Download the book for free
24. (Tidak) Mengizinkan
Author: ruangbicaraSetelah menghabiskan satu porsi nasi uduk buatan Ira dengan penuh rasa keterpaksaan, karena sudah kehilangan selera untuk menyantap sarapan, Siera buru-buru kembali ke rumah sebelah lantaran Denis menyuruhnya untuk segera memanggil Mahanta. Mumpung laki-laki itu belum pergi bekerja, katanya.
Awalnya Siera sudah berniat untuk mengirimkan pesan singkat saja ke nomor ponselnya Mahanta, tapi Denis langsung melarangnya. Karena hal itu terlalu berlebihan. Alhasil, ia harus repo
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
You Are My Reason (INDONESIA) 33. Sakit
33. Sakit Siera sudah mencoba untuk mendorong tubuh Erik dengan sekuat tenaga, agar laki-laki itu tidak bisa masuk ke dalam rumahnya, dan ia bisa mengunci pintu rumah secepatnya. Namun usahanya itu hanya berakhir sia-sia, karena Erik sudah benar-benar masuk ke dalam rumah dengan senyum licik yang terukir di bibirnya. “Keluar, sekarang! Karena gue enggak mau nerima tamu,” ucap Siera dengan suara yang sedikit bergetar. Perasaannya benar-benar terasa tidak enak, dan alarm tanda bahaya di dalam otaknya sedang memperingatinya untuk segera menjauh dari Erik yang saat ini berjalan mendekat ke arahnya bagaikan seekor predator yang siap menerkam mangsanya. “Jangan galak-galak begitu dong, Ra.” Erik mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, lalu pandangannya terpaku pada foto pernikahan Siera dan Mahanta yang terdapat di dinding ruangan. “Sampe hari ini aku
You Are My Reason (INDONESIA) 32. Di Jakarta
32. Di Jakarta Akhirnya acara syukuran empat bulanan kehamilan Siera akan segera dilaksanakan, dan acara itu akan diadakan sekitar pukul sebelas siang. Mahanta dan Siera sengaja hanya mengundang para tetangga, ibu-ibu pengajian, serta beberapa teman dekatnya Mahanta semasa sekolah. Karena Siera sendiri tidak memiliki teman dekat selama ia tinggal di sana. Beberapa ibu-ibu yang sudah datang, tampak bersalaman dengan Siera, dan mendoakan bayi di dalam kandungannya. Bahkan sampai ada yang memberanikan diri untuk mengelus permukaan perutnya. Sedangkan Ira sudah lebih dulu melakukan hal yang sama. Disusul dengan Rima, dan Nenek Imah yang juga ikut datang ke sana. Namun Hilda belum juga memberikan doanya untuk calon anak pertamanya Mahanta yang masih berada di dalam kandungannya Siera, dan Siera pun tidak terlalu mengharapkan doa dari orang seperti Hilda. Sehingga mereka berdua hanya bersikap a
You Are My Reason (INDONESIA) 31. Pertanyaan Aneh
31. Pertanyaan Aneh “Pokoknya kamu enggak boleh kecapekan,” ucap Mahanta sembari menyeka beberapa titik keringat yang muncul di dahi dan lehernya Siera menggunakan beberapa lembar tisu di tangan. “Biar nanti aku cariin asisten rumah tangga aja. Secepatnya.” “Mahanta, aku enggak apa-apa.” Siera ikut menarik beberapa lembar tisu dari dalam wadah yang ditaruh oleh Mahanta tepat di samping tempat duduknya, lalu mulai mengelap keringat yang ada di bagian belakang lehernya. “Dan omonganku di rumah Nenek Imah waktu itu, kamu lupain aja ya? Jadi kamu enggak usah cari asisten rumah tangga segala. Aku bisa kok ngerjain semuanya sendirian.” Mahanta kontan menghela napas panjang, dan segera menyalakan kipas angin yang berada di dalam kamar. “Kalau kamu ngerjain pekerjaan rumah setiap hari, sendirian kayak begini, kayaknya aku enggak yakin.”
You Are My Reason (INDONESIA) 30. Rumah Baru (2)
30. Rumah Baru (2) “Ini semua kamu yang belanja sendiri ke pasar, atau dibantu sama Malika?” tanya Siera begitu mendapati isi kulkas yang terlihat cukup penuh oleh berbagai macam bahan makanan. “Dibantu sama Malika,” gumam Mahanta yang masih bisa didengar dengan jelas oleh Siera. “Kemarin aku sempet anterin dia ke pasar sebelum jenguk kamu ke rumahnya Nenek Imah.” Siera hanya mengangguk singkat, dan segera mengeluarkan bahan makanan yang ia perlukan. Karena ia akan segera memasak di rumah barunya, untuk yang pertama kalinya. Ia sangat menyukai dapur ini, karena terlihat sangat rapi, dan bersih. Tapi yang paling penting, ini adalah dapurnya sendiri—milik pribadi, dan tidak ada orang yang akan melarangnya memasak di sini. “Kamu mau masak apa?” tanya Mahanta yang sedari tadi hanya diam saja sambil mengamat
You Are My Reason (INDONESIA) 29. Pulang (2)
29. Pulang (2) “Saya, Soraya Amanda, mengakui bahwa saya memang sudah pernah menikah sebelumnya, dan saya juga sudah pernah melahirkan seorang anak perempuan.” “Tapi ... tolong, jangan ganggu hidup mereka—baik mantan suami saya ataupun anak perempuan saya. Karena saya dan mereka berdua sudah tidak pernah lagi berhubungan, bahkan sejak bertahun-tahun silam.” “Tolong, hargai privasi mereka. Karena mereka berdua cuma orang ‘biasa’, dan enggak akan suka kalau tiba-tiba harus disorot oleh kamera. Apa lagi jika harus disangkut pautkan dengan saya.” Pada akhirnya, Siera tetap bisa melihat beberapa penggalan video dari konferensi pers yang dilakukan oleh Soraya kemarin siang. Karena ia tidak bisa hidup tanpa menggunakan sosial media, dan Mahanta juga tidak bisa melarangnya. “Kamu jangan bengong terus dong.” Mah
You Are My Reason (INDONESIA) 28. Konferensi Pers
28. Konferensi Pers Setelah cukup lama menghindari awak media, akhirnya Soraya Amanda memberanikan diri untuk memberikan klarifikasinya. Ia bahkan rela melakukan konferensi pers untuk meluruskan berbagai berita yang mulai melenceng dari keberanan, dan konferensi pers itu pun akan dilakukan besok siang. Siera yang mengetahui hal itu dari sosial media, hanya diam saja, dan segera menyimpan ponselnya ke atas meja. Karena ia tidak ingin menambah beban pikiran. Cukup tuduhan Hilda saja yang berhasil membuatnya terpengaruh, hingga memilih untuk menghindar dari ibu mertuanya itu. “Kamu kenapa?” tanya Rima lengkap dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya. Lalu ikut duduk di samping Siera setelah menaruh secangkir teh miliknya ke atas meja. “Pasti kamu udah kangen banget ya sama Mahanta?” Siera hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengatakan apa-apa, yang langsung
You Are My Reason (INDONESIA) 17. Menghindar - Flashback
Setelah kejadian kurang mengenakkan yang dialaminya di rumah Soraya, perlahan-lahan Siera mulai menyadari segala kebaikan yang telah dilakukan oleh Ira dan ketiga anaknya. Ia tidak bisa menyangkal itu semua, karena semua orang yang ada di sana benar-benar m
You Are My Reason (INDONESIA) 16. Keinginan Hilda
Mencuci pakaian adalah salah satu kegiatan yang paling menjengkelkan bagi Siera setelah ia benar-benar pindah ke rumahnya Hilda. Karena setiap kali ia ingin mencuci pakaian kotor miliknya, Hilda tidak pernah mengizinkannya untuk memakai mesin cuci yang ada di sana dengan alasan kalau ia masih mud
You Are My Reason (INDONESIA) 15. Pulang
Terhitung sudah 2 malam Siera tidur di rumah ayahnya, dan ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk pulang ke rumah sebelah. Sedangkan Mahanta tidak bisa memaksa, dan hanya membiarkan apa yang Siera lakukan. Namun Denis merasa kalau ia harus segera turun tangan, dan
You Are My Reason (INDONESIA) 14. Sate Ayam
Setelah membersihkan dirinya karena akan bersiap untuk pergi bekerja, Mahanta langsung masuk ke dalam kamar dan tidak melihat Siera di dalam sana. Ia segera memakai pakaiannya dengan secepat kilat sebelum mencari keberadaan Siera diluar kamar mereka berdua. Lalu ia tidak mene
