Chargement en cours
Accueil/ All /Remarry (Indo)/BAB 5 - Pasrah

BAB 5 - Pasrah

Auteur: Nhovie EN
"Date de publication: " 2020-10-13 22:45:45

Aku cukup tertegun melihat betapa indahnya pemandangan yang ada didepanku saat ini. Beberapa atap rumah warga yang rata-rata adalah rumah mewah. Dan disisi lainnya hamparan sawah yang hijau, menyejukkan mata. Hembusan angin yang masuk melalui pintu balkon yang memang terbuka sedari tadi, menambah kenyamanan ruangan ini. Bahkan aku belum tau dimana tepatnya aku berada saat ini.

“Aku mohon jangan bersikap dingin kepadaku Nisa.” Baru kali ini aku medengar Rafa memanggil namaku dengan lembut. Sebab dari semalam dia selalu memanggilku dengan panggilan sayang.

“Maaf, aku hanya merindukan Amanda.” Mataku masih menatap hamparan sawah dibawah sana.

“Amanda aman bersama mama, jadi kau tidak perlu khawatir.”

“Aku merindukannya.” Aku tak dapat menahan tetesan bening keluar dari retinaku.

“Nanti sore aku akan bawa Amanda kesini. Ini adalah rumahnya dan juga adalah rumahmu.” Rafa mengucapkan itu dengan sebuah penekanan.

“Aku ingin pulang.” Tiba – tiba kalimat itu keluar dari mulutku. Membuat Rafa bangkit dan kembali memperlakukanku kasar. Dia menarik lenganku dan menghempaskan tubuhku ke ranjang. Aku menerima perlakuan itu lagi. Kenapa dengan Rafa? Apa aku salah bicara?

Rafa dengan cepat menutup pintu balkon dan menutup semua tirai hingga membuat ruangan ini sedikit temaram.

“Ada apa denganmu Rafa? Apa yang salah denganku? Kenapa kau memperlakukanku seperti ini lagi?” Aku kembali menangis walau mata ini masih terasa perih.

Rafa menghampiriku, aku lihat amarah diwajahnya. Dia membuka baju kaos yang menutupi tubuhnya dan melemparnya kesembarang tempat. Membuat dada bidangnya terlihat sangat jelas.

Jangan lagi, aku mohon... Aku hanya bisa membatin.

Aku terus mundur hingga punggungku menyentuh dinding ranjang. Aku takut Rafa akan melakukannya lagi.

“Untuk apa kau minta pulang, ingin bertemu suamimu itu? Ingin mengadu kepadanya? Ingin bercumbu dengannya?” Kali ini Rafa menjambak rambutku yang berada dibalik kerudung.

“Sa... sakit...” aku mendesis kesakitan.

Dia melepaskanku, bangkit dari ranjang dan berdiri dengan satu tangan dipinggang dan tangan lainnya mengusap wajahnya.

“Maafkan aku Rafa.”Aku berusaha tenang, melawan hanya akan memperburuk keadaan. Aku tidak ingin dia nekat, aku masih ingin membesarkan Amanda.

Rafa kembali mengenakan bajunya. Membuka kembali semua tirai tanpa membuka pintu balkon. Aku bersyukur Rafa tidak melakukannya lagi.

“Rafa, maafkan aku. Kau tau kalau aku bekerja. Hari ini aku bolos tanpa mengabari siapapun. Aku mohon izinkan aku untuk mengabari atasanku.” Rafa menatapku dengan tajam.

“Aku tidak bohong Rafa, aku tidak akan berani membohongimu, aku hanya ingin menghubungi Pak Felix. Aku bisa dipecat jika tidak mengabarinya.” Aku berusaha meyakinkan Rafa agar dia tidak lagi tersulut amarah.

“Kau tidak perlu bekerja lagi. Kau akan memiliki segalanya sekarang. Kau hanya perlu mengurus diriku dan anak-anak kita. Bahkan dapur dan rumah sudah ada asisten yang akan mengurus semuanya.”

Aku buntu, aku tidak tau lagi apa yang harus aku katakan untuk membuat Rafa mengizinkanku pulang. Aku terfikir ingin menelepon kantor polisi agar aku segera dibebaskan dari sini. Sebab Rafa bukan siapa-siapaku lagi. Aku memiliki suami dirumah. Suami yang baru saja menikahiku sehari sebelum Rafa menculikku. Bahkan aku baru semalam tidur dengan suamiku.

Tok... tok... tok...

Terdengar seseorang mengetuk pintu dari luar. Rafa berjalan menuju pintu kamar dan membuka kuncinya. Aku lihat Rafa sedang berbincang dengan seseorang, tapi aku tidak melihat itu siapa. Sayup-sayup kudengar itu suara beberapa orang pria.

Dia kembali masuk dan mengunci pintu. Kuncinya dia letakkan lagi kedalam saku celananya.

“Ini Ponselmukan?” Dia memberikan ponsel itu padaku.

“Ini ambillah, semalam kehabisan daya. Aku lupa mengembalikannya selepas aku charge.” Aku yakin Rafa pasti berbohong.

Tidak penting Rafa berbohong atau tidak, yang pasti aku begitu senang ponselku kembali. Aku langsung menghidupkannya.

“Jangan coba-coba menelpon polisi atau siapapun jika kau tidak mau aku berbuat nekat. Kau tidak ingin jika Amanda kehilangan Ibukan?” Aku segera menghentikan jemariku yang semula hendak memencet sebuah nomor. Rafa tau kalau aku hendak menelpon polisi.

Aku melihat tampilan layar ponselku sudah berbeda. Kosong seperti baru di install ulang. Bahkan aku tidak menemukan satupun nomor tersimpan. Aku tau, Rafa pasti sudah mereset ulang ponsel ini. Aku meletakkan ponsel itu diatas nakas, karena memang tak ada gunanya.

Tidak lama aku mendengar alunan suara adzan dari ponselku. Walau ponsel ini sudah direset ulang, jadwal dan panggilan adzan akan tetap ada karena memang bawaan sistemnya.

“Mau kemana?” Rafa menghentikan langkahku yang hendak menuju kamar mandi.

“Mau berwudlu, sudah ashar.”

“Owh... pergilah.”

“Kau tidak shalat?”

“Nanti saja, silahkan shalat lebih dulu.” Untuk masalah ibadah, Rafa masih sama seperti dulu.

Sifat, sikap, kebiasaan dan kepribadian, Rafa memang tidak berubah. Masih sama seperti Rafa yang sudah bersamaku selama bertahun-tahun. Terkadang baik dan lemah lembut, terkadang kasar dan arogan. Rafa selalu mengelak dan mencari alasan setiap aku mengajaknya ibadah. Kadang tetap ia kerjakan, walau aku tau itu tidak dari hatinya.

Yang berubah hanyalah keadaan dan parasnya. Mungkin karena sekarang Rafa sudah kaya raya, membuat tubuhnya menjadi sangat terawat. Dia semakin tampan, atletis dan bersih. Berbeda dengan Rafa yang dulu.

Selepas melaksanakan shalat, akupun kembali memohon ampunan kepada sang pencipta. Apa yang Rafa lakukan tadi pagi dan sikap tubuhku yang merespon, membuatku sangat malu dan berdosa dihadapan sang khaliq. Kembali aku menangis dalam sujudku.

“Sudah selesai?” Rafa menyapa ketika aku sedang melepas mukena.

“Ya.”

            “Duduklah disini, bersantai bersamaku. Kita nonton bola sama-sama.” Rafa mengajakku duduk disebelahnya.

            Aku hanya bisa menurut. Aku berusaha tenang agar dia tidak kembali tersulut emosi. Aku kemudian duduk disebelahnya dengan kedua telapak tanganku mengepal diatas paha.

            “Jangan kaku begitu Nisa. Aku tidak ingin melihatmu bersikap dingin kepadaku.” Rafa masih menikmati tontonannya. Sebenarnya tempat ini cukup nyaman untuk bersantai, tapi aku sedang tidak mau bersantai saat ini.

            “Amanda jam berapa akan datang.” Aku teringat dengan janji Rafa akan membawa Amanda kesini.

            “Astaga, aku lupa.” Rafa bangkit dari tempat duduknya menuju lemari pakaian.

            “Segera ganti pakaianmu dengan pakaian yang sedikit formal. Sebentar lagi Amanda akan datang. Amanda taunya kau disini menolongku menyelesaikan beberapa berkas perusahaan yang tidak bisa aku selesaikan.” Rafa memberikanku satu stel pakaian lagi dan dia tampak tergesa-gesa.

            “Segeralah bersiap-siap agar Amanda tidak curiga. Aku akan kekamarku untuk berganti pakaian.” Rafapun berlalu. Amanda putri kami sudah berusia enam tahun. Dia sudah cukup mengerti apa yang terjadi pada kedua orangtuanya.

            Tidak lama, rafa kembali membuka pintu kamarku. Dia sangat rapi dan terlihat gagah. Tubuhnya yang kini atletis terlihat indah berbalut kemeja formal berwarna maroon.

            “Kenapa kau memperhatikanku begitu, apa aku begitu tampan?”

            “Astagfirullah.” Aku langsung berucap istigfar. Aku menyadari bahwa pria ini bukan siapa-siapaku lagi. Bahkan sekarang aku sudah memiliki suami.           

            “Kenapa istigfar, memangnya aku setan.” Rafa mengusap kepalaku dengan sangat lembut.

            “Apakah Amanda sudah datang?”

            “Ayolah kita turun.” Rafa menggandeng tanganku keluar kamar.

Vous voulez savoir la suite ?
Continuer la lecture
Chapitre précédent
Chapitre suivant

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Remarry (Indo)   BAB 42 – Bertemu Aisyah

“Sekarang bagaimana?” tanya Hendra.“Gue nggak tau. Gue akan coba negosiasi dengan Siska. Gue hanya ingin semua bisa diselesaikan dengan baik. Gue ingin tanggung jawab ke Siska berupa materi, tapi gue juga nggak ingin Annisa mengetahui apapun. Intinya gue nggak ingin Annisa terluka.”“Jadi lu bersedia ngasih perempuan itu 5 miliar? 5 miliar itu banyak bosku ... bisa buat bangun perusahaan baru, ngerti nggak bos ...,” geram Hendra.

Remarry (Indo)   BAB 41 – Semakin Bimbang

Setelah lebih dari 30 menit berlalu, Rafa dan Annisa mengakhiri permainan panas mereka. Annisa tampak sangat kelelahan karena kondisinya yang tengah hamil, membuatnya agak kesulitan mengimbangi permainan Rafa.Annisa tertidur sesaat setelah Rafa menyelesaikan hasratnya. Melihat wanita yang ia cintai tertidur pulas, Rafa bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Annisa dengan selimut. Rafa bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedari tadi menghubunginya.Deg .

Remarry (Indo)   BAB 40 – Gelisah

“Maaf pak, apa bapak memanggil saya?” ucap Jesyka ketika memasuki ruangan Rafa.“Ya, duduk!”“Ada apa pak?” ucap Jesyka ramah.“saya ingin membahas rencana kita tempo hari mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan

Remarry (Indo)   BAB 39 – Pendapat Hendra

“Aku akan memberimu 50juta, setelah itu aku mohon agar kau pergi dari kehidupanku selamanya. Perkara Aisyah, jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, atau aku akan mencarikan orang tua angkat untuknya.” Kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Rafa setelah beberapa menit ruangan itu hening.“Aku sudah bilang, kalau aku ingin kita menikah. Aku tidak ingin 50jutamu itu. Aku ingin status untuk Aisyah. Aisyah juga berhak bahagia dengan ayah dan ibu kandungnya. Sama seperti Amanda, putrimu.” Siska masih bersikeras dengan pendiriannya.

Remarry (Indo)   BAB 38 – Bertemu Rafa

Tok ...Tok ...Tok ...“Siapa ...?” jawab Rafa yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahannya.

Remarry (Indo)   BAB 37 – Meninggalkan Batam

“Aku juga ingin ke Padang.” Ucap Siska mantap.“Apa kau yakin?”“Tidak ada pilihan lain. Tapi aku hanya punya uang 2juta. Apa kamu bisa meminjamkanku uang , Ria? Karena di Padang nanti, aku harus mencari kontrakan, alas tidur dan peralatan masak sederhana.”“Me

Remarry (Indo)   BAB 12 – Persiapan Pernikahan

“Ya udah, kakak tunggu disini sebentar. Aku panggilin bang Rafa

Remarry (Indo)   BAB 11 - Terkejut

Mobil kami sudah sampai dipekarangan rumah, namun Annisa belum juga t

Remarry (Indo)   BAB 10 - Pesta

“Rafa, memangnya ini pesta siapa?”

Remarry (Indo)   BAB 9 - Tersanjung

Rafa menunjuk kesebuah garase. Disana terparkir mobil pajero sport be

Plus de chapitres
Télécharger le livre
GoodNovel

Téléchargez gratuitement le livre sur l'APP

Télécharger
Rechercher
Bibliothèque
Feuilleter
Romance法语HistoireUrbanLoup-garouMafiaSystèmeFantaisieLGBTQ+arnoldMM Romancegenre22- 法语genre26-FrançaisFrançaisgenre27-请勿使用FrançaisFrançaisgenre28-FrançaisFrançais
Histoire Courte
CielMystère et suspenseVille moderneSurvie à la fin du mondeFilm d'actionFilm de science-fictionFilm romantiqueViolence sanglanteRomanceCampusMystèreImaginationRenaissanceAmour réalisteLoup-garouespoirrêvebonheurPaixAmitiéIntelligentHeureuxViolentDouxPuissant红安Massacre sanglantMeurtreGuerre historiqueAventure fantastiqueScience-fictionGare
CréerAvantage écrivainConcours
Genres populaires
Romance法语HistoireUrbanLoup-garouMafiaSystème
Contactez-nous
à propos de nousHelp & SuggestionCoopération
Resources
Télécharger AppsAvantage écrivainPolitique de contenuKeywordsRecherches populairesLes critiques de livresFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Communauté
Facebook Group
Suivez-nous
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Mode d'emploi|Politique de confidentialité