Download the book for free
![Expect The Glimmer [Indonesia]](https://acf-qat.xssky.com/book/202010/da3244bf827ee641e3096b19dc26af8fb243cdc517b7592bbeea5d095feba477.jpg?v=1&p=1&w=180&h=237&a=webp&q=85)
Chapter 1
Tangan Amara menengadah merasakan dinginnya air hujan yang turun. Hujan yang sedari tadi tidak berhenti membuatnya menghela napas. Entah sampai kapan hujan berhenti, tak mungkin bukan ia menembus jika ia saja lupa membawa payung ataupun jas hujan.
Langit yang memutih kian lama makin menggelap, sudah hampir satu jam ia menunggu. Jika hari cerah ia akan menggunakan jasa ojek online agar bisa sampai ke rumah. Atau jika ia membawa payung bisa saja ia menunggu di perapatan jalan untuk menaiki angkutan umum.
Kenapa dirinya begitu lupa, seharusnya ia jangan pernah melupakan payung mengingat ini adalah musim hujan.
Ia semakin menghela napas saat melihat suasana kantornya yang semakin sepi. Beberapa orang juga terlambat pulang seperti dirinya pun sudah menaiki kendaraan pribadi seakan tak ingin berlama-lama di gedung ini.
"Menyebalkan."
Suara yang menyadarkan lamunan Amara, dilihatnya pria berdiri tepat di sampingnya memandangi hujan. Jas hitam yang sudah lepas dijinjingnya di lengan.
Amara terkesiap saat mata itu menatap juga dirinya dari atas hingga bawah.
"Pak Langit." Amara bersikap sopan saat mengetahui atasannya.
Pria itu hanya mengernyitkan keningnya saat mendengar perempuan yang diduga karyawannya menyebut namanya. Tapi tunggu, sepertinya ia asing dengan wajah ini.
"Baru bekerja di sini?" Angkasa bertanya tapi matanya sudah berpaling menghadap rincikan hujan.
"Iya Pak, baru seminggu," jawab Amara sambil menipiskan bibirnya, ia merasa canggung.
"Divisi?"
"Pemasaran, Pak."
Angkasa hanya mengangguk tanda mengerti, berbasa-basi saat menunggu hujan berhenti tak ada salahnya bukan?
"Siapa namamu?" Amara yang di tanya namanya langsung menoleh menatap Angkasa yang juga masih memperhatikan rintik hujan. Semakin canggung dan tak ingin berlangsung lama akhirnya ia memberanikan diri.
"Amara Lania. Pak saya pulang terlebih dulu sepertinya hujan sudah mulai reda, permisi."
Sedangkan Angkasa menatap punggung yang sedang berlari di bawah rincikan hujan dengan tas menutupi kepalanya agar tidak basah.
Lania? Angkasa menyenderkan tubuhnya di dinding.
Nama yang bagus, persis sepertiku.
Latest chapter
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 25
Last Updated : 2020-10-18
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 24
Last Updated : 2020-10-17
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 23
Last Updated : 2020-10-16
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 22
Last Updated : 2020-10-14
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 17
Guntur melihat Amara yang sedang turun dari angkutan umum. Meniti tubuh adiknya dari atas ke bawah. "Lo benar kerja, Mar?" tanya Guntur. “Gue kira enggak bakal ada perusahaan yang mau terima lulusan sekolah menengah atas. Dan meliat lo begini gue jadi paham.”Amara
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 16
Hujan yang mengguyur bumi dari pagi hingga saat ini—siang hari—membuat semua karyawan yang di kantor sedikit tak semangat. Seakan mereka semua telah kehilangan semangat dari matahari yang menyinari. Tapi beda hal dengan divisi marketing, entah bulan-bulan ini atau setiap hari
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 15
Sejak saat itu, setelah Hanum dan Dewo menikah mau tak mau Angkasa yang bernotabene sebagai teman dekat sekaligus--teman tapi tak menikah Hanum--dekat dengan adiknya, Della. Angkasa juga baru tahu bahwa selama ini Dellandra Aniva memiliki perasa
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 14
Angkasa yang sudah dua hari bertugas kembali ke Malang dengan segala urusannya. Masalah yang ia kira sudah selesai dan hanya akan melakukan proses penyelesaian ternyata salah besar. Para petani apel itu tiba-tiba menaikkan harga yang cukup mahal karena alasan wabah yang menyerang tanaman. Berhekt
Reviews

Chapters
Read
Download
To Readers
Jiang Sese dapat dengan jelas mengingat betapa acuh tak acuh ayahnya ketika dia mengatakan kepadanya: "Setelah kamu pergi, jangan pernah menyebutkan bahwa kamu berasal dari keluarga Jiang, jangan sampai kamu mempermalukan dirimu sendiri." Tunangannya bahkan lebih kejam, mengkritiknya dengan ekspresi menghina di wajahnya. "Jiang Sese, bagaimana kamu bisa melakukan sesuatu yang begitu menjijikkan?" Kenangan ini membangkitkan Jiang Sese yang sudah lemah.2 YINI
