Download the book for free
BAB 2
Author: Kaagaluh"Kamu dari mana saja?" teriaknya sambil memeluk bocah yang sudah lari menghampiri dirinya. Hampir dua jam ia berkeliling kota untuk mencari sang adik, yang entah kenapa bisa hilang begitu saja.
"Maaf, Kak," ringis bocah itu karena dipeluk erat sang kakak.
"Kakak takut kehilangan kamu, Dek!" Jantung Amara semakin berdetak, ia ingin menyerah dan menelepon polisi saja jika sampai malam ia tidak menemukan adiknya. Jakarta bukan kota aman untuk bocah seusia Cakra yang sendirian, bisa saja eksploitasi anak membuat Cakra menjadi budak. Ia menggeleng-geleng mengenyahkan pikiran buruk tentang hal tersebut.
"Apa yang ada di tangan kamu?" Menggandeng tangan Cakra untuk berjalan kembali pulang.
Cakra melihat tangannya yang membawa bungkusan, ia menyengir malu. "Makanan, dikasih om yang duduk di samping Cakra."
Amara tak habis pikir, bisa-bisanya Cakra mengambil pemberian dari orang lain yang tidak di kenal. Padahal bisa saja itu modus penculikan.
"Kamu enggak ingat apa yang Kakak bilang untuk enggak ambil pemberian orang lain?" Amara mengambil bungkusan dari tangan Cakra. "Tunjuk yang mana omnya!"
"Ih jangan kak ... sayang. Untuk makan malam kita," mohon Cakra sambil menarik baju kedodoran milik Amara.
"Dengar! Kalo makanan kamu dikasih racun sama om tadi, bagaimana? Atau kamu diculik?" Amara menyejajarkan tubuhnya untuk melihat wajah gembil sang adik.
"Kakak masih punya cukup uang kalo untuk makan kamu sehari-hari. Jangan jadi miskin hati, Cakra. Cukup materi kita saja yang kurang." Amara menghela nafas.
Bekerja sebagai operator fotokopi di depan sekolah, membuat Amara lebih banyak bersyukur meskipun hanya berpenghasilan pas-pasan. Ia sudah banyak mencoba melamar di suatu instansi atau perusahaan walaupun bermodal ijazah SMA. Tak ada salahnya bukan?
Sambil menunjukkan tempat orang yang memberikannya makan, Cakra menengok sekelilingnya.
"Tadi om itu duduk di sini, Kak. Duduk di samping Cakra," jelas Cakra sambil menunjuk bangku panjang.
"Terus sekarang om itu hilang?" ejek Amara melihat wajah kebingungan Cakra yang terlihat lucu. Ia pun mendudukkan bokongnya di sana.
Amara memberikan bungkusan pada Cakra. "Ya sudah ini untuk kamu. Nanti kalo ketemu sama om itu kita ganti ya uangnya."
Cakra pun mengangguk senang. Setidaknya ia bisa makan enak malam ini.
**
"Kamu kok bisa sampai sini?" tanya Amara sambil menggandeng Cakra menikmati malamnya suasana Ibukota.
"Tadi ada ondel-ondel terus Cakra ikut deh," kata bocah berumur sepuluh tahun itu menjelaskan.
"Sampai sejauh ini?" Anggukan yang bocah itu berikan membuat asumsi Amara benar.
"Kamu sendirian?" cecarnya.
"Enggak, banyak anak lain juga tadi. Tapi mereka enggak tahu ke mana." Bisa dipastikan entah Cakra yang kehilangan jejak temannya atau memang ia yang pergi ke suatu tempat setelahnya.
Amara membuka gerbang tua rumahnya, membuat besi yang sedikit berkarat itu berbunyi.
"Cepat kamu mandi, Kakak mau lihat ibu dulu." Dengan lihai Amara menghidupkan seluruh lampu rumahnya.
Dibuka pintu kayu untuk melihat ibunya.
"Bu ...."
Hanya gumaman yang terdengar sebagai balasan. Amara duduk di pinggir ranjang memperhatikan ibunya yang juga menatap dirinya.
Sigap Amara membantu ibunya untuk duduk.
"Cakra sedang mandi, Bu." Sambil memijat kaki ibunya, ia berbicara.
Mata sayu itu menatap Amara dengan lembut walau dirinya tak bisa berbuat banyak namun doa selalu terpanjat di hatinya.
"A ... aa ... aa." Perkataan tak jelas yang selalu bergumam itu membuat Amara miris. Tubuh ibunya tak lagi sama, setengah dari sistem syarafnya tak berfungsi. Bibir yang sedikit menyungging itu menandakan jika dia tak bisa berbicara normal.
"Ibu lapar?"
Menggelengkan kepala Dinarianti–Ibu Amara—membuat Amara semakin berpikir apa yang diinginkan ibunya.
"Aaa ... aaa."
"Kak Guntur?" Akhirnya Amara mengetahui apa yang ibunya jelaskan, dengan bantuan tangan kiri yang masih berfungsi menggambarkan sosok tinggi yang artinya kakak Amara.
"Kak Guntur kayaknya enggak pulang lagi, Bu." Helaan nafas Dinar membuat Amara mengerucutkan bibirnya.
Guntur Pribumi laki-laki dewasa yang sudah menginjak dua puluh lima tahun itu entah ke mana dan jarang pulang. Sosoknya tak ubah seperti berandalan di pinggir jalan yang sering nongkrong bersama teman-temannya. Mengikuti pergaulan bebas.
Amara tak banyak berharap dengan Guntur, jika laki-laki pertama di keluarga lain pasti menjadi sandaran dan tumpuan tapi tidak untuk Amara dan Cakra. Mereka tak bisa mengharapkan Guntur yang memberikan kenyamanan di rumah.
"Ibu mau ke kamar mandi?" Amara membantu Ibunya berdiri, Dinar bisa saja berdiri sendiri namun kakinya sebelah yang mati rasa memperlambat dirinya untuk berjalan.
Dengan tertatih dan menyeret kaki sebelah kanan, Amara menopang tubuh sang Ibu.
Belum sempat mencapai pintu kamar, Dinar serta Amara dikagetkan dengan pecahan kaca dari arah dapur. Amara dengan cepat mendudukkan ibunya di kursi. Pikirannya langsung tertuju pada Cakra yang sedang di dapur, semoga Cakra hanya memecahkan gelas.
Amara tambah panik saat melihat adiknya sudah terduduk di lantai dengan pecahan kaca di sampingnya.
"Kak Guntur!"
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 20
"Kenapa lancang sekali memotong pembicaraan saya?" Pria itu menghardik keras. "Sekalinya orang miskin tetaplah miskin, mereka tidak ada tempat di dunia ini. Apalagi berhubungan langsung pada kita, jangan pernah! Jadi jangan buang-buang waktu berharga kita untuk meladeni mereka. Baju dan sepatumu bisa Papa belikan lagi nanti, tapi untuk acara kita tidak bisa ditunda." Amara semakin tak mengerti kenapa orang-orang kaya banyak yang terlalu merendahkan manusia lainnya. Bukankah semua terlihat sama saja di mata Tuhan? Apa yang membuat mereka berbeda? Amara semakin memeluk erat Cakra saat merasakan pelukan Cakra yang juga semakin mengerat. Ia tahu adiknya takut. "Maaf, Pak ... Bu jika perbuatan adik saya sudah melukai perasaan Bapak dan Ibu." Amara menekankan setiap kata-katanya sambil menatap dalam pria baya itu di depannya. Tak ada rasa rindu yang terpancar, yang ada hanya rasa kesal dan merendahkan. "Sudahlah, jika saya minta ga
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 11
Amara masih tidak yakin bahwa ia akan bekerja di salah satu perusahaan bonafid. Saat tes wawancara dengan kepala HRD langsung, ia menciutkan nyalinya. Apa yang semua Pak Abra katakan benar, ia hanya lulusan SMA dan jarang sekali ada yang ingin menerima. Namun sekarang bunga
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 10
Angkasa memarkirkan mobilnya saat sudah sampai depan rumah. Ia sempat melihat mobil hitam yang sudah terparkir juga di sebelahnya. Jantungnya berdegup kencang saat tahu mobil siapa itu. Alarm waspada sudah berbunyi di kepalanya, matanya melihat arloji. Hampir jam tujuh malam.
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 9
Padahal baru minggu lalu surat lamaran kerja ia berikan pada Engkoh Lim untuk melamar di salah satu perusahaan yang pria itu rekomendasikan. Tapi hari ini ia sudah bisa menginjakkan kaki di Venus Foods. Perusahaan yang mempunyai area yang sangat luas dan ada beberapa gedung di dalamnya.&nbs
Expect The Glimmer [Indonesia] BAB 8
Tak sedikit banyak yang Amara tangkap dari pembicaraan Engkoh Lim dan pria ber-jas hitam yang memakai kacamata. Yang Amara lihat dari siluet atasannya itu adalah mengangguk hormat juga sopan bahkan tak segan-segan membuatkan minuman untuk sang tamu yang saat ini berada di dalam ruangan Engkoh Lim
