Download the book for free
Bagian 6 : Cantik Juga
Author: Gabriella TanButuh waktu tiga hari untuk seorang Revano pulih. Saat itulah Tamara menjadi sangat kerepotan -- ia harus merawat Revano sepulang sekolah hingga pukul lima sore.
Setiap kali Diana menanyakannya mengapa ia sekarang sering pulang malam, Tamara selalu menjawab jika sedang banyak tugas kelompok yang harus diselesaikan.
Untung saja Diana percaya dan tak menanyakan hal lebih lanjutnya.
Selama 'mengasuh' Revano, Tamara mulai tahu jika cowok itu sangat phobia terhadap kecoa.
"Lo beneran takut kecoa?" tanya Tamara suatu waktu.
"Kenapa?" Revano balik bertanya.
Tamara menepuk jidat. Susah memang mengajak berbicara cowok di hadapannya itu.
"Gue tanya, Vano."
"Gue juga tanya kok."
"Maksud lo?" Tamara mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Kenapa lo tanya gitu? Untung ruginya di lo apaan sih?"
Tamara terdiam. Tidak ada untung maupun ruginya jika gadis itu mengetahui hal-hal tentang Revano. Namun apa susahnya menjawab iya atau tidak?
"Van, gue kan cuma tanya baik-baik. Apa susahnya sih lo tinggal jawab iya atau nggak?"
"Susah banget, Ra. Apalagi lo sebenernya udah tahu, tapi masih tanya."
Tamara terdiam. Benar juga apa yang dikatakan Revano.
Pertanyaan Tamara itu adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab sudah menemukan jawabannya, bukan?
"Ambilin pisang itu dong," suruh Revano yang langsung dijalankan oleh Tamara.
"Nih." Disodorkannya sebatang pisang berwarna kuning segar itu.
Namun Revano masih terdiam memandanginya.
"Kenapa?" tanya Tamara keheranan.
"Kupasin lah."
"Tangan lo kan baik-baik aja, Van."
"Gunanya gue angkat lo jadi pembantu apa kalau nggak buat disuruh-suruh?"
Tamara mengembuskan napasnya malas. Dengan pasrah ia mengupaskan pisang untuk Revano.
Sementara itu, Revano tersenyum dalam diam menatap Tamara. Gadis yang polos, mau saja disuruh-suruh oleh Revano.
"Nih."
Revano segera melahap pisang tersebut.
"Enak ya," kata Revano tersenyum riang.
Jelaslah enak, lo kan tinggal makan, gerutu Tamara dalam hati.
***
Hari ini Revano telah kembali ke sekolah. Ia melewati kerumunan para siswi yang telah menyambutnya.
Dengan langkah angkuh seperti ketua geng F4 di drama, Tamara mengikutinya dari belakang.
Tamara yang bertubuh mungil itu kesusahan mengejar Revano. Punggung cowok itu seolah ditelan oleh lautan siswi-siswi yang histeris menyambutnya.
"Vano," panggil Tamara membuat seluruh pasang mata tertuju padanya.
Beberapa dari mereka berbisik sembari menatap tak suka ke arah Tamara.
Tamara tak peduli. "Vano, tungguin gue," katanya mencoba mengejar Revano.
BRUK!
Seseorang dengan sengaja menjegalnya hingga terjatuh. Membuat kening Tamara menjadi berdarah karena terbentur ubin.
"Genit banget sih lo jadi cewek!"
"Udah kemarin-kemarin cari masalah mulu sama Revano. Minta diperhatiin lo?"
"Nggak usah sok cantik deh lo."
Dan masih banyak lagi caci maki yang dengan terang-terangan ditujukan padanya.
Revano yang melihat itu pun akhirnya mendekat. Ia memperhatikan kening Tamara yang berdarah.
Tanpa banyak bicara, cowok itu menggendong Tamara ala bridal style -- membuat siapapun yang menyaksikan itu terkejut dan tak percaya.
"Mulai detik ini dia milik gue. Siapapun yang coba ganggu dan sakiti dia, berurusan sama gue," kata Revano dingin.
Ia membawa Tamara meninggalkan kerumunan itu menuju ruang UKS.
Di sana dokter penjaga UKS menghampiri mereka.
"Kenapa dia?" tanya dokter Kinara.
"Dia jatuh terus kepalanya kebentur lantai, Dok. Nih, lihat," kata Revano sembari meletakkan Tamara di brankar.
Dokter Kinara memeriksa luka Tamara. "Nggak dalam kok ini. Cuma lecet biasa. Dokter obati dulu ya."
Dengan telaten, dokter Kinara mengobati luka di kening Tamara, lalu menutupnya dengan plester.
"Udah nih."
"Makasih ya, Dok," ucap Tamara dan Revano bersamaan.
"Sama-sama. Oh iya, kalian bisa jaga UKS sebentar nggak? Dokter mau beli makan dulu hehe."
"Boleh, Dok," jawab Tamara dengan senang hati.
Dokter Kinara pun pergi menuju kantin -- meninggalkan mereka berdua di dalam ruang UKS.
"Lo kenapa lagi sih pakai acara jidat berdarah kebentur lantai gitu?" tanya Revano mulai mengomel. Ia gemas sendiri dengan tingkah ajaib yang dilakukan oleh Tamara.
"Eh, semua ini gara-gara fans lo yang anarkis tuh. Dorong-dorongan sampai gue jatuh." Tamara memprotes.
Revano terkikik geli.
"Kenapa lo?" tanya Tamara bingung.
"Nggak apa-apa. Konyol aja lo tuh."
"Konyol gimana maksud lo?" Tamara semakin tak mengerti.
"Lo tuh ya, makanya punya badan yang gedean dikit dong. Udah pendek, kecil lagi. Ya risiko kalau kena dorong-dorong gitu," tawa Revano.
"Eh, lo tuh ya, punya mulut tuh dijaga. Nggak ada orang pendek yang mau terlahir jadi pendek, termasuk gue. Kalau boleh minta ke Tuhan, gue juga pengen punya badan yang tinggi, bagus, mulus gitu."
"Kok lo nggak minta aja?"
"Karena gue sadar kalau gue ini istimewa. Tuhan menciptakan gue berbeda dari yang lain karena gue ini spesial di mata Tuhan."
"Oh."
"Oh doang," protes Tamara tak suka dengan tanggapan Revano.
"Terus gue harus gimana? Gue harus bilang wow gitu?"
"Lo punya mata juga aneh," balas Tamara yang berhasil membuat Revano mendelik tajam.
"Maksud lo?"
"Mata lo warnanya biru."
"Eh, ini karena mama gue keturunan Jerman-Indo, makanya mata gue warna biru kayak mata orang-orang bule," jelas Revano panjang lebar.
"Oh."
Skak mat!
Tamara berhasil membalas Revano dengan jawaban yang sama menyebalkannya.
"Lo nyebelin banget sih," protes Revano tak suka.
"Lo nyebelin banget sih." Tamara mengikuti. "Udahlah, gue mau ke kelas dulu. Udah jam masuk."
Tamara turun dari brankar, berjalan keluar.
"Ra, terus UKS yang jaga siapa? Dokter Kinara belum datang nih."
"Kan bisa dikunci dulu, Vano. Kuncinya nanti ditaruh di bawah keset itu," jawab Tamara sembari menunjuk keset di bawah pintu UKS.
"Oh iya, tumben otak lo encer."
"Otak gue emang selalu encer."
***
"Buruan ajari gue ini carannya gimana?" Revano terus mendesak Tamara.
"Sabar. Gue juga baru ngitung," jawab Tamara yang pandangannya masih berkutat pada kertas buram di depannya. Kertas itu telah penuh dengan coretan angka yang Revano sendiri tak tahu bagaimana caranya.
Revano menunggu dengan jenuh, sesekali ia memainkan ponselnya untuk menghilangkan kebosanan.
Tiba-tiba Brian muncul entah darimana.
"Ngapain lo?" tanya Brian pada Revano.
"Melihara tuyul. Udah tahu gue lagi belajar, masih aja tanya," jawab Revano kesal. Namun hal itu membuat Brian terkekeh geli.
Pemandangan seperti ini hampir tak pernah dilihat oleh Brian. Saudara kembarnya itu tak pernah belajar seserius ini, terlebih bersama seorang perempuan.
Brian telah mengenal Tamara dengan baik, ia juga tahu perjanjian konyol apa yang dibuat Revano itu.
"Mau bubur ayam sama es teh nggak, Ra?" tawar Brian.
"Cuma nawarin Rara? Gue nggak?" protes Revano kesal.
"Lo juga mau makan bubur ayam?"
"Gue kalau lagi belajar gini suka laper mulu, jadi apapun bakal gue makan."
"Termasuk kayu sama batu?" tanya Brian menggoda.
"Termasuk lo juga bakal gue makan, Yan," jawab Revano kesal.
Brian lagi-lagi tertawa. Ia merasa puas karena berhasil membuat Revano kesal.
"Lo ngapain masih di situ?" tanya Revano yang terganggu karena Brian tak kunjung pergi.
"Gue kan belum dapat jawaban dari Rara. Ra, lo mau bubur ayam sama es teh nggak? Soalnya tadi di kampus ada acara, tapi gue udah kenyang nih."
"Nggak. Rara dah kenyang kok. Ya kan, Ra?"
"Kata siapa gue dah kenyang? Gue mau kok, Kak," jawab Tamara antusias.
Segera saja Brian menyerahkan sebungkus bubur ayam dan segelas es teh yang langsung disantap dengan lahap oleh Tamara.
"Gue ke kamar dulu," kata Brian pamit.
"Makasih, Kak," ucap Tamara senang.
Brian mengangguk, lalu dengan cepat menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Woy, jangan asyik makan aja lo. Selesaiin nih tugas dulu biar gue bisa nyontek," kata Revano menyadarkan.
Dengan segera Tamara kembali menghitung angka-angka yang ia sempat abaikan karena makanan itu.
Dalam diam Revano memperhatikan Tamara, memperhatikan setiap inci wajah serius gadis itu.
Kalau dipikir-pikir, nih cewek cantik juga ya. Coba aja bisa jadi cewek gue, batin Revano terkikik geli membayangkan.
Eh, lo mikir apaan sih, Van? Masa iya lo naksir sama cewek kayak gini?
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
REVARA (Indonesia) Bagian 23 : Giselle
Sudah dua tahun sejak kejadian di mana Tamara bertemu dengan Joseph, dirinya jadi lebih hati-hati. Ia tak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja di sebuah kedai milik teman Alice yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak menghasilkan banyak, setidaknya cukup untuk dirinya hidup selama sebulan dan membayar uang kos.Semua cara bersembunyi Tamara tidak cukup untuk membuat dirinya aman karena Joseph selalu menemukannya. "Tinggallah sama Papa, Ra," kata Joseph di suatu siang.Mereka akhirnya dapat berbicara setelah sekian lama Tamara selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan pria itu.Tamara menggeleng. Hanya itu jawabannya sebagai bentuk penolakan."Kenapa?" tanya Joseph membuat Tamara mencengkeram ujung bajunya menahan emosi."Papa masih tanya kenapa? Papa yang tinggalin aku sama mama dan lebih memilih wanita itu hanya karena dia bisa membuat karier Papa melejit.""Tapi Papa mencintai dia, Ra. Apa yang salah d
REVARA (Indonesia) Bagian 22 : Papa
Sudah dua bulan ini Tamara pindah, ia memilih tinggal di kosan biasa daripada harus tinggal di kontrakan yang menurutnya terlalu besar untuk ia huni seorang diri."Geser dikit bisa nggak sih, Ran?" tanya Alice seraya mendorong tubuh Rani agar sedikit menjauh supaya memberinya banyak tempat untuk berbaring."Hih, lo apaan sih, Lice? Banyak tempat tuh," jawab Rani tak suka jika keasyikannya menonton drama Korea diganggu oleh Alice."Di situ nanti tempatnya Karina sama Rara. Lo mikir dong, badan lo aja segede itu masih juga kaki sama tangan ke mana-mana," protes Alice."Lo nggak ngomong pun gue juga tahu kalau itu tempatnya Rara sama Karina. Tapi kan mereka masih keluar. Lo yang santai dikit kenapa sih? Ganggu aja gue lagi nonton ayang Hyunbin nih," gerutu Rani."Kalian kenapa sih? Berisik banget dari tadi," tanya Tamara yang sudah muncul di hadapan mereka bersama Karina dan beberapa kantung plastik berisi makanan dan minuman yang mereka inginkan.
REVARA (Indonesia) Bagian 21 : Tentang Kesalahpahaman
Tamara mulai membiasakan diri hidup mandiri, bertemankan kesendirian di tengah ingar bingarnya ibu kota setiap harinya.Semenjak Revano pergi, justru Tamara mendapatkan banyak teman. Alice, Karina, dan Rani resmi sudah menjadi sahabat Tamara. Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba mau bersahabat dengan Tamara. Meski hidupnya dikelilingi oleh banyak teman, Tamara tetap merasa ada yang kurang di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Revano.Kepergian Revano rupanya menyisakan ketidakrelaan dalam hati Tamara.Sekuat apapun Tamara menghibur diri, tetap saja tak berhasil. Kini seseorang yang ia cintai setelah Diana juga meninggalkannya. Terlebih karena Revano lah yang merenggut keperawanannya.Tamara menghela napas. Hm, ya udah lah, mau gimana lagi? katanya dalam hati. Mau tak mau ia harus merelakan bukan?"Ra, mau ke kantin nggak?" tanya Juna.Tamara mengangguk. Ia beranjak dari bangkunya."Mau ke mana?" tanya
REVARA (Indonesia) Bagian 20 : Sakit
Revano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang membawa Pram tersebut ke rumah sakit."Vano!" seru Alyana memanggil puteranya.Namun sang pemilik nama tak menyahut -- ia berjalan masuk bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa brankar dengan seseorang bertutupkan kain putih di atasnya.Alyana memandang heran pada Revano."Biar aku saja yang menemui dia."Di sinilah Revano berada, di kamar jenazah. Ia menangisi seseorang yang terbaring kaku bertutupkan kain tersebut."Pa, Papa jangan pergi tinggalin Vano. Vano sayang sama Papa. Apa Papa nggak kasihan sama mama yang kesepian kalau Papa tinggal? Papa tahu sendiri kan kalau mama itu nggak bisa berlama-lama jauh sama Papa. Gimana aku sama Brian, Pa? Kami masih butuh Papa. Kami ingin Pap... HUWAAAAA!!! SETAAANNN!!!" Pram membungkam mulut anaknya yang berteriak seperti toa di tempat sepi."Jaga mulutmu, Vano!" bisik Pram sembari mendelik taj
REVARA (Indonesia) Bagian 19 : Teror 2
Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me
REVARA (Indonesia) Bab 18 : Pelita yang Padam
Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,
REVARA (Indonesia) Bagian 9 : Papa
Sesi curhat antara Juna dengan Tamara itu terpaksa terhenti ketika seisi kelas menjadi semakin gaduh."Woy, woy, woy. Vano berantem lagi, Cuy," teriak Jaya dengan hebohnya. Mengundang perhatian seisi kelas, tak terkecuali Tamara dan Juna.Vano berantem lagi? tanya Tama
REVARA (Indonesia) Bab 17 : Teror 1
"Ra, buruan itu udah ditunggu Vano," kata Diana sembari melongok ke kamar Tamara."Iya, Ma," jawab Tamara yang masih sibuk membenarkan letak dasinya.Gadis mungil itu pun keluar setelah merasa rapi."Ayo berangkat," kata Revano.Tamara mengangguk.Keduanya lalu
REVARA (Indonesia) Bagian 8 : Teman?
Revano melepaskan gandengannya ketika sudah memasuki area sekolah, ia tak ingin seluruh siswa tahu jika ia menggandeng tangan Tamara -- gadis yang mencari masalah dengannya di awal sekolah.Tamara memperhatikan sikap Revano dengan pandangan tak terbaca. Ia sendiri bingung, kenapa lelaki it
REVARA (Indonesia) Bagian 7 : Tentang Sebuah Rasa
Tamara tersenyum geli membaca pesan Revano. Cowok itu semakin hari semakin tidak jelas saja -- tingkahnya semakin aneh dari hari ke hari."Rara," panggil Diana dari arah ruang jahit."Ya, Ma?" Dengan segera Tamara bergegas menghampiri ibunya itu."Tolong antar ini ke rumah Ta
