Download the book for free
BAB 1
Author: Kaagaluh"Pak, perlu saya bawakan kopernya?" tawar pria yang berumur sekitar empat puluh lima tahunan. Dengan tergesa ia mengambil koper yang masih di tarik Angkasa melewati ramainya pengunjung Bandara.
Berhari-hari menghadiri rapat bisnis di kota Malang membuat Angkasa ingin segera merebahkan badan di kasur kesayangannya. Apalagi pesawat yang tertunda hampir tiga jam karena hujan yang mengguyur membuat ia benar-benar lelah.
"Terima kasih, Pak Iwan." Ia menyodorkan koper hitamnya pada sopir perusahaan yang ditugasnya menjemputnya di Bandara.
"Pak Angkasa mau makan atau singgah dulu?" tanya Pak Iwan saat sudah berada di belakang kemudi. Sedangkan Angkasa yang sibuk memasang sabuk pengamannya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi menggelengkan kepala.
"Langsung pulang saja, Pak." Tangannya merogoh kantung celana dan memeriksa ponsel yang sedari tadi dimatikan.
Pak Iwan yang mendengar jawaban atasannya hanya bisa mengangguk patuh dan segera menghidupkan mobilnya.
"Bapak bisa tidur nanti kalo sudah sampai saya bangunkan," tawar Pak Iwan lagi saat melihat wajah lelah Angkasa.
Pak Iwan begitu menghargai Angkasa sebagai atasan karena pria itu salah satu orang yang selalu peduli dengan orang lain. Tidak memandang jika dia seorang sopir atau apa pun itu terbukti jika sedang bersama dirinya, Angkasa sendiri tak mau duduk di bangku belakang dan selalu duduk di depan.
"Bangunkan saya ya, Pak."
"Baik."
Empat hari menginjakkan kaki di kota yang mempunyai julukan Paris of East Java membuat Angkasa yang mempunyai tugas dalam pengelolaan perusahaan benar-benar lelah. Atasannya memberikan dirinya mandat untuk memulai semuanya tanpa terkecuali.
Venus Foods, perusahaan yang berjalan di bidang makanan dan minuman ingin bekerja sama dengan petani lokal Malang untuk memproduksi sari apel dalam jumlah besar. Tak hanya perusahaan yang diuntungkan karena mempunyai ide yang baru, petani lokal pun bisa disejahterakan.
Ponselnya bergetar membuat Angkasa yang bangun dari tidur ayam-ayamnya. Matanya menyipit saat melihat siapa yang berani menelepon.
'Della Calling'
Hanya gumaman yang Angkasa berikan sebagai kata pembuka jujur ia sangat terganggu, ia hanya ingin tertidur sebentar saja.
"Mas? Kamu sudah landing, kok enggak langsung hubungi aku?" cecar perempuan di seberang sana membuat Angkasa sedikit jengah.
"Aku ada rencana hubungi kamu kalo sudah sampai rumah."
"Kamu sekarang sudah sampai mana?"
"Masih di jalan. Nanti aku hubungi kamu lagi ya." Pemutusan sepihak oleh Angkasa membuatnya menghela nafas kasar.
Pak Iwan yang mendengarkan atasannya sedikit mengumpat tak berani bersuara, kalau berhubungan dengan wanita memang susah. Apalagi kekasih Angkasa, ia tahu wanita itu. Wanita yang pernah datang ke kantor membawakan makan siang untuk atasannya. Tak sering memang, namun bisa membuat gosip bagi banyak karyawan.
"Pak Iwan, kita nongkrong dulu saja ya." Sambil menaruh kasar ponsel di pahanya.
"Siap laksanakan, Pak." Mobilnya yang sudah keluar dari jalan tol mencari kafe atau restoran terdekat untuk mendinginkan kepala sang atasan.
**
"Pak, bagaimana keadaan istri dan anak-anak?" Sambil menghisap rokoknya Angkasa menatap pria yang duduk di hadapannya sedang menyeruput kopi.
"Mereka alhamdulillah baik, yang kecil tahun ini sudah kelas lima SD," jawab Pak Iwan.
Angkasa hanya mengangguk-angguk. Banyak sedikit Pak Iwan bercerita tentang kehidupan keluarganya, yang dulunya ia sopir salah satu perusahaan terbesar di Jakarta tapi tidak mendapat hak yang memuaskan dan akhirnya pemutusan sepihak. Menjalani hidup menjadi sopir ojek online dengan bermodal motor yang mendapatkan penghasilan tak menentu membuat Pak Iwan mencoba melamar pada perusahaan Venus Foods dan alhasil kesabaran Pak Iwan membuahkan hasil.
"Bapak sudah tahu belum kalo perusahaan ada beasiswa untuk anak pegawai yang mendapat peringkat satu sampai tiga?" tanya Angkasa.
"Saya belum tahu, Pak."
"Coba ajukan saja Pak, nanti saya bantu untuk teruskan ke bagian kepegawaian. Sayang kalo anak Pak Iwan dapat peringkat tapi dibiarkan begitu saja." Pengajuan yang Angkasa berikan membuat Pak Iwan bersyukur, selama satu tahun ia bekerja ia baru tahu jika ada sistem itu di perusahaan.
Ponselnya kembali bergetar, tanpa berlama-lama ia segera mengangkatnya.
"Assalamualaikum. Iya, Ma?"
"Kasa bentar lagi sampai rumah kok." Isapan terakhir pada rokoknya dan mematikannya di asbak yang tersedia.
"Bilang sama Dellandra besok saja kalau mau ketemu, aku capek."
"Waalaikumsalam."
Tangannya mengusap kasar wajahnya.
"Mau jalan sekarang, Pak?" ajak Pak Iwan setelah mendengar percakapan Angkasa.
**
"Oh iya Pak Iwan ini ada oleh-oleh untuk anak Bapak." Angkasa memberikan papperbag berwarna kuning.
"Repot-repot banget, Pak. Terima kasih ya." Pak Iwan menunduk hormat. Dan pamit untuk pulang. Angkasa yang melihat kepergian Pak Iwan segera masuk sambil menarik koper.
"Kak Kasa!" teriak perempuan yang sudah melihat Angkasa masuk sambil membawa barang bawaan. Angkasa yang melihat itu hanya memutar bola matanya malas.
"Mana oleh-olehnya?" tanya Antariksa, Riksa adalah adik perempuan Angkasa.
Angkasa yang mendengar tuntutan Riksa hanya mendorong dahi perempuan itu. "Bukannya tanya kabar kakaknya malah minta oleh-oleh."
"Kak, ini keju yang lagi viral itu ‘kan?" Tangan Riksa membuka papperbag berwarna kuning dan membuka isinya.
"Iya, kakak memang sengaja beli untuk bahan rapat kantor. Kalo kamu mau ambil saja tapi jangan semua." Angkasa mendudukkan bokongnya di sofa ruang tamu membiarkan Riksa membuka semua barang bawaan dirinya.
"Mama mana?" tanya Angkasa saat melihat situasi rumah yang sepi.
"Di belakang sama Mbak Della."
Alis Angkasa mengkeret, Dellandra enggak main-main dengan perkataannya jika ia akan ke rumahnya saat Angkasa sudah pulang dari Malang.
"Della sudah dari tadi di sini?"
"Kira-kira dua jam yang lalu," jawab Riksa sambil memakan keripik buah.
Dua jam yang lalu? Berarti saat wanita itu meneleponnya dan langsung ke rumah. Luar biasa.
Angkasa menarik kopernya dan menuju kamarnya di lantai dua, ia akan membersihkan diri karena yang ia tahu dirinya untuk saat ini tidak akan pernah bisa beristirahat.
Menyegarkan tubuhnya di pancuran air dingin membuat otot-otot Angkasa yang tadinya kaku menjadi lemas. Sebenarnya tuntutan pekerjaan membuat dirinya tak bisa tidur dengan nyaman beberapa minggu dan puncaknya adalah hari ini. Tapi mengingat Dellandra yang sudah berada di rumahnya membuat ia harus melupakan lelahnya.
Pacar sekaligus tunangan karena perjodohan orang tua dari kedua belah pihak membuat Angkasa tidak bisa berkutik. Meski umurnya yang bisa dibilang muda untuk menjadi seorang manajer, tapi umur tiga puluh tahun sudah cukup matang untuk menjadi imam keluarga.
Ayah dan Ibunya sudah mewanti-wanti untuk Angkasa segera melamar, tapi berbagai alasan yang Angkasa berikan membuat kedua belah pihak tak bisa berbuat apa-apa. Angkasa belum siap, belum siap jika Dellandra yang menjadi istrinya.
"Mas Kasa, mama dan papa selalu mencari kamu loh. Katanya kamu jarang main ke rumah," ujar Della menatap pacarnya dibalik kemudi. "Mereka juga mengajak kamu makan malam."
Angkasa mendengarkan saja tanpa merespons, jalanan yang lumayan padat mengingat ini adalah malam minggu membuat ia jengkel. Ia memang ingin cepat-cepat mengantar kekasihnya pulang, dengan begitu ia bisa dengan bebas mengurung diri di kamar tercinta.
Matanya menatap langit, beberapa jam yang lalu terjadi hujan tapi sekarang langit sudah terlihat cerah bahkan sorot jingga sudah makin terlihat.
"Mas ...," tepuk Della pada lengan Angkasa karena tak diberikan jawaban.
"Aku kan tadi sudah bilang, kalo Mas capek mending enggak usah antar aku. Aku bisa pulang sendiri." Della merasa tak enak hati.
Dibalas dengan senyum manis membuat Dellandra merona, kekasihnya memang bisa membuat dia senang.
"Aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan."
Mobilnya sudah sampai tepat di depan rumah Della, tapi ia tak berniat untuk singgah.
"Aku langsung ya, Dell. Salam untuk tante dan om. Maaf enggak bisa mampir." Meskipun begitu, ia tetap membukakan pintu serta sabuk pengaman untuk Della.
"Enggak apa-apa, Mas. Nanti aku sampaikan ke mama. Kamu istirahat ya." Della mencium bibir Angkasa membuat pria itu tersenyum dan balas menciumnya singkat.
Dengan cepat ia pun melajukan kemudinya, akhirnya sudah selesai satu urusan.
***
Melihat langit yang begitu indah sore ini membuat Angkasa berniat menghentikan mobilnya tepat di taman kota. Wajahnya menengadah melihat senja, burung-burung yang lalu lalang beserta banyak pemuda pemudi yang bercengkerama seolah sudah siap akan malam minggunya.
Ia segera duduk di bangku panjang yang terlihat kosong meskipun ada seorang bocah menempatinya seorang diri di posisi paling ujung. Entah ke mana orang tua anak lelaki itu, meninggalkannya seorang diri di tempat umum seperti ini.
Menikmati suasana dengan angin yang berembus ia menyenderkan punggungnya tanpa ingin tahu keadaan sekitar. Langit yang kuning makin lama berubah menjadi gelap digantikan oleh lampu-lampu untuk membantu penerangan.
Telinganya mendengar bunyi tak asing, melirik sedikit apa yang dilakukan bocah di sampingnya itu.
"Kamu lapar?" Bergumam tanpa melihat.
Sedangkan anak laki-laki itu hanya menunduk malu seperti tertangkap basah mencuri sesuatu. Angkasa akhirnya menatap dengan jelas bocah itu. Anak yang sebenarnya tampan dengan baju yang sudah pudar warnanya.
Bunyi yang sama ke sekian kali membuat Angkasa menghela nafas, akhirnya ia beranjak pergi. Bocah lelaki itu melihat kepergian Angkasa dengan wajah tertunduk, ia yakin om itu tak ingin berdekatan terlalu lama dengannya.
"Nih makan." Sodoran yang diberikan membuat bocah itu melihat bagaimana wajah pria yang memberikannya sesuatu. Ia melihat bungkusan hadapannya, tampak menggiurkan tapi dia takut.
"Kamu sendirian?" Angkasa duduk kembali sambil menaruh bungkusan nasi di bangku dekat dengan bocah itu.
Hanya anggukan yang di dapat.
"Kamu tersesat atau bagaimana?" Menarik, seorang Langit Angkasa ingin ikut campur urusan orang lain.
Hanya anggukan lagi. Angkasa menegakkan tubuhnya.
"Siapa namamu?"
"Kakak!" teriakan secara tiba-tiba bocah itu sambil melambaikan tangan, entah siapa yang dipanggil membuat ia terperanjat.
"Cakra, Cakrawala." Sambil berlari, bocah itu berbalik menatap Angkasa.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 20
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda." Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda? Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut. "Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan. "Sudahlah, jika saya minta ga
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 19
Tanpa memperlama proses penasaran akhirnya Dina tersadar dari keterkejutannya. Ia dengan cepat mengambil sendok yang terjatuh di lantai dan menaruhnya di sisi kiri meja. "Loh, bapak udah kenal dengan Amara?" sela Dina yang sedikit berbisik menimbulkan anggukan pada Yessi. Karena ia y
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 17
Guntur melihat Amara yang sedang turun dari angkutan umum. Meniti tubuh adiknya dari atas ke bawah. "Lo benar kerja, Mar?" tanya Guntur. “Gue kira enggak bakal ada perusahaan yang mau terima lulusan sekolah menengah atas. Dan meliat lo begini gue jadi paham.”Amara
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 16
Hujan yang mengguyur bumi dari pagi hingga saat ini—siang hari—membuat semua karyawan yang di kantor sedikit tak semangat. Seakan mereka semua telah kehilangan semangat dari matahari yang menyinari. Tapi beda hal dengan divisi marketing, entah bulan-bulan ini atau setiap hari
