loading
Home/ All /It's Okay That's Love (INDONESIA)/9. Hamil

9. Hamil

Author: Lusia
"publish date: " 2020-08-07 22:17:16

Menghapus nama keluarga? Raffa menggeleng tidak mau. Lelaki itu sudah membayangkan betapa menderitanya ketika namanya dihapus oleh Sang Ayah. Lagian ada-ada saja Presdir Satya mengenai penghapusan nama Raffa di kartu keluarga. 

***

Pintu lift terbuka dan Pevita sadar dari lamunan. Pevita masuk ke dalam lift, telinga mendengar suara familiar, menyapa Pevita. Suara itu .... Pevita tahu pemilik suara tidak asing bagi Pevita.

“Hai, kita satu lift lagi. Mungkin kita berjodoh dengan lift ini.”

Gombalan? Ah, kenapa Dave selalu me m buat Pevita tertawa perasaan.

Tanpa melihat, Pevita tahu suara yang menyapa malam ini dari dalam lift adalah Direktur Dave. Lelaki yang terjebak di lift bersama Pevita tempo hari lalu.

Deg ... deg ... deg. Om my god, jantung Pevita berdebar kencang melihat senyuman manis Dave. Dia tidak pernah lagi merasakan debaran jantung berpacu cepat, kecuali ketika bersama Alex. 

"Hai." Pevita menyapa Dave dengan canggung dan gugup. Satu lift lagi bersama Dave? Ah... Seperti mimpi. 

"Oke, Pevita. Ayolah. Tenangkan dirimu, jangan gugup, jangan gugup," kata Pevita dalam hati.

“Satu lift lagi kita, semoga saja lift tidak macet seperti satu minggu yang lalu." Ucapan Pevita tidak sesuai, jauh dari lubuk hati, Pevita ingin terjabak lagi di dala lift bersama Dave. "Direktur akan pulang?” tanya Pevita.

Dave mengangguk. “Ya, mungkin kita akan pulang bersama." Dave berkata terus terang. "Bagaimana?"

Pevita terkejut sekali. Mata Pevita melebar. “Apa yang Direktur katakan? Maksud Direktur? Aku sama sekali tidak tahu," kata Pevita meminta penjelasan dari Dave.

Dave tertawa kecil. "Aku akan mengantarkan kamu pulang. Bagaimana, kamu mau?" 

Pevita berdiri kaku, gugup. "Apa?! Aku dan Direktur Dave pulang bersama dalam satu mobil, bukan?” tanya Pevita lagi, bertanya memastikan.

Dave berdehem. Gayanya keren, terlihat lelaki sempurna. “Yes. That's a good idea. Mobil saya sudah ada di halaman depan. Karena saya tahu rumah kita satu arah, jadi aku mengajak kamu pulang bersama," jawab Dave detail.

Pevita tidak bisa menahan senyuman senangnya, dia memalingkan wajahnya ke samping. Entah kenapa waktu pertama kali bertemu dengan Direktur Dave, Pevita menjadi kesenangan sendiri. Dia menyertai langkah keluar dari lift—mengikuti langkah Dave—menuju halaman depan. Benar, mobil Dave sudah ada di halaman.

“Bagaimana rasanya menjadi sekretaris Raffa. Apakah benar-benar menyenangkan dan bahagia?” Dave membuka suara ketika mereka berdua sudah di dalam mobil milik Dave. 

“Oh, ya. Menurutku Raffa sangat keras kepala dan tidak mau menaati peraturan di kantor. Raffa terkadang kabur dari rapat. Alu tidak bisa mencegah, karena Raffa sangat keras kepala," keluh Pevita.

Tidak heran lagi bagi Dave. Dave tahu, Raffa selalu bersikap semau sendiri. Kabue dari rapat penting, tidak pernah mendengarkan hasil presentasi orang lain.

Dave terkekeh. Dave berharap Pevita tidak akan putus asa dengan sikap bossnya yang kekanak-kanakan. “Raffa selalu begitu, dia seperti anak kecil. Saya berharap kamu bisa merubah Raffa menjadi lebih baik. Pevita, aku mengandalkanmu,” jelas Dave panjang lebar. “Saya mendengar kamu ahli dalam bela diri. Jadi, saya meminta kamu menjadi sekretaris Raffa, kalau dia malas, pukul.” Dave tertawa lebar, bercanda.

“Ya?” Pevita sadar dengan perkataan Dave. Dave memuji Pevita? Serius? Pevita tertawa paksa. “Ha, ha, ha. Tidak, aku masih belajar, tidak ahli beladiri seperti yang Direktur katakan.” Pevita merendahkan diri.

Dave mengangguk-angguk. “Oke, kita hentikan basa-basi ini.” 

Pevita malu. Respon dari Dave datar, wajah Dave tanpa ekspresi. Dave tidak membuka suaranya lagi, dia memandang lurus ke depan, lampu dasbor diantara kegelapan menerangi wajah Dave.

Sudah sampai di rumah Pevita. Pevita sudah tiba di halaman. Mobil Dave berhenti, Dave membuka pintu mobil untuk Pevita. Perlakukan bagaikan ratu membuat pipi Pevita bersemu merah.

"Terima kasih. Sudah mengantarkan aku pulang." Pevita mengucapkan terima kasih kepada Dave.

Pevita menjadi ingat dengan Alex. Lelaki yang sudah selama lima tahun bersama, disaat sedih dan bahagia. Memperlakuan Pevita dengan sangat manis. Tetapi sekarang? Keadaan telah berubah. Alex telah menghilang dari kehidupan Pevita. 

****

Pevita pulang disambut oleh wanita di depan pintu rumah. Pevita memandang bingung gadis di depannya yang sedang menangis tanpa suara, air mata mengalir ke pipi. “Kamu kenapa?” tanya Pevita bingung. 

Diam. Tidak ada tanda-tanda gadis itu menjawab ucapan Pevita.

“Kalau tidak mau menjawab, aku pergi!” Pevita mengancam.

“Kakak ....” Gadis itu bernama Gita berkata dengan suara lirih. “Aku----" Gita tidak berani berkata jujur.

“Kenapa, Gita?” tanya Pevita lagi.

“Aku hamil,” jawab Gita dengan suara serak, nyaris tidak terdengar. Tangisan pecah dalam sekejab, bahu Gita naik turun akibat menangis. “Aku hamil----" Gita mengulang kalimat dengan suara keras.

Pevita berdiri kaku. Mematung.

Bagaikan disambar petir malam hari, bibir Pevita langsung bungkam dan terdiam di tempat setelah mendengar kalimat kenyataan dari sang gadis SMA. Seakan tidak percaya, Pevita menyuruh Gita mengulang kalimat dan menjelaskan.

“Apa yang kamu bilang?”

Kaki Gita lemas, dia merosot lalu terduduk di lantai. “Aku hamil, Kakak Vita.” Gita menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. 

"Apa?! Jangan bercanda kamu! Kamu berbohong bukan?" Pevita tidak yakin.

Gita menggeleng. "Aku tidak berbohong kepada Kakak." Gita menurunkan tangannya, hal itu sontak membuat Pevita langsung menampar pipi Gita secara tidak sadar akibat dikuasi rasa terkejut dan amarah. Pipi semulanya putih bersih menjadi kemerahan.

Gita menahan sakit.

“Bangsat! Apa yang sudah kamu lakukan? Astaga! Aku benar-benar tidak percaya!” Suara Pevita meninggi, tidak peduli orang lain mendengar teriakan Pevita. “Otak kamu dimana, Gita! Kenapa bisa melakukan hal itu hah?! Diem! Jangan menangis!"

Tangis Gita mereda. Gita tidak bergerak, hanya menatap sendu lawan bicara. Tangan Gita menyentuh pipi bekas tambaran Pevita. Sakit dan perih. Namun sakit bekas tamparan Pevita hanya sesaat, lebih sakit menerima kenyataan bahwa dirinya hamil.

Pevita frustasi. Ulu hatinya terasa sakit, meskipun bukan dirinya yang menjadi korban. Entah kenapa, Pevita merasakan sesak di dada, kenyataan Gita hamil di luar nikah.

“Aku pernah mengatakan kepadamu. Tolong, menjauh dari kekasih kamu. Akhiri hubungan kamu dengan kekasihmu. Lelaki itu tidak pantas buat kamu! Sekarang menyesal bukan?" 

“Tetapi aku cinta sama dia. Cinta banget, kak!!"

Pevita menggeleng kepala. Inikah yang dinamakan buta karena cinta?

“Cinta wajar, sayang boleh. Bodoh jangan!” sentak Pevita marah.

“Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku frustasi." 

“Sekarang aku hamil ....”

“Dan, sekarang dia mau pergi dari aku, meninggalkan aku sendiri ....”

“Aku bingung, Kak!!!!"

“Aku takut, Kak!!!!"

“Aku lenyapkan saja janin di rahim aku?!" Gita berteriak keras, perkataan Gita mulai tidak jelas. Tangisan semakin menjadi-jadi, kedua tangannya bergetar menyentuh perut. Di dalam perut ada janin.

Pevita menyepak gadis itu sampai terjungkal ke belakang. “Melenyapkan janin?” ulang Pevita. Pevita tertawa hambar. “Jangan bilang sekali lagi! Kamu pikir mudah?! Bayi dan janin kamu tidak salah. Janin kamu berhak hidup karena kamu yang buat dia menjadi hidup!”

“Tapi, menyiksa aku. Hidup aku menjadi berbeda. Aku masih sekolah, Kak."

Pevita menunduk memandang Gita. “Kamu bodoh, Gita. Kamu berpikir dengan cara melenyapkan janin, semua masalah selesai? Janin kamu tidak salah, kamu yang salah! Harus terima kenyataan bukan lari dari masalah. Mengerti??!" jelas Pevita.

“Aku tidak tahu—”

Pevita memotong ucapan Gita. “Jangan bertemu lagi dengan aku, kalau kamu ingin membunuh janin di kandungan kamu!” tegas Pevita.

Pevita mulai meninggalkan Gita sendiri di sana. Tetapi secepat kilat, Gita mengejar dan meraih tas Pevita. Refleks, Pevita menyentak tangan Gita dengan kasar. Hal itu membuat Gita manangis sedih, pikiran Gita berpikir bagaimana dia membesarkan anaknya sendirian? Tanpa ayah. Sedangkan Gita tidak mempunyai teman, orang tua. Gita hanya mempunyai Pevita sebagai orang terdekat. Jika Pevita pergi lantas kepada siapa dia meluapkan keluh kesah?

“Jangan pergi. Aku mohon.... Gita tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Kecuali Kakak. Aku minta maaf, maaf!!!”

Pevita merasa berbelas kasih, dia mendekatkan tubuh dan menyentuh kedua bahu Gita lalu membawanya dalam pelukan—mengelus rambut Gita yang panjang dan indah.

“Sekarang, kasih tahu dimana alamat kekasih kamu yang sudah merusak masa depan kamu” perintah Pevita. Walaupun dengan berusaha keras menahan gejolak emosi, tangan Pevita mulai terkepal erat. 

Ditengah segukan dan tangisan, Gita membuka suara menjawab pertanyaan Pevita.

“Kamu tenang saja, ada Kakak di sini. Kakak janji tidak akan pergi. Kamu tidak akan sendiri, Gita.” Pevita menenangkan Gita.

___________

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

It's Okay That's Love (INDONESIA)   45. Mengajarkan Rasa Malu

Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr

It's Okay That's Love (INDONESIA)   44. Penerus Perusahaan

Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D

It's Okay That's Love (INDONESIA)   43. Merencanakan Sesuatu

Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.

It's Okay That's Love (INDONESIA)   42. Epiphany

Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P

It's Okay That's Love (INDONESIA)   41. Ancaman

Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora

It's Okay That's Love (INDONESIA)   40. Ungkapan Hati

Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj

It's Okay That's Love (INDONESIA)   31. Demi Gaji

Kehidupan Pevita setiap hari semakin sibuk. Sejak menjadi sekretaris di perusahaan Andromeda, dia semakin tidak mempunyai waktu luang dan leluasa untuk bersantai. Apalagi menjadi sekretaris dari boss pemalas. Haha. Rasanya ingin mati saja. Tapi tidak apa, demi pekerjaan.Pagi ini, langit b

It's Okay That's Love (INDONESIA)   30. Dinner

Pevita tidak tahu, hari ini merasa sangat lelah sekali. Satu hari penuh bersama Raffa rasanya puas sekali. Hidupnya tidak pernah seperti ini sebelumnya, dulu saking sibuknya sampai tidak ada waktu luang dan sekarang bisa sedikit untuk mengistirahatkan otaknya, walaupun bersama Raffa. Itu lebih da

It's Okay That's Love (INDONESIA)   29. Melatih Gejala Raffa

Hari minggu, para pekerja kantor libur. Termasuk Pevita, dia meluangkan waktu memulai melatih gejala panic disorder milik Raffa dengan cara lari pagi. Pertama yang ingin Pevita lakukan adalah menormalkan detak jantung Raffa dan melatih Raffa berbicara di depan publik. Sungguh Pevita melakukan itu

It's Okay That's Love (INDONESIA)   28. Perasaan Pevita

Presdir Satya menyuruh Dave keluar dan tinggal Pevita dan Raffa tentunya. Dan dia pun melanjutkan interogasinya. “Siapa yang memukul lebih banyak?”Bwahaha. Meskipun Presdir bersikap kasar terhadap Raffa, dia tetap menjadi ayah terbaik yang mengkhawatirkan anaknya

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy