loading
Home/ All /REVARA (Indonesia)/Bagian 3 : Hari-Hari Berat

Bagian 3 : Hari-Hari Berat

Author: Gabriella Tan
"publish date: " 2020-09-24 22:49:33

Tamara keluar toilet -- melihat muka murungnya di pantulan cermin. Air matanya sudah kering dari tadi. Tamara membasuh mukanya dengan air, lalu berjalan kembali ke kelas diiringi tatapan aneh dan teriakan mengolok dari teman-teman kelasnya.

Dengan segera Tamara mengemasi barang-barangnya, memasukkannya ke dalam tasnya.

"Ra, ini kan belum jam pulang," kata Juna yang terheran-heran melihat apa yang dilakukan Tamara.

Namun Tamara tak menggubrisnya sedikit pun. Gadis itu justru berlari pergi membawa tasnya keluar.

"Rara!" seru Juna memanggil, namun percuma saja, sang empunya nama sudah entah menghilang kemana.

                                                      ***

"Lho, kok udah pulang?" tanya Diana heran. Tak seperti biasanya putri tunggalnya itu pulang sepagi ini.

"Iya, Ma. Rara agak nggak enak badan aja, jadi izin pulang deh," jawab Tamara sekenanya.

"Kamu sakit?" Diana menempelkan punggung tangannya ke dahi Tamara. "Kok nggak panas?"

"Eh...Rara pusing, Ma, bukan panas."

"Ya udah, kamu buruan ganti baju terus makan ya."

Tamara mengangguk patuh.

Tak lama kemudian, pintu rumah diketuk. Siapa yang bertamu? Apakah seseorang yang hendak menjahitkan baju pada Diana?

"Rara aja, Ma, yang buka," kata Tamara ketika Diana hendak membukakan pintu.

Mata besar gadis itu membulat begitu tahu siapa sang pengetuk pintu tadi.

Sementara di ambang pintu sudah berdiri cowok jangkung berseragam putih abu-abu yang rapi dengan kacamata yang masih setia dipakainya. 

"Juna." Tamara terkejut. Bagaimana pemuda itu bisa tahu rumahnya? 

"Siapa, Ra?" Diana melongok, ingin tahu siapa yang mengetuk pintu tadi.

"Saya Juna, Tante. Teman sekelasnya Rara," kata Juna memperkenalkan diri sembari mencium punggung tangan Diana.

"Kok Juna nggak disuruh masuk sih, Ra?" 

"Eh, masuk, Jun," kata Tamara mulai membukakan pintu lebih lebar.

Juna masuk mengekori Tamara dan Diana.

"Maaf ya, Jun, gue nggak punya sofa," ucap Tamara sembari menyodorkan kursi plastik.

"Ngaak apa-apa, Ra."

"Dibuatin minum dong, Ra," bisik Diana di telinga Tamara dengan pelan.

"Mau minum apa, Jun?"

"Adanya apa?" Juna balik bertanya.

"Es teh, es jeruk, sama air putih."

"Es teh aja deh, Ra. Haus nih hehe."

"Oke, tunggu bentar ya." Juna mengangguk.

Sementara Tamara membuatkan minuman, Diana terus mengajak Juna untuk mengobrol, menanyakan ini itu termasuk tentang kegiatan belajar mengajar.

"Kalau di kelas, Rara bagaimana, Nak Juna?" Pertanyaan yang sama yang dilontarkan ibu-ibu wali murid pada teman anaknya.

"Pendiam, Tante. Hehehe..."

"Apa dia susah bergaul dengan teman-teman lainnya?"

Juna menggaruk kepalanya yang tiba-tiba menjadi gatal tanpa sebab itu. Bagaimana ini? Apakah ia harus menjawab dengan jujur? Tapi bagaimana jika Diana menjadi terbebani dengan fakta yang ada nantinya?

"Nih, Jun, diminum."

Juna dapat bernapas lega ketika Tamara datang membawa nampan berisi tiga gelas es teh. Setidaknya Tamara dapat menyelamatkannya dari pertanyaan Diana.

"Ya sudah dilanjut aja dulu ngobrolnya ya, Mama mau ke belakang. Juna, Tante ke belakang dulu ya," kata Diana pamit.

"Oh, iya, Tante."

"Lo kok bisa tahu rumah gue?" tanya Tamara ketika Diana sudah tak terlihat lagi di sekitarnya.

"Apa yang gue nggak tahu?" Juna tersenyum miring. Wajah culunnya mendadak menjadi mengerikan bak seorang psikopat ulung.

"Lo stalking gue?"

"Kenapa sih, Ra, lo tadi pulang nggak pamit? Bu Naomi panik cariin lo karena pak satpam lapor lo kabur dari jam pelajaran." Bukannya menjawab pertanyaan Tamara, Juna justru mengalihkan pembicaraan.

"Lo siapa sih sebenernya?" Tamara mulai takut.

"Gue Juna, Ra. Masa lo lupa sama teman sebangku lo sendiri sih?"

Tamara terdiam, ia sendiri bingung siapa Juna sebenarnya. Mengapa Juna terlihat culun ketika di sekolah, namun terlihat misterius di luar sekolah?

"Lo pasti sakit hati ya soal praktikum tadi?"

Tamara mengangguk pelan. Jelas saja bukan? Siapa yang tidak sakit hati jika dipermalukan di depan banyak orang seperti tadi.

"Gue jelas sakit hati, Jun. Gue tahu kalau Vano yang ganti larutan gue. Gue emang nggak punya bukti kuat kalau dia yang ganti larutan gue, tapi dari ancaman-ancamannya kemarin, gue yakin banget kalau dia pelakunya."

Juna terdiam, berusaha mendengarkan dengan saksama semua yang dikatakan oleh Tamara.

"Gue lama nangis di kamar mandi, sampai sesak dada gue karena pengap, Jun. Gue nggak ngerti lagi dia punya dendam sebesar apa ke gue sampai gue diginiin. Gue sadar gue salah karena udah kotorin seragamnya, tapi gue bener-bener nggak tahu, Jun." Tamara terisak perlahan.

Juna terkejut dengan respon gadis di hadapannya itu. Rupanya seberat itu kesedihan yang dirasakan Tamara.

Dengan perlahan Juna mengusap punggung Tamara, mencoba menenangkan.

Tanpa sepengetahuan keduanya, Diana rupanya mendengarkan semua itu di balik tembok. Wanita itu menangis mendengar apa yang dikatakan anaknya. Ia baru tersadar jika selama ini anaknya menutupi semuanya -- mengatakan baik-baik saja, teman-temannya baik -- semua adalah bohong.

Mengapa puteri tunggalnya itu mulai berani membohonginya?

"Ehm, gue nggak tahu harus gimana, Ra. Cuma gue kasihan aja sama lo yang murid baru udah diginiin."

"Gue harus gimana, Jun? Mau menghindar juga susah karena sekelas."

Juna mengangkat bahunya, "Gue juga nggak ngerti, Ra."

Tamara terdiam. Memang susah jika sudah berurusan dengan Revano, terlebih karena cowok tengil itu adalah anak pemilik yayasan sekolah.

"Ra." Tamara mengangkat kepalanya, menatap Juna.

"Gue boleh nggak jadi teman lo?"

"Seriusan lo mau berteman sama gue?" Mata Tamara terbelalak, tak percaya dengan apa yang dilontarkan Juna.

Juna mengangguk mantap.

                                                  ***

"Rara!" Juna berlari tergopoh-gopoh menghampiri Tamara yang masih berdiri di halaman sekolah.

Cowok itu terus menarik lengan Tamara.

"Apaan sih, Jun? Sakit nih tangan gue lo tarik-tarik gini," protes Tamara sembari melepaskan tarikan Juna.

"Lo harus lihat apa yang ada di kelas sekarang."

Tamara berlari meninggalkan Juna, tak peduli sekencang apa cowok itu memanggil namanya.

Gadis itu tiba di kelas, bersamaan dengan seluruh murid yang menatapnya dengan tatapan menghakimi. Di depannya sudah tersedia pemandangan tak menyenangkan mulai dari papan tulis yang dicoret-coret dengan memaki dirinya, bangkunya yang sudah penuh coretan dengan kata-kata yang tak jauh beda dari yang ada di papan tulis, serta laci mejanya yang penuh dengan sampah.

Tamara mengembuskan napas dengan berat. Sabar, Ra, sabar. Ini masih terlalu pagi buat emosi. 

Tanpa berkata sepatah kata pun, Tamara langsung membersihkan sampah-sampah di mejanya, membuangnya ke tempat sampah, lalu menghapus tulisan-tulisan di papan tulis. Ia menatap bangkunya yang masih penuh coretan tak menyenangkan itu. Mungkin esok lusa ia bisa membersihkannya.

Seisi kelas masih menatapnya. Tamara tak peduli.

Langkahnya menuju kantin, berharap dapat meredakan emosinya dengan segelas susu cokelat hangat.

Tamara meneguk hampir setengah gelas. Perasaannya sudah kacau sejak pagi, susah untuk diperbaiki seharian nanti. 

Perlahan air matanya turun. Awalnya hanya setitik, namun lama-lama membanjiri kedua pipinya.

Karena tak ingin seorang pun tahu ia sedang menangis, dengan segera dihapusnya air mata itu dan mencoba tersenyum.

"Lo kuat kok, Ra," katanya pelan pada dirinya sendiri.

Tanpa ia sadari, seseorang memperhatikannya sejak tadi. Ia juga menyaksikan bagaimana Tamara menangis.

Apa gue keterlaluan sama tuh cewek ya?

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

REVARA (Indonesia)   Bagian 23 : Giselle

Sudah dua tahun sejak kejadian di mana Tamara bertemu dengan Joseph, dirinya jadi lebih hati-hati. Ia tak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja di sebuah kedai milik teman Alice yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak menghasilkan banyak, setidaknya cukup untuk dirinya hidup selama sebulan dan membayar uang kos.Semua cara bersembunyi Tamara tidak cukup untuk membuat dirinya aman karena Joseph selalu menemukannya. "Tinggallah sama Papa, Ra," kata Joseph di suatu siang.Mereka akhirnya dapat berbicara setelah sekian lama Tamara selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan pria itu.Tamara menggeleng. Hanya itu jawabannya sebagai bentuk penolakan."Kenapa?" tanya Joseph membuat Tamara mencengkeram ujung bajunya menahan emosi."Papa masih tanya kenapa? Papa yang tinggalin aku sama mama dan lebih memilih wanita itu hanya karena dia bisa membuat karier Papa melejit.""Tapi Papa mencintai dia, Ra. Apa yang salah d

REVARA (Indonesia)   Bagian 22 : Papa

Sudah dua bulan ini Tamara pindah, ia memilih tinggal di kosan biasa daripada harus tinggal di kontrakan yang menurutnya terlalu besar untuk ia huni seorang diri."Geser dikit bisa nggak sih, Ran?" tanya Alice seraya mendorong tubuh Rani agar sedikit menjauh supaya memberinya banyak tempat untuk berbaring."Hih, lo apaan sih, Lice? Banyak tempat tuh," jawab Rani tak suka jika keasyikannya menonton drama Korea diganggu oleh Alice."Di situ nanti tempatnya Karina sama Rara. Lo mikir dong, badan lo aja segede itu masih juga kaki sama tangan ke mana-mana," protes Alice."Lo nggak ngomong pun gue juga tahu kalau itu tempatnya Rara sama Karina. Tapi kan mereka masih keluar. Lo yang santai dikit kenapa sih? Ganggu aja gue lagi nonton ayang Hyunbin nih," gerutu Rani."Kalian kenapa sih? Berisik banget dari tadi," tanya Tamara yang sudah muncul di hadapan mereka bersama Karina dan beberapa kantung plastik berisi makanan dan minuman yang mereka inginkan.

REVARA (Indonesia)   Bagian 21 : Tentang Kesalahpahaman

Tamara mulai membiasakan diri hidup mandiri, bertemankan kesendirian di tengah ingar bingarnya ibu kota setiap harinya.Semenjak Revano pergi, justru Tamara mendapatkan banyak teman. Alice, Karina, dan Rani resmi sudah menjadi sahabat Tamara. Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba mau bersahabat dengan Tamara. Meski hidupnya dikelilingi oleh banyak teman, Tamara tetap merasa ada yang kurang di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Revano.Kepergian Revano rupanya menyisakan ketidakrelaan dalam hati Tamara.Sekuat apapun Tamara menghibur diri, tetap saja tak berhasil. Kini seseorang yang ia cintai setelah Diana juga meninggalkannya. Terlebih karena Revano lah yang merenggut keperawanannya.Tamara menghela napas. Hm, ya udah lah, mau gimana lagi? katanya dalam hati. Mau tak mau ia harus merelakan bukan?"Ra, mau ke kantin nggak?" tanya Juna.Tamara mengangguk. Ia beranjak dari bangkunya."Mau ke mana?" tanya

REVARA (Indonesia)   Bagian 20 : Sakit

Revano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang membawa Pram tersebut ke rumah sakit."Vano!" seru Alyana memanggil puteranya.Namun sang pemilik nama tak menyahut -- ia berjalan masuk bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa brankar dengan seseorang bertutupkan kain putih di atasnya.Alyana memandang heran pada Revano."Biar aku saja yang menemui dia."Di sinilah Revano berada, di kamar jenazah. Ia menangisi seseorang yang terbaring kaku bertutupkan kain tersebut."Pa, Papa jangan pergi tinggalin Vano. Vano sayang sama Papa. Apa Papa nggak kasihan sama mama yang kesepian kalau Papa tinggal? Papa tahu sendiri kan kalau mama itu nggak bisa berlama-lama jauh sama Papa. Gimana aku sama Brian, Pa? Kami masih butuh Papa. Kami ingin Pap... HUWAAAAA!!! SETAAANNN!!!" Pram membungkam mulut anaknya yang berteriak seperti toa di tempat sepi."Jaga mulutmu, Vano!" bisik Pram sembari mendelik taj

REVARA (Indonesia)   Bagian 19 : Teror 2

Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me

REVARA (Indonesia)   Bab 18 : Pelita yang Padam

Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,

REVARA (Indonesia)   Bagian 16 : Kembali

Sudah dua minggu sejak kejadian drama itu berlangsung, namun Revano tetap tak ingin menegur Tamara. Bahkan lelaki itu tak pernah lagi membalas pesan Tamara.Tamara termenung di sudut taman seorang diri, memandang sekeliling dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga ak

REVARA (Indonesia)   Bagian 15 : Arjuna dan Cemburumu

Pagi ini kelas XI IPA 1 tampak jauh lebih gaduh dari biasanya. Pasalnya usai mendengarkan amanat kepala sekolah yang begitu lama di tempat yang tak kalah panas itu -- mendadak guru matematika yang terkenal killer itu meminta izin untuk tidak mengajar selama jam pertama hingga t

REVARA (Indonesia)   Bagian 14 : Iris

"Lo mau ikut nggak, Van?" tanya Brian ketika anggota The Crush berkumpul."Ikut kemana?""Camping, Revano.""Lo ikut nggak?" Revano balas bertanya.Brian menggeleng."Kenapa?""Gue ada kumpul sama anak-anak HIMA di kampus," jawab Brian."A

REVARA (Indonesia)   Bagian 13 : Mama

Revano menyerahkan sebuah kartu berwarna biru pada Tamara."Apa ini?" tanya Tamara bingung."Ini ATM, Ra. Biar kamu nggak perlu bingung cari duit kamu lagi," jawab Revano. Ia teringat kejadian beberapa minggu yang lalu, ketika itu Tamara panik dan mengatakan jika ia kehilangan uang.

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy