Download the book for free
BAB 8 - Kagum
Author: Nhovie ENRafa meninggalkanku sendirian dikamar ini. Aku masih mematung. Ada keinginan untuk melarikan diri. Tapi Rafa benar, untuk apa aku kabur. Rehan sudah menceraikanku. Tidak hanya lewat panggilan suara, tapi beliau juga mengirimkan pesan. Aku masih belum bisa menerima semua ini, tapi inilah kenyataannya. Amanda juga sedang bersama nenek dan kakeknya. Aku hanya bisa menuruti Rafa, agar dia tidak berbuat nekat. Aku masih inginmembesarkan Amanda.
Segera kukenakan gaun yang diberikan Rafa, tak lupa kerudung dengan warna senada. Aku yakin gaun ini harganya sangat mahal. Sedikit banyak aku tau tentang bahan dan kualitas jahitan, sebab aku juga menerima jahitan sembari bekerja. Akupun memoles wajahku dengan sangat cantik. Dimeja rias ini semua peralatan tertata dengan apik. Semua lengkap, bagaimana Rafa bisa tau semua perlengkapan dandan wanita seperti ini.
Selesai dengan semuanya, aku kenakan sepatu highhels berwarna Navy. Warna yang senada dengan gaun dan kerudung, bahkan tas pesta inipun warnanya sama dengan gaunku. Aku menatap penampilanku dibalik cermin besar. Cermin ini menampilkan seluruh bagian tubuhku. Sungguh, semua ini sangat mewah. Bahkan waktu kami menikah dulu, gaun pesta yang kami sewa tidak seindah dan semewah ini. Kemana Rafa akan membawaku malam ini?
Tidak mau Rafa menunggu lama, akhirnya aku turun. Namun aku tidak menemukan siapapun disini, kemana Rafa? Aku menuju Ruang keluarga, disana kulihat Mbak Rena sedang tertawa terbahak-bahak sembari menatap layar televisi.
“Mbak Rena, maaf, apa mbak melihat Rafa?” Aku menghampiri mbak Rena.
“Masyaa Allah... Masyaa Allah... Nisa cantik sekali, pantas saja Rafa tergila-gila.” Mbak Rena menutup mulutnya, beliau terbelalak melihat penampilanku.
“Ayo duduk disini, Temani mbak dulu nonton. Ada sule, dia sangat lucu, hahaha.” Mbak Rena menuntunku duduk disebuah sofa besar.
“Maaf Mbak, apa mbak melihat Rafa?”
“Rafa sedang ada tamu sebentar. Stafnya tadi datang, mungkin ada pekerjaan yang akan diurus Dafa. Sebentar lagi dia akan datang. Tunggu saja disini bersama mbak.”
“Mbak, maaf, bolehkah Nisa menanyakan sesuatu?”
“Tanya apa sayang.” Mbak Rena memperlakukanku dengan sangat baik dan lembut.
“Apa mbak Rena tidak memiliki keluarga?”
“Ada dong, emang mbak sejelek itu ya sehingga nggak ada laki-laki yang mau sama mbak, heheh.”
“Enggak, bukan begitu maksud Nisa. Justru Mbak Rena sangat cantik dan manis.” Mbak Rena mengecilkan volume televisinya, kemudian menatapku dan menggenggan telapak tanganku.
“Pak Doni, supirnya Rafa itu adalah suami mbak. Rafa itu sangat baik. Dia tidak pernah memperlakukan bawahannya dengan semena-mena. Bahkan semua karyawannya begitu mencintai Rafa.”
“Lalu anak-anak mbak kemana?”
Mbak Rena melepaskan genggamannya. Dia menatap layar televisi tapi aku yakin hatinya tidak disana.
“Dulu mbak punya anak. Anak lanang satu-satunya. Namun dia meninggal sepulang Sekolah. Ketika mbak menjemputnya, motor kami disenggol sebuah truk besar. Mbak terhempas kesebelah kiri sementara Bambang terhempas kesebelah kanan. Tubuhnya remuk dilindas truk.” Mbak Rena menunduk, aku lihat dia menangis. Aku tau dia pasti sangat terluka.
“Mbak, maafkan Nisa. Nisa tidak bermaksud...” Aku memeluk mbak Rena dan mengusap-usap punggungnya.
“Nggak apa-apa Nisa, itu adalah takdir. Makanya mbak sangat senang ketika Rafa sering mengajak Amanda kesini. Mbak sungguh sangat bahagia.”
Aku melihat ada satu ruangan khusus, ada banyak sekali mainan anak-anak. Bahkan diruangan itu ada kolam berenang kecil dan mainan castle. Semua mainan yang selama ini selalu diidam-idamkan Amanda. Namun karena keterbatasan ekonomi, aku tak mampu membelikan semua mainan itu.
“Semua itu adalah mainannya Amanda. Rafa begitu memanjakan putrinya itu. Rafa tidak segan mengimportnya langsung dari luar negeri demi memuaskan gadis kecilnya itu.” Mbak Rena sepertinya tau jika aku memperhatikan ruangan itu.
“Mbak sendirian mengurus rumah sebesar ini?” Aku merasa betapa melelahkannya membereskan rumah sebesar ini sendirian.
“Enggak cah ayu, setiap pagi ada yang bertugas membersihkan rumah dan halaman. Dua orang wanita mengurus rumah dan pakaian dan satu orang laki-laki mengurus kebun dan perkarangan. Namun mereka tidak tinggal disini, biasanya datang jam 7 pagi kemudian menjelang zuhur mereka pulang. Kadang-kadang sampai jam 3 sore kalau banyak yang dibereskan.”
“Owh, Nisa fikir mbak sendirian yang mengerjakan semuanya. Pasti sangat melelahkan.”
“Mbak hanya mengurus dapur, masak dan mengurus Amanda kalau Amanda datang kesini. Mbak juga yang akan membereskan ruangan-ruangan pribadi Rafa yang sudah dibersihkan sebelumnya oleh pekerja, jika kembali berantakan.”
“Maaf mbak, boleh Nisa bertanya lagi?”
“Silahkan.”
“Mbak tau, darimana Rafa bisa mendapatkan semua ini? Nisa tau betul dulu Rafa adalah pria yang sangat sederhana.”
“Kalau masalah itu lebih baik Nisa tanyakan langsung saja ke Rafa ya. Sebab kalau untuk masalah itu, tidak ada wewenang mbak untuk menjawabnya.”
-
-
-
POV Rafa
Aku melihat Annisa sedang bercengkrama dengan mbak Rena. Mereka seperti begitu menikmati obrolannya. Akupun menghampiri tanpa menyapa keduanya.
“ehhmmm...”
“Eh, Rafa sudah datang. Kenapa tidak langsung bicara saja. Pakai acara berdehem segala.” Mbak Rena menoleh kearahku lebih dulu.
Kemudian Nisa bangkit dari tempat duduknya. Dan aku begitu tertegun melihat pemandangan yang ada didepanku ketika Nisa mulai menoleh kearahku. Dia sangat cantik dibalik gaun berwarna Navy yang aku pilihkan. Riasan wajahnya juga begitu sempurna, sangat cantik dan elegan. Dia berhasil menyembunyikan matanya yang sembab dibalik riasan matanya. Terlebih saat ini tubuhnya sudah ramping, menambah kesan elegan dan sempurna. Bibirnya yang berwarna peach agak pink juga terlihat sangat seksi dan menggoda.
Selama ini Nisa memang begitu piawai memoles wajahnya dengan makeup. Namun kali sangat berbeda, dia begitu memesona. Selama ini Nisa pasti tidak pernah menggunakan gaun seindah dan semewah ini. Makeup yang ia kenakan saat ini juga adalah produk berkualitas tinggi. Jadi wajar saja kalau Nisa berhasil membuat mataku tak mampu untuk berpaling darinya.
“Sudah bengongnya jangan lama-lama, nanti kemalaman.” Mbak Rena memukul bahuku dengan pelan, membuatku tersentak dan salah tingkah.
“Baiklah, ayo kita pergi sekarang.” Aku menggenggam tangan kiri Annisa dan menuntunnya menuju mobil.
Mobil Toyota Rush matic berwarna putih keluaran terbaru sudah menunggu kami di halaman depan. Annnisa dari dulu begitu memimpikan mobil ini. Aku ingat setiap kami berjalan-jalan menggunakan motor matic, karena memang hanya itu yang kami punya, Nisa selalu membicarakan impiannya itu. Begitu bermimpinya ia memiliki sebuah mobil berwarna putih. Namun aku belum mampu mewujudkannya. Bahkan motor matic yang Annisa gunakan sehari-hari adalah hasil keringatnya sendiri.
-
-
-
POV Nisa
Rafa menuntunku menuju sebuah mobil yang sudah terparkir cantik didepan halaman rumahnya. Mobil yang begitu indah. Warnanya putih mengkilat, benar-benar sangat mewah menurutku. Dari dulu aku memang begitu memimpikan memiliki mobil berwarna putih. Tapi bagiku itu hanya akan sebatas mimpi. Mimpi yang tidak akan pernah bisa terwujud. Karena aku sadar, aku hanyalah wanita biasa dan sangat sederhana. Menurutku diriku juga tidak terlalu cantik dan menawan hingga bisa memikat duda kaya agar bisa memiliki uang untuk membeli mobil impian.
Aku tersenyum membayangkan hal itu.
“Ada apa kau tersenyum-senyum sendiri, apa ada yang lucu?” Rafa membuyarkan lamunanku.
“Eh, maaf. Nggak ada apa-apa. Aku hanya tertegun, mobilmu sangat bagus.”
“Tidak, itu bukan mobilku. Tapi itu adalah mobilmu. Mobilku ada disana.”
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Remarry (Indo) BAB 42 – Bertemu Aisyah
“Sekarang bagaimana?” tanya Hendra.“Gue nggak tau. Gue akan coba negosiasi dengan Siska. Gue hanya ingin semua bisa diselesaikan dengan baik. Gue ingin tanggung jawab ke Siska berupa materi, tapi gue juga nggak ingin Annisa mengetahui apapun. Intinya gue nggak ingin Annisa terluka.”“Jadi lu bersedia ngasih perempuan itu 5 miliar? 5 miliar itu banyak bosku ... bisa buat bangun perusahaan baru, ngerti nggak bos ...,” geram Hendra.
Remarry (Indo) BAB 41 – Semakin Bimbang
Setelah lebih dari 30 menit berlalu, Rafa dan Annisa mengakhiri permainan panas mereka. Annisa tampak sangat kelelahan karena kondisinya yang tengah hamil, membuatnya agak kesulitan mengimbangi permainan Rafa.Annisa tertidur sesaat setelah Rafa menyelesaikan hasratnya. Melihat wanita yang ia cintai tertidur pulas, Rafa bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Annisa dengan selimut. Rafa bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedari tadi menghubunginya.Deg .
Remarry (Indo) BAB 40 – Gelisah
“Maaf pak, apa bapak memanggil saya?” ucap Jesyka ketika memasuki ruangan Rafa.“Ya, duduk!”“Ada apa pak?” ucap Jesyka ramah.“saya ingin membahas rencana kita tempo hari mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan
Remarry (Indo) BAB 39 – Pendapat Hendra
“Aku akan memberimu 50juta, setelah itu aku mohon agar kau pergi dari kehidupanku selamanya. Perkara Aisyah, jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, atau aku akan mencarikan orang tua angkat untuknya.” Kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Rafa setelah beberapa menit ruangan itu hening.“Aku sudah bilang, kalau aku ingin kita menikah. Aku tidak ingin 50jutamu itu. Aku ingin status untuk Aisyah. Aisyah juga berhak bahagia dengan ayah dan ibu kandungnya. Sama seperti Amanda, putrimu.” Siska masih bersikeras dengan pendiriannya.
Remarry (Indo) BAB 38 – Bertemu Rafa
Tok ...Tok ...Tok ...“Siapa ...?” jawab Rafa yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahannya.
Remarry (Indo) BAB 37 – Meninggalkan Batam
“Aku juga ingin ke Padang.” Ucap Siska mantap.“Apa kau yakin?”“Tidak ada pilihan lain. Tapi aku hanya punya uang 2juta. Apa kamu bisa meminjamkanku uang , Ria? Karena di Padang nanti, aku harus mencari kontrakan, alas tidur dan peralatan masak sederhana.”“Me
Remarry (Indo) BAB 24 - Kiss Memalukan
“Masyaa Allah...” Aku tidak hentinya memuji kebesaran ilahi melihat semua keindahan ini. Aku merasa tempat ini seper
Remarry (Indo) BAB 23 - Pesona Bukittinggi
Kamipun meninggalkan hotel menuju kebun Binatang. Sudah 2 tahun lebih aku tidak pernah ketempat ini lagi. Tidak cukup banyak yang beru
Remarry (Indo) BAB 22 - Tamasya
POV Rafa
Remarry (Indo) BAB 21 - Bihun goreng
“Manda, langsung kekamar bareng Bibi ya, Ayah ada urusan bentar sama bunda.” Rafa tampak membujuk puterinya dengan sangat lembut.
