenyum geli membaca pesan Revano. Cowok itu semakin hari semakin tidak jelas saja -- tingkahnya semakin aneh dari hari ke hari."Rara," panggil Diana dari arah ruang jahit."Ya, Ma?" Dengan segera Tamara bergegas menghampiri ibunya itu."Tolong antar ini ke rumah Tante Desi ya. Alamatnya udah mama kirim di WhatsApp kamu," pinta Diana seraya menyodorkan sekantung plastik kresek besar berisi beberapa pakaian itu."Notanya udah ada di dalam," lanjut Diana.Tamara mengangguk paham. Segera saja ia mengambil sepeda warna biru tuanya di samping rumahnya itu, lalu mengayuh dengan penuh semangat. Sesekali mata gadis itu menatap layar ponsel yang mengarahkannya pada sebuah rumah yang terletak di sebuah desa itu. Rumah tersebut tampak paling mewah di antara rumah-rumah lainnya.Tamara memasuki pekarangan rumah itu yang begitu luas, lalu perlahan mengetuk pintu rumah.Seorang wanita den
Read more

Bagian 8 : Teman?

Revano melepaskan gandengannya ketika sudah memasuki area sekolah, ia tak ingin seluruh siswa tahu jika ia menggandeng tangan Tamara -- gadis yang mencari masalah dengannya di awal sekolah.Tamara memperhatikan sikap Revano dengan pandangan tak terbaca. Ia sendiri bingung, kenapa lelaki itu kembali dingin padanya.Namun kembali lagi ke kenyataan bahwa Tamara hanyalah seorang 'pembantu' bagi Revano, tidak lebih. Gadis itu tak boleh terlalu berharap."Lo duluan yang ke kelas," kata Revano mempersilakan.Tamara masih terdiam, menikmati setiap inci wajah tampan dan sempurna seorang Revano dalam diam."Nggak ada gurunya, gue udah chat Aldo tadi," lanjut Revano yang sepertinya tahu apa yang dikhawatirkan Tamara.Tamara tetap tak bersuara, ia juga tak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri."Gue pergi dulu," kata Revano sembari berlalu.Namun langkahnya terhenti ketika Tamara meraih pergelangan tangannya.
Read more

Bagian 9 : Papa

Sesi curhat antara Juna dengan Tamara itu terpaksa terhenti ketika seisi kelas menjadi semakin gaduh."Woy, woy, woy. Vano berantem lagi, Cuy," teriak Jaya dengan hebohnya. Mengundang perhatian seisi kelas, tak terkecuali Tamara dan Juna.Vano berantem lagi? tanya Tamara dalam hati.Seberapa sering cowok itu berantem? Apakah ia sudah langganan bertempur dengan siapapun.Dengan segera Tamara berlari keluar, meninggalkan Juna di bangkunya dengan perasaan bingung.Langkah gadis itu menuju lapangan sekolah, ia sangat yakin jika Revano berada di sana.Benar saja. Kerumunan semakin ramai, tak terkecuali bapak dan ibu guru yang berusaha menenangkan.Dengan berani Tamara mendekat, berusaha menembus kerumunan itu untuk melihat lebih jelas bagaimana keadaan Revano.Tamara menutup mulutnya dengan telapak tangannya begitu melihat keadaan Revano yang benar-benar kacau itu. Rambut Revano tampak acak-acakan, seragam
Read more
Previous Page
Next Page
Download the Book
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy