GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest

All Chapters of REVARA (Indonesia): Chapter 11 - Chapter 20

Home /  All /  REVARA (Indonesia) /  Chapter 11 - Chapter 20
24 Chapters

Bagian 10 : Hadiah

Lelaki paruh baya yang Tamara sebut sebagai papa itu terdiam memandang Tamara. Ia tak percaya jika akan bertemu lagi dengan anaknya yang sudah ia buang jauh-jauh demi wanita di sampingnya itu."Rara," lirihnya.Tamara mengepalkan tangannya, wajahnya memerah menahan amarah. Di sampingnya, seorang laki-laki jangkung dengan masker dan topi yang menutupi wajahnya itu tampak kebingungan. Tanpa basa-basi, Tamara pergi dari hadapan pria itu. Revano kewalahan membayar semua buku yang dipilih mereka tadi, lalu dengan segera mengejar Tamara. Untung saja kaki Tamara tidak panjang, sehingga langkahnya tidak lebar dan bisa dikejar. "Ra," panggil Revano.Namun sang empunya nama tetap tak menghentikan langkahnya.Dengan langkah cepat Revano dapat meraih tangan Tamara, membuat gadis itu menghentikan langkahnya."Kenapa sih, Van?" "Lo yang kenapa? Kenapa tiba-tiba pergi
Read more

Bab 11 : Jadian

Sudah sebulan lebih sejak peristiwa Revano memberi hadiah pada Tamara di bukit itu. Dan sudah sebulan lebih hubungan keduanya semakin dekat. Tak hanya itu, bahkan Revano berani mengajak Tamara ikut berkumpul dengan anggota The Crush. Tentu saja hal tersebut membuat banyak siswi iri dan terus meneror Tamara -- mengirimkan pesan-pesan aneh sampai memaki Tamara di akun Instagramnya yang membuat Tamara frustasi dan memilih menutup akun."Instagram lo kenapa?" tanya Revano di suatu siang."Gue tutup," jawab Tamara singkat. Gadis itu masih sibuk menjilat es krim yang tadi dibelikan oleh Revano."Kenapa?""Lo nggak lihat fans lo pada ngamuk? Gue mau mengurangi sosial media dulu aja sih. Gue nggak mau buat dosa karena sebel sama komentar mereka," jawab Tamara.Revano terdiam. Cowok itu bukannya tak tahu, ia sangat tahu jika Instagram Tamara dibanjiri komentar negatif oleh pengge
Read more

Bagian 12 : Kita ini apa?

Sudah seminggu Revano dan Tamara berpacaran, namun keduanya tak ingin memublikasikan hubungan mereka, terlebih di depan seluruh siswa di sekolah. Revano tak ingin Tamara mendapatkan teror yang lebih jahat dari komentar jahat di Instagramnya."Ra," panggil Revano ketika keduanya sedang berada di rooftop sekolah berdua saja."Hm?""Nanti malam gue mau basket sama The Crush.""Nggak ada acara berantem-beranteman, kan?""Nggak kok.""Beneran?""Iya, Sayang," jawab Revano seraya mencubit pipi cubby Tamara dengan gemas."Ya udah nggak apa-apa asal nggak berantem. Oh iya, aku ke kantin dulu ya," kata Tamara pamit.Namun lengannya dicekal oleh Revano."Kenapa?"Revano merarik tubuh Tamara hingga memeluknya, lalu mencium bibir Tamara singkat."Udah, sana. Hati-hati," kata Revano."Cuma gitu? Kukira mau ngomong apa."Tamara terkekeh.
Read more

Bagian 13 : Mama

Revano menyerahkan sebuah kartu berwarna biru pada Tamara."Apa ini?" tanya Tamara bingung."Ini ATM, Ra. Biar kamu nggak perlu bingung cari duit kamu lagi," jawab Revano. Ia teringat kejadian beberapa minggu yang lalu, ketika itu Tamara panik dan mengatakan jika ia kehilangan uang. Namun akhirnya Tamara menemukan uangnya di balik buku tebalnya.Tamara nyengir ketika mengingat kejadian memalukan itu."Gajimu aku transfer lewat ATM-mu ini ya," kata Revano lagi.Tamara manggut-manggut. Gadis itu melirik jam yang menggantung di dinding ruang tamu berwarna putih itu. Sudah pukul 19.24."Mau kemana?" tanya Revano ketika melihat Tamara tergesa-gesa mengemasi barang-barangnya."Pulang lah. Udah malem ini," jawab Tamara tanpa menoleh sedikit pun ke arah Revano."Kalau diajak ngomong itu lihat lawan bicaranya dong," protes Revano merajuk.Tamara tersenyum, lalu menoleh -- bersamaan dengan Revano yang mencium bi
Read more

Bagian 14 : Iris

"Lo mau ikut nggak, Van?" tanya Brian ketika anggota The Crush berkumpul."Ikut kemana?""Camping, Revano.""Lo ikut nggak?" Revano balas bertanya.Brian menggeleng."Kenapa?""Gue ada kumpul sama anak-anak HIMA di kampus," jawab Brian."Alah...alasan doang kan lo? Tumben banget aktif di organisasi? Biasanya juga cuma jadi mahasiswa kupu-kupu alias kuliah -- pulang, kuliah -- pulang," ledek Revano. Ia tahu betul jika saudara kembarnya itu tak serajin itu, meski tetap jauh lebih cerdas darinya.Brian terdiam mendapat ledekan itu dari Revano."Lo lagi deketin Ody kan?" goda Revano seraya menyipitkan mata. Mata birunya yang sipit bertambah sipit ketika ia seperti itu."Ody siapa lagi?" tanya Rizky penasara."Ody ya..." Dengan segera Brian membungkam mulut Revano. Saudara kembarnya itu tak jarang mempermalukannya dengan tingkah-tingkah absurd dan mulut embernya itu.
Read more

Bagian 15 : Arjuna dan Cemburumu

Pagi ini kelas XI IPA 1 tampak jauh lebih gaduh dari biasanya. Pasalnya usai mendengarkan amanat kepala sekolah yang begitu lama di tempat yang tak kalah panas itu -- mendadak guru matematika yang terkenal killer itu meminta izin untuk tidak mengajar selama jam pertama hingga terakhir karena anak sulungnya mengalami kecelakaan.Kejadian yang merupakan musibah itu justru menjadi sorak-sorai bagi siswa-siswi kelas XI IPA 1 tersebut. Situasi tersebut dimanfaatkan mereka untuk menjalani aktivitas masing-masing dengan bebas. Ganjar and the gang sudah melompat ke pojok belakang kelas. Apalagi kalau tidak membuka situs terlarang. Jika sudah seperti itu, mereka akan tenang, tidak mengganggu siswa lainnya."Mau kemana?" tanya Revano begitu melihat Tamara beranjak dari kursinya."Ke perpus," jawab Tamara singkat."Ikut."Tamara membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang didengar."Maksudnya?" tanya Tama
Read more

Bagian 16 : Kembali

Sudah dua minggu sejak kejadian drama itu berlangsung, namun Revano tetap tak ingin menegur Tamara. Bahkan lelaki itu tak pernah lagi membalas pesan Tamara.Tamara termenung di sudut taman seorang diri, memandang sekeliling dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang entah kemana. Hingga akhirnya matanya menatap dua sosok yang berjarak cukup jauh darinya -- namun dapat terlihat jelas siapa mereka. Revano dan Dinda tampak sangat asyik berbincang, sesekali mereka tertawa -- itu tampak sangat jelas di garis wajah keduanya.Tamara mengembuskan napasnya dengan berat. Mau bagaimanapun ini sudah risikonya berpacaran dengan seorang Revano, anak ketua yayasan serta cucu pemilik rumah sakit terbesar di kota ini.Tanpa diduga Revano juga menatap Tamara, mata mereka saling beradu tatap dalam radius lima meter. Namun tak berselang lama, Revano kembali mengalihkan pandangannya.Hati Tamara menjadi sesak. Mengapa lelaki itu tak menyapanya meski dengan jelas
Read more

Bab 17 : Teror 1

"Ra, buruan itu udah ditunggu Vano," kata Diana sembari melongok ke kamar Tamara."Iya, Ma," jawab Tamara yang masih sibuk membenarkan letak dasinya.Gadis mungil itu pun keluar setelah merasa rapi."Ayo berangkat," kata Revano.Tamara mengangguk.Keduanya lalu mencium punggung tangan Diana untuk berpamitan.Revano menyodorkan sebuah helm kecil untuk Tamara, lalu membantu gadis itu untuk bisa naik di jok belakang.Motor merah Revano melaju membelah jalanan kota."Van.""Hm.""Kok tumben banget naik motor?""Si Burhan lagi sakit.""Burhan siapa?" tanya Tamara tak mengerti."Mobilku yang biasanya kupakai kemana-mana.""Ada namanya ya?""Iya lah, biar keren."Tamara terkekeh geli. Ia baru tahu jika mobil milik Revano itu bernama Burhan. Ada-ada saja cowok itu."Emang Burhan sakit apa sih?""Sakit 
Read more

Bab 18 : Pelita yang Padam

Sudah dua minggu sejak kejadian teror itu berlangsung. Kini rumah keluarga Pram kembali tenang setelah Revano meminta satpam kompleks untuk memperketat keamanan."Van, besok lusa tante Desi ulang tahun lho," kata Alyana membuka pembicaraan ketika keduanya sedang asyik menonton film di ruang tengah."Terus?" Revano bertanya dengan cuek -- matanya masih fokus pada film yang ditontonnya."Ih, kok terus sih?" "Ya terus gimana, Ma? Vano harus gimana? Vano harus roll depan roll belakang gitu di depan tante Desi sama om Dedi?" Alyana mencubit perut Revano dengan kesal, membuat cowok itu berteriak kesakitan.Rupanya Alyana dan Tamara memiliki hobi yang sama, yaitu sama-sama suka mencubit perut Revano."Bisa nggak Mama minta tolong Vano buat beli bahan-bahan bikin kuenya?" tanya Alyana sembari memasang puppy eyes agar anaknya itu iba dan menuruti permintaannya."Tapi,
Read more

Bagian 19 : Teror 2

Sudah dua minggu ini Revano menemani Tamara di rumah. Sebenarnya Tamara sudah mulai baik-baik saja dan mengikhlaskan Diana, namun Revano bersikeras untuk menemaninya di rumah. Untung saja sekolah milik keluarga Revano, jadi yang menyangkut tentang Revano selalu dimaklumkan.Tamara mengamati Revano yang dengan lahap menyantap salat buah yang tadi dibawakan Revano untuk Tamara."Kenapa?" tanya Revano bingung karena sedari tadi Tamara terus memandanginya.Tamara menggeleng.Revano menghela napas dengan berat -- ia meletakkan mangkuk berisi salat buah yang sudah habis setengah wadahnya itu."Kenapa?" tanya Revano lagi. Kini ia memilih untuk duduk lebih dekat dengan Tamara."Van, aku sebenarnya nggak apa-apa kalau ditinggal. Beneran deh," tolak Tamara."Ra, sini deh," kata Revano meminta Tamara lebih dekat lagi dengannya.jantung Tamara berdegup kencang ketika jarak keduanya teramat sangat dekat, bahkan ujung hidung mereka saling me
Read more
Previous Page
Next Page
Download the Book
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy