Download the book for free
BAB 6 – Bertemu Amanda
Author: Nhovie ENAku begitu tertegun dengan apa yang kulihat diluar kamar. Rumah ini sangat besar dan mewah. Aromanya wangi dan sejuk. Dilantai dua ini terdapat empat buah kamar, termasuk salah satunya kamar tempatku disekap. Dari sini aku bisa melihat kelantai satu. Perabotan, sofa, televisi dan lainnya tersusun dengan rapi. Sungguh ini seperti mimpi. Bagaimana caranya Rafa bisa memiliki rumah semewah ini.
Selama ini kami tinggal dirumah peninggalan orangtuaku. Rumah sangat sederhana. Kalau siang datang, rumah kami akan terasa sangat panas dan gerah, karena memang tidak ada loteng. Perabotan yang kami milikipun sangat sederhana. Aku seperti terdampar dilembah mimpi.
“Jangan banyak melamun, ayo kita turun.” Rafa mengenggam tanganku dengan sangat lembut.
“Eh... Nisa sudah keluar. Masyaa Allah, Nisa cantik sekali. Ayo kesini, kita makan dulu. Mbak sudah masak ayam bakar, sambalado, telur dadar dan Sup tulang.” Mbak Rena menyambutku dengan sangat ramah. Dia melepaskan genggaman Rafa dan beralih memegangi lenganku, menuntunku kesalah satu kursi makan.
“Rafa tidak menyakitimu lagikan sayang?” Mbak Rena berbicara sembari matanya melirik ke arah Rafa yang sudah duduk didepanku.
“Enggak mbak, Rafa baik.” Aku berusaha memujinya didepan mbak Rena. Aku melihat dia bersikap biasa saja.
“Baiklah, Nisa makan dulu ya, makan yang banyak biar montok kayak mbak, hahaha.” Mbak Rena memang sangat menyenangkan. Fisiknya memang agak gemuk. Aku fikir posturnya sama seperti postur tubuhku dua tahun yang lalu.
“Mbak gak tau sich, dulu Nisa lebih gendut dari mbak, hahaha.” Rafa bicara sembari memperagakan seseorang berbadan gendut.
“Tapi tenang saja, nanti Rafa akan membuat Nisa kembali montok seperti dulu.” Dia mengedipkan matanya kearahku sambil tersenyum.
“Mbak sengaja masak banyak hari ini. Karena siimut Amanda akan kesini. Mbak sudah kangen banget sama celotehan gadis kecil itu.”
“Mbak kenal Amanda?”
“Tentu saja mbak kenal sayang, bahkan mbak sangat dekat dengan siimut itu. Mbak seperti menemukan sesuatu yang hilang.”
“Jadi Amanda sering datang kesini?” Aku menatap mbak Rena penuh tanda tanya.
“Ya.”
“Jangan bilang kalau kau sering mengajaknya bolos sekolah Rafa.” Aku menatap Rafa dengan tajam.
“Memangnya kenapa? Diakan putriku, aku berhak membawanya kapan saja yang aku mau. Masalah Sekolah gampang, nanti kamu yang akan mengajarinya dirumah.” Rafa kembali tersenyum memperlihatkan sederet giginya yang putih bersih.
“Tapi Amanda tidak pernah cerita apapun.”
“Biasalah, Ayahnya akan membujuk putri kecilnya agar bisa merahasiakan semuanya kepada ibunya.” Mbak Rena menjawab semua dengan sangat enteng. Sikap mbak Rena membuktikan jika Rafa memang sangat baik kepada mereka semua.
“Assalamu’alaikum.” Aku mendengar suara Amanda.
“Wa’alaikumussalam.” Rafa langsung bangkit dan mengejar putri semata wayangnya itu. Menggendong dan memeluknya dengan sangat sayang.
“Bunda... Amanda mau sama Bunda.” Amanda mencoba turun dari gendongan ayahnya.
Sementara aku segera menghampiri sepasang paruh baya yang datang bersama Amanda. Mereka adalah orangtua Rafa, mantan mertuaku. Aku menyalami mereka berdua dengan takzim.
“Tolong maafkan Rafa ya nak.” Mama membisikkan kalimat itu ketelingaku sembari memelukku.
“Bunda, Manda kangen.” Amanda telah merentangkan tangannya untuk bisa digendong olehku.
“Iya, bunda juga sudah kangen.” Aku memeluk dan menggendong Amanda.
“Ayo kita makan dulu.” Mbak Rena menawari kami semua makan.
Aku menggendong Amanda menuju meja makan dan mendudukannya dikursi yang ada disebelahku.
“Amanda sudah melupakan bibi ya?” Mbak Rena mengusap kepala Amanda dengan sayang.
“Bibi....” Amandapun akhirnya memeluk dan mencium mbak Rena.
“Rafa, ikut mama sebentar, mama mau bicara.” Aku mendengar mama mengucapkan itu dan mengajak Rafa agak menjauh dari kami.
Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan. Aku melihat sesekali Rafa dan mama menatap kearahku.
-
-
-
POV Rafa
Aku melihat Nisa masih sangat hormat pada kedua orangtuaku. Nisa langsung menghampiri mama dan papa dan menyalami mereka. Mama tampak memeluk Nisa dan sepertinya mama membisikkan sesuatu. Entahlah, lagipula aku tidak peduli. Aku hanya ingin Nisa kembali menjadi milikku.
“Rafa, ikut mama sebentar, mama mau bicara.” Mama mengajakku menjauh dari meja makan.
“Kau tidak menyakiti Nisakan nak? Mama lihat matanya sembab dan wajahnya menyimpan kesedihan. Suaranya juga berat seperti menyimpan banyak beban.” Mama menginterogasiku.
“Tidak mamaku sayang, dia mungkin stress karena sudah Rafa culik.” Aku memegang lembut pipi mama. Sesekali mata kami menoleh kearah Nisa.
“Kau tidak melakukan apapun terhadapnya kan Rafa? Rafa sudah berjanji sama mama kalau Rafa tidak akan menyentuh Nisa sebelum kalian menikah lagi.” Aku hanya tersenyum.
“Rafa...???” Mama menatapku sengan sangat tajam.
“Enggak mama.” Aku terpaksa berbohong. Aku tidak mau melukai hati Ibu yang begitu aku cintai.
“Rafa, mama hanya ingin Rafa menahan diri sebentar saja. Mama tidak ingin nanti Nisa mengandung diluar Nikah. Nisa wanita yang sangat santun dan terhormat, dia begitu menjaga dirinya.”
“Rafa tidak akan melakukan apapun terhadap menantu kesayangan mama itu, percayalah.” Kembali aku membohongi mama.
Aku tidak yakin bisa menepati janjiku yang satu itu, sebab Aku sungguh sangat merindukannya. Dua tahun aku hanya mampu memandanginya dari jauh. Walau ada sedikit penyesalan sebab aku sudah menodainya. Namun aku tidak mampu mengendalikan emosi dan birahiku. Apalagi ketika aku membayangkan Nisa bersama suami barunya. Aku hanya berharap dia tidak hamil saat ini. Tidak denganku tadi atau dengan suaminya itu.
Sore ini Nisa tampak sangat ceria. Dia begitu bahagia bertemu dengan Amanda. Aku ingin melihat senyum itu setiap hari. Aku sadar selama ini aku begitu sering menyakitinya. Menghambat kebebasannya dan tidak mampu membahagiakannya secara materi. Aku ingin menebus semua kesalahanku itu. Aku ingin membahagiakan Annisa hingga akhir hayatnya.
“Amanda sayang, ini sudah sangat sore. Kita pulang kerumah nenek ya.” Aku memang sudah sepakat dengan mama agar mama segera membawa Amanda pulang sebelum jam 6 sore. Karena malam ini aku mau mengajak Nisa kesuatu tempat.
“Nggak Mau Nek, Amanda mau disini sama bunda.” Nisa tak mau melepaskan pelukannya dari Annisa.
“Manda sayang, ayahkan sudah bilang kalau hari ini bunda mau bantuin ayah. Ada pekerjaan yang ayah gak bisa selesaiin sendiri, jadi mau minta bantuan sama bunda. Makanya bunda hari ini ada disini.” Aku menggendong Amanda agar dia mau melepaskan pelukannya dari Annisa.
“Tapi Manda janji gakkan gangguin ayah dan bunda. Manda mau disini sama bunda ayah. Manda mohon...” Gadis kecilku ini merajuk. Tatapannya penuh harap sembari memegangi kedua pipiku.
“Manda sayang, sini dech dengerin bunda.” Akupun menurunkan Amanda dari gendonganku karena Nisa memanggilnya.
“Manda sayang sama bundakan? Kalau Manda sayang sama bunda dan Ayah, bebarti Manda harus mendengarkan perkataan ayah dan bunda. Bunda tau, Manda tidakkan mengganggu bunda, tapi nanti Manda sedih kalau bunda tidak bisa perhatiin Amanda karena sangat sibuk.” Nisa tampak meyakinkan putri kecilnya itu. Aku tidak percaya Annisa akan melakukan itu. Aku fikir dia akan memanfaatkan keadaan ini.
“Terus bagaimana dengan ayah baru? Emang ayah baru nggak marah bunda lama-lama disini?” Aku tersentak mendengar perkataan Amanda. Aku kembali panas, dadaku tiba-tiba kembali dipenuhi amarah. Aku melihat Nisa melirik kearahku.
“Bunda sudah izin koq sama ayah yang dirumah. Ayah yang dirumah tidakkan marah sama bunda. Kan disini bunda kerja?” aku semakin tak terkendali mendengarkan perkataan Annisa.
“Ayo sayang, nanti kita mampir ke toko eskrim kesukaan Manda. Kakek janji akan beliin manda eskrim yang banyak.” Papakupun ikut meyakinkan Amanda. Aku tau, Amanda sangat rindu kepada Ibunya, tapi aku tidak mau rencanaku kacau jika Amanda ada disini sekarang.
“Baiklah, Amanda sayang Ayah dan Bunda. Bunda hati-hati ya kerjanya. Bantuin kerjaan sampai selesai agar ayah nggak bingung lagi.” Gadis 6 tahun itu memang sangat polos.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Remarry (Indo) BAB 42 – Bertemu Aisyah
“Sekarang bagaimana?” tanya Hendra.“Gue nggak tau. Gue akan coba negosiasi dengan Siska. Gue hanya ingin semua bisa diselesaikan dengan baik. Gue ingin tanggung jawab ke Siska berupa materi, tapi gue juga nggak ingin Annisa mengetahui apapun. Intinya gue nggak ingin Annisa terluka.”“Jadi lu bersedia ngasih perempuan itu 5 miliar? 5 miliar itu banyak bosku ... bisa buat bangun perusahaan baru, ngerti nggak bos ...,” geram Hendra.
Remarry (Indo) BAB 41 – Semakin Bimbang
Setelah lebih dari 30 menit berlalu, Rafa dan Annisa mengakhiri permainan panas mereka. Annisa tampak sangat kelelahan karena kondisinya yang tengah hamil, membuatnya agak kesulitan mengimbangi permainan Rafa.Annisa tertidur sesaat setelah Rafa menyelesaikan hasratnya. Melihat wanita yang ia cintai tertidur pulas, Rafa bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Annisa dengan selimut. Rafa bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedari tadi menghubunginya.Deg .
Remarry (Indo) BAB 40 – Gelisah
“Maaf pak, apa bapak memanggil saya?” ucap Jesyka ketika memasuki ruangan Rafa.“Ya, duduk!”“Ada apa pak?” ucap Jesyka ramah.“saya ingin membahas rencana kita tempo hari mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan
Remarry (Indo) BAB 39 – Pendapat Hendra
“Aku akan memberimu 50juta, setelah itu aku mohon agar kau pergi dari kehidupanku selamanya. Perkara Aisyah, jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, atau aku akan mencarikan orang tua angkat untuknya.” Kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Rafa setelah beberapa menit ruangan itu hening.“Aku sudah bilang, kalau aku ingin kita menikah. Aku tidak ingin 50jutamu itu. Aku ingin status untuk Aisyah. Aisyah juga berhak bahagia dengan ayah dan ibu kandungnya. Sama seperti Amanda, putrimu.” Siska masih bersikeras dengan pendiriannya.
Remarry (Indo) BAB 38 – Bertemu Rafa
Tok ...Tok ...Tok ...“Siapa ...?” jawab Rafa yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahannya.
Remarry (Indo) BAB 37 – Meninggalkan Batam
“Aku juga ingin ke Padang.” Ucap Siska mantap.“Apa kau yakin?”“Tidak ada pilihan lain. Tapi aku hanya punya uang 2juta. Apa kamu bisa meminjamkanku uang , Ria? Karena di Padang nanti, aku harus mencari kontrakan, alas tidur dan peralatan masak sederhana.”“Me
Remarry (Indo) BAB 27 – Siang yang Panas
Mobil kami berhenti disalah satu butik yang cukup besar di kota ini.
Remarry (Indo) BAB 26 - Ketahuan
POV Rafa
Remarry (Indo) BAB 25 - Bertemu Rehan
Hari ini aku berniat ingin menemui Rehan. Besok resepsi pernikahan akan digelar. Aku merasa tidak nyaman jika belum meminta maaf dan m
