Download the book for free
8. Seorang Ayah
Author: LusiaSebagai orang tua selalu menginginkan terbaik untuk anaknya. Masa depan cerah dan karir yang sukses. Demikian dengan ayah Raffa, dia mempunyai satu anak yang pemalas. Siapa lagi kalau bukan Raffa?
Presdir Satya menunggu Raffa pulang, dia duduk di ruang keluarga, menonton televisi untuk menghilangkan bosan. Sudah malam, Raffa belum pulang ke rumah. Satya mulai marah dan kesal karena terlalu lama. menunggu Raffa pulang. Kemana Raffa pergi?
Sebenarnya Presdir Satya mengikuti kebiasaan Ibunya, menunggu sang anak pulang ke rumah. Satya akan meminta maaf kepada Raffa, karena sikap Satya kepada Raffa terlalu keras dan sering memukul, mendidik terlalu keras hingga Raffa tumbuh menjadi anak bandel dan nakal. Satya mengakui kesalahan, akhirnya setelah menunggu satu jam—Raffa kembali ke rumah.
“Raffa," panggil Satya, suaranya lembut.
"Ya, Ayah? Ada apa?" Kaki Raffa berhenti berjalan dengan keadaan setengah mabuk, tetapi Raffa masih sadar. Aneh, Raffa tidak berani melihat Satya yang sedang duduk di sofa.
"Dari mana kamu?" tanya Satya. Ok. Tahan emosi, tahan amarah. Astaga. Satya ingin marah-marah kepada Raffa jika Raffa melakukan kesalahan sedikit. Kesalahan Raffa adalah pulang terlambat.
Raffa diam, tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Haruskah Raffa menjawab, dia dari club malam? Oh, tidak. Raffa tidak akan mengatakan itu.
Satya berdiri, mendekati Raffa. "Kamu----?" Satya menutup hidung, dia mencium aroma alkohol dari Raffa. “Kamu minum alkohol?" tanya Satya.
Raffa tidak bereaksi. Diam mematung tanpa memandang lawan bicara.
"Jawab dengan jujur, Raffa. Jangan berbohong."
"Ya. Apa tidak boleh? Aku sudah dewasa, ayah."
Benar. Raffa sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi. Satya tidak harus khawatir lagi dengan Raffa.
Satya mengangguk pelan. "Baiklah. Ayah mengerti." Suara Satya melembut dan lemah. "Tidak apa, sudah lupakan masalah alkohol. Ayah mau minta maaf.” Satya mulai berbicara panjang lebar untuk meminta maaf. Dia menghela napas karena Raffa tidak melihat dirinya, sehingga Satya marah. “Tidak sopan kamu. Kamu sedang berbicara dengan ayah. Kenapa tidak melihat ke wajahku, Raffa!”
Raffa membalikkan badan, melihat ayahnya dengan takut.
Satya kaget melihat wajah Raffa dalam keadaan babak belur. Ada luka dan darah di wajah Raffa. “Kenapa wajahmu?” tanya Satya.
Raffa menyentuh wajah, ada luka. Dia merintih sakit. “Hanya bermain. Aku dipukul preman, Ayah. Tidak apa. Ini tidak sakit," dusta Raffa. "Raffa membantu wanita yang digoda lelaki,” lanjut Raffa.
Tangan Satya meraih bantal. Satya melempar bantal itu dengan kesal karena Raffa tidak mirip dengannya, hanya mirip dengan wajahnya. "Kamu tidak bisa membalas pukulan dari preman?" tanya Satya mengejek Raffa. Presdir Satya seorang mantan preman.
Raffa diam mendengar ejekan dari ayahnya.
“Dasar anak lemah dan payah! Apa kamu lupa dengan perkataan ayahmu? Jika kamu dipukul satu kali, balas pukulan dua puluh lebih banyak!” tegas Satya.
“Tapi, ayah.... kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan.”
“Bukan itu maksud dari Ayah." Satya membantah.
“Sama saja menurut Raffa.”
“Kamu---?!” Satya menahan perkataannya, mengontrol emosi. “Sejak kapan kamu mulai membantah ucapan dari Ayah? Oh ya, kamu sudah durkaha kepada ayah dari dulu.”
“Aku bandel juga karena Ayah!”
Dan, lemparan bantal kedua diterima Raffa, membuat Raffa berlari cepat masuk ke kamar.
LOL.
****
Pagi.
Di televisi ada berita tentang seorang anak pemilik perusahaan AD (Andromeda Company) berita itu sudah menyebar luas. Kejadian perkelahian dan pertengkaran di club malam menarik sorotan media, mulai dari TV, koran dan radio.
Siapa yang tidak malu? Melihat wajah anak Presdir Satya di layar televisi dan koran?
“Astaga! Ada apa ini?” tanya Presdir Satya pada diri sendiri, melihat wajah Raffa di televisi. Satya langsung mematikan televisi. Suasana pagi telah buruk.
Sekretaris Haris datang ke rumah Satya membawa koran. "Selamat pagi, Presdir. Saya membawa koran terbaru hari ini. Berita buruk! Berita buruk! Liatlah ini." Sekretaris Haris menyodorkan koran kepada Satya.
Satya semakin marah. Nama Raffa dan wajah Raffa ada di koran tersebut. Terlibat kejadian di club malan. “Anak nakal itu!” Satya menggertakkan gigi dengan kesal. Lalu Satya merobek koran menjadi serpihan kertas tidak terbentuk.
Wajah Satya bertambah garang melihat sang anak keluar dari kamar, turun dari tangga dengan ekspresi tidak bersalah. Luka lebam di bawah kantung mata masih belum sembuh. Apalagi Raffa keluar dari kamar sambil bernyanyi.
“Astaga, Ayah!” Raffa terkejut melihat Presdir Satya berkacak pinggang, menatap Raffa garang. “Ayah kenapa?” tanya Raffa tidak mengerti.
Dalam otak Raffa, Raffa tidak pernah melakukan kesalahan lantas kenapa sekarang ayahnya akan memarahi dirinya?
“Kamu bilang kenapa?!”
Raffa mencoba mengingat-ingat kesalahan. Lima detik, baru sadar kejadian tengah malam di club malam. Sudah bisa dia tebak, ayahnya mengetahui penyebab perkelahilan di club? Raffa bingung, kemarin malam Raffa sudah memberi tahu, tetapi tidak memberi tahu di mana dia berkelahi.
Tanpa menunggu, Raffa berlari keluar rumah sebelum Satya memukul dirinya. Pasti mendapat pukulan, karena kebiasaan jika Raffa melakukan kesalahan. Huh. Untung saja pukulan kasih sayang.
“Hei! Anak nakal! Berhenti! Kamu jangan kabur!” teriak Satya melihat Raffa lari keluar rumah. “CRISTOFFER RAFFA! KAMU TAU SAHAM MENURUN DAN KERUGIAN PERUSAHAAN YANG TELAH KAMU LAKUKAN SEMALAM DI CLUB?! ITU KESALAHANMU! HEY! BERHENTI. AYAH BILANG BERHENTI. APA KAMU TULI?!”
****
"Ah...." Raffa tidak mempunyai energi. Direktur Raffa mendesah berkali-kali, memikirkan kenapa setiap hari mendapatkan kesialan atau sudah takdir Raffa? Hari yang buruk. "Apa yang semalam aku lakukan? Apa aku sudah gila?"
"Direktur kenapa?"
Raffa tidak menjawab.
Raffa melangkahkan kaki masuk ke perusahaan pimpinan ayahnya. Sekretaris baru—Pevita—siap taat dengan perintah dari Direktur dan sungguh melakukan pekerjaan. Sesuai janji, datang ke kantor tidak terlambat lagi seperti kemarin.
Wanita itu menggunakan rok ketat pink muda dengan blouse putih serta rambut diikat satu, wajah Pevita lebih anggun dan menarik.
Sedangkan, Raffa? Tidak rapih, penampilan tidak rapih. Hihi rambutnya, seperti sarang burung, dan dia tidak memakai dasi.
Pevita melihat Raffa dari ekor matanya, melihat luka lebam di wajah Raffa. Dia merasa bersalah dengan kejadian di club dan Pevita ingin meminta maaf. “Direktur. A—aku—”
“Berhenti! Kamu jangan bertanya tentang lukaku," kata Raffa cepat. “Aku tahu. Kamu sudah melihat berita hangat di televisi atau di koran tentang anak perusahaan AD berkelahi di club malam.”
Pevita tidak bisa mengatakan. Bibir Pevita merapat. Tujuan Pevita untuk meminta maaf ditunda. Pevita langsung sadar—kejadian di club masuk ke media sosial? Waduh, dirinya berhubungan insiden itu. Gawat jika terbongkar. Astaga. Bagaimana nasib Pevita jika semua orang mengetahui, wanita yang bersama Raffa adalah Pevita.
“ANAK NAKAL!"
Direktur Raffa dan sekretaris Pevita terlonjak kaget mendengar seruan dari Presdir Satya. Raffa tidak menduga ayahnya sudah sampai ke kantor.
“Satu, dua, tiga ... LARI!!!”
Raffa dan Pevita berlari terpogoh-pogoh memutar balik menuju lift karyawan, bukan lift khusus Direktur. Pevita bingung dan tidak tahu. Kenapa harus lari? Pevita akhirnya berlari—tidak memperdulikan rasa penasaran dan bingung. Kenapa Raffa menghindar dari Satya?
“Ya! Anak sialan. Jangan kabur lagi!” teriak Presdir Satya.
Pintu lift tertutup, dengan cepat Presdir Satya menahan agar pintu lift terbuka kembali. Akhirnya mereka berempat termasuk sekretaris Haris— berada di dalam lift yang sama. Dua sekretaris itu berdiri di belakang bos.
keheningan tercipta. Tidak ada suara.
Raffa sejak tadi membuang pandangan, mengabaikan Satya. Satya tidak tahu harus bicara memulai dari mana. Lelaki itu sudah berjanji kepada Ibunya supaya tidak melakukan kekuatan kekerasan, namun harus kekuatan pendidikan. Walaupun sejak dulu Presdir Satya terbiasa memukul Raffa.
... bentuk pukulan kasih sayang ...
“Kenapa kamu lari, Raffa? Kamu sudah tahu salah.” Presdir Satya membuka suara. "Kamu melarikan diri dari ayah?" tanya Presdir Satya.
"Tidak," jawab Raffa singkat.
"Lalu kenapa kamu harus lari? Astaga. Kamu selalu membuat perusahaan ayah buruk di depan orang lain. Benar-benar anak sialan!" Tangan besar Presdir Satya terasa gatal ingin sekali memukul kepala Raffa. Dia melayangkan tangannya di udara. Hal itu sontak sekretaris Haris memberi isyarat kepada sekretaris Pevita untuk naik ke punggung Haris, menutup cctv menggunakan tas milik Pevita.
“Siapa yang menyuruh kalian untuk menutup cctv?” Alis Presdir Satya terangkat. “Turun, aku tidak akan memukul kepala anak sialan ini,” perintah Satya.
Dua sekretaris itu merasa tenang dan lega.
Hati Satya mulai melunak, tatapi setelah melihat wajah tidak bersalah dari Raffa, kekesalan Presdir Satya mulai memuncak kembali. Refleks Presdir Satya menendang pantat Raffa.
Raffa memandang Ayahnya. "Ayah kenapa memukul pantat Raffa?! ucap Raffa dengan ekspresi malas. “Mau Ayah apa?!”
“Kamu bertanya mau ayah? Hanya mau memberi sedikit pelajaran untuk anak bandel sepertimu. Jika kamu melakukan hal merugikan perusahaan dan jika kamu tidak menjadi pengganti Ayah sebagai Presdir. Ayah ingin menghapus nama kamu di kartu keluarga. Mengerti?”
_______________
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
It's Okay That's Love (INDONESIA) 45. Mengajarkan Rasa Malu
Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr
It's Okay That's Love (INDONESIA) 44. Penerus Perusahaan
Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D
It's Okay That's Love (INDONESIA) 43. Merencanakan Sesuatu
Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.
It's Okay That's Love (INDONESIA) 42. Epiphany
Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P
It's Okay That's Love (INDONESIA) 41. Ancaman
Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora
It's Okay That's Love (INDONESIA) 40. Ungkapan Hati
Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj
It's Okay That's Love (INDONESIA) 39. Kekhawatiran
Pevita menghela napas legah. "Kenapa? Direktur! Kenapa kamu memanggilku?!" tanya Pevita menuntut dengan setengah kesal. Raffa tidak berhenti tersenyum sambil menepuk pundak Pevita. "Menakjubkan. Pevita, setiap kali aku berteriak memanggil namamu, kamu selalu datang dan muncul
It's Okay That's Love (INDONESIA) 38. Ketakutan
Dave mengajak Pevita makan malam dan Pevita menerima ajakan dari Dave dengan malu-malu. Dave mempersiapkan diri berpenampilan keren, untuk kencannya dengan Pevita. Sejak pulang dari kantor, lelaki berwajah Korea itu bersemangat bersiap memakai kemeja putih dan jas hitam hingga tampila
It's Okay That's Love (INDONESIA) 37. Mungkin Ini Cinta
Presdir keluar dari kamar Raffa dengan berat hati mengerti semua hal yang sudah terjadi. Dia duduk di ruang television dan minum alkohol sambil menatap tangan yang tadi dia pakai untuk menampar Raffa. Seperti ingin menghukum dirinya sendiri, dia kemudian mengangkat botol minumannya perlahan untuk
It's Okay That's Love (INDONESIA) 36. Ulang Tahun Perusahaan
Seluruh direksi, pegawai dan karyawan perusahaan menghadiri acara tersebut. Termasuk nenek Choi, neneknya Raffa dan Dave. Acara dimulai, dengan tepuk tangan meriah mengiringi Raffa naik ke atas podiums dan dia akan membacakan pidato.Acara ulang perusahaan sangat meriah dan banyak or
