loading
Home/ All /Remarry (Indo)/BAB 7 - Perceraian

BAB 7 - Perceraian

Author: Nhovie EN
"publish date: " 2020-10-13 22:47:50

Akhirnya Amanda dan kedua orangtuaku berlalu dan Nisa tampak mengikuti mereka.

            “Mau kemana kau.” Aku dengan cepat menggenggam lengan kiri Annisa untuk mencegahnya mengikuti Amanda keluar rumah.

            “Au, sakit... Aku hanya ingin melihat Amanda pulang. Tidak lebih.” Annisa mencoba melepaskan gensggamanku.

            “Ikut aku.” Aku menggenggam pergelangan tangannya cukup keras dan menariknya dengan paksa menuju lantai dua. Aku tau dia kesakitan, tapi emosiku sudah memuncak.

            “Rafa, mbak mohon, jangan sakiti Nisa lagi.” Aku melihat Mbak Rena berkata dibawah tangga dengan tatapan memelas.

            “Mbak tenang saja.” Aku tidak terlalu menanggapi perkataan mbak Rena.

-

-

-          

POV Annisa

            Aku tidak tau apa salahku sehingga Rafa memperlakukanku seperti ini lagi. Dia mengenggam tanganku dengan sangat keras. Menarikku dengan paksa dan melemparkanku kedalam kamar hingga aku tersungkur kelantai. Rafa seperti terbakar amarah, tapi kenapa? Dia menutup pintu dengan sangat keras dan menguncinya.

            Rafa tiba-tiba membuka semua kancing kemejanya, melempar kemeja itu kesembarang arah. Diapun mulai melepas singlet yang membalut tubuhnya sembari terus mendekatiku. Aku terus mundur hingga akhirnya punggungku menabrak tepi ranjang membuatku tak bisa menghindar lagi.

            Rafa kembali menggenggam rambutku dari balik kerudung, mengusap wajahku dengan kasar. Aku mendengus kesakitan.

            “A... Apa salahku kali ini Rafa. Mengapa kau memperlakukanku seperti ini lagi.” Aku tak mampu menahan airmataku.  

            “Aku benci kau menyebut-nyebut laki-laki itu.” Rafa perlahan melepaskan kerudungku dan tanganya yang lain mulai membuka kancing kemejaku.

            “Rafa, aku mohon jangan lakukan lagi.” Aku berharap Rafa tidak melakukan hal itu lagi terhadapku.

            Rafa hanya diam, nafasnya mulai memburu. Dia sudah mengunci tubuhku, berhasil melepaskan kemejaku dan melemparnya kesembaran arah.

            “Rafa kumohon, jangan lagi.” Aimataku semakin tidak terkendali.

            Rafa tidak memperdulikan isakanku. Dia semakin agresif. Aku tak cukup kuat untuk melawan Rafa. Dia mulai melumat bibirku dengan kasar. Tangannya mulai melepaskan Braku dan meremas kedua payudaraku. Rafa melakukannya dengan sangat kasar hingga aku semakin kesakitan. Namun sebelum sempat melepaskan pakaianku bagian bawah, ponselku tiba-tiba berdering. Rafa menghentikan aksinya dan segera menyambar ponselku yang berada diatas nakas.

            “Alhamdulillah.” Aku mengucap syukur.

            Segera kuambil pakaianku dan memakainya. Belum sempat aku memasang semua kancing bajuku, ponsel itu kembali berdering.  

            “Angkat.”

            “Dari siapa?”

            “Angkat saja, keraskan volume suaranya.” Rafa berkata dengan ketus.

            Aku segera mengangkatnya walau belum selesai memasang semua kancing baju. Aku takut Rafa kembali tersulut emosi jika aku tidak menurutinya.

            “Ha... Halo.” Aku gugup.

            “Assalamu’alaikum.” Suara seorang pria yang tidak asing bagiku. Kulihat layar ponsel tidak ada nama siapapun disana. Ah, aku lupa kalau ponsel ini sudah direset ulang.

            “Wa’alaikumussalam. Maaf, apakah ini bang Rehan?” Aku memberanikan diri bertanya sambil melirik kearah Rafa.

            “Ya, apa Nisa baik-baik saja.”

            “Nisa baik bang, maaf Nisa tidak mengabari abang kalau Nisa tidak pulang kemaren.” Aku berusaha berkata dengan sangat hati-hati. Mataku tetap melirik Rafa yang sedang duduk di sofa besar. Dia memperhatikan dan menyimak pembicaraan kami karena Rafa memang menyuruhku mengeraskan volume suaranya.

            “Maafkan abang Nisa, abang terpaksa mengatakan ini.”

“Mengatakan apa bang?”

“Abang akan menceraikan Nisa.” Aku terkejut terhadap apa yang barusan aku dengar. Tapi aku merasa suara bang Rehan agak bergetar, sepertinya dia dalam tekanan.

“Apa yang abang katakan?” Aku tidak percaya bang Rehan akan melakukannya atas kesadarannya sendiri. Yang kutau, bang Rehan adalah pria yang saat taat dan lemah lembut. Walaupun dia seorang duda.

“Maaf Nisa, abang manelpon hanya ingin mengatakan hal itu. Jaga diri Nisa baik-baik. Terimakasih sudah hadir dalam kehidupan abang.”

Aku menggigil, membuat ponselku terjatuh kelantai tanpa lebih dulu membalas salam terakhir dari bang Rehan. Aku tersungkur kelantai dan menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang begitu memilukan telinga.

“Sudah, hentikan tangisanmu sayang.” Rafa menghampiriku.

“Jangan coba-coba mendekatiku lagi Rafa Purnawan. Aku muak dengan ulahmu. Kalau kau mau, bunuh aku sekarang.”

Aku bangkit, aku tersulut emosi. Entah kekuatan apa yang datang. Aku menatap Rafa dengan tajam dan mengacungkan jari telunjuk sebelah kiriku kearah mukanya. Aku tidak perduli walau Rafa akan membunuhku saat ini.

“Nisa, tolong tenanglah. Aku bersumpah tidak akan melakukan apapun lagi kepadamu.” Rafa tiba-tiba melunak. Warna wajahnya sekarang lebih tenang.

“Apa yang kau mau dariku Rafa Purnawan? Ohya, kau mau inikan? Ini yang kau inginkan bukan?”

Aku membuka kemejaku, kemudian aku lepaskan braku. Aku hadapkan semua ini kearah Rafa. Aku tak terkendali, aku seperti kesetanan. Ketika aku hendak melepaskan rok, Rafa langsung memegang kedua telapan tanganku. Rafa menghentikan segala aksi gilaku yang membuat aku berlutut dilantai.

“Maafkan aku Nisa.” Rafa mengatakannya sembari meraih selimut dari atas ranjang. Beliau melilitkan selimut itu keseluruh tubuhku.

“Untuk apa kau menutupiku Rafa Purnawan. Aku sudah tidak ada harga dirinya dihadapanmu. Aku hanya jalang bagimukan.” Aku terisak, menangis pilu sambil tertunduk.

“Jangan mengatakan itu Nisa. Kau sangat berarti bagiku.” Rafa membelai rambutku dengan sangat lembut.

“Aku bersumpah tidak akan menyentuhmu lagi Annisa. Tidak sampai kau halal untukku lagi.” Rafa bangkit dan kembali duduk disofa besar.

Aku tak menjawab apapun. Aku hanya bisa mematung disini. Hanya suara tangisan yang begitu memilukan yang keluar dari mulutku. Sesekali aku berteriak. Semua ini sungguh menyiksaku.

“Aku mohon, berhentilah menangis, kenakan lagi pakaianmu.” Rafa mengatakannya dengan suara pelan. Tak ada lagi amarah diwajahnya.

Tangisku berhenti seiring suara adzan maghrib yang berkumandang dari ponselku. Aku meraih pakaianku dan aku kenakan kembali semua dengan baik, termasuk kerudung yang tadi dibuka paksa oleh Rafa. Suara adzan sedikit mampu menentramkan jiwaku.

“Mau kemana.” Rafa menghentikan langkahku.

“Aku mau shalat.”

“Pergilah.”

Aku segera meraih mukena dan membentangkan sajadah. Shalat mampu membuatku sangat tenang. Curhat kepada sang Khaliq mampu mengurangi segala sesak yang ada didada.

Apa? Mengapa Rafa juga ikut membentang sajadah disebelahku? Apakah Dia mau shalat juga? Apa yang merasukinya hingga mau menjalankan ibadah? Aku membatin.

“Mau berjamaah?” Rafa menawarkan untuk shalat berjamaah.

“Sendiri - sendiri saja.” Aku menolak tawaran Rafa karena aku tau bacaan qur’annya tidak begitu baik. Lagipula aku mau shalat lebih lama, aku ingin membaca surah yang lebih panjang dari biasanya.

Aku memang cukup lama bersujud dihadapan Allah kali ini. Aku tumpahkan segala keluh kesah dan deritaku. Aku berurai airmata sambil menengadahkan tangan. Aku tidak peduli Rafa memperhatikanku, itu tidak mengurangi rasa khusyukku dalam bermunajat.

“Sudah selesai?” Rafa menyapa dengan sangat lembut. Dia masih duduk diatas sajadahnya tepat disebelahku.

Aneh, tadi dia begitu kasar. Sekarang sikapnya malah berubah 180 derajat. Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaanya sembari mengemas peralatan shalat.

“Tidak mau mencium punggung tanganku?”

“Maaf, kau bukan siapa-siapaku Rafa.” Aku memberanikan diri menolak. Aku tidak peduli jika ia kembali bersikap kasar.

“Nisa, aku mohon jangan bersikap dingin padaku. Aku tersiksa melihatmu bersikap acuh. Aku begitu mencintaimu Annisa Secilia.” Aku membisu.

“Annisa, aku benar-benar minta maaf. Aku bersumpah tidak akan menyentuhmu lagi sebelum kau halal bagiku.” Rafa mengulangi ucapannya.

“Apa aku harus percaya?”

“Nisa tolong, percayalah padaku. Oya, aku ingin mengajakmu kesuatu tempat malam ini. Kau maukan?”

“Apa aku boleh menolak?”

“Kau tau kalau aku tidak menerima penolakan.” Tapi kali ini Rafa mengucapkannya dengan senyuman dan suara yang begitu lembut.

“Kalau begitu untuk apa kau bertanya.”

“Baiklah, aku tidak mau berdebat denganmu. Aku ingin kau bahagia malam ini.” Rafa tampak bangkit dan berjalan menuju lemari besar yang ada dikamar ini.

“Bersiap-siaplah, pakai gaun ini. Aku sudah menyiapkan gaun, kerudung dan segalanya yang kau butuhkan. Ini juga kenakan sepatumu. Itu ada tas diatas meja rias untuk kau pakai nanti. Aku ingin kau berdandan dengan sangat cantik malam ini. Kalau tidak cantik, maka aku akan membawamu kesalon terlebih dahulu.” Rafa menjelaskan semuanya dengan senyuman dan wajah yang tenang.

Aku tetap membisu.

“Aku tidak ingin menunggu lama, segeralah mandi dan bersiap-siap. Aku tunggu kau dibawah. Jangan lupa kunci pintunya dari dalam.”

“Mengapa kau tidak menguncinya dari luar?”

“Untuk apa?”

“Bagaimana kalau aku kabur.”

“Untuk apa kau kabur? Apa kau akan menemui mantan suamimu itu? Aku yakin kau tidak semurah itu Nisa.”

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Remarry (Indo)   BAB 42 – Bertemu Aisyah

“Sekarang bagaimana?” tanya Hendra.“Gue nggak tau. Gue akan coba negosiasi dengan Siska. Gue hanya ingin semua bisa diselesaikan dengan baik. Gue ingin tanggung jawab ke Siska berupa materi, tapi gue juga nggak ingin Annisa mengetahui apapun. Intinya gue nggak ingin Annisa terluka.”“Jadi lu bersedia ngasih perempuan itu 5 miliar? 5 miliar itu banyak bosku ... bisa buat bangun perusahaan baru, ngerti nggak bos ...,” geram Hendra.

Remarry (Indo)   BAB 41 – Semakin Bimbang

Setelah lebih dari 30 menit berlalu, Rafa dan Annisa mengakhiri permainan panas mereka. Annisa tampak sangat kelelahan karena kondisinya yang tengah hamil, membuatnya agak kesulitan mengimbangi permainan Rafa.Annisa tertidur sesaat setelah Rafa menyelesaikan hasratnya. Melihat wanita yang ia cintai tertidur pulas, Rafa bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Annisa dengan selimut. Rafa bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedari tadi menghubunginya.Deg .

Remarry (Indo)   BAB 40 – Gelisah

“Maaf pak, apa bapak memanggil saya?” ucap Jesyka ketika memasuki ruangan Rafa.“Ya, duduk!”“Ada apa pak?” ucap Jesyka ramah.“saya ingin membahas rencana kita tempo hari mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan

Remarry (Indo)   BAB 39 – Pendapat Hendra

“Aku akan memberimu 50juta, setelah itu aku mohon agar kau pergi dari kehidupanku selamanya. Perkara Aisyah, jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, atau aku akan mencarikan orang tua angkat untuknya.” Kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Rafa setelah beberapa menit ruangan itu hening.“Aku sudah bilang, kalau aku ingin kita menikah. Aku tidak ingin 50jutamu itu. Aku ingin status untuk Aisyah. Aisyah juga berhak bahagia dengan ayah dan ibu kandungnya. Sama seperti Amanda, putrimu.” Siska masih bersikeras dengan pendiriannya.

Remarry (Indo)   BAB 38 – Bertemu Rafa

Tok ...Tok ...Tok ...“Siapa ...?” jawab Rafa yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahannya.

Remarry (Indo)   BAB 37 – Meninggalkan Batam

“Aku juga ingin ke Padang.” Ucap Siska mantap.“Apa kau yakin?”“Tidak ada pilihan lain. Tapi aku hanya punya uang 2juta. Apa kamu bisa meminjamkanku uang , Ria? Karena di Padang nanti, aku harus mencari kontrakan, alas tidur dan peralatan masak sederhana.”“Me

Remarry (Indo)   BAB 24 - Kiss Memalukan

“Masyaa Allah...” Aku tidak hentinya memuji kebesaran ilahi melihat semua keindahan ini. Aku merasa tempat ini seper

Remarry (Indo)   BAB 23 - Pesona Bukittinggi

Kamipun meninggalkan hotel menuju kebun Binatang. Sudah 2 tahun lebih aku tidak pernah ketempat ini lagi. Tidak cukup banyak yang beru

Remarry (Indo)   BAB 22 - Tamasya

POV Rafa

Remarry (Indo)   BAB 21 - Bihun goreng

“Manda, langsung kekamar bareng Bibi ya, Ayah ada urusan bentar sama bunda.” Rafa tampak membujuk puterinya dengan sangat lembut.

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy