GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasiLGBTQ+aRnoldMM Romancegenre22- 印尼语genre26- IndonesiaNamegenre27-请勿使用印尼语genre28- IndonesiaName
Cerita Pendek
LangitMisteri dan teka-tekiKota modernSurvival akhir duniaFilm aksiFilm fiksi ilmiahFilm romantisKekerasan berdarahRomansaKehidupan SekolahMisteri/ThrillerFantasiReinkarnasiRealistisManusia SerigalaharapanmimpikebahagiaanPerdamaianPersahabatanCerdasBahagiaKekerasanLembutKuat红安Pembantaian berdarahPembunuhanPerang sejarahPetualangan fantasiFiksi ilmiahStasiun kereta
MenulisKeuntungan PenulisLomba

Semua Bab Expect The Glimmer [Indonesia]: Bab 1 - Bab 10

Beranda /  Semua /  Expect The Glimmer [Indonesia] /  Bab 1 - Bab 10
26 Bab

PROLOG

Tangan Amara menengadah merasakan dinginnya air hujan yang turun. Hujan yang sedari tadi tidak berhenti membuatnya menghela napas. Entah sampai kapan hujan berhenti, tak mungkin bukan ia menembus jika ia saja lupa membawa payung ataupun jas hujan.  Langit yang memutih kian lama makin menggelap, sudah hampir satu jam ia menunggu. Jika hari cerah ia akan menggunakan jasa ojek online agar bisa sampai ke rumah. Atau jika ia membawa payung bisa saja ia menunggu di perapatan jalan untuk menaiki angkutan umum. Kenapa dirinya begitu lupa, seharusnya ia jangan pernah melupakan payung mengingat ini adalah musim hujan. Ia semakin menghela napas saat melihat suasana kantornya yang semakin sepi. Beberapa orang juga  terlambat pulang seperti dirinya pun sudah menaiki kendaraan pribadi seakan tak ingin berlama-lama di gedung ini. "Menyebalkan." Suara yang menyadarkan lamunan Amara, dilihatnya pria berdiri tepat di sampingny
Baca selengkapnya

BAB 1

"Pak, perlu saya bawakan kopernya?" tawar pria yang berumur sekitar empat puluh lima tahunan. Dengan tergesa ia mengambil koper yang masih di tarik Angkasa melewati ramainya pengunjung Bandara. Berhari-hari menghadiri rapat bisnis di kota Malang membuat Angkasa ingin segera merebahkan badan di kasur kesayangannya. Apalagi pesawat yang tertunda hampir tiga jam karena hujan yang mengguyur membuat ia benar-benar lelah. "Terima kasih, Pak Iwan." Ia menyodorkan koper hitamnya pada sopir perusahaan yang ditugasnya menjemputnya di Bandara. "Pak Angkasa mau makan atau singgah dulu?" tanya Pak Iwan saat sudah berada di belakang kemudi. Sedangkan Angkasa yang sibuk memasang sabuk pengamannya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi menggelengkan kepala."Langsung pulang saja, Pak." Tangannya merogoh kantung celana dan memeriksa ponsel yang sedari tadi dimatikan. Pak Iwan yang mendengar jawaban atasannya hanya bisa mengangguk patuh
Baca selengkapnya

BAB 2

"Kamu dari mana saja?" teriaknya sambil memeluk bocah yang sudah lari menghampiri dirinya. Hampir dua jam ia berkeliling kota untuk mencari sang adik, yang entah kenapa bisa hilang begitu saja. "Maaf, Kak," ringis bocah itu karena dipeluk erat sang kakak. "Kakak takut kehilangan kamu, Dek!" Jantung Amara semakin berdetak, ia ingin menyerah dan menelepon polisi saja jika sampai malam ia tidak menemukan adiknya. Jakarta bukan kota aman untuk bocah seusia Cakra yang sendirian, bisa saja eksploitasi anak membuat Cakra menjadi budak. Ia menggeleng-geleng mengenyahkan pikiran buruk tentang hal tersebut. "Apa yang ada di tangan kamu?" Menggandeng tangan Cakra untuk berjalan kembali pulang. Cakra melihat tangannya yang membawa bungkusan, ia menyengir malu. "Makanan, dikasih om yang duduk di samping Cakra." Amara tak habis pikir, bisa-bisanya Cakra mengambil pemberian dari orang lain yang tidak di kenal. Padahal bisa saja
Baca selengkapnya

BAB 3

Melihat Cakra yang bersimpuh membuat Amara mendekati dengan hati-hati takut pecahan kaca menggores telapak kakinya. Membantu adiknya untuk bangun dan memosisikan di belakangnya. "Bisa enggak sih Kak jangan kasar-kasar sama Cakra!" Amara menahan marahnya, ia tak bisa meluapkan karena melihat kondisi kakaknya yang 'tidak baik'."Diam lo, Mar. Seharusnya lo bilang tuh sama dia jangan pernah dekat-dekat sama gue lagi!" teriak Guntur menatap tajam Cakra yang masih memegang erat baju Amara. "Kak, dia adik kita. Cakra adik kita," protes Amara memeluk tubuh kurus Chakra. "Adik?" Tawa miris Guntur membuat Chakra semakin ketakutan. "Adik yang membuat ibu dan ayah pisah, iya, Mar?" DEG! Amara tak habis pikir kenapa Kakaknya bisa berbicara seperti itu terlebih di depan Cakra. Anak itu tidak tahu apa-apa, setidaknya belum. Belum mengetahui apa yang terjadi di keluarganya. Tanpa mau menyahut sang
Baca selengkapnya

BAB 4

“Aaahhh, sakit!” pekik Bastian saat rambut kribonya di tarik oleh Zevanya. “Makanya mata itu jangan jelalatan!” “Maaf sih, Beb,” kata Bastian sambil memohon ampun. “Pasangan absurd ya begini nih.” Yessi berdecih saat melihat kelakuan teman satu timnya. “Be, besok-besok tolong kasih tahu pak Bos untuk buat peraturan baru agar sesama karyawan enggak boleh memiliki hubungan.” Dina tertawa sambil melihat keterkejutan dari Bastian. “Wah benar banget tuh!” Singgih ikut membenarkan. “Bilang saja pada iri,” ejek Bastian. “Sudah biarkan saja yang penting kerja kalian pada beres.” Pak Rizal menimpali sambil menengok bungkusan kuning di hadapan Bastian. Ia menarik bungkusan itu dan membaca papperbag dengan melihat tulisan dan gambar yang menggugah selera. Simpel memang tapi mencerminkan anak muda. “Singgih dan Vero coba setelah ini buat Instagram juga channel Youtube. Untuk ma
Baca selengkapnya

BAB 5

Amara masih berkutat di dapur sederhananya, membuat makanan untuk sang adik dan ibu tercinta tanpa tahu ada yang memperhatikannya dari tadi. Membuat mi instan diaduk dengan telur lalu digoreng menjadi menu utama untuk makan malam hari ini. Tambahan bubur ayam dan irisan bawang goreng untuk ibunya yang belum bisa makan makanan yang keras. “Kalo lo masak kayak begini terus perempuan itu enggak akan sembuh?!” Dengan mengentak mangkuk yang sudah selesai disajikan di meja makan. Membuat bubur itu sedikit tercecer di meja. Amara yang sedang menggoreng seketika mematikan kompornya. “Kak Guntur apa-apaan sih! Itu makanan, kenapa di banting-banting begitu.” Mengelap tumpahan bubur. Tanpa mau adanya keributan ia mengambil bubur dan menaruhnya di samping kompor guna menjauhkan dari Guntur. Mara kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda, membiarkan Guntur dengan tingkah lakunya. Ia sedikit terkejut sa
Baca selengkapnya

BAB 6

Setelah kejadian yang menimpa keluarga Amara tak pernah ia melihat sang ayah. Pertama kali bertemu setelah sekian tahun lamanya saat sang ayah sedang menggandeng anak perempuan yang berkisar antara lima atau enam tahun. Penampilan ayahnya pun sudah jauh berbeda dari pada saat masih tinggal bersama keluarga ini. Ayahnya yang memang memiliki tampang rupawan semakin terlihat berkarisma saat memakai jas beserta dasi cokelat. Tepatnya dua bulan lalu ia melihat ayahnya, keluar dari salah satu minimarket dan melajukan mobil dengan kencang. Banyak pikiran yang hinggap di otak Amara. Apakah anak kecil itu anak kandung ayah? Ayah menikah lagi? Selama  hampir sebelas tahun meninggalkan mereka semua, Amara tak pernah mendengar bahwa ayahnya mencari bahkan menjenguk dirinya dan Kak Guntur. Apakah pria yang menjadi pahlawan nomor satu di hati Amara sudah melupakan anak-anaknya? Matanya masih menatap mobil yang kian lama h
Baca selengkapnya

BAB 7

Guntur akhirnya memutuskan untuk pulang dan tertidur di rumah saja. Ia tak ingin bertemu kembali dengan teman-temannya untuk saat ini. Ia lebih memilih mendinginkan kepalanya. Kumandang ayat-ayat suci sudah terdengar  yang berarti azan subuh sebentar lagi akan terlaksana. Guntur berjalan lunglai, mengabaikan banyak orang yang berlalu lalang untuk ke tempat ibadah. “Nak Guntur,” panggil seseorang di belakangnya, membuat Guntur mau tak mau menoleh. “Ada apa?” tanyanya dingin memperhatikan pria yang memasuki umur enam puluh tahunan dengan sorban juga baju yang sama putihnya. “Mau berjamaah?” tanya pria itu lembut sambil memperlihatkan senyumnya yang menawan. Guntur terpengkor dalam diam, melihat pakaiannya yang selama ini melekat. Ia tak pantas. “Enggak, Pak Kyai.” “Baiklah kalau begitu.” Guntur berjalan tanpa menghiraukan lagi guru yang sempat mengajar mengaji waktu ia kecil. 
Baca selengkapnya

BAB 8

Tak sedikit banyak yang Amara tangkap dari pembicaraan Engkoh Lim dan pria ber-jas hitam yang memakai kacamata. Yang Amara lihat dari siluet atasannya itu adalah mengangguk hormat juga sopan bahkan tak segan-segan membuatkan minuman untuk sang tamu yang saat ini berada di dalam ruangan Engkoh Lim. Lewat pintu kaca bagaimana interaksi kedua orang itu, Engkoh Lim yang semringah bahagia seperti mendapat durian runtuh. Apakah pria itu yang akan membeli toko ini? Sebegitu bahagianya kah Engkoh Lim membalikkan nama bangunan yang sudah membantu kehidupannya selama hampir tiga tahun. Amara menipiskan bibirnya saat melihat kedua orang itu keluar, membuat Amara kembali berkutat pada buku bacaan yang tersedia di toko. Ia tak ingin terlihat menguping. “Mar, Owe sama Pak Arman keluar sebentar dulu ya. Elu bisa kan jaga kedai sendirian?” tanya Engkoh Lim bahagia. “Bisa, Koh.” Memang jam sudah menunjukkan waktu makan siang, mu
Baca selengkapnya

BAB 9

Padahal baru minggu lalu surat lamaran kerja  ia berikan pada Engkoh Lim untuk melamar di salah satu perusahaan yang pria itu rekomendasikan. Tapi hari ini ia sudah bisa menginjakkan kaki di Venus Foods. Perusahaan yang mempunyai area yang sangat luas dan ada beberapa gedung di dalamnya.  Namun  ada satu gedung yang menjadi utamanya, gedung bertingkat empat yang sangat mewah. Wajar saja jika perusahaan ini mempunyai area yang luas karena kantor dan produksi nya menjadi satu wilayah. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” sapaan resepsionis yang lembut membuat Amara seketika ciut. Ia sudah berada di perusahaan ini, apakah bisa dirinya lolos dan ikut mengabdi. “Saya mendapat panggilan untuk ikut melakukan tes wawancara dan disuruh menemui Pak Abraham.” Amara mengulum bibirnya. Saat melihat perempuan itu tersenyum dan mengangguk. “Atas nama siapa?” “Amara Lania.”“Tunggu sebentar ya Mbak Amara silakan
Baca selengkapnya
Halaman sebelumnya
Halaman selanjutnya
Unduh Buku
Genre Populer
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasi
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi