GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest

All Chapters of Expect The Glimmer [Indonesia]: Chapter 11 - Chapter 20

Home /  All /  Expect The Glimmer [Indonesia] /  Chapter 11 - Chapter 20
26 Chapters

BAB 10

Angkasa memarkirkan mobilnya saat sudah sampai depan rumah. Ia sempat melihat mobil hitam yang sudah terparkir juga di sebelahnya. Jantungnya berdegup kencang saat tahu mobil siapa itu. Alarm waspada sudah berbunyi di kepalanya, matanya melihat arloji. Hampir jam tujuh malam. Dengan cepat ia masuk ke rumahnya.“Assalamualaikum. Loh ada Om, Tante sudah lama di sini?” Basa-basi membuat ia seperti pria yang sopan. “Angkasa, kami baru saja di sini,” kata wanita paruh baya yang terlihat modis. Sedangkan Angkasa hanya tersenyum sopan. “Della juga ada di dalam menunggu kamu,” ucap Agung Galaksi–Ayah Angkasa. “Permisi Tante, Om. Angkasa mau ke dalam ingin bersih-bersih takut ketinggalan salat magrib juga.” Angkasa sedikit berlari, ia tak ingin bertemu tunangannya dulu dan lebih menginginkan bertemu air yang bisa dengan cepat melepaskan penatnya. Selesai dengan kegiatannya, Angkasa turun ke lantai dasar menemui ora
Read more

BAB 11

Amara masih tidak yakin bahwa ia akan bekerja di salah satu perusahaan bonafid. Saat tes wawancara dengan kepala HRD langsung, ia menciutkan nyalinya. Apa yang semua Pak Abra katakan benar, ia hanya lulusan SMA dan jarang sekali ada yang ingin menerima.   Namun sekarang bunga tidur yang sering Amara bayangkan menjadi kenyataan. Bak durian runtuh ia mendapat ini semua dari Engkoh Lim yang sudah terlalu baik. Setidaknya jika finansial Amara tercukupi salah satu yang ia inginkan adalah mengobati ibunya. Sampai sekarang Amara tak tega melihat ibunya yang tertatih-tatih saat berjalan dan sulit berbicara. Melihat dirinya di cermin membuat ia tersenyum, walaupun dengan tampilan sederhana ia bisa bangga bekerja di Venus. Ia tahu bahwa perkataan orang pasti akan didengarnya tapi itu semua tak meruntuhkan tekadnya. Dengan mengambil tas selempang di atas kasur, ia keluar dan hendak menghampiri ibunya. “Bu ... doakan Mara ya.
Read more

BAB 12

Masih teringat pesan yang Guntur kirimkan siang tadi. Bagaimana jika Guntur bertemu ayah, bisakah kakaknya membuat ayahnya kembali lagi bersama? Sudah cukup lama ia menahan rindu. Besar tanpa didikan dan kasih sayang seorang ayah membuat hidup Amara jomplang sebelah. Ia lupa bagaimana dipeluk digendong bahkan main hujan bersama orang tuanya. “Ayah, kenapa setiap kita mandi hujan Ibu selalu marah sih?” Amara mengelap mukanya yang terkena guyuran air hujan. Ayahnya beserta Kak Guntur juga mandi bersama di halaman belakang rumah. “Padahal kan mandi hujan itu menyenangkan.” Amara loncat-loncat menciptakan percikan air. “Ibu kamu nggak suka main hujan, Dek.” Bagas yang terdiam di bawah pancuran air talang. “Ah ibu mah nggak asyik padahal kan seru ya, Yah.” Amara duduk di depan Ayahnya mengikuti posisi sang Ayah dengan duduk bersila seolah-olah sedang yoga. “Coba pejamkan mata dan rasakan air yang menerpa tubuh Ara. Rasakan setia
Read more

BAB 13

Sudah hampir seminggu bekerja di Venus Foods akhirnya membuat Amara mengerti. Bekerja di divisi marketing dengan banyak orang beserta pemikiran yang berbeda menjadi tolak ukur ia memahami karakter. Seperti saat ini, mereka yang sibuk karena salah satu model yang ditunjuk sebagai pemeran utama dalam iklan produk terbaru malah membatalkan kontraknya secara tiba-tiba. Padahal pemotretan tinggal dua hari lagi dan mereka belum ada kandidat yang cocok untuk menggantikan. “Sinta Arkalana itu kenapa enggak bisa profesional banget sih! Buat gue pusing aja. Udah tahu punya jadwal casting sama televisi lain masih aja ambil kontrak. Seharusnya manajernya juga lebih tahu jadwal artisnya jangan asal taken kontrak aja!” Dina yang masih mengomel sembari menghubungi banyak manajer influencer atau pun selebgram seketika pusing. Siapa yang mau menerima kontrak dadakan seperti ini bahkan dalam waktu dua hari. Sinta Arkalana seora
Read more

BAB 14

Angkasa yang sudah dua hari bertugas kembali ke Malang dengan segala urusannya. Masalah yang ia kira sudah selesai dan hanya akan melakukan proses penyelesaian ternyata salah besar. Para petani apel itu tiba-tiba menaikkan harga yang cukup mahal karena alasan wabah yang menyerang tanaman. Berhektar-hektar pohon apel itu mengalami kerusakan, mau tak mau para petani memutar otak agar hasil panennya memuaskan. Menyurvei langsung ke lokasi membuat Angkasa percaya, meskipun ia juga tak bisa di bodohi oleh siapa pun. Semua benda hidup apalagi tanaman punya risikonya 'kan. Angkasa memaklumi. Dengan menyandarkan punggungnya di ranjang hotel. Angkasa mendiall nomor Della. Bunyi penghubung tak lama karena langsung diangkat oleh sang empu membuat Angkasa menipiskan bibirnya. Suara serak juga sesenggukan membuat Angkasa yakin apa yang sedang kekasihnya alami. "Kamu mau bicara apa siang tadi?" Della memang menghubungin
Read more

BAB 15

 Sejak saat itu, setelah Hanum dan Dewo menikah mau tak mau Angkasa yang bernotabene sebagai teman dekat sekaligus--teman tapi tak menikah Hanum--dekat dengan adiknya, Della. Angkasa juga baru tahu bahwa selama ini Dellandra Aniva memiliki perasaan khusus terhadapnya. Perjodohan yang bermula karena omong kosong Hanum akhirnya disetujui langsung oleh kedua orang tua belah pihak. Dan belum sampai di situ, ternyata tanpa diduga Angkasa kedua orang tua mereka memang ingin sekali menjodohkan antara Della dan dirinya setelah perempuan itu lulus dari pendidikan.Della yang mengetahui itu semakin senang apalagi Angkasa yang tak pernah menolak prosesnya dari awal. Bak dikatakan anak sekaligus calon menantu, Della selalu bersikap baik juga lembut keluarga.Enam tahun berlalu hingga saat ini, tapi entah kenapa pikiran Angkasa masih belum sepenuhnya pada Della. Ada ganjalan besar saat ia menatap mata Della, ia mengang
Read more

BAB 16

Hujan yang mengguyur bumi dari pagi hingga saat ini—siang hari—membuat semua karyawan yang di kantor sedikit tak semangat. Seakan mereka semua telah kehilangan semangat dari matahari yang menyinari. Tapi beda hal dengan divisi marketing, entah bulan-bulan ini atau setiap hari mereka selalu sibuk. Dikejar deadline dan tugas yang menumpuk dari atasan langsung. Pemotretan dan syuting iklan kemarin mereka bisa bernafas lega, model yang di kontak secara dadakan menyanggupi karena adanya jadwal kosong. Model Daniah Ayu yang berdarah campuran antara Indonesia dan Malaysia. Tak hanya parasnya yang ayu, ternyata dirinya juga tak mempermasalahkan karena kontrak dadakan ini. Memang saat melakukan prosesi, tak hanya divisi mereka saja yang bekerja tapi ada divisi lain yang membantu bahkan mereka juga menyewa jasa untuk tampil apik dan sempurna. "Mas, file ini mau di buat apa?" Amara membawa tumpukkan file berbagai warna dari D
Read more

BAB 17

Guntur melihat Amara yang sedang turun dari angkutan umum. Meniti tubuh adiknya dari atas ke bawah. "Lo benar kerja, Mar?" tanya Guntur. “Gue kira enggak bakal ada perusahaan yang mau terima lulusan sekolah menengah atas. Dan meliat lo begini gue jadi paham.”Amara diam, tak menyahuti. Membiarkan Guntur dengan segala apa yang diinginkan pria itu lakukan. Bahkan jika hanya menjawab pertanyaan pun Amara sudah malas menanggapi. Dengan kuat Guntur menyentak lengan Amara membuat perempuan itu meringis. "Apaan sih, Kak?!" "Makanya kalo gue tanya itu jawab, jangan diam saja kayak orang bisu!" Masih menggenggam erat lengan Amara. "Bisa enggak sih enggak usah kasar sama adik sendiri, sakit tahu!" Amara mencoba meloloskan dirinya dari amukan Guntur. Seharusnya kakaknya ini bisa menjaga sikap, apalagi ia berada di area jalan umum. Guntur mau tidak mau melepaskan Amara dan mengusap wajahnya kasar. "Lo benaran ke
Read more

BAB 18

Read more

BAB 19

Tanpa memperlama proses penasaran akhirnya Dina tersadar dari keterkejutannya. Ia dengan cepat mengambil sendok yang terjatuh di lantai dan menaruhnya di sisi kiri meja. "Loh, bapak udah kenal dengan Amara?" sela Dina yang sedikit berbisik menimbulkan anggukan pada Yessi. Karena ia yakin bahwa Amara tak pernah berinteraksi dengan pimpinannya.Angkasa melihat Dina. "Udah, dia karyawan baru 'kan?" Mencoba meyakinkan semuanya. Ia juga tak mungkin memberi tahu mereka apa yang membuat keduanya saling kenal apalagi kejadian yang bisa mengancam nyawa perempuan itu. Amara mengangguk segan melihat atasannya yang sudah memulai makan siang. Ia melihat Dina yang juga menatapnya dengan penasaran.Tanpa memusingkan lagi apa yang terjadi, Dina berdiri sambil membawa sendoknya untuk mengganti yang baru. "Mar, nanti pulang kantor bareng sama gue aja ya," pinta Yessi pada Amara. "Tap—tapi, Mbak ...." "Udah enggak ada
Read more
Previous Page
Next Page
Download the Book
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy