Download the book for free
PROLOG
Author: Gabriella Tan“Kamu kok ngelamun terus, Sayang? Apa ada yang mengganjal di pikiranmu?” tanya Diana pada puteri semata wayangnya.
Gadis berusia 17 tahun itu menggeleng lembut. Matanya kembali menatap jalanan ibu kota yang sangat asing baginya.
“Kamu tidak suka ya tinggal sama Mama?” Mata Diana berkaca-kaca.
“Eh… nggak, Ma, nggak kok. Mama ini ngomong apa sih? Rara suka banget tinggal sama Mama. Hanya saja…” Tamara tak melanjutkan perkataannya.
“Hanya saja apa, Sayang?”
“Hanya saja Rara rindu papa, Ma,” jawabnya sendu.
Diana mendekapnya, mengusap lembut rambut panjang puterinya yang tergerai.
Memang tak mudah baginya menjalani kehidupan seperti ini, terlebih anak gadisnya masih sangat belia untuk menelan pil pahit itu. Namun bagaimana lagi? Kenyataannya sekarang ia dan suaminya sudah bercerai. Pria itu lebih memilih wanita yang umurnya tak terlampau jauh dari anaknya.
“Papa sudah pergi, Nak. Kita harus terima itu,” jawabnya menenangkan. Meski ia tahu, anaknya tak akan tenang karena hal ini.
“Berarti aku bukan anaknya papa lagi ya, Ma?” Air mata mulai terjun deras dari pelupuk mata Tamara.
Dengan lembut Diana mengusap. Lagi-lagi kembali mendekap Tamara dalam peluknya.
“Sayang, selamanya kamu menjadi anaknya papa.”
“Tapi kenapa papa nggak mau sama kita lagi, Ma?”
Diana hanya terdiam. Ia sendiri tidak tahu sebabnya.
***
08xxxxxxxxxx : pulang sekarang, Om Dedi cari kamu
Papa bilang pulang sekarang, Vano!
Vano!
Pulang atau papa cabut semua fasilitasmu?
Dengan kesal ia mematikan ponselnya, lalu menyambar kunci mobilnya dan melangkah keluar.
“Mau kemana lo?” tanya Aldo yang matanya masih sibuk dengan PS-nya.
“Pulang.”
“Ngapain jam segini pulang?” tanya Rizky.
“Iya, ngapain jam segini pulang? Kayak Cinderella aja yang takut kemalaman,” timpal Arya yang masih fokus video call dengan Iris, kekasihnya.
“Siapa?” tanya Iris dari seberang.
“Vano. Jam segini udah pulang, cupu.”
Iris hanya tertawa dari sana.
“Papa gue ngancem kalau gue nggak pulang, semua fasilitas gue disita,” jawab Revano kesal.
“Yah, kalau udah menyangkut orang tua sih, gue nggak bisa ngomong apapun kecuali nurut aja, Van. Daripada lo ke sekolah jalan kaki,” jawab Arya yang diiyakan oleh lainnya.
Revano hanya mengangguk. Ia melangkah keluar dengan malas.
***
Revano membunyikan klakson mobilnya, membuat seorang satpam yang sedang bertugas di depan rumahnya itu terkejut dan langsung membukakan pagar padanya.
“Molor mulu, Pak. Mau digaji nggak sih?” protes Revano dengan nada kesalnya.
Satpam tersebut hanya tertunduk, lalu meminta maaf atas kecerobohannya.
Alyana bergegas keluar begitu melihat putera sulungnya sudah di depan rumah.
“Vano, buruan masuk,” katanya sedikit berbisik.
Vano masuk ke dalam rumah mengekori Alyana. Ia sedikit terkejut ketika mendapati banyak orang sudah berkumpul di ruang tamunya, termasuk Brian. Adiknya itu entah mengapa menolak ketika diajak main PS dengan anggota The Crush, dengan alasan ia malas bermain permainan kuno itu.
“Hai semua, kenalkan ini Revano, anak pertama kami,” seru Alyana mengundang perhatian banyak orang.
“Vano, say hi dong,” bisik Alyana tepat di telinganya.
“Hai semua, saya Revano.”
“Wah, ganteng banget ya.”
“Iya, ganteng.”
“Kakak sama adik sama-sama wajahnya mirip mamanya ya.”
“Eh, jangan salah. Itu gantengnya turunan dari saya kok,” balas Pram tak mau kalah.
Sontak jawaban Pram itu mengundang tawa semua orang. Terlebih ketika Pram sengaja pura-pura merajuk agar semuanya mengakui kalau kedua puteranya itu mirip dengannya.
“Vano, kamu kapan main ke rumah?” tanya seorang pria seusia ayahnya yang biasa ia sebut Om Dedi itu.
“Iya nih, Vano sekarang udah jarang ke rumah. Lica selalu tanya lho,” timpal Tante Desi, istri Om Dedi.
“Hehe, lain waktu saya main ke rumah deh, Tante, Om,” jawab Revano canggung.
“Nah, harus dong. Emangnya nggak kangen Lica apa?”
Revano hanya tersenyum canggung.
Kangen Lica? Sama sekali tidak.
Siapa Lica di hatinya? Tidak lebih dari seorang kakak saja baginya.
Semua perjodohan itu hanyalah rencana dan khayalan bodoh saja. Revano sama sekali tak mencintai Lica, meski berkali-kali gadis itu mencoba menarik perhatiannya.
“Ganteng semua ya.”
“Orang tuanya aja cakep-cakep, pasti anak-anaknya juga cakep dong.”
Revano dan Brian saling bertatapan, mereka sudah jengah dengan kata-kata seperti itu yang menurut mereka sangat monoton.
“Ma, Pa, dan semuanya, saya pamit ke atas dulu ya,” pamit Revano.
“Saya juga ya,” kata Brian mengikuti.
Pram dan Alyana saling bertatapan, seakan melempar kesalahan dengan mengatakan ‘anakmu tuh.'
“Ehm, maaf ya semuanya, maaf juga Lica. Brian besok harus kuliah pagi, kalau Vano besok ada ulangan harian, jadi mereka mau belajar di kamar,” ucap Alyana berbohong.
“Ah, nggak apa-apa kok, Jeng. Dimaklumi. Lica juga gitu kok, tiap hari tugas kuliah terus, jadi nggak ada waktu buat main,” jawab Tante Desi.
Sementara di dalam kamar, baik Brian maupun Revano, tidak ada yang belajar seperti yang dikatakan oleh Alyana tadi. Brian sibuk berkutat dengan lukisannya, cowok itu sejak kecil memang sudah hobi melukis. Bahkan Alyana setiap bulannya mengadakan pameran lukisan di galeri kecil milik Brian. Banyak yang mengagumi karya cowok berusia 19 tahun itu. Berbeda dengan saudara kembarnya, di kamar Revano sibuk bermain game online kesukaannya itu. Tak heran jika Revano justru masih duduk di bangku SMA sedangkan Brian sudah kuliah.
Tiba-tiba ponsel Revano berdenting. Menampilkan nama yang sangat ia tak ingin lihat. Siapa lagi jika bukan Lica.
08xxxxxxxxxx : Kamu nggak lagi belajar kan?
Aku tahu kok
Mana mungkin kamu belajar
Kamu cuma mau menghindari dari aku kan?
Vano
Jawab dulu syg
“Sialan, jadi kalah!” umpat Revano.
Dengan segera ia memblokir nomor Lica. Perempuan itu tak hanya sekali dua mengganggunya, terlebih mengusik privasinya.
Benar mereka sudah bertunangan, namun Lica bukan istrinya, dan tak akan pernah menjadi istrinya. Lica tak ada hak sedikit pun untuk mencampuri urusan pribadinya.
Namun Lica tetaplah Lica, gadis itu dengan berani mengetuk pintu kamar Revano.
“Lo mending pergi aja deh. Gue nggak minat ketemu lo,” kata Revano yang sudah tahu siapa yang mengetuk pintu kamarnya itu.
“Aku cuma mau ngomong aja, Van.”
“Nggak ada yang perlu diomongin.”
“Ada. Makanya kamu keluar dulu.”
Revano mengembuskan napasnya dengan kasar. Terpaksa ia membuka pintunya.
“Buruan.”
“Ini soal hubungan ki…”
BRAK!
Revano menutup kembali pintunya, membiarkan Lica terus mengetuk seraya memanggil namanya.
Ia tak peduli lagi dengan gadis dewasa itu. Sejak awal ia tak menyukainya, gadis itu terlalu dewasa baginya.
Perjodohan bodoh itu membuatnya terpaksa harus berbaik hati dengan Lica. Mau tak mau Revano harus berlaku sopan pada Lica, terlebih karena Lica usianya lebih tua darinya. Namun semakin Revano berbaik hati, gadis itu justru berlaku seenaknya, mencoba ingin tahu semua tentang Revano. Hal itu membuat Revano tak ada pilihan lain selain membencinya dengan terang-terangan.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
REVARA (Indonesia) Bagian 23 : Giselle
Sudah dua tahun sejak kejadian di mana Tamara bertemu dengan Joseph, dirinya jadi lebih hati-hati. Ia tak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja di sebuah kedai milik teman Alice yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak menghasilkan banyak, setidaknya cukup untuk dirinya hidup selama sebulan dan membayar uang kos.Semua cara bersembunyi Tamara tidak cukup untuk membuat dirinya aman karena Joseph selalu menemukannya. "Tinggallah sama Papa, Ra," kata Joseph di suatu siang.Mereka akhirnya dapat berbicara setelah sekian lama Tamara selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan pria itu.Tamara menggeleng. Hanya itu jawabannya sebagai bentuk penolakan."Kenapa?" tanya Joseph membuat Tamara mencengkeram ujung bajunya menahan emosi."Papa masih tanya kenapa? Papa yang tinggalin aku sama mama dan lebih memilih wanita itu hanya karena dia bisa membuat karier Papa melejit.""Tapi Papa mencintai dia, Ra. Apa yang salah d
REVARA (Indonesia) Bagian 22 : Papa
Sudah dua bulan ini Tamara pindah, ia memilih tinggal di kosan biasa daripada harus tinggal di kontrakan yang menurutnya terlalu besar untuk ia huni seorang diri."Geser dikit bisa nggak sih, Ran?" tanya Alice seraya mendorong tubuh Rani agar sedikit menjauh supaya memberinya banyak tempat untuk berbaring."Hih, lo apaan sih, Lice? Banyak tempat tuh," jawab Rani tak suka jika keasyikannya menonton drama Korea diganggu oleh Alice."Di situ nanti tempatnya Karina sama Rara. Lo mikir dong, badan lo aja segede itu masih juga kaki sama tangan ke mana-mana," protes Alice."Lo nggak ngomong pun gue juga tahu kalau itu tempatnya Rara sama Karina. Tapi kan mereka masih keluar. Lo yang santai dikit kenapa sih? Ganggu aja gue lagi nonton ayang Hyunbin nih," gerutu Rani."Kalian kenapa sih? Berisik banget dari tadi," tanya Tamara yang sudah muncul di hadapan mereka bersama Karina dan beberapa kantung plastik berisi makanan dan minuman yang mereka inginkan.
REVARA (Indonesia) Bagian 21 : Tentang Kesalahpahaman
Tamara mulai membiasakan diri hidup mandiri, bertemankan kesendirian di tengah ingar bingarnya ibu kota setiap harinya.Semenjak Revano pergi, justru Tamara mendapatkan banyak teman. Alice, Karina, dan Rani resmi sudah menjadi sahabat Tamara. Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba mau bersahabat dengan Tamara. Meski hidupnya dikelilingi oleh banyak teman, Tamara tetap merasa ada yang kurang di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Revano.Kepergian Revano rupanya menyisakan ketidakrelaan dalam hati Tamara.Sekuat apapun Tamara menghibur diri, tetap saja tak berhasil. Kini seseorang yang ia cintai setelah Diana juga meninggalkannya. Terlebih karena Revano lah yang merenggut keperawanannya.Tamara menghela napas. Hm, ya udah lah, mau gimana lagi? katanya dalam hati. Mau tak mau ia harus merelakan bukan?"Ra, mau ke kantin nggak?" tanya Juna.Tamara mengangguk. Ia beranjak dari bangkunya."Mau ke mana?" tanya
REVARA (Indonesia) Bagian 20 : Sakit
Revano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang membawa Pram tersebut ke rumah sakit."Vano!" seru Alyana memanggil puteranya.Namun sang pemilik nama tak menyahut -- ia berjalan masuk bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa brankar dengan seseorang bertutupkan kain putih di atasnya.Alyana memandang heran pada Revano."Biar aku saja yang menemui dia."Di sinilah Revano berada, di kamar jenazah. Ia menangisi seseorang yang terbaring kaku bertutupkan kain tersebut."Pa, Papa jangan pergi tinggalin Vano. Vano sayang sama Papa. Apa Papa nggak kasihan sama mama yang kesepian kalau Papa tinggal? Papa tahu sendiri kan kalau mama itu nggak bisa berlama-lama jauh sama Papa. Gimana aku sama Brian, Pa? Kami masih butuh Papa. Kami ingin Pap... HUWAAAAA!!! SETAAANNN!!!" Pram membungkam mulut anaknya yang berteriak seperti toa di tempat sepi."Jaga mulutmu, Vano!" bisik Pram sembari mendelik taj
REVARA (Indonesia) Bagian 19 : Teror 2
Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me
REVARA (Indonesia) Bab 18 : Pelita yang Padam
Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,
REVARA (Indonesia) Bab 17 : Teror 1
"Ra, buruan itu udah ditunggu Vano," kata Diana sembari melongok ke kamar Tamara."Iya, Ma," jawab Tamara yang masih sibuk membenarkan letak dasinya.Gadis mungil itu pun keluar setelah merasa rapi."Ayo berangkat," kata Revano.Tamara mengangguk.Keduanya lalu
REVARA (Indonesia) Bagian 16 : Kembali
Sudah dua minggu sejak kejadian drama itu berlangsung, namun Revano tetap tak ingin menegur Tamara. Bahkan lelaki itu tak pernah lagi membalas pesan Tamara.Tamara termenung di sudut taman seorang diri, memandang sekeliling dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga ak
REVARA (Indonesia) Bagian 15 : Arjuna dan Cemburumu
Pagi ini kelas XI IPA 1 tampak jauh lebih gaduh dari biasanya. Pasalnya usai mendengarkan amanat kepala sekolah yang begitu lama di tempat yang tak kalah panas itu -- mendadak guru matematika yang terkenal killer itu meminta izin untuk tidak mengajar selama jam pertama hingga t
REVARA (Indonesia) Bagian 14 : Iris
"Lo mau ikut nggak, Van?" tanya Brian ketika anggota The Crush berkumpul."Ikut kemana?""Camping, Revano.""Lo ikut nggak?" Revano balas bertanya.Brian menggeleng."Kenapa?""Gue ada kumpul sama anak-anak HIMA di kampus," jawab Brian."A
