Memuat
Beranda/ Semua /REVARA (Indonesia)/Bagian 4 : Tugas Kelompok

Bagian 4 : Tugas Kelompok

Penulis: Gabriella Tan
"Tanggal publikasi: " 2020-09-25 00:08:02

Seseorang dengan baju batik merahnya dipadu dengan hijab warna senada serta sepatu pantofelnya itu dengan anggun berjalan menuju kelas XI IPA 1, kelas penuh kebobrokan dan tingkah para penghuninya yang luar biasa itu.

Masih terdengar alunan dangdut

yang diputar Ganjar menggunakan speaker.

"Siapa yang putar lagu ini? Harap dimatikan karena pelajaran prakarya akan segera dimulai," kata guru yang kerap disapa Bu Yani itu.

Namun sang empunya nama tak menghiraukan, ia masih asyik bergoyang.

Yo wis ben duwe bojo sing galak

Yo wis ben sing omongane sengak

Seneng nggawe aku susah

Nanging aku wegah pisah

"GANJAR JULIAN!" Teriakan Bu Yani akhirnya mampu membuat Ganjar terkejut lalu mematikan musiknya.

"Kamu dengar nggak kalau bel masuk sudah bunyi sejak sepuluh menit yang lalu?"

"Enggak, Bu."

"Jelas aja kamu nggak dengar karena lagumu itu keras banget sampai ujung ruang guru terdengar."

Ganjar hanya nyengir seperti tak berdosa.

"Kembali ke tempat dudukmu sekarang!"

Karena tak mau memperkeruh suasana, Ganjar pun menurut.

"Selamat siang, Anak-anak," sapa Bu Yani.

"Siang, Bu."

"Baiklah, karena kemarin kita sudah membahas tentang pembuatan sabun, sekarang kita bagi menjadi delapan kelompok ya. Sekretaris bisa membantu saya untuk menuliskan nama-nama perkelompok."

Seorang siswi dengan badge nama bertuliskan Tiara Pramuditya itu mengembuskan napas pasrah -- malas karena jabatannya sebagai sekretaris inilah yang mendapatkan pekerjaan paling banyak dibanding teman-teman lainnya. Bahkan Frans, sang ketua kelas itu justru tampak santai dan tak peduli akan kondisi kelasnya.

                                                        ***

Dengan malas Tamara memesan ojek online menuju rumah Revano. Bukan tanpa alasan gadis itu datang ke sana. Ini benar-benar sangat terpaksa, apalagi kalau bukan karena tugas prakarya yang mengharuskannya sekelompok dengan cowok menyebalkan itu.

Mereka tiba di sebuah perumahan elite yang akhirnya terhenti di depan rumah bercat putih bersih. Rumah itu jauh lebih besar berkali-kali lipat jika dibandingkan dengan rumah kontrakannya saat ini.

Ini rumahnya? Gede banget, batin Tamara terkagum-kagum.

Dengan segera ia turun dari jok belakang, lalu menyerahkan lembaran uang sesuai yang tertera di aplikasinya.

"Cari siapa, Neng?" tanya seorang satpam rumah itu dengan ramah.

Buset, kompleknya aja udah ada satpan, ini kenapa rumah juga dikasih satpam segala? Kurang kerjaan banget. Eh astaga, nggak boleh nyinyir, Ra.

"Neng," panggil satpam itu sekali lagi, membuyarkan lamunan Tamara.

"Eh, saya temannya Revano, Pak. Ada tugas kelompok yang di..."

"Oh, iya, Neng, silakan masuk." Satpam itu segera membukakan gerbang pada Tamara dengan sangat sopan, membuat gadis itu merasa tidak enak hati.

"Saya panggilkan Den Vannonya dulu ya, Neng."

"Iya, Pak."

Satpam itu pun berjalan masuk meninggalkan Tamara yang masih terdiam di halaman rumah.

Mata Tamara menyapu halaman sekitar, tampak hijau dan sangat bersih. Benar-benar menyenangkan. Ia membayangkan kalau saja ia memiliki rumah sebagus ini dan...

"Neng, Den Vanno bilang kalau Eneng langsung masuk aja," kata pak satpam itu yang lagi-lagi membuyarkan lamunan Tamara.

"Terima kasih ya, Pak," ucap Tamara dengan ramah.

"Sama-sama, Neng. Saya ke depan lagi ya, Neng." Tamara mengangguk.

Mata Tamara terkagum-kagum tatkala melihat seisi rumah itu. Perabotan mahal seharga puluhan juta itu terpajang dengan rapinya.

"Ngapain lo masih di situ?" 

Tamara tersentak kaget ketika pemilik suara bariton itu telah ada di hadapannya.

"Buruan masuk!"

Tamara menganguk patuh, ia mengekori Revano -- menaiki anak tangga menuju sebuah ruangan besar dan rapi, rak-rak buku berjajar dengan indahnya serta dipenuhi buku.

"Teman-temanmu belum dat... Oh, udah ada yang datang ya?" Seorang wanita berusia 50 tahunan dengan segelas jus warna kuningnya itu menghampiri.

"Siapa namamu, Cantik?" tanya Alyana pMada Tamara.

"Rara, Tante."

"Vano, kok kamu nggak pernah cerita kalau punya teman sekelas namanya Rara?"

"Ehm, anu, Ma. Rara ini baru dua hari di sini," jawab Revano.

"Oh, pantesan kok Mama baru tahu."

 Tamara hanya tersipu. Dalam hati ia senang ketika mendengar Revano menyebut namanya tanpa emosi sedikit pun. Walau Tamara tahu jika itu hanya kepura-puraan Revano saja di depan Alyana.

"Ya sudah, Mama ke dapur dulu buatin minum buat kalian."

"Eh, nggak perlu repot-repot, Tante," tolak Tamara dengan halus.

"Yang mau kerja tugas di sini nggak cuma lo, nggak usah ke-gr-an deh," jawab Revano dingin.

Ya, Revano tetaplah Revano. Cowok es itu tidak akan pernah berubah menjadi hangat padanya. Dan Tamara tak keberatan dengan kenyataan itu.

Mereka kembali terdiam setelah Alyana pamit ke belakang. Keduanya sibuk dengan dunianya, baik Tamara maupun Revano sibuk berkutat dengan ponselnya. 

Revano sibuk memainkan gamenya, sementara Tamara sibuk mencari kesibukan. Ia tak tahu harus memulai pembicaraan apa. Cari masalah baru namanya kalau ia mencoba mengajak Revano berbicara.

Tak lama kemudian Arya dan Aldo datang dengan hebohnya.

"Hai, Tante," sapa Aldo pada Alyana.

"Hai... Ini Tante buatin jus mangga sama nastar yang tadi pagi Tante buat sendiri," kata Alyana sembari meletakkan hidangannya di meja.

"Dimakan ya."

"Makasih, Tante."

"Ma, kebanyakan nih, mejanya jadi sempit," protes Revano.

"Kan bisa pindah ke meja yang lebih luas di sana," balas Alyana.

"Tapi nggak terang, Ma."

"Alasan aja kamu. Dah, selamat belajar ya semuanya."

"Iya, Tante. Makasih," jawab Tamara.

"Minyak zaitun lo keluarin sini!" kata Revano sembari mengulurkan tangannya, persis seperti seseorang yang menagih utang dengan kejam.

"Minyak zaitun?" tanya Tamara bingung.

"Lo jangan bilang kalau lo lupa ya."

"Bukannya gue disuruh bawa soda api?" 

"Oh iya, itu. Siniin buruan!"

"Iya, sabar."

Tamara mulai membuka tasnya -- hendak mengeluarkan sebotol minyak zaitun. 

Semuanya terkejut ketika yang keluar terlebih dahulu dari dalam tas Tamara adalah seekor kecoa.

Revano terkejut bukan main, keringat dingin mulai mengucur dari dahinya, jemarinya bergetar melihat benda cokelat menjijikan itu bergerak ke arahnya.

Tahan, Vano, tahan. Jangan sampai tuh cewek tahu kelemahan lo, batinnya menguatkan.

Namun terlambat karena kecoa itu mulai masuk ke dalam celananya.

"HUAAAA!!!!!!!" Vano terperajat kaget. Dihentak-hentakkannya kakinya agar hewan mengerikan itu keluar. Dan berhasil.

Kecoa itu lantas kabur ke sisi ruangan yang lainnya. Membuat Revano bergidik ngeri.

"Kemana dia?" tanya Revano was-was. Matanya terus menyapu sekitar -- bersiap kalau-kalau kecoa itu ada di dekatnya.

"Tuh dia," tunjuk Aldo ke sudut kanan ruangan. 

Tampak kecoa itu menempel dengan tenangnya di sana, tak peduli betapa Revano bergetar hebat saat ini. Seluruh tubuhnya lemas, terutama kakinya. Ia merasa tak kuat terus berdiri seperti ini.

"Biar gue tangkap," kata Tamara memberanikan diri. 

Sebenarnya gadis itu tak cukup berani untuk menangkap seekor kecoa, namun kekacauan ini disebabkan karena dirinya. Kecoa itu keluar dari tasnya bukan?

Tinggal beberapa langkah lagi tangan Tamara mampu meraih, kecoa itu mengepakkan sayapnya dan terbang menuju Revano.

Menyadari hal itu, Revano langsung lari tunggang langgang -- menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

Namun karena kecerobohannya, Revano jatuh terguling dan tak sadarkan diri.

"VANO!"

Ingin tahu kelanjutannya?
Lanjutkan Membaca
Bab Sebelumnya
Bab selanjutnya

Bagikan buku ke

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Bab terbaru

REVARA (Indonesia)   Bagian 23 : Giselle

Sudah dua tahun sejak kejadian di mana Tamara bertemu dengan Joseph, dirinya jadi lebih hati-hati. Ia tak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja di sebuah kedai milik teman Alice yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak menghasilkan banyak, setidaknya cukup untuk dirinya hidup selama sebulan dan membayar uang kos.Semua cara bersembunyi Tamara tidak cukup untuk membuat dirinya aman karena Joseph selalu menemukannya. "Tinggallah sama Papa, Ra," kata Joseph di suatu siang.Mereka akhirnya dapat berbicara setelah sekian lama Tamara selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan pria itu.Tamara menggeleng. Hanya itu jawabannya sebagai bentuk penolakan."Kenapa?" tanya Joseph membuat Tamara mencengkeram ujung bajunya menahan emosi."Papa masih tanya kenapa? Papa yang tinggalin aku sama mama dan lebih memilih wanita itu hanya karena dia bisa membuat karier Papa melejit.""Tapi Papa mencintai dia, Ra. Apa yang salah d

REVARA (Indonesia)   Bagian 22 : Papa

Sudah dua bulan ini Tamara pindah, ia memilih tinggal di kosan biasa daripada harus tinggal di kontrakan yang menurutnya terlalu besar untuk ia huni seorang diri."Geser dikit bisa nggak sih, Ran?" tanya Alice seraya mendorong tubuh Rani agar sedikit menjauh supaya memberinya banyak tempat untuk berbaring."Hih, lo apaan sih, Lice? Banyak tempat tuh," jawab Rani tak suka jika keasyikannya menonton drama Korea diganggu oleh Alice."Di situ nanti tempatnya Karina sama Rara. Lo mikir dong, badan lo aja segede itu masih juga kaki sama tangan ke mana-mana," protes Alice."Lo nggak ngomong pun gue juga tahu kalau itu tempatnya Rara sama Karina. Tapi kan mereka masih keluar. Lo yang santai dikit kenapa sih? Ganggu aja gue lagi nonton ayang Hyunbin nih," gerutu Rani."Kalian kenapa sih? Berisik banget dari tadi," tanya Tamara yang sudah muncul di hadapan mereka bersama Karina dan beberapa kantung plastik berisi makanan dan minuman yang mereka inginkan.

REVARA (Indonesia)   Bagian 21 : Tentang Kesalahpahaman

Tamara mulai membiasakan diri hidup mandiri, bertemankan kesendirian di tengah ingar bingarnya ibu kota setiap harinya.Semenjak Revano pergi, justru Tamara mendapatkan banyak teman. Alice, Karina, dan Rani resmi sudah menjadi sahabat Tamara. Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba mau bersahabat dengan Tamara. Meski hidupnya dikelilingi oleh banyak teman, Tamara tetap merasa ada yang kurang di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Revano.Kepergian Revano rupanya menyisakan ketidakrelaan dalam hati Tamara.Sekuat apapun Tamara menghibur diri, tetap saja tak berhasil. Kini seseorang yang ia cintai setelah Diana juga meninggalkannya. Terlebih karena Revano lah yang merenggut keperawanannya.Tamara menghela napas. Hm, ya udah lah, mau gimana lagi? katanya dalam hati. Mau tak mau ia harus merelakan bukan?"Ra, mau ke kantin nggak?" tanya Juna.Tamara mengangguk. Ia beranjak dari bangkunya."Mau ke mana?" tanya

REVARA (Indonesia)   Bagian 20 : Sakit

Revano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang membawa Pram tersebut ke rumah sakit."Vano!" seru Alyana memanggil puteranya.Namun sang pemilik nama tak menyahut -- ia berjalan masuk bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa brankar dengan seseorang bertutupkan kain putih di atasnya.Alyana memandang heran pada Revano."Biar aku saja yang menemui dia."Di sinilah Revano berada, di kamar jenazah. Ia menangisi seseorang yang terbaring kaku bertutupkan kain tersebut."Pa, Papa jangan pergi tinggalin Vano. Vano sayang sama Papa. Apa Papa nggak kasihan sama mama yang kesepian kalau Papa tinggal? Papa tahu sendiri kan kalau mama itu nggak bisa berlama-lama jauh sama Papa. Gimana aku sama Brian, Pa? Kami masih butuh Papa. Kami ingin Pap... HUWAAAAA!!! SETAAANNN!!!" Pram membungkam mulut anaknya yang berteriak seperti toa di tempat sepi."Jaga mulutmu, Vano!" bisik Pram sembari mendelik taj

REVARA (Indonesia)   Bagian 19 : Teror 2

Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me

REVARA (Indonesia)   Bab 18 : Pelita yang Padam

Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,

REVARA (Indonesia)   Bagian 8 : Teman?

Revano melepaskan gandengannya ketika sudah memasuki area sekolah, ia tak ingin seluruh siswa tahu jika ia menggandeng tangan Tamara -- gadis yang mencari masalah dengannya di awal sekolah.Tamara memperhatikan sikap Revano dengan pandangan tak terbaca. Ia sendiri bingung, kenapa lelaki it

REVARA (Indonesia)   Bagian 7 : Tentang Sebuah Rasa

Tamara tersenyum geli membaca pesan Revano. Cowok itu semakin hari semakin tidak jelas saja -- tingkahnya semakin aneh dari hari ke hari."Rara," panggil Diana dari arah ruang jahit."Ya, Ma?" Dengan segera Tamara bergegas menghampiri ibunya itu."Tolong antar ini ke rumah Ta

REVARA (Indonesia)   Bagian 6 : Cantik Juga

Butuh waktu tiga hari untuk seorang Revano pulih. Saat itulah Tamara menjadi sangat kerepotan -- ia harus merawat Revano sepulang sekolah hingga pukul lima sore.Setiap kali Diana menanyakannya mengapa ia sekarang sering pulang malam, Tamara selalu menjawab jika sedang banyak tugas kelompo

REVARA (Indonesia)   Bab 17 : Teror 1

"Ra, buruan itu udah ditunggu Vano," kata Diana sembari melongok ke kamar Tamara."Iya, Ma," jawab Tamara yang masih sibuk membenarkan letak dasinya.Gadis mungil itu pun keluar setelah merasa rapi."Ayo berangkat," kata Revano.Tamara mengangguk.Keduanya lalu

Bab Lainnya
Unduh Buku
GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasiLGBTQ+aRnoldMM Romancegenre22- 印尼语genre26- IndonesiaNamegenre27-请勿使用印尼语genre28- IndonesiaName
Cerita Pendek
LangitMisteri dan teka-tekiKota modernSurvival akhir duniaFilm aksiFilm fiksi ilmiahFilm romantisKekerasan berdarahRomansaKehidupan SekolahMisteri/ThrillerFantasiReinkarnasiRealistisManusia SerigalaharapanmimpikebahagiaanPerdamaianPersahabatanCerdasBahagiaKekerasanLembutKuat红安Pembantaian berdarahPembunuhanPerang sejarahPetualangan fantasiFiksi ilmiahStasiun kereta
MenulisKeuntungan PenulisLomba
Genre Populer
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasi
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi