Download the book for free
Bagian 1 : Tentang Ketidaksengajaan
Author: Gabriella TanTamara mengekori seorang guru biologi dan juga wali kelasnya di kelas XI IPA 3, beliau bernama Bu Naomi.
“Kalau kamu ada kesulitan atau masalah, kamu bisa cerita ke Ibu sebagai wali kelasmu ya?” tawar Bu Naomi dengan lembut.
Tamara mengangguk sembari tersenyum menjawabnya.
Kelas yang sebelumnya ramai dan gaduh, kini menjadi hening ketika guru yang sedang hamil enam bulan itu masuk disusul oleh gadis mungil yang tak lain adalah Tamara.
“Kita kedatangan teman ba—“
“Uhuy…”
“Manisnya…”
“Duduk sama Abang sini, Neng.”
“Jangan mau, Neng. Dia buaya.”
Belum selesai Bu Naomi berbicara, kelas kembali ramai, menggoda sang siswi baru di sampingnya itu.
“TENANG!” seru Bu Naomi berusaha menenangkan kelas. Wanita itu mengusap perutnya dan mengucapkan ‘amit-amit jabang bayi.’
Setelah kelas kembali tenang, Bu Naomi pun mulai mempersilakan Tamara mengenalkan diri.
“Nama saya Tamara Alteyzia, biasa dipanggil Rara,” kata Tamara singkat. Membuat siapapun berdecak ‘lho, cuma segitu doang?’
“Boleh nggak kamu kupanggil sayang aja?” goda seorang siswa di ujung kelas. Perawakannya tinggi besar dengan rambut sedikit gondrongnya.
“Ganjar!” tegur Bu Naomi sembari mendelik tajam, membuat sang empunya nama hanya tersipu.
“Tamara, kamu bisa duduk di dekat Juna,” kata Bu Naomi sembari menunjuk bangku kosong di samping cowok berkacamata yang sedang asyik membaca komiknya itu.
Tamara mengangguk patuh, ia berjalan mendekati bangku Juna diiringi decakan kecewa dari kaum adam.
“Juna lagi, Juna lagi.” Begitulah kira-kira gerutuan mereka.
“Baiklah anak-anak, kalian bisa berkenalan nanti lagi ya. Kita lanjut pelajaran dulu,” kata Bu Naomi mengalihkan perhatian.
“Hai, Rara, salam kenal ya. Aku Dimas.”
“Aku Raka.”
Tamara hanya menundukkan kepala setiap kali teman-teman barunya itu mengenalkan diri. Bukan karena tak ingin kenal, hanya saja Tamara adalah seseorang yang pemalu, ia tak mudah akrab dengan orang yang baru ia jumpai.
Namun sikapnya itu justru mendapat gerutuan dari teman-temannya, mereka menganggap bahwa Tamara adalah gadis yang sombong.
“Kalian fokus ke pelajaran dong, jangan berisik, ganggu!” sindir Juna ketus.
“Yaelah, Si Cupu ngerusak suasana aja.”
Tamara mengalihkan pandangannya ke belakang. Matanya bersitatap dengan mata biru nan indah milik seseorang, sebelum kemudian orang itu dengan malas kembali memejamkan matanya.
Jantung Tamara berdegup dengan aneh. Kenapa sih, Ra? batinnya heran.
***
Bel istirahat berbunyi, membuat semua murid yang ada di kelas berhambur keluar. Ada yang ke kantin, ke lapangan untuk berolah raga, dan ada pula yang ke perpustakaan.
Tamara memilih menyembunyikan diri di dalam perpustakaan yang sepi, sibuk berkutat dengan novel bersampul biru karangan penulis favoritnya itu.
Ruangan perpustakaan yang luas dan sepi itu membuat Tamara nyaman duduk lama dengan novelnya, sebelum perutnya dengan jahat berbunyi.
Segera diletakkannya novel tersebut ke tempat semula lalu melangkah pergi menuju kantin.
Suasana kantin sudah mulai sepi, hanya beberapa murid saja yang tampak masih menikmati makanannya. Jelas saja karena pasti murid-murid yang lain telah kenyang dan kembali ke kelas mereka.
Tamara dengan semangat membawa nampan berisi semangkuk bakso dan segelas es teh yang sangat menggiurkan bagi perutnya di siang yang terik ini.
BRAK!
Langkah Tamara terhenti ketika ia tanpa sengaja menabrak seseorang. kuah bakso itu menumpahi seragam putih orang di depannya dan meninggalkan noda.
Tamara membenarkan letak kacamatanya yang miring lalu mendongak, matanya beradu tatap dengan pemilik mata biru itu. Wajah cowok itu memerah, jemarinya terkepal hingga buku-buku jarinya memutih menahan amarah yang telah memuncak.
"Lo!" Suara bariton itu membentaknya.
"Ma...Maaf... Gue nggak sengaja," ucap Tamara terbata-bata.
"Berani-beraninya lo kotorin seragam gue yang mahal ini."
Tamara menunduk, kakinya terasa lemas seketika itu juga.
Baru sehari ia menjadi murid baru di sekolah ini, namun ia sudah mendapatkan masalah besar.
"Jalan tuh pakai mata! Udah dikasih empat mata juga nggak dipakai."
Tangan Tamara bergetar, namun dengan pandai ditutupinya segera.
"Gue bisa bersihin," kata Tamara seraya meraih lengan seragam cowok itu.
Namun tangan Tamara segera ditepis.
"Nggak usah!"
Tamara bingung, apa yang harus ia perbuat kini.
"Tamara Alteyzia." Cowok itu membaca badge namanya. "Gue tandai lo. Mulai detik ini, gue pastikan hidup lo sebagai murid di sini nggak akan tenang."
Cowok jangkung itu pergi setelah mengeluarkan sumpah serapahnya, diiringi tatapan heran dan bingung dari orang-orang yang ada di sana.
Tamara mendudukkan diri di kursi yang tak jauh darinya. Kakinya begitu lemas mendengar ancaman cowok tadi.
Ya, hidupnya pasti tak akan tenang ke depannya. Terlebih karena cowok itu adalah teman sekelasnya.
Tamara memijat pelipisnya dengan frustasi membayangkan apa yang akan ia terima ke depannya.
***
"Vano, lo kenapa?" tanya Dinda dengan heboh begitu melihat seragam Revano yang kotor.
Tak seperti biasanya cowok itu memakai pakaian yang kotor.
Dinda mendekat dan mulai meraba noda di seragam putih Revano. Sikap Dinda itu sontak mengundang siswi lainnya ikut mendekat dan mengerubungi, menanyakan hal yang sama.
Revano tak sepatah kata pun menjawab. Ia memilih diam, namun matanya masih menyalang menatap Tamara yang menunduk di bangkunya.
Kelas semakin ramai dan heboh mempersoalkan seragam mahal Revano yang kotor. Darimana saja cowok tampan itu sehingga seragamnya menjadi kotor? Mereka tidak menyadari jika bel masuk sudah berbunyi lima menit yang lalu.
"Permisi." Seorang pria paruh baya berseragam PNS dengan rambut disisir rapi itu mengetuk pintu, seakan menjadi tamu di sebuah rumah. Siapa lagi jika bukan Pak Anton, guru ekonomi itu berhasil membubarkan kerumunan siswi-siswi yang mengerubungi Revano dan membuat mereka kembali duduk di bangku masing-masing.
"Maaf mengganggu acara rumpinya tadi. Tapi Bapak rasa sekarang sudah jamnya ekonomi," kata Pak Anton dengan senyuman khasnya.
Jam alam mimpi pun seakan berbunyi ketika Pak Anton menjelaskan tentang bagaimana APBN dan APBD disusun, sumber dana APBD, dan lainnya yang membuat seluruh murid menguap. Bahkan beberapa siswa di bangku belakang sudah menggapai mimpinya.
***
Bel pulang pun berbunyi, membuat semua murid di kelas XI IPA 1 itu -- dengan semangat 45 mengemasi barang-barangnya. Yang tadinya mengantuk bahkan ngiler pun kini berubah menjadi segar bugar.
Tamara bergegas berjalan keluar kelas, berusaha sebisa mungkin untuk menghindari cowok bermata biru yang tak lain adalah Revano.
Gadis itu kini tahu dengan siapa ia berurusan setelah tak sengaja menguping pembicaraan siswi-siswi kelas XII IPS 4 tadi.
Ternyata Revano adalah anak ketua yayasan sekolah ini. Pantas saja jika ia dengan berani mengancam Tamara.
Mengetahui kenyataan itu membuat Tamara semakin merinding. Tak dapat dibayangkan jika ia kembali membuat masalah dengan Revano, pasti ia akan ditendang dari sekolah ini. Jika ia dikeluarkan, mau di mana lagi ia bersekolah? Ia dan ibunya sudah tak punya banyak uang lagi. Semenjak ayahnya meninggalkan mereka, ia dan ibunya tak memiliki uang sedikit pun. Mereka terpaksa kembali ke ibu kota, tempat masa kecil ibunya. bermodalkan uang yang sangat sedikit, Diana memberanikan diri mengontrak di sebuah kontrakan sederhana, membuka usaha menjahit yang sudah belasan tahun ia tinggalkan itu. Lalu jika Tamara sampai dikeluarkan, apakah itu tidak melukai hati ibunya? Sementara ia dapat bersekolah lagi saja berkat bantuan malaikat baik hati yang tak lain adalah teman ibunya itu.
Tamara selamat sampai gerbang sekolah, tak melihat batang hidung Revano sedikit pun.
Dengan segera ia berlari pulang. Untung saja rumahnya tak jauh dari sekolahnya.
Glek!
"Udah pulang, Sayang?" Diana menghampiri puteri tunggalnya yang sudah berdiri di ambang pintu itu.
Tamara tersenyum, berusaha mengembalikan keceriaannya demi Diana.
"Mama udah dapat orderan?" tanya Tamara yang melihat tumpukan kain di mesin jahit Diana.
"Iya, syukurlah tante Melati tadi bawa temannya buat jahit baju di sini."
"Syukurlah. Rara ikut senang, Ma."
"Ya udah, kamu ganti baju dulu aja ya. Habis gitu makan, di tudung saji Mama udah buatkan telur ceplok setengah matang kesukaanmu," kata Diana membuat wajah anak gadisnya semakin berseri-seri.
Tamara menurut. Ia sudah duduk manis di lantai sembari melahap makanannya.
"Enak?"
"Kapan Mama pernah masak nggak enak?"
Diana tersenyum, anaknya itu memang suka sekali memujinya.
"Gimana di sekolah tadi? Senang nggak dapat teman baru?"
Tamara tertegun. Teman baru? Yang ada dia dapat masalah baru.
"Senang banget, Ma. Temannya baik-baik semua," jawab Tamara bohong.
"Baguslah kalau gitu. Mama harap Rara bisa lulus dengan baik, sukses, bisa bahagiakan Mama ya," ucap Diana seraya mengelus puncak kepala Tamara.
Gadis itu tersenyum saja.
Maafin Rara, Ma. Maaf karena Rara udah bohong.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
REVARA (Indonesia) Bagian 23 : Giselle
Sudah dua tahun sejak kejadian di mana Tamara bertemu dengan Joseph, dirinya jadi lebih hati-hati. Ia tak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja di sebuah kedai milik teman Alice yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak menghasilkan banyak, setidaknya cukup untuk dirinya hidup selama sebulan dan membayar uang kos.Semua cara bersembunyi Tamara tidak cukup untuk membuat dirinya aman karena Joseph selalu menemukannya. "Tinggallah sama Papa, Ra," kata Joseph di suatu siang.Mereka akhirnya dapat berbicara setelah sekian lama Tamara selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan pria itu.Tamara menggeleng. Hanya itu jawabannya sebagai bentuk penolakan."Kenapa?" tanya Joseph membuat Tamara mencengkeram ujung bajunya menahan emosi."Papa masih tanya kenapa? Papa yang tinggalin aku sama mama dan lebih memilih wanita itu hanya karena dia bisa membuat karier Papa melejit.""Tapi Papa mencintai dia, Ra. Apa yang salah d
REVARA (Indonesia) Bagian 22 : Papa
Sudah dua bulan ini Tamara pindah, ia memilih tinggal di kosan biasa daripada harus tinggal di kontrakan yang menurutnya terlalu besar untuk ia huni seorang diri."Geser dikit bisa nggak sih, Ran?" tanya Alice seraya mendorong tubuh Rani agar sedikit menjauh supaya memberinya banyak tempat untuk berbaring."Hih, lo apaan sih, Lice? Banyak tempat tuh," jawab Rani tak suka jika keasyikannya menonton drama Korea diganggu oleh Alice."Di situ nanti tempatnya Karina sama Rara. Lo mikir dong, badan lo aja segede itu masih juga kaki sama tangan ke mana-mana," protes Alice."Lo nggak ngomong pun gue juga tahu kalau itu tempatnya Rara sama Karina. Tapi kan mereka masih keluar. Lo yang santai dikit kenapa sih? Ganggu aja gue lagi nonton ayang Hyunbin nih," gerutu Rani."Kalian kenapa sih? Berisik banget dari tadi," tanya Tamara yang sudah muncul di hadapan mereka bersama Karina dan beberapa kantung plastik berisi makanan dan minuman yang mereka inginkan.
REVARA (Indonesia) Bagian 21 : Tentang Kesalahpahaman
Tamara mulai membiasakan diri hidup mandiri, bertemankan kesendirian di tengah ingar bingarnya ibu kota setiap harinya.Semenjak Revano pergi, justru Tamara mendapatkan banyak teman. Alice, Karina, dan Rani resmi sudah menjadi sahabat Tamara. Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba mau bersahabat dengan Tamara. Meski hidupnya dikelilingi oleh banyak teman, Tamara tetap merasa ada yang kurang di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Revano.Kepergian Revano rupanya menyisakan ketidakrelaan dalam hati Tamara.Sekuat apapun Tamara menghibur diri, tetap saja tak berhasil. Kini seseorang yang ia cintai setelah Diana juga meninggalkannya. Terlebih karena Revano lah yang merenggut keperawanannya.Tamara menghela napas. Hm, ya udah lah, mau gimana lagi? katanya dalam hati. Mau tak mau ia harus merelakan bukan?"Ra, mau ke kantin nggak?" tanya Juna.Tamara mengangguk. Ia beranjak dari bangkunya."Mau ke mana?" tanya
REVARA (Indonesia) Bagian 20 : Sakit
Revano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang membawa Pram tersebut ke rumah sakit."Vano!" seru Alyana memanggil puteranya.Namun sang pemilik nama tak menyahut -- ia berjalan masuk bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa brankar dengan seseorang bertutupkan kain putih di atasnya.Alyana memandang heran pada Revano."Biar aku saja yang menemui dia."Di sinilah Revano berada, di kamar jenazah. Ia menangisi seseorang yang terbaring kaku bertutupkan kain tersebut."Pa, Papa jangan pergi tinggalin Vano. Vano sayang sama Papa. Apa Papa nggak kasihan sama mama yang kesepian kalau Papa tinggal? Papa tahu sendiri kan kalau mama itu nggak bisa berlama-lama jauh sama Papa. Gimana aku sama Brian, Pa? Kami masih butuh Papa. Kami ingin Pap... HUWAAAAA!!! SETAAANNN!!!" Pram membungkam mulut anaknya yang berteriak seperti toa di tempat sepi."Jaga mulutmu, Vano!" bisik Pram sembari mendelik taj
REVARA (Indonesia) Bagian 19 : Teror 2
Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me
REVARA (Indonesia) Bab 18 : Pelita yang Padam
Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,
REVARA (Indonesia) Bab 17 : Teror 1
"Ra, buruan itu udah ditunggu Vano," kata Diana sembari melongok ke kamar Tamara."Iya, Ma," jawab Tamara yang masih sibuk membenarkan letak dasinya.Gadis mungil itu pun keluar setelah merasa rapi."Ayo berangkat," kata Revano.Tamara mengangguk.Keduanya lalu
REVARA (Indonesia) Bagian 16 : Kembali
Sudah dua minggu sejak kejadian drama itu berlangsung, namun Revano tetap tak ingin menegur Tamara. Bahkan lelaki itu tak pernah lagi membalas pesan Tamara.Tamara termenung di sudut taman seorang diri, memandang sekeliling dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga ak
REVARA (Indonesia) Bagian 15 : Arjuna dan Cemburumu
Pagi ini kelas XI IPA 1 tampak jauh lebih gaduh dari biasanya. Pasalnya usai mendengarkan amanat kepala sekolah yang begitu lama di tempat yang tak kalah panas itu -- mendadak guru matematika yang terkenal killer itu meminta izin untuk tidak mengajar selama jam pertama hingga t
REVARA (Indonesia) Bagian 14 : Iris
"Lo mau ikut nggak, Van?" tanya Brian ketika anggota The Crush berkumpul."Ikut kemana?""Camping, Revano.""Lo ikut nggak?" Revano balas bertanya.Brian menggeleng."Kenapa?""Gue ada kumpul sama anak-anak HIMA di kampus," jawab Brian."A
