Descarga el libro gratis
Bagian 5 : Penyesalan
Autor: Gabriella TanAlyana terkejut bukan main mendapati putera sulungnya sudah tak sadarkan diri di bawah lantai bawah dengan darah yang mengucur dari kepalanya.
Dengan segera ia memanggil ambulance dan membawa Revano menuju rumah sakit milik keluarganya.
Tamara yang merasa menjadi penyebab semua ini pun ikut ke rumah sakit, menunggu dengan harap-harap cemas.
Alyana dan Pram terus melirik tak suka ke arah Tamara. Gadis mungil itu sebenarnya tahu, namun ia tak peduli itu. Mulutnya terus komat-kamit berdoa agar Revano dapat segera disembuhkan.
Tamara tak tahu lagi bagaimana jika hal buruk terjadi pada Revano pasca insiden ini. Hidup Tamara pasti akan sangat hancur. Bisa saja ia dikeluarkan dari sekolah atau yang terburuk ia dapat dipenjara karena mencelakai seseorang. Tentu hal itu akan berdampak buruk pada Diana.
Sebuah ponsel berdering nyaring memecah keheningan di sana. Bukan ponsel Tamara -- itu jelas karena nada deringnya berbeda.
"Halo."
Ternyata itu adalah ponsel Alyana.
Tamara memperhatikan ponsel Alyana yang penuh ukiran indah, sudah dapat dipastikan jika harganya fantastis. Tak seperti ponselnya yang kuno ini.
"Saya? Ya, saya akan segera ke sana. Oh, Pram juga? Baiklah, saya dan suami saya akan ke sana sekarang."
Alyana mematikan ponselnya -- ia berbisik pada Pram yang sedari tadi menatapnya penuh tanda tanya.
Pram mengangguk-angguk dan melangkah beriringan dengan Alyana.
Langkah wanita cantik itu terhenti tepat di depan Tamara.
"Kamu yang membuat anak saya seperti ini. Jadi jangan harap kamu bisa melarikan diri." Mata Alyana menatap Tamara dengan tajam.
Tamara mengangguk. Bagaimana bisa ia melarikan diri dan lepas tanggung jawab? Cari mati namanya jika ia sampai seperti itu.
Alyana dan Pram pun kembali melangkah -- meninggalkan Tamara seorang diri di lorong rumah sakit.
Tamara terdiam di kursi tunggu. Sesekali jemarinya mengetuk ponselnya untuk menghilangkan rasa sepi dan mencekam.
Jika saja Tamara memiliki kemampuan untuk melihat yang tak kasat mata, pasti ada berbagai macam makhluk yang lalu-lalang di hadapan Tamara.
Tapi Tamara tak peduli itu. Jikalau ia dapat melihat mereka detik ini juga, ia tetap akan bersikap cuek. Yang ada di pikirannya hanyalah kepulihan Revano.
Tak berselang lama, seorang dokter keluar dari kamar rawat Revano.
"Keluarga Revano?"
Tamara mengangguk.
"Mbak pacarnya Revano ya?"
"Iya, Dok," jawab Tamara sekenanya. "Gimana keadaan Revano, Dok?"
"Dia sudah membaik, hanya butuh istirahat saja."
"Boleh saya menjenguk, Dok?"
"Oh, boleh. Silakan. Asal tidak mengganggu istirahatnya ya," pesan dokter.
Tamara mengangguk. Gadis itu masuk ke dalam kamar rawat Revano setelah dokter itu pamit.
Mata Tamara menanggap sesosok laki-laki jangkung yang terbaring lemah di ranjang rawat.
Tamara mendekat, menatap lekat-lekat wajah tampan Revano.
Lelaki itu kini bukan Revano yang seperti biasa dilihatnya -- Revano yang terlihat menyebalkan dan membuat dirinya susah selama beberapa hari ini di sekolah.
Dengan keberanian yang terkumpul, Tamara meraih tangan Revano yang ukurannya dua kali lebih besar dari tangannya. Digenggamnya tangan itu erat-erat.
"Gue sadar gue ceroboh, Van. Maafin gue ya, karena gue, lo selalu kena sial. Karena kecerobohan gue, nyawa lo jadi taruhannya," ucap Tamara tulus.
Namun seseorang yang ia ajak bicara itu tak menjawab -- tetap tertidur tenang.
"Gue bener-bener takut kalau lo kenapa-kenapa, Van. Gue bukan anak orang kaya yang kalau ada masalah, bisa diselesaiin sama duit. Gue mohon lo bangun ya, Van. Sehat lagi kayak biasanya. Gue rela ngapain aja supaya lo bisa bangun dan sehat lagi. Gue janji, Van." Tamara terisak. Wajah mungilnya disembunyikannya di balik tangan Revano.
Tanpa Tamara sadari, mata biru itu telah terbuka -- memandang gadis mungil yang tengah menangis di sampingnya.
Sebuah senyum terukir di sudut bibir Revano. Lucu. Gadis itu benar-benar lucu.
"Mau sampai kapan lo nangis sambil pegangin tangan gue?"
Tamara terperanjat kaget. "Vano, lo udah sadar?"
"Sejak kapan gue pingsan?"
"Tapi tadi lo..."
Revano tertawa terbahak-bahak, membuat Tamara menjadi takut.
"Ke...kenapa?"
"Lo polos banget sih," kata Revano sembari menyentil jidat Tamara -- membuat gadis itu cemberut.
"Gue pingsan cuma bentar."
"Terus tadi waktu gue nang..."
"Iya, gue tahu lo masuk kamar gue. Gue tahu lo ngomong apa aja ke gue sebelum lo nangis. Lo lucu ya kalau lagi panik, muka lo aneh banget hahaha...."
"Kok lo nggak ngomong kalau lo udah sadar?"
"Lo nggak tanya."
Wajah Tamara memerah, kesal karena telah dipermainkan.
"Kenapa?" tanya Revano bingung karena ditatap aneh oleh Tamara.
"Lo nyebelin tahu nggak sih." Tamara mencubit lengan Revano dengan kecil -- membuat cowok itu menjerit kesakitan.
"Lo cewek tapi kayak preman."
"Mana ada preman mainnya nyubit?"
"Ada."
"Di mana?"
"Di depan gue."
Tamara berdecak kesal, membuat Revano semakin kencang tertawa.
"Aduh, kok gue pusing ya, Ra?" keluh Revano sembari memegangi kepalanya.
Tamara panik. Dengan segera ia mengelus kepala Revano.
"Makanya jangan banyak tingkah dulu. Belum juga pulih."
"Lo doyan ngomel juga ya?"
"Nggak tuh. Gue doyannya seblak."
Revano memutar bola matanya dengan malas.
"Eh, Ra, gue dengar lho lo tadi ngomong apa aja."
"Hah? Emang ngomong apaan?"
"Lo ngomong lo bakal lakuin apa aja asal gue sadar, kan?"
"Hah? Enggak kok."
"Halah, alasan."
"Emang nggak kok. Gue diem aja dari tadi," elak Tamara berbohong. Rasa malu dan gengsinya karena janjinya telah didengar oleh Revano.
"Sumpah?"
"Apaan sih, Van, pakai sumpah-sumpah segala? Emangnya lagi pelantikan, kok disumpah segala?"
"Iya, pelantikan lo jadi pembantu gue selama setahun."
Tamara membelalakkan matanya, tak percaya dengan yang didengar Revano.
"Maksud lo apaan?" tanya Tamara bingung.
"Lo kan yang janji bakal lakuin apapun asal gue sadar. Dan gue udah sadar. Sekarang gue minta lo jadi pembantu gue selama seta..."
"Nggak."
"Kok nggak?"
"Gue nggak mau jadi pembantu lo."
"Kan lo sendiri yang janji."
"Tapi kan..."
"Lo mau jilat ludah sendiri?"
Tamara mengembuskan napas kasar. Ia tak ada pilihan lain selain menyetujuinya.
Cukup sudah insiden kecoa itu masalahnya. Ia tak ingin menambah beban, terutama dalam sekolahnya. Ia ingin hidup tenang menjadi seorang siswi SMA biasa.
"Woy! Ngelamun aja lo," seru Revano mengejutkan Tamara.
"Hah? Apa?"
"Lo mau nggak?"
"Mau apa?"
Revano lagi-lagi menyentil jidat Tamara.
"Lo telmi banget sih."
Tamara mendelik tajam, tak terima disebut telmi atau telat mikir oleh cowok itu.
"Jadi lo mau nggak jadi pembantu gue?"
"Nggak."
"Nggak ada penolakan, Tamara."
"Lo tadi tanya gue mau nggak jadi pembantu lo. Ya gue jawab nggak lah."
"Harus!"
"Nggak ah, lo nggak ngegaji gue," tolak Tamara jual mahal.
"Lo butuh duit berapa sih emangnya?"
Tamara membulatkan matanya. "Maksud lo?"
"Lo lupa gue siapa? Lo ngeraguin jumlah duit di ATM gue?"
Tamara terdiam. Bukan dia meragukan kekayaan Revano. Siapa yang bisa meragukan kekayaan anak seorang pemilik yayasan dan cucu direktur itu?
"Gue bisa bayar lo semau lo, gue juga nggak akan biarin siapapun ganggu lo di sekolah, privasi lo bakal aman. Lo bebas minta bayaran berapapun."
"Dua juta perjam?" tawar Tamara hati-hati.
"Kenapa nggak tiga juta perjam?"
"Nggak apa-apa?" Revano mengangguk mantap.
"Oke. Gue mau jadi pembantu lo."
Compartir el libro a
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Último capítulo
REVARA (Indonesia) Bagian 23 : Giselle
Sudah dua tahun sejak kejadian di mana Tamara bertemu dengan Joseph, dirinya jadi lebih hati-hati. Ia tak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja di sebuah kedai milik teman Alice yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak menghasilkan banyak, setidaknya cukup untuk dirinya hidup selama sebulan dan membayar uang kos.Semua cara bersembunyi Tamara tidak cukup untuk membuat dirinya aman karena Joseph selalu menemukannya. "Tinggallah sama Papa, Ra," kata Joseph di suatu siang.Mereka akhirnya dapat berbicara setelah sekian lama Tamara selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan pria itu.Tamara menggeleng. Hanya itu jawabannya sebagai bentuk penolakan."Kenapa?" tanya Joseph membuat Tamara mencengkeram ujung bajunya menahan emosi."Papa masih tanya kenapa? Papa yang tinggalin aku sama mama dan lebih memilih wanita itu hanya karena dia bisa membuat karier Papa melejit.""Tapi Papa mencintai dia, Ra. Apa yang salah d
REVARA (Indonesia) Bagian 22 : Papa
Sudah dua bulan ini Tamara pindah, ia memilih tinggal di kosan biasa daripada harus tinggal di kontrakan yang menurutnya terlalu besar untuk ia huni seorang diri."Geser dikit bisa nggak sih, Ran?" tanya Alice seraya mendorong tubuh Rani agar sedikit menjauh supaya memberinya banyak tempat untuk berbaring."Hih, lo apaan sih, Lice? Banyak tempat tuh," jawab Rani tak suka jika keasyikannya menonton drama Korea diganggu oleh Alice."Di situ nanti tempatnya Karina sama Rara. Lo mikir dong, badan lo aja segede itu masih juga kaki sama tangan ke mana-mana," protes Alice."Lo nggak ngomong pun gue juga tahu kalau itu tempatnya Rara sama Karina. Tapi kan mereka masih keluar. Lo yang santai dikit kenapa sih? Ganggu aja gue lagi nonton ayang Hyunbin nih," gerutu Rani."Kalian kenapa sih? Berisik banget dari tadi," tanya Tamara yang sudah muncul di hadapan mereka bersama Karina dan beberapa kantung plastik berisi makanan dan minuman yang mereka inginkan.
REVARA (Indonesia) Bagian 21 : Tentang Kesalahpahaman
Tamara mulai membiasakan diri hidup mandiri, bertemankan kesendirian di tengah ingar bingarnya ibu kota setiap harinya.Semenjak Revano pergi, justru Tamara mendapatkan banyak teman. Alice, Karina, dan Rani resmi sudah menjadi sahabat Tamara. Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba mau bersahabat dengan Tamara. Meski hidupnya dikelilingi oleh banyak teman, Tamara tetap merasa ada yang kurang di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Revano.Kepergian Revano rupanya menyisakan ketidakrelaan dalam hati Tamara.Sekuat apapun Tamara menghibur diri, tetap saja tak berhasil. Kini seseorang yang ia cintai setelah Diana juga meninggalkannya. Terlebih karena Revano lah yang merenggut keperawanannya.Tamara menghela napas. Hm, ya udah lah, mau gimana lagi? katanya dalam hati. Mau tak mau ia harus merelakan bukan?"Ra, mau ke kantin nggak?" tanya Juna.Tamara mengangguk. Ia beranjak dari bangkunya."Mau ke mana?" tanya
REVARA (Indonesia) Bagian 20 : Sakit
Revano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang membawa Pram tersebut ke rumah sakit."Vano!" seru Alyana memanggil puteranya.Namun sang pemilik nama tak menyahut -- ia berjalan masuk bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa brankar dengan seseorang bertutupkan kain putih di atasnya.Alyana memandang heran pada Revano."Biar aku saja yang menemui dia."Di sinilah Revano berada, di kamar jenazah. Ia menangisi seseorang yang terbaring kaku bertutupkan kain tersebut."Pa, Papa jangan pergi tinggalin Vano. Vano sayang sama Papa. Apa Papa nggak kasihan sama mama yang kesepian kalau Papa tinggal? Papa tahu sendiri kan kalau mama itu nggak bisa berlama-lama jauh sama Papa. Gimana aku sama Brian, Pa? Kami masih butuh Papa. Kami ingin Pap... HUWAAAAA!!! SETAAANNN!!!" Pram membungkam mulut anaknya yang berteriak seperti toa di tempat sepi."Jaga mulutmu, Vano!" bisik Pram sembari mendelik taj
REVARA (Indonesia) Bagian 19 : Teror 2
Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me
REVARA (Indonesia) Bab 18 : Pelita yang Padam
Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,
REVARA (Indonesia) Bagian 13 : Mama
Revano menyerahkan sebuah kartu berwarna biru pada Tamara."Apa ini?" tanya Tamara bingung."Ini ATM, Ra. Biar kamu nggak perlu bingung cari duit kamu lagi," jawab Revano. Ia teringat kejadian beberapa minggu yang lalu, ketika itu Tamara panik dan mengatakan jika ia kehilangan uang.
REVARA (Indonesia) Bagian 12 : Kita ini apa?
Sudah seminggu Revano dan Tamara berpacaran, namun keduanya tak ingin memublikasikan hubungan mereka, terlebih di depan seluruh siswa di sekolah. Revano tak ingin Tamara mendapatkan teror yang lebih jahat dari komentar jahat di Instagramnya."Ra," panggil Revano
REVARA (Indonesia) Bab 11 : Jadian
Sudah sebulan lebih sejak peristiwa Revano memberi hadiah pada Tamara di bukit itu. Dan sudah sebulan lebih hubungan keduanya semakin dekat. Tak hanya itu, bahkan Revano berani mengajak Tamara ikut berkumpul dengan anggota The Crush. Tentu saja hal tersebut membuat banyak siswi iri d
REVARA (Indonesia) Bagian 10 : Hadiah
Lelaki paruh baya yang Tamara sebut sebagai papa itu terdiam memandang Tamara. Ia tak percaya jika akan bertemu lagi dengan anaknya yang sudah ia buang jauh-jauh demi wanita di sampingnya itu."Rara," lirihnya.Tamara mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah.
