Download the book for free
BAB 3
Author: KaagaluhMelihat Cakra yang bersimpuh membuat Amara mendekati dengan hati-hati takut pecahan kaca menggores telapak kakinya. Membantu adiknya untuk bangun dan memosisikan di belakangnya.
"Bisa enggak sih Kak jangan kasar-kasar sama Cakra!" Amara menahan marahnya, ia tak bisa meluapkan karena melihat kondisi kakaknya yang 'tidak baik'.
"Diam lo, Mar. Seharusnya lo bilang tuh sama dia jangan pernah dekat-dekat sama gue lagi!" teriak Guntur menatap tajam Cakra yang masih memegang erat baju Amara.
"Kak, dia adik kita. Cakra adik kita," protes Amara memeluk tubuh kurus Chakra.
"Adik?" Tawa miris Guntur membuat Chakra semakin ketakutan.
"Adik yang membuat ibu dan ayah pisah, iya, Mar?"
DEG!
Amara tak habis pikir kenapa Kakaknya bisa berbicara seperti itu terlebih di depan Cakra. Anak itu tidak tahu apa-apa, setidaknya belum. Belum mengetahui apa yang terjadi di keluarganya.
Tanpa mau menyahut sang Kakak, Amara membawa Cakra pergi dan tak mengizinkan anak bertubuh kurus itu berhadapan dengan Guntur. Amara masih menutupi telinga Cakra tak ingin membuat adiknya mendengarkan perkataan yang keluar dari mulut tajam yang sedari tadi tak ada habis-habisnya berucap.
“Kamu memang tadi sedang apa sampai bisa membuat Kak Guntur marah?”
“Cakra tadi habis mandi mau minum, Kak. Eh enggak tahunya Kak Guntur juga ngelakuin hal yang sama.”
Amara mendedah dan tak bertanya apa-apa lagi.
"Aku kayaknya tadi melihat ayah deh, Kak." Melihat tubuh kakaknya yang berjalan dengan membawa baju ganti untuknya.
Amara yang mendengar itu hanya bisa tersenyum masam tak berniat menjawab. Ia memberikan pakaian yang dipegangnya.
"Cepat ganti baju habis itu nanti kita makan malam." Cakra hanya mengangguk tanda setuju, ia lupa jika cacing dalam perutnya sudah berdemo sejak tadi.
***
Kembali ke rutinitas seperti biasa membuat Angkasa berjibaku dengan laporan-laporan yang membuat ia pening seketika. Memang sudah cukup ia beristirahat selama satu hari untuk meluruskan otot-ototnya yang tegang.
Me-diall nomor yang sudah hafal di luar kepala, wanita di seberang sana pun tak lama mengangkat.
"Tolong siapkan rapat dengan divisi marketing lima belas menit lagi."
"Baik, Pak."
Meletakkan gagang telepon, Angkasa kembali melihat angka-angka di atas kertas. Jumlah angka selama tiga bulan terakhir mengapa semakin lama semakin berkurang. Pasti ada yang salah.
Ketukan pintu membuat Angkasa melihat wanita berdiri dengan balutan formal dengan menggunakan kacamata.
"Semua sudah siap, Pak," kata sekretaris Angkasa.
Angkasa hanya mengangguk dan membawa flashdisk juga papperbag warna kuning.
"Sha, kamu enggak perlu ikut. Ini hanya rapat santai saja dengan mereka." Angkasa meninggalkan ruangannya.
Meeting Room menjadi tujuan Angkasa. Ruangan yang terletak di lantai dua membuat ia harus turun dengan lift. Ternyata ia berpapasan dengan Pak Rizal, Manajer Pemasaran. Kebetulan sekali.
"Pak Rizal," sapa Angkasa membuat pria berumur empat puluh dua tahun itu tersenyum dan menepuk pundak Angkasa.
"Dari mana, Pak?" tanya Angkasa.
"Biasa, Pak Direktur berkicau."
Sudah bisa dipastikan, hal yang Pak Direktur sampaikan pasti sama perihal yang akan Angkasa diskusikan.
Tapi seharusnya sang Direktur tak perlu repot-repot mengurusi hal ini toh ada Angkasa yang menjadi penanggung jawabnya.
"Jadi pagi-pagi Pak Rizal sudah dapat kultum?" tawa kedua orang yang berada dalam lift membuat ruangan pengap itu menjadi bising.
Angkasa membukakan pintu ruang rapat guna menghormati Pak Rizal yang lebih tua, meskipun kedudukan mereka sejajar namun sopan santun harus yang utama.
Sudah ada delapan orang yang menunggu, Rizal dan Angkasa duduk berhadapan dengan staf Marketing di meja bundar. Ya memang meja itu berbentuk lingkaran.
"Pagi semua." Rizal memberikan ucapan pembuka saat melihat timnya duduk tegang saat melihat Angkasa. Padahal tidak sekali dua kali Divisi Marketing rapat santai dengan divisi lainnya terlebih operasional.
"Pagi." Suara pelan yang menggema di ruang kedap suara itu membuat kening Angkasa berkerut.
"Kalian sedang berpuasa?" celoteh Angkasa dibalas tawa Rizal.
Angkasa menatap satu persatu timnya, yang menarik perhatian adalah pria berambut keriting mengembang yang ia ketahui bernama Bastian.
"Bas, kamu mau ini?" Pria yang sedari tadi sedikit mengantuk itu langsung membelalakkan matanya saat disodorkan bungkusan kuning di atas meja.
"Buat saya, Pak?" Angkasa mengangguk.
"Jadi hari ini Pak Angkasa ingin mengobrol santai dengan kita. Betul enggak, Pak?" Rizal berkata sambil meminum kopi yang sudah disiapkan.
Angkasa mengangguk sambil memberikan flashdisk pada Vero, wanita berkaca mata yang duduk paling dekat dengan monitor kecil.
"Maaf sebelumnya karena saya terlalu jauh ikut campur dengan Divisi kalian. Tapi, tugas saya juga berkaitan dengan semua di perusahaan termasuk penjualan. Saya harap kalian mengerti," kata Angkasa.
Rizal mempersilakan Angkasa berbicara.
Vero yang sebagai operator dadakan membuka file yang terletak si monitor di hadapannya. Sambungan LCD yang lebih besar membuat semua orang di ruangan fokus pada apa yang ditayangkan di depan sana.
"Saya akan menunjukkan penjualan seluruh produk perusahaan selama enam bulan terakhir." Angkasa berdiri berhadapan menghadap monitor
"Kalian bisa lihat sendiri, grafik dari bulan Juni sampai bulan Agustus stabil malah cenderung meningkat walaupun hanya sepuluh koma tujuh persen. Tapi ...." Angkasa memberikan kode pada Vero untuk mengganti slide. "Ada apa di bulan Oktober?
"Dimulai dari September yang mengalami penurunan hingga Oktober penjualan benar-benar drastis hingga tiga belas persen dalam satu bulan." Angkasa melihat Rizal yang memegang dagunya, Manajer itu juga tampak berpikir.
Semakin lama dunia bisnis semakin banyak saingannya, apalagi produk makanan yang kaya inovasi meskipun dengan bahan baku yang sama.
"Saya tidak mengerti kenapa produk kita mengalami penurunan hingga tiga bulan terakhir." Angkasa kembali duduk di samping Rizal.
"Ada yang tahu?" tanya Angkasa.
"Seperti yang kita tahu Pak, mungkin masyarakat sudah bosan dengan produk kita dan lebih memilih produk baru apalagi bermain dengan warna." Dina, salah satu staf dengan rambut blonde.
"Jadi menurut kamu produk kita akan kalah saing dengan homemade?" Angkasa mengetuk jarinya.
"Di awalnya iya. Mereka penasaran tapi akhirnya masyarakat tahu produk yang dikonsumsi sejak lama pasti akan meninggalkan kesan dan mereka akan kembali membeli produk lagi." Singgih menimpali.
"Betul tuh Pak." Bastian dan Yessi membenarkan apa yang telah Singgih katakan.
"Reza, kamu enggak mau memberikan pendapatmu?" Angkasa melihat Reza yang masih mencatat pembicaraan diskusi di buku binder miliknya.
"Enggak, Pak. Karena saya masih junior saya setuju dengan kakak-kakak senior aja."
Reza yang umurnya lebih kecil di antara yang lainnya. 23 tahun. Sedangkan yang lainnya rata-rata 25-26 tahun. Kecuali Zevanya, gadis cantik yang berumur 24 tahun.
Angkasa menyenderkan tubuhnya. "Oh begitu."
"Bastian kamu enggak mau coba buka bungkusan itu?" Angkasa menatap Bastian yang sedari tadi menatap bungkusan kuning itu.
Pekikan terkejut apalagi Zevanya yang langsung mengambil benda kuning itu dan mencium aromanya.
"Mozarella khas Malingnya, Kak!" Bastian hanya bisa melongo mendengar pekikan keras teman satu timnya.
"Lo salah naskah, Beb." Bastian mengambil kembali produk itu dari tangan Zevanya.
Angkasa menjentikkan jarinya. "Nah kalian saja langsung mengenali produk itu. Karena apa? Marketing mereka benar-benar membuat masyarakat enggak pernah lupa apalagi promosi di media sosial."
"Jadi kalian tahu apa yang kita butuh kan?"
Semuanya menggeleng masih belum mengerti.
"Tag Line untuk promosi secara besar-besaran di media sosial."
Yessi memperhatikan temannya yang mengangguk mengerti.
"Bukankah kita sudah punya Tag Line tersendiri, Pak?"
"Apa kamu pikir orang akan selalu ingat Venus Foods dengan kata-kata 'Food Healthy For You're Life'? Maksud saya, kita tak akan mengubah Tag Line yang ada. Tapi menambahkan untuk promosi di sosial media demi menarik pelanggan lebih banyak. Saya kira kalian lebih paham ‘lah mengenai hal itu apalagi menjadi timnya Pak Rizal yang dikenal dengan ide kreatifnya,” puji Angkasa.
"Saya kira hanya ini saja yang saya sampaikan. Terima kasih sudah mengobrol santai dengan saya." Angkasa pamit dengan Pak Rizal untuk meninggalkan ruangan.
Mengobrol santai katanya? Bastian mengernyit dan berdiri.
"Eh kalian mau ke mana?" Pak Rizal menginterupsi saat melihat anak-anaknya sudah ingin meninggalkan tempat.
"Kembali ke ruangan, Be," kata Zevanya.
Babe, panggilan untuk Rizal dari semua anak-anaknya.
"Ih nanti dulu, Babe punya berita menghebohkan dari pada tugas yang Pak Angkasa kasih."
Setelah mendengar atasannya bicara semua orang mendekati Pak Rizal dengan heboh sambil menarik kursinya masing-masing.
"Apa, Be?" Dina yang diketahui mempunyai suara lebih besar menaik-turunkan alisnya.
"Tadi pas Babe dipanggil sama Pak Bos. Dia kasih kita pilihan ...." Sengaja menggantung ucapannya agar semua pada penasaran.
Bastian menutup mulut Zevanya yang kedapatan terlihat terbuka.
"Ih apaan sih, Kak." Sambil mengelap mulutnya yang sudah terkena sentuhan tangan Bastian.
"Jika dalam dua bulan penjualan meningkat liburan yang diiming-imingi ke Singapura akan terlaksana. Tapi ...."
Kebiasaan buruk Babe Rizal adalah membuat semua orang penasaran seperti ini contohnya.
"Satu ... dua ...." Reza mulai menghitung karena sudah tak tahan.
"Bogor menjadi salah satu tujuan perusahaan untuk Family Gathering jika dalam penjualan tak ada peningkatan."
Mereka yang mendengar itu semua langsung menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi seolah lemas mendengar penuturan atasannya.
"Sudah lah pura-pura mati saja gue. "
"Kenapa Bogor lagi sih tahun kemarin kan kita sudah ke sana."
"Enggak sanggup lagi, sudah cukup Ferguso."
Banyak lagi omelan yang di dengar Rizal. Pria yang hampir paruh baya itu hanya tersenyum tanpa makna.
"Be, bilang sama Pak Abraham dong untuk tambah orang. Biar bisa membantu kita nih. Karyawan magang juga enggak apa-apa deh," celoteh Yessi diangguki yang lain.
"Kita sudah banyak orang loh Yes," jawab Rizal.
"Staf kita cuma dikit dibanding yang lainnya. Coba bayangkan divisi lain saja bisa sampai dua belas orang. Lah kita tujuh saja, mana laporan menumpuk enggak selesai-selesai," omelnya.
"Catat, DELAPAN," koreksi Rizal penuh penekanan.
"Iya, sembilan."
"Iya, Be. Kalo bisa yang cantik dan masih muda," bisik Bastian di sebelahnya tapi masih bisa didengar oleh semua orang.
"Kutandai kau ya!" Zevanya menarik rambut Bastian.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 20
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda." Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda? Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut. "Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan. "Sudahlah, jika saya minta ga
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 19
Tanpa memperlama proses penasaran akhirnya Dina tersadar dari keterkejutannya. Ia dengan cepat mengambil sendok yang terjatuh di lantai dan menaruhnya di sisi kiri meja. "Loh, bapak udah kenal dengan Amara?" sela Dina yang sedikit berbisik menimbulkan anggukan pada Yessi. Karena ia y
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 7
Guntur akhirnya memutuskan untuk pulang dan tertidur di rumah saja. Ia tak ingin bertemu kembali dengan teman-temannya untuk saat ini. Ia lebih memilih mendinginkan kepalanya. Kumandang ayat-ayat suci sudah terdengar yang berarti azan subuh sebentar lagi akan terlaksana. Guntur
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 6
Setelah kejadian yang menimpa keluarga Amara tak pernah ia melihat sang ayah. Pertama kali bertemu setelah sekian tahun lamanya saat sang ayah sedang menggandeng anak perempuan yang berkisar antara lima atau enam tahun. Penampilan ayahnya pun sudah jauh berbeda dari pada saat masih tin
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 5
Amara masih berkutat di dapur sederhananya, membuat makanan untuk sang adik dan ibu tercinta tanpa tahu ada yang memperhatikannya dari tadi. Membuat mi instan diaduk dengan telur lalu digoreng menjadi menu utama untuk makan malam hari ini. Tambahan bubur ayam dan irisan baw
