Download the book for free

Chapter 1
Argghhhh....
Ada dimana aku? Aku merasa sangat pusing dan ruangan ini sangat gelap. Aku berusaha duduk dan tidak sengaja tanganku menyenggol sesuatu dan...
Prank....
Ada sesuatu yang terjatuh dan seketika itu juga pintu ruangan ini terbuka. Seseorang yang baru saja masuk menghidupkan saklar lampu membuat silau mataku.
Sebelum bisa melihat semua dengan jelas dan sebelum bisa mencerna apa yang terjadi, aku mendengar bunyi pintu dikunci.
Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat siapakah yang menghampiriku. Samar-samar dan kemudian menjadi sangat jelas membuatku tersentak.
“Kau... mengapa aku ada disini, apa yang sudah kau lakukan padaku?” Aku begitu mengenali pria yang sekarang berada sangat dekat denganku.
Aku masih tersandar di dinding ranjang.
“Sayang, kau sudah bangun rupanya.” Pria itu mencoba membelai kepalaku yang masih dibalut kerudung.
“Jangan macam-macam Rafa, aku bukan siapa-siapamu lagi. Jangan berani menyentuhku.” Aku terbakar emosi.
“Kau masih sama saja sayang, sifatmu belum berubah. Annisa Secilia, istri kesayanganku.” Rafa semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Kedua tangan kekarnya mengusap lembut kedua pipiku.
“Lepaskan tanganmu dari wajahku, aku bukan lagi istrimu, sampai kapanpun aku tidak akan pernah lagi jadi istrimu. Apa kau lupa, kita sudah talak tiga.” Aku berusaha melepaskan kedua tangannya dari wajahku.
Aku tersentak tatkala Rafa Purnawan memukul dinding ranjang tepat disebelah telinga kiriku dan tangan kanannya bersandar pada dinding sebelahnya. Sekarang posisinya mengapit tubuhku.
“Sampai kapanpun kau tetap istriku. Hanya aku yang berhak memilikimu, selamanya.” Dia mengucapkan itu tepat didaun telinga kiriku. Suaranya masih sama seperti Mantan suamiku yang memberiku talak tiga dua tahun yang lalu.
“Tidak ada siapapun yang boleh memilikimu selain aku. Pun tidak suami barumu itu.” Kali ini nada bicaranya sangat keras dan kembali memukul dinding ranjang.
Aku tau betul siapa Rafa Purnawan. Pria ini sudah menikahiku lebih dari 10 tahun dan kami sudah dua kali bercerai, dan satu kali dia melanggar perjanjian hingga juga terhitung cerai. Tepatnya dua tahun yang lalu kami sudah diputuskan talak tiga oleh pemuka agama diwilayah tempat kami tinggal.
“Kau sudah tidak berhak atas diriku Rafa Purnawan. Kau bukan siapa-siapaku lagi, aku berhak bahagia dengan pria manapun yang aku mau.” Nada bicaraku keras kali ini.
“TIDAK AKAN.” Rafa berteriak dengan sangat keras.
Dia menjambak kerudung yang aku kenakan hingga terlepas. Memegangi rambutku dengan kasar dan melumat bibirku sebelum aku bisa menghindar. Dia menciumi dengan sangat arogan. Aku berusaha melepaskan diri, namun ia terlalu kuat. Ia sudah mengunci kakiku dengan kakinya dan mengunci tubuhku dengan sebelah tangannya.
Setelah ia merasa puas, akhirnya Rafa melepaskan ciumannya.
“Brengsek kau Rafa, kau fikir aku jalang. Kau sudah menghina diriku saat ini.” Tetesan-tetesan bening itu akhirnya keluar deras dari retinaku. Aku berusaha menggapai kerudung untuk kukenakan kembali. Namun tangan Rafa lebih dulu menyambar pergelangan tanganku, menggenggam dan meremas telapak tanganku.
“Kau masih saja nikmat, kenikmatanmu tidak berubah sayang, bahkan lebih nikmat saat ini. Tapi sayangnya ini sudah bekas oranglain.” Rafa kembali kasar, memegangi rahangku dengan jari-jari kekarnya.
“Apa kau lupa dengan sumpahku sayang. Tidak boleh ada oranglain yang memilikimu selain aku.” Dia membisikkan kata-kata itu dengan deru nafas yang menggebu tepat didaun telingaku sembari menggigit lembut daun telinga ini.
Aku merinding diperlakukan seperti ini. Walau otak, hati dan fikiranku menolak, namun reaksi tubuh tak mampu kukendalikan. Akupun akhirnya tidak mampu menahan derasnya airmata yang mengalir di kedua pipiku.
Rafa segera melepaskan cengkramannya.
“Maafkan aku, aku sudah menyakitimu.” Ucapnya sembari duduk ditepi ranjang dengan kedua tangannya mengepal diatas paha.
“Kau terlalu jahat untuk aku maafkan Rafa. Aku menyesal kenapa aku harus mengenalmu. Kenapa harus kau yang jadi ayah dari Amanda.” Aku memegangi dadaku yang mulai sesak.
Dengan penuh keberanian aku mencoba untuk bangkit dari ranjang dan berdiri menuju pintu kamar.
“Mau kemana kau.” Suara berat Rafa menghentikan langkahku.
“Aku mau pulang, keluarkan aku dari sini.” Tanganku mencoba membuka pintu kamar yang terkunci.
“Mau bertemu dengan suamimu itu? Ingin bercumbu dengannya?” Rafa menarik pergelangan tanganku dengan kasar. Mengangkat tubuhku dan membantingnya ke ranjang.
Ahh...
Aku berteriak kesakitan.
“Cukup Rafa, kenapa kau begitu senang menyiksaku. Apa salahku padamu? Tolong keluarkan aku dari sini, aku ingin bertemu Amanda.” Tangisku kembali pecah. Aku sadar kalau aku tidak akan kuat melawan Rafa. Melawan hanya akan meningkatkan emosi dan birahinya. Aku hanya bisa diam dan memelas, berharap ada belas kasihan darinya.
“Kau tidak perlu mengkhawatirkan Amanda, dia aman bersama nenek dan kakeknya.”
Aku sudah sangat hafal bagaimana karakter Rafa. Dari dulu, dia seperti memiliki dua kepribadian. Terkadang dia sangat lembut, penyayang dan begitu romantis. Namun terkadang dia kasar dan bersikap tidak perduli. Dia bersikap begitu hanya kepadaku saja. Entah apa yang menyebabkan dia bersikap seperti itu kepada wanita yang katanya begitu ia cintai.
Berbeda lagi sikapnya kepada keluargaku, keluarganya dan anak kami. Dia berubah menjadi lelaki yang begitu baik bak malaikat. Tidak ada cela dan cacat dimata mereka semua.
“Aku mohon Rafa, izinkan aku pulang. Bukankah kita sudah sama-sama memiliki kehidupan masing-masing? Aku sudah mengikhlaskan dirimu, dan kumohon tolong inklaskan diriku untuk....” Belum selesai aku bicara, Rafa kembali memegang rahangku dengan kasar.
“Tidak akan, tidak akan pernah sayang. Aku lebih baik melihatmu mati daripada harus melihatmu bersama laki-laki lain. Kau lihat, ada yang terbakar disini.” Dia menunjuk – nunjuk dadanya.
“katamu kau menyayangikukan? Katamu kau mencintaiku, seharusnya kau senang melihatku bahagia, bukannya membuatku tersiksa seperti ini.” Aku berusaha melunak. Air mataku tak kunjung berhenti mengalir. Aku hanya berharap dia berbelas kasihan terhadapku.
“Tapi tidak dengan laki-laki lain.” Dia membelai rambut dan mengecup keningku.
“Aku akan membahagiakanmu sayang, percayalah. Aku akan menebus semua kesalahanku.” Dia membisikkan itu tepat didaun telingaku, kembali membuatku merinding.
“Tolong jangan lakukan ini Rafa, kumohon. Kita sudah bukan suami isteri lagi. Ini sama saja kau menodaiku. Apa kau tega menodai ibu dari anakmu?” Aku kembali memelas.
Tangannya malah turun membelai wajah dan terus ke bibirku. Dia memain-mainkan bibirku dengan jempol tangannya.
“Suaramu malah membuatku tidak tahan sayang.” Tangannya yang satu membelai bagian pinggangku.
“Rafa kumohon jangan. Ingat Amanda anak kita, kumohon.” Ucapku dengan sangat pelan.
Bersyukur, Rafa mulai menghentikan aksinya. Dia bangkit dari ranjang dan pergi keluar kamar. Tak lupa mengunci pintu dari luar. Aku sedikit lega karena terbebas dari nafsu buas Rafa.
Latest chapter
Remarry (Indo) BAB 42 – Bertemu Aisyah
“Sekarang bagaimana?” tanya Hendra.“Gue nggak tau. Gue akan coba negosiasi dengan Siska. Gue hanya ingin semua bisa diselesaikan dengan baik. Gue ingin tanggung jawab ke Siska berupa materi, tapi gue juga nggak ingin Annisa mengetahui apapun. Intinya gue nggak ingin Annisa terluka.”“Jadi lu bersedia ngasih perempuan itu 5 miliar? 5 miliar itu banyak bosku ... bisa buat bangun perusahaan baru, ngerti nggak bos ...,” geram Hendra.
Last Updated : 2020-11-17
Remarry (Indo) BAB 41 – Semakin Bimbang
Setelah lebih dari 30 menit berlalu, Rafa dan Annisa mengakhiri permainan panas mereka. Annisa tampak sangat kelelahan karena kondisinya yang tengah hamil, membuatnya agak kesulitan mengimbangi permainan Rafa.Annisa tertidur sesaat setelah Rafa menyelesaikan hasratnya. Melihat wanita yang ia cintai tertidur pulas, Rafa bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Annisa dengan selimut. Rafa bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedari tadi menghubunginya.Deg .
Last Updated : 2020-11-17
Remarry (Indo) BAB 40 – Gelisah
“Maaf pak, apa bapak memanggil saya?” ucap Jesyka ketika memasuki ruangan Rafa.“Ya, duduk!”“Ada apa pak?” ucap Jesyka ramah.“saya ingin membahas rencana kita tempo hari mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan
Last Updated : 2020-11-16
Remarry (Indo) BAB 39 – Pendapat Hendra
“Aku akan memberimu 50juta, setelah itu aku mohon agar kau pergi dari kehidupanku selamanya. Perkara Aisyah, jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, atau aku akan mencarikan orang tua angkat untuknya.” Kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Rafa setelah beberapa menit ruangan itu hening.“Aku sudah bilang, kalau aku ingin kita menikah. Aku tidak ingin 50jutamu itu. Aku ingin status untuk Aisyah. Aisyah juga berhak bahagia dengan ayah dan ibu kandungnya. Sama seperti Amanda, putrimu.” Siska masih bersikeras dengan pendiriannya.
Last Updated : 2020-11-13
Remarry (Indo) BAB 38 – Bertemu Rafa
Tok ...
Remarry (Indo) BAB 37 – Meninggalkan Batam
“Aku juga ingin ke Padang.” Ucap Siska mantap.
Remarry (Indo) BAB 36 - Terusir
“Ibu ... Ayah ....” Siska langsung berdiri, membersihkan sudut bibir dan hidung yang mengeluarkan darah dengan baju daster
Remarry (Indo) BAB 35 – Ketahuan
Aku mengikuti perawat yang membawa Annisa ke poli kebidanan rumah sakit ini. Sesampai di sana aku duduk di kursi ruang tunggu, Annisa
Reviews

Chapters
Read
Download
To Readers
Jiang Sese dapat dengan jelas mengingat betapa acuh tak acuh ayahnya ketika dia mengatakan kepadanya: "Setelah kamu pergi, jangan pernah menyebutkan bahwa kamu berasal dari keluarga Jiang, jangan sampai kamu mempermalukan dirimu sendiri." Tunangannya bahkan lebih kejam, mengkritiknya dengan ekspresi menghina di wajahnya. "Jiang Sese, bagaimana kamu bisa melakukan sesuatu yang begitu menjijikkan?" Kenangan ini membangkitkan Jiang Sese yang sudah lemah.2 YINI
