Download the book for free
BAB 4
Author: Kaagaluh“Aaahhh, sakit!” pekik Bastian saat rambut kribonya di tarik oleh Zevanya.
“Makanya mata itu jangan jelalatan!”
“Maaf sih, Beb,” kata Bastian sambil memohon ampun.
“Pasangan absurd ya begini nih.” Yessi berdecih saat melihat kelakuan teman satu timnya.
“Be, besok-besok tolong kasih tahu pak Bos untuk buat peraturan baru agar sesama karyawan enggak boleh memiliki hubungan.” Dina tertawa sambil melihat keterkejutan dari Bastian.
“Wah benar banget tuh!” Singgih ikut membenarkan.
“Bilang saja pada iri,” ejek Bastian.
“Sudah biarkan saja yang penting kerja kalian pada beres.” Pak Rizal menimpali sambil menengok bungkusan kuning di hadapan Bastian.
Ia menarik bungkusan itu dan membaca papperbag dengan melihat tulisan dan gambar yang menggugah selera. Simpel memang tapi mencerminkan anak muda.
“Singgih dan Vero coba setelah ini buat Instagram juga channel Youtube. Untuk masalah desain yang menarik Bastian, Dina dan Yessi kalian bisa kan?”
Sedangkan yang ditanya hanya bisa mengangguk.
“Reza dan Zevanya mulai sekarang kalian buat konsep apa saja yang akan kita posting untuk pertama kali di laman sosial media.”
“Be, tapi produk kita lumayan banyak. Jadi kira-kira yang terlebih dahulu yang harus tampilkan?” tanya Reza.
“Lihat dari produk mana yang paling banyak diminati, juga ... lihat produk yang diminati itu kira-kira kisaran di usia berapa? Pastikan anak muda yang memenuhi target pasar.”
Reza menggaruk tengkuknya sambil melihat Zevanya yang hanya menidurkan penanya di atas bibir.
Kenapa tim gue begini amat sih!
*
“Mbak Din, tukar partner yuk!” bisik Reza memelas di samping kubikel Dina.
“Emang kenapa?”
“Gue enggak bisa pikir nih kalo pasangan sama Ze.” Sambil menarik-narik ujung baju Dina.
“Ih enggak usah tarik-tarik, Za!” geram Dina.
“Sorry, Mbak.”
“Lo juga aneh, masa mau tukaran partner. Kan Babe sudah memberikan lo kerja bareng sama Ze. Tahu kaya begitu kenapa tadi enggak lo tolak?”
Reza yang mendengar perkataan seniornya hanya bisa merapikan poninya yang sedikit berantakan. Bukannya dia tidak mau untuk bekerja sama dengan Zevanya, tapi gadis itu terlalu ‘aneh’ untuknya.
“Ya enggak enak lah, Mbak.”
“Ya sudah. Terima saja. Apa perlu gue yang ngomong sama Zenya kalo lo enggak nyaman sama dia?” tantang Dina sambil mengulum bibir tanpa diketahui oleh Reza.
“Jangan!”
“Ya sudah. Balik sana ke meja lo.”
Reza semakin memfokuskan pada kertas yang ada di hadapannya saat mendengar suara entakkan sepatu mendekat.
“Nih, Za.” Zevanya menyodorkan satu gelas cup kopi.
“Thanks.” Sebelum kembali ke pekerjaannya, mata Reza melotot melihat apa yang dibawa Ze.
Tumpukkan buku sudah mendarat di kubikel Reza dengan Zevanya yang menarik kursi untuk duduk di sampingnya.
“Buat apa?” tanya Reza bingung saat melihat hampir sepuluh buku yang ada di atas mejanya.
“Biar kita gampang buat konsepnya.”
Reza menatap Zevanya tak percaya, ia pun akhirnya membuang nafasnya. Mengalah. Dilihat judul buku dari segala macam warna dan ketebalan.
‘Manajemen Pemasaran’
‘Pemasaran ala Anak Muda’
‘Cara Cepat Agar Usaha Laris’
‘Dikejar Closing’
‘Anak Muda Jadi Kaya.’
‘Penjualan Hebat Ala Rasulullah’
Dan masih ada yang lainnya.
“Enggak begini juga, Ze.” Sambil menatap wajah Zevanya.
“Ini buku-buku best seller tahu. Kita baca saja siapa tahu ketemu ide.” Zevanya membuka salah satu bukunya.
“Babe itu mau kita buat konsep bukan ujian. Contoh kita pertama kali posting kripik buah -Vrips- nah kita push terus tuh sampai setidaknya followers mulai tertarik.”
“Tapi kan itu sudah kita iklankan di televisi.”
“Justru itu, kita terus push. Setelah itu kita kasih selingan antara produk yang kurang diminati. Kita juga bisa endorse influencer terkenal untuk naiki rating. Dan juga jangan lupakan give away, “ jelas Reza.
“Kok kamu pintar, Za?” kagum Zevanya menatap mata Reza.
Reza hanya memutar bola matanya.
“Jidatku lebar makanya pintar. Untung ke tutup poni.” Reza masih mencoret-coret kertasnya.
“Terus buku ini aku bawa ke mana?”
“Kamu dapat dari mana?”
“Perpustakaan kantor.”
“Enggak mungkin. Peminjaman buku di perpustakaan kan maksimal cuma dua.”
Zevanya hanya tersenyum sambil menampilkan gigi putihnya.
“Sisanya aku beli. He he.”
Benar-benar di luar ekspektasi, melihat kelakuan Zevanya yang bernotabene sebagai ‘teman dekat’ Bastian membuat Reza tak enak hati jika ingin mengomeli. Perempuan berusia di atas satu tahun itu memang sangat cantik juga periang tapi Zevanya mempunyai sifat yang sangat sulit diprediksi.
Reza menggelengkan kepalanya dan mengambil salah satu buku pemberian Ze. “Ya sudah kamu taruh lemari saja.”
‘Boleh juga si Ze dapat buku bagus.’
Buku Penjualan Hebat Ala Rasulullah menjadi pilihannya.
Dengan bermodalkan pengetahuan juga tren anak muda jaman sekarang, Bastian yang memang ahli dalam mendesign menjadi kunci utama untuk tim marketing. Dibalik rambut kribonya ada otak cemerlang yang ternyata tersembunyi.
“Menurut lo bagus biru laut atau hijau mint?” tanya Dina pada Yessi yang masih sibuk memilih warna Template.
“Di gabung begitu malah kayaknya lebih bagus deh, Mbak. Jadi kayak ada perpaduannya begitu, ” saran Yessi.
Dina yang mencoba menggabungkan warna hanya mengangguk. “Boleh juga.”
“Bas, sudah sampai mana tahap lo?” tanya Dina menggeser kursinya mendekati kubikel Bastian yang diikuti oleh Yessi.
“Keren juga buatan lo,” puji Yessi.
Bastian yang mendengar pujian Yessi hanya menyunggingkan senyumnya puas. Layout yang Bastian buat benar-benar mencitrakan seni budaya Indonesia yang di mana ada unsur batik juga tulisan daerah tapi juga menggabungkan unsur modern di dalamnya.
“Tinggal backgroundnya saja sih ini, Mbak. Mau polos atau bagaimana lagi.”
“Kayaknya begitu saja sudah rame kok,” ucap Dina. “Logo perusahaan enggak usah diubah-ubah kan?”
“Kata babe sih enggak usah, untuk foto profil tetap pakai logo aslinya saja. Pak Bos juga sudah mewanti-wanti kok.” Bastian masih mengotak-atik design-nya.
Dina dan Yessi hanya mengangguk mengerti.
“Kayaknya kita emang butuh orang baru deh.” Dina melihat ke kubikel Reza yang sudah ada Zevanya di sampingnya.
Entah dari mana Zevanya yang tadi meminta izin sebentar untuk keluar, ia melihat Reza yang masih mencoret-coret kertas di hadapannya sedangkan Ze sedang membolak-balik lembar buku.
“Kan kita juga sudah bilang sama Babe dari beberapa bulan lalu, apalagi sebentar lagi perusahaan akan launching produk yang kemarin Pak Angkasa meeting-in. Gue yakin sih pasti bakal keteteran banget,” kata Yessi sambil mengetikkan sesuatu di ponselnya.
“Iya gue kasihan sama Reza, dia sama Ze.” Dina berceloteh.
“Kenapa emang?” jawab Bastian mendadak saat nama Ze terlintas di telinganya
“Langsung ngegas.” Tawa Yessi menggelegar membuat Reza dan Ze menoleh.
“Kenapa, Mbak?” Akhirnya yang dibicarakan, memberikan suara juga.
“Enggak Ze. Ini, masa mimi peri buat konten lagi.”
Penjelasan itu membuat Reza dan Ze ber ’oh’ ria.
“Lo sih, Yes. Ghibah saja.” Bastian memukul lengan Yessi yang masih tertawa.
Yessi sampai sekarang tidak memahami Bastian. Kenapa pria itu menyukai Ze? Padahal kan masih ada dirinya, dan Yessi juga yang bertemu dengan Bastian terlebih dulu. Yessi menepuk mulutnya, membuat Dina dan Bastian mengernyit heran.
Malu akan tindakannya, ia kembali memainkan ponselnya tanpa ingin tahu perdebatan orang-orang di sekelilingnya lagi.
Ia saat memasuki perusahaan ini sekitar tiga tahun yang lalu langsung menyukai Bastian, rambut kribo dengan wajah tampan pria itu memang membuat Yessi tergila-gila. Bastian memang tipe pria yang suka bercanda tapi sangat serius jika menyangkut pekerjaan. Itu yang ia suka.
Selama itu pula ia dan Bastian sangat dekat, membuat orang lain berpikiran jika mereka mempunyai hubungan. Tapi meskipun begitu ia tak pernah menampik bahkan hanya tersenyum saat ada yang bertanya. Beda lagi dengan Bastian yang selalu berkata jika mereka memang hanya sebatas teman membuat ia yang berada diawang-awang langsung terhempas begitu saja. Bastian sudah mendeklarasikan hal demikian, tapi Yessi bisa apa. Berarti selama ini ia dan Bastian rasakan adalah satu hal yang berbeda.
Meskipun seperti itu, ia tak pernah mencoba menjauh dari Bastian dan seolah itu biasa saja.
Saat di tahun kedua, tepatnya tahun kemarin Zevanya masuk sebagai karyawan baru. Menjadi tim mereka menggantikan Mbak Vera karena sedang mengandung anak kedua. Otomatis Vera yang ditunjuk Babe sebagai ketua dalam tim terganti menjadi Dina karena kerja Dina juga yang dinilai cekatan dan tanggap.
Selama itu pula, Bastian berpindah haluan dan mendekati Zevanya hingga melupakan dirinya. Ralat, bukan melupakan melainkan ‘meminta’ Yessi untuk memberi pria itu waktu mendekati Zevanya. Dan Yessi menyanggupi, toh selama ini mereka juga tak mempunyai hubungan khusus kan. Sampai saat ini, dirinya tak tahu apakah Zevanya dan Bastian sudah menjalin hubungan sebagaimana mestinya atau hanya dekat saja.
“Yes, ke kantin yuk!” ajak Dina masih membereskan map-map yang ada di mejanya.
“Belum istirahat, Mbak.” Tersentak akan lamunannya.
“Lo liat sudah jam berapa ini?”
Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit membuat Yessi cepat-cepat membereskan biliknya juga.
“Lo sih melamun saja. Melamunkan apa sih?” tanya Dina menggandeng tangan Yessi keluar ruangan.
Menuruni tangga karena memang ruangan mereka ada di lantai dua membuat tim pemasaran menjadi lebih enak juga tak melulu berdesak-desakan dengan karyawan lain yang lebih suka menggunakan elevator.
“Enggak melamunkan apa-apa sih, Mbak. Cuma kayaknya gue emang lapar deh,” ringis Yessi yang berpura-pura depan Dina.
“Alasan.”
Dina terhenti sejenak saat melihat kantin yang sebegitu ramainya.
“Yes, ramai banget,” keluh Dina.
Yessi yang melihat Bastian dan Zevanya sudah mengambil tempat duduk di pojok sana bersama dengan Singgih dan Reza terdiam. Kenapa masih sakit?
“Mbak Dina, Vero ke mana?”
“Makan siang sama cowoknya.”
Yessi hanya mengangguk tanda mengerti.
“Makan di luar saja yuk, Mbak. Gue tiba-tiba mau makan yang pedas banget deh,” ajak Yessi.
“Pakai mobil lo ya.”
Dengan cepat Yessi menarik tangan Dina untuk ke parkiran. Biarkan saja ia berbohong demi ketenangan hatinya toh siapa yang peduli kalau bukan dirinya sendiri.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 20
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda." Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda? Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut. "Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan. "Sudahlah, jika saya minta ga
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 15
Sejak saat itu, setelah Hanum dan Dewo menikah mau tak mau Angkasa yang bernotabene sebagai teman dekat sekaligus--teman tapi tak menikah Hanum--dekat dengan adiknya, Della. Angkasa juga baru tahu bahwa selama ini Dellandra Aniva memiliki perasa
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 14
Angkasa yang sudah dua hari bertugas kembali ke Malang dengan segala urusannya. Masalah yang ia kira sudah selesai dan hanya akan melakukan proses penyelesaian ternyata salah besar. Para petani apel itu tiba-tiba menaikkan harga yang cukup mahal karena alasan wabah yang menyerang tanaman. Berhekt
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 13
Sudah hampir seminggu bekerja di Venus Foods akhirnya membuat Amara mengerti. Bekerja di divisi marketing dengan banyak orang beserta pemikiran yang berbeda menjadi tolak ukur ia memahami karakter. Seperti saat ini, mereka yang sibuk karena salah satu model yang ditunjuk sebagai pemeran
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 12
Masih teringat pesan yang Guntur kirimkan siang tadi. Bagaimana jika Guntur bertemu ayah, bisakah kakaknya membuat ayahnya kembali lagi bersama? Sudah cukup lama ia menahan rindu. Besar tanpa didikan dan kasih sayang seorang ayah membuat hidup Amara jomplang sebelah. Ia lupa bagaimana dipeluk dig
