Download the book for free
Bagian 2 : Kejahilan
Author: Gabriella TanSmartphone Tamara berdering, alarmnya berbunyi tepat pukul 04.30 membuat gadis itu menggeliat lalu terbangun.
Dengan segera Tamara mematikan alarm di ponselnya, kembali pada layar utama di mana terdapat foto dirinya dan seorang pria 50 tahunan yang tak lain adalah ayahnya itu.
Hanya ponsel itu satu-satunya yang ditinggalkan oleh ayahnya. Tadinya ia ingin menjualnya, namun Diana tak mengizinkan. Ibunya itu berkata jika ponsel itu adalah satu-satunya sarana melepas kerinduan pada ayah, meski tak dapat saling berkomunikasi.
Tamara berlari menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dengan air dingin.
Tak butuh waktu lama baginya untuk mandi dan berdandan. Kini tubuh mungil itu sudah rapi dengan seragam putih abu-abunya, siap ke sekolah meski ia tahu jika ia tak akan tenang selama masa SMA ini.
"Sarapan dulu, Ra," kata Diana mengingatkan.
"Ma, Rara bawa bekal aja deh. Udah siang ini, takut telat," jawab Tamara.
"Lho, bukannya ini masih 45 menit lagi?" Diana melirik jam di ponselnya.
"Ehm, semalam Rara ketiduran, Ma. Jadi PR-nya belum selesai. Ini berangkat pagi biar bisa ngerjain PR sih hehe," jawab Tamara yang lagi-lagi berbohong.
Untung saja Diana percaya, dengan segera ia menyiapkan bekal untuk Tamara.
Tamara mencium tangan Diana lalu melangkah menuju sekolah.
Dalam hati ia meminta maaf telah membohongi Diana lagi.
Ia terpaksa berangkat pagi agar tak bertemu Revano di gerbang sekolah.
Namun ekspektasi tak seindah realita, Revano justru telah lebih dulu ada di dalam kelas, seorang diri.
"Kenapa lo?" Suara bariton itu berhasil menangkap basah Tamara yang hendak kabur.
Tamara hanya diam, ia masuk ke dalam kelas dengan berusaha setenang mungkin, lalu membuka sembarang buku untuk menyibukkan diri.
Gadis itu terkejut ketika Revano telah berdiri di depan bangkunya. Jantung Tamara berdegup kencang, seperti seorang target pembunuhan yang akan menemui ajalnya.
"Kenapa sih lo lihatin gue segitunya?" tanya Revano heran.
"Gu...gue...gue udah minta maaf kema..."
"Nih gantungan lo jatuh kemarin," kata Revano seraya menyerahkan sebuah gantungan kunci panda.
Tamara menerimanya. "Makasih."
"Gue kayak gini bukan berarti gue lupa sama apa yang gue omong kemarin ke lo ya," kata Revano tajam.
Tamara meneguk salivanya dengan berat. Harusnya ia selalu ingat itu. Seseorang seperti Revano bukanlah orang yang mudah melupakan kejadian yang telah berlalu, terlebih pasca insiden itu.
Revano lagi-lagi berlalu setelah mengatakan ancamannya itu.
Ya Tuhan, aku harus bagaimana? tanya Tamara dalam hati.
***
Bu Sisca, guru kimia itu telah masuk ke dalam kelas setelah liburan bulan madunya selama dua minggu di luar negeri itu.
"Gimana, Bu, bulan madunya? Asyik nih pasti," goda Jaya.
"Asyik dong. Makanya ikut," jawab Bu Sisca dengan nada bercanda.
"Saya jadi obat nyamuk dong, Bu."
"Lho, siapa tahu kamu nanti di sana kecantol bule."
"Emangnya jemuran, Bu?" protes Jaya yang dijawab tawa ringan Bu Sisca.
"Kita udah nggak sabar menerima ponakan lho, Bu," kata Ganjar heboh.
"Kalau Tuhan menghendaki ya," jawab Bu Sisca yang diamini oleh seisi kelas.
"Lho, Vano. Ini beneran kamu?" tanya Bu Sisca terkejut karena penampilan Revano yang berbeda dari biasanya.
"Bukan, Bu. Saya Taeyang Bigbang. Ini saya lah, Bu."
Bu Sisca tertawa. "Tumben banget seragammu dimasukkan rapi gini. Kena apa?"
Selama ini Bu Sisca tak pernah melihat Revano rapi seperti kebanyakan muridnya. Anak berandalan itu entah apa yang membuatnya tobat.
"Seragam saya kotor, Bu," jawab Revano datar.
"Oh, kotor. Kenapa kok bisa kotor?"
Revano hanya terdiam. Kalau sudah begini, Bu Sisca tak ingin melanjutkan pertanyaannya itu.
"Vano, ada hikmah di balik kotornya seragammu itu. Kamu bisa jadi anak yang rapi gini, Ibu senang lho. Kamu kelihatan jauh lebih ganteng daripada seragammu dikeluarkan," canda Bu Sisca.
"Ya sudah, kita kembali ke pelajaran ya. Jadi hari ini siap untuk praktikum titrasi asam basa belum?"
"Sudah, Bu."
"Baiklah kalau sudah, kita segera ke laboratorium kimia ya," kata Bu Sisca seraya melangkah keluar kelas, diikuti oleh semua murid kelas XI IPA 1, tak terkecuali Tamara.
Di dalam laboratorium, semua alat dan bahan sudah tersedia. seluruh murid pun sudah sibuk dengan praktikumnya masing-masing.
"Wah, Bu, warnanya udah berubah jadi pink," seru Dinda.
"Wah, iya, punyaku juga udah berubah," timpal yang lain.
"Berarti proses kalian sudah benar dan berhasil, Nak," kata Bu Sisca sembari tersenyum senang.
Mata Bu Sisca mengarah pada seorang gadis mungil yang masih sibuk berkutat dengan peralatannya.
"Tamara Alteyzia," panggil Bu Sisca, mengundang perhatian seluruh muridnya.
Gadis itu menoleh.
"Apakah ada kesulitan?" tanya Bu Sisca sembari menghampiri Tamara.
"Punya saya belum berubah warna, Bu."
"Kamu sudah benar belum langkah-langkahnya?" tanya Bu Sisca.
"Sudah, Bu. Saya sudah mengikuti langkah-langkah yang sama seperti diberitahu Ibu, tapi warnanya tidak berubah." Wajah Tamara menjadi panik.
"Kamu sudah coba sekali lagi?"
"Bahkan saya sudah coba tiga kali, Bu."
"Cek dulu aja, Bu. Siapa tahu dia nggak pakai HCl tapi air keran biasa," sahut Revano dengan nada bercanda. Mengundang tawa seisi kelas.
Tamara mengepalkan tangannya. Dengan berani ia mendekati Revano dan menudingnya.
"Lo kan yang udah ganti larutan gue?"
"Lho, lho, kok gue?"
"Iyalah, siapa lagi kalau bukan lo?"
"Kok lo jadi nuduh gue sih, Ra?"
"Gue nggak nuduh. Emang kenyataannya gitu, kan?"
"Sekarang gue tanya, ada gitu lo lihat gue di dekat lo? Gue aja dari tadi di sini mulu sama si Aldo. Ya kan, Do?"
"Yoi."
"Eh, Murid Baru. Lo tuh baru dua hari di sini tapi lo udah main nuduh-nuduh aja ya. Kemarin lo yang ngotorin seragam gue, sekarang lo nuduh gue ganti larutan lo. Mau lo apaan sih? Udah untung nggak gue suruh lo ganti rugi," kata Revano membuka kartu mati Tamara. Cowok jangkung itu tersenyum miring penuh kemenangan.
Semua yang ada di situ sontak terkejut, tak terkecuali Bu Sisca.
Jadi yang kemarin mengotori seragam anak pemiliki yayasan sekolah itu adalah murid baru sederhana ini? Berani sekali dia berbuat seperti itu.
Kaki Tamara bergetar hebat karenanya, matanya pedih sekali menahan air yang akan tumpah dari pelupuknya.
"Sekarang lo mau ngomong apa lagi? Masih mau nuduh gue yang ganti larutan lo? Lo sadar nggak sih kalau lo itu keterlaluan? Dikasih hati minta jantung. Udah dibaikin, tapi lo nya justru nuduh gue yang nggak-nggak."
"Malu nggak sih lo?"
Melihat perselisihan ini membuat Bu Sisca pusing. Baru saja ia pulang berbulan madu, bersenang-senang. Namun sekarang yang ia dapat adalah pekerjaan yang berat.
"Tamara, apa benar yang dikatakan Revano?" tanya Bu Sisca dengan lembut.
"Bohong kalau dia bilang nggak, Bu. Saksinya banyak di kantin," jawab Revano berapi-api.
"Vano, kamu diam dulu. Sekarang Ibu tanyanya Tamara."
Revano pun terdiam, mempersilakan Bu Sisca untuk berbicara dengan Tamara.
Tamara mengangguk. "Benar, Bu."
Jawaban Tamara membuat ramai seisi kelas.
"Dasar nggak tahu malu!"
"Murid baru songong lo!"
"Pergi aja lo tukang ganggu!"
Caci maki itu tanpa diminta masuk ke dalam telinga Tamara, membuatnya semakin panas.
Tanpa memedulikan sekitar dan juga Bu Sisca, Tamara berlari keluar menuju toilet.
Di dalam toiletlah gadis itu menumpahkan air mata yang dari tadi berusaha ia tahan.
Ma, maafin Tamara yang cengeng ini.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
REVARA (Indonesia) Bagian 23 : Giselle
Sudah dua tahun sejak kejadian di mana Tamara bertemu dengan Joseph, dirinya jadi lebih hati-hati. Ia tak melanjutkan kuliah dan memilih bekerja saja di sebuah kedai milik teman Alice yang tak jauh dari rumahnya. Meski tak menghasilkan banyak, setidaknya cukup untuk dirinya hidup selama sebulan dan membayar uang kos.Semua cara bersembunyi Tamara tidak cukup untuk membuat dirinya aman karena Joseph selalu menemukannya. "Tinggallah sama Papa, Ra," kata Joseph di suatu siang.Mereka akhirnya dapat berbicara setelah sekian lama Tamara selalu menghindar setiap kali berpapasan dengan pria itu.Tamara menggeleng. Hanya itu jawabannya sebagai bentuk penolakan."Kenapa?" tanya Joseph membuat Tamara mencengkeram ujung bajunya menahan emosi."Papa masih tanya kenapa? Papa yang tinggalin aku sama mama dan lebih memilih wanita itu hanya karena dia bisa membuat karier Papa melejit.""Tapi Papa mencintai dia, Ra. Apa yang salah d
REVARA (Indonesia) Bagian 22 : Papa
Sudah dua bulan ini Tamara pindah, ia memilih tinggal di kosan biasa daripada harus tinggal di kontrakan yang menurutnya terlalu besar untuk ia huni seorang diri."Geser dikit bisa nggak sih, Ran?" tanya Alice seraya mendorong tubuh Rani agar sedikit menjauh supaya memberinya banyak tempat untuk berbaring."Hih, lo apaan sih, Lice? Banyak tempat tuh," jawab Rani tak suka jika keasyikannya menonton drama Korea diganggu oleh Alice."Di situ nanti tempatnya Karina sama Rara. Lo mikir dong, badan lo aja segede itu masih juga kaki sama tangan ke mana-mana," protes Alice."Lo nggak ngomong pun gue juga tahu kalau itu tempatnya Rara sama Karina. Tapi kan mereka masih keluar. Lo yang santai dikit kenapa sih? Ganggu aja gue lagi nonton ayang Hyunbin nih," gerutu Rani."Kalian kenapa sih? Berisik banget dari tadi," tanya Tamara yang sudah muncul di hadapan mereka bersama Karina dan beberapa kantung plastik berisi makanan dan minuman yang mereka inginkan.
REVARA (Indonesia) Bagian 21 : Tentang Kesalahpahaman
Tamara mulai membiasakan diri hidup mandiri, bertemankan kesendirian di tengah ingar bingarnya ibu kota setiap harinya.Semenjak Revano pergi, justru Tamara mendapatkan banyak teman. Alice, Karina, dan Rani resmi sudah menjadi sahabat Tamara. Entah apa yang membuat mereka tiba-tiba mau bersahabat dengan Tamara. Meski hidupnya dikelilingi oleh banyak teman, Tamara tetap merasa ada yang kurang di hidupnya. Siapa lagi kalau bukan Revano.Kepergian Revano rupanya menyisakan ketidakrelaan dalam hati Tamara.Sekuat apapun Tamara menghibur diri, tetap saja tak berhasil. Kini seseorang yang ia cintai setelah Diana juga meninggalkannya. Terlebih karena Revano lah yang merenggut keperawanannya.Tamara menghela napas. Hm, ya udah lah, mau gimana lagi? katanya dalam hati. Mau tak mau ia harus merelakan bukan?"Ra, mau ke kantin nggak?" tanya Juna.Tamara mengangguk. Ia beranjak dari bangkunya."Mau ke mana?" tanya
REVARA (Indonesia) Bagian 20 : Sakit
Revano mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi mengikuti ambulan yang membawa Pram tersebut ke rumah sakit."Vano!" seru Alyana memanggil puteranya.Namun sang pemilik nama tak menyahut -- ia berjalan masuk bersama dengan para dokter dan perawat yang membawa brankar dengan seseorang bertutupkan kain putih di atasnya.Alyana memandang heran pada Revano."Biar aku saja yang menemui dia."Di sinilah Revano berada, di kamar jenazah. Ia menangisi seseorang yang terbaring kaku bertutupkan kain tersebut."Pa, Papa jangan pergi tinggalin Vano. Vano sayang sama Papa. Apa Papa nggak kasihan sama mama yang kesepian kalau Papa tinggal? Papa tahu sendiri kan kalau mama itu nggak bisa berlama-lama jauh sama Papa. Gimana aku sama Brian, Pa? Kami masih butuh Papa. Kami ingin Pap... HUWAAAAA!!! SETAAANNN!!!" Pram membungkam mulut anaknya yang berteriak seperti toa di tempat sepi."Jaga mulutmu, Vano!" bisik Pram sembari mendelik taj
REVARA (Indonesia) Bagian 19 : Teror 2
Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me
REVARA (Indonesia) Bab 18 : Pelita yang Padam
Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,
REVARA (Indonesia) Bagian 16 : Kembali
Sudah dua minggu sejak kejadian drama itu berlangsung, namun Revano tetap tak ingin menegur Tamara. Bahkan lelaki itu tak pernah lagi membalas pesan Tamara.Tamara termenung di sudut taman seorang diri, memandang sekeliling dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga ak
REVARA (Indonesia) Bagian 15 : Arjuna dan Cemburumu
Pagi ini kelas XI IPA 1 tampak jauh lebih gaduh dari biasanya. Pasalnya usai mendengarkan amanat kepala sekolah yang begitu lama di tempat yang tak kalah panas itu -- mendadak guru matematika yang terkenal killer itu meminta izin untuk tidak mengajar selama jam pertama hingga t
REVARA (Indonesia) Bagian 14 : Iris
"Lo mau ikut nggak, Van?" tanya Brian ketika anggota The Crush berkumpul."Ikut kemana?""Camping, Revano.""Lo ikut nggak?" Revano balas bertanya.Brian menggeleng."Kenapa?""Gue ada kumpul sama anak-anak HIMA di kampus," jawab Brian."A
REVARA (Indonesia) Bagian 13 : Mama
Revano menyerahkan sebuah kartu berwarna biru pada Tamara."Apa ini?" tanya Tamara bingung."Ini ATM, Ra. Biar kamu nggak perlu bingung cari duit kamu lagi," jawab Revano. Ia teringat kejadian beberapa minggu yang lalu, ketika itu Tamara panik dan mengatakan jika ia kehilangan uang.
