loading
Home/ Lahat /It's Okay That's Love (INDONESIA)/7. Melindungi

7. Melindungi

Author: Lusia
"Petsa ng paglalathala: " 2020-08-07 11:06:17

“HEI! BERHENTI! GADIS JALANG!”

Teriakan dari Arlan seperdetik membuat Pevita langsung menolehkan kepala. Arlan mengejar Pevita dengan keadaan sudah sedikit mabuk efek alkohol. Dengan tenaga yang tersisa—Pevita berlari, menelusuri lorong club, dia mencari pintu utama.

Dan, apa? Pevita mendengar dia memanggilnya jalang? Pevita tersenyum sinis. Berani sekali Arlan memanggil Pevita sebutan jalang, jajaran wanita kurang belaian dan sentuhan? Oh, No. Pevita bukan wanita jalang. Dia hanya wanita pengecut karena menerima phobia sex, tetapi terus menghindari dari phobia sex. Pevita ingin sembuh, tetapi bagaimana caranya? Dia telah mengakhiri hubungan dengan Alex, sekarang Pevita's tidak percaya dengan lelaki. Semua lelaki hanya menginginkan sex dan menuruti napsu, tanpa cinta.

Pevita berharap, suatu saat nanti. Yeah. Pevita yakin, ada lelaki yang bisa menyembuhkan phobia sexnya, seperti dia ingin menyembuhkan kecemasan dari Raffa.

“Hey! Tangkap gadis jalang itu!” teriak Arlan lagi menggema lorong. “Jangan biar dia kabur!” kata Arlan kepada lelaki penjaga club malam. Lelaki itu berdiri tepat di depan pintu masuk.

Pevita menghentikan langkah kaki, dia terdiam di tempat, matanya tidak salah melihat. Di sana dengan jarak tidak cukup jauh, ada dua lelaki bertubuh besar tengah bersiap-siap menangkap Pevita. Dua lelaki berbadan besar itu siap menuruti perintah dari Arlan–untuk menangkap Pevita.

Pevita menelan ludah susah payah, dia berpikir negatif, semoga tidak tertangkap dan akan kabur dengan selamat. Ah, sial! Situasi kenapa menjadi seperti ini? Terperangkap di lorong club malam dan dia seperti mangsa yang akan diterkam hidup-hidup. Oh, Tuhan! Kenapa sepi sekali! Tidak ada orang yang berjalan di lorong club malam.

“Mampus aku!” kata Pevita lirih. Dia mengutuk diri sendiri, bagaimana bisa terjebak situasi seperti maling tertangkap basah oleh masyarakat. Lol. Maling? 

“Tangkap dia! Kenapa kalian berdua diam saja!” teriak Arlan dari jarak jauh, berjalan sempoyongan. Anehnya, masih bisa berteriak keras dan masih sadar, “Jangan biarkan wanita jalang itu lolos! Kalian harus berhasil menangkapnya!"

Dua lelaki berbadan besar berkata, "Oke, Boss!" Mereka berjalan mendekati Pevita.

Mata Pevita melotot tajam kepada dua lelaki berbadan kekar hendak menangkap dirinya. Aduh! 

Mata Pevita berputar melihat ke arah kanan kiri, mencari celah untuk kabur. Dia berpikir, ide! Ide! Astaga! Otaknya buntu, tidak bisa berpikir. Shit! Arlan memaksa dua lelaki itu untuk menangkap Pevita dengan waktu cepat.

"Hallo, Miss. Kamu tidak akan bisa lari dari kami," kata lelaki itu.

"Jangan berharap ada seseorang yang akan menolongmu." Mereka tersenyum sinis lalu tertawa, menertawakan Pevita yang terlihat frustasi.

Beberapa detik, kedua mata Pevita melihat lelaki berkemeja putih, penampilan kacau dan acak-acakkan baru saja keluar dan berjalan ke arah Pevita dan melewati Arlan. 

Arlan berkata, "Kamu jangan mengganggu kami."

Lelaki berpenampilan acak-acakan tidak membalas perkataan Arlan, dia tidak peduli. Sekarang dia ingin pulang secepatnya sebelum ayahnya marah.

Pevita mempunyai ide cemerlang, kesempatan bagus bagi Pevita untuk kabur. Saat lelaki itu berjalan dan semakin dekat dengan Pevita, Pevita mulai berjalan di belakang lelaki itu yang setengah mabuk itu.

Lelaki itu sedang mabuk. Sampai tidak sadar ada wanita berjalan di belakang tubuhnya. Tetapi gayanya acuh-acuh dan tidak peduli dengan keadaan sekelilingnya.

Sebentar ... wajah lelaki itu tidak asing bagi Pevita. Pevita mengenal dia. “Direktur Rafa—?” kaget Pevita sampai tidak berani melanjutkan perkataan. Pevita membekap mulutnya sendiri supaya tidak menjerit.

Siapa sangka, dia adalah seorang Direktur Raffa, sekaligus boss Pevita.  Eh, tapi...  Raffa terlihat aneh. Seperti tidak mengenal Pevita sebagai sekretaris baru? Dan, dia mabuk? Oh Tuhan. Pevita baru tahu Raffa pemabuk dan suka meminum alkohol.

Kenapa menjadi mikirkan tentang Raffa? Berhenti, itu hal tidak penting. Sekarang lebih penting adalah harus lolos dari dua lelaki berbadan besar, kekar dan Arlan, lelaki hidung belang.

“Tangkap wanita itu! Cepat!"

"Hey kalian berdua diam! Kenapa menjadi takut dengannya?"

"Aku bilang tangkap! Dia bukan cuma untuk diliat!"

Dua lelaki bertubuh besar itu menelan ludah ketika melihat tubuh Pevita yang menggoda hasrat. Sial! Sebagai sekretaris penampilan terlalu sexy.

Pevita sudah bersiap di balik punggung Raffa. Sementara, Raffa mengerutkan kening bingung melihat dua lelaki itu berdiri dihadapannya. “Ada apa ini?” tanya Raffa polos, tidak tertarik. Namun semakin membingungkan ketika Raffa berjalan selalu dihalang oleh mereka. “Kalian kenapa? Mau mencari masalah dengan saya?” tanya Raffa terganggu.

“Tidak. Kita sedang ada urusan dengan wanita di belakang Anda,” jawab salah dari lelaki bertato di lengan. “Mohon, kamu minggir kalau tidak ingin mencampur urusan kami," tegas lelaki itu kepada Raffa.

Raffa menguap lebar, matanya terlihat menganguk dan lelah. Dia masih belum paham apa yang telah terjadi dan tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Wanita? Raffa langsung menoleh kepalanya.

"Mohon, tuan jangan ikut campur. Silahkan pergi."

Raffa mengangguk, tidak curiga. Namun baru satu langkah, dua lelaki itu berdiri di depan Raffa lagi.

“Apa yang terjadi?! Kenapa?!" Raffa kesal. "Aku ingin pergi. Kenapa kalian berdua menghalangiku." Raffa terganggu.

"Maaf, Tuan. Tetapi kami ada urusan dengan wanita di belakang Anda."

Pevita memejamkan mata lalu membuka matanya. Apa ini akan menjadi nasibnya? Tertangkap dan akan menjadi wanita yang bermalaman tidur bersama Arlan?

Raffa kembali menoleh ke belakang, kedua mata terlihat sayu, dia tidak melihat jelas wanita itu setinggi dadanya, berdiri di belakang tubuhnya. Bodoh, kenapa Raffa diam saja melihat wanita itu. Lalu Raffa pergi. “Ohh, baiklah,” kata Raffa. “Saya tidak mengenalnya.”

Bibir Pevita terbuka lebar. Tidak percaya dengan perkataan Raffa. Hell?! Raffa tidak kenal dengan Pevita? Atau hanya berpura tidak kenal.

“Direktur—,”

Sebelum mendengar kata-kata Pevita, Raffa sudah berjalan melanjutkan langkah kakinya. Tidak ada pilihan lain bagi Pevita, dia harus melawan dua lelaki itu. Tanpa pikir panjang Pevita beraksi, dia berlari dan menendang area vital lelaki itu. Kedua lelaki itu kesakitan. Ketika Pevita melanjutkan aksi menendang kaki mereka berdua, satu high heels di kaki Pevita terlempar mengenai lampu. Satu lampu mati dan rusak. Alhasil cahaya meredup. Sisa satu high heels, digunakan sebagai senjata.

Kejadian itu menarik perhatian Raffa, dia terkejut menonton adegan dua lelaki lawan satu wanita sexy. Dua lelaki itu tidak kalah melawan Pevita. Pevita akui kekuatan lelaki itu cukup kuat, dia memberontak meminta bantuan Raffa.

"Help me!" kata Pevita kepada Raffa, dia meminta pertolongan.

Raffa sadar dari lamunan. Dengan sigap membantu aksi Pevita. Raffa mengangkat kuat badan Pevita sehingga kaki Pevita terangkat, sedangkan kaki Pevita diangkat melayang ke udara dan berhasil mengenai hidung mereka sampai berdarah.

Tanpa sepatah kata Pevita kabur. Dia meninggalkan Raffa sendiri di sana.

“Ya! Bagaimana bisa kalian kalah!” Arlan berteriak marah. Arlan kembali ke masuk club—Dia tidak peduli lagi, target wanita sudah kabur. “Sialan kau, Pevita.” Sepanjang jalan Arlan menggerutu.

“Anda bilang tidak kenal dengan wanita jalang itu. Lantas kenapa membantu dia untuk kabur?” sinis lelaki itu kepada Raffa. Kedua lelaki itu sama-sama menyentuh hidung yang berdarah. "Anda harus bertanggung jawab."

Jika wanita bisa mengalahkan dua lelaki berbadan besar, tentunya dia laki-laki—Raffa—dapat mengalahkan mereka berdua bukan?

“Dua lawan satu wanita? Banci kalian!” kata Raffa mengejek. “Maju! Lawan aku!”

Raffa sudah bersiap, mamasang kuda-kuda dan berniat memukul salah satu dari mereka.

... Hanya saja, Raffa memukul udara karena tidak mengenai salah satu tubuh lelaki itu ...

Dua lelaki itu hanya tertawa remeh melihat kehebatan pukulan Raffa. Saking hebat hingga tidak mengenai tubuh salah satu lelaki itu. Raffa tidak putus asa, dia kembali memukul tapi tetap saja tidak mengenai mereka.

Pada akhirnya Raffa menjadi babak belur. Dia keluar halaman club dengan penuh amarah dan, dia menuju mobil dengan satu tangan membawa satu high heels.

****

Alex—kekasih Pevita—sedang berkumpul bersama sahabatnya di karaoke. Ada beberapa wanita sexy sebagai pemandu lagu menjadi teman ketika Alex dan sahabatnya bernyanyi.

“Apa suhu AC harus aku besarkan agar kalian tidak kedinginan?” kata Alex dengan ekspresi tidak suka. Dia meminta agar salah satu wanita tidak menempel terus pada tubuhnya.“Jika dingin. Aku besarkan suhu AC.”

“Tidak perlu, kamu begitu harum. Aku suka parfum kamu,” kata wanita dengan suara manja dan menempelkan tubuhnya ke Alex. “Dan kamu sangat tampan.”

“Oh, aku besarkan suhu AC,” ketus Alex kesal.

Wanita itu mengecutkan bibir dan mulai menjauhkan dari Alex lalu berpindah tempat.

“Hey, Lex. Jadi kamu mengajak kita karaoke hanya untuk menghibur kamu yang sedang galau begitu? Liat itu, banyak wanita siap menghibur kamu. Kamu ingin mencari wanita untuk mengganti kekasihmu, bukan?” Salah satu sahabat Alex bernama Audrey berbicara panjang. “Ya sudah, pacaran saja sama wanita itu." Jari tangan Audrey menunjuk membuat wanita yang ditunjuk tersenyum malu-malu.

“Aku tidak napsu sama sekali dengan wanita di sini, Drey.” Alex meminum alkohol. Tanpa menatap Audrey. Tatapan Alex kosong.

Lantas? Apa tujuan pergi ke karaoke? Ketiga sahabatnya saling memandang tidak mengerti. Biasanya Alex semangat bermain dengan wanita ketika galau. Tapi sekarang? Alex bilang tidak napsu. Gila!

“Jadi kita pergi karaoke untuk apa? Alex bodoh! Waktu aku terbuang sia-sia," komentar Justin.

Alex tidak menjawab.

“Oke, kalau ada masalah cerita sama kita. Jangan diem saja, aku bukan vampire yang bisa membaca pikiran kamu," kata Audrey, meminum vodka yang telah dipesan sebelumnya.

Akhirnya Alex menyerah, diolok-olok sahabatnya. Bayangkan saja, satu jam mendengar ocehan sahabat dan Alex diam, tidak mendengarkan sahabat.

Alex menyalakan sebatang rokok. “Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar bisa mendapatkan Pevita kembali. Sudah satu minggu hubungan memburuk dan aku dengan Pevita tanpa kabar,” curhat Alex, menghembuskan asap rokok. “Pevita tidak ingin bertemu aku lagi, karena kejadian waktu ketika aku ingin mencium Pevita."

"Kamu bodoh?"

"Gila kamu, Alex."

"Kenapa kalian berdua menyalahkan aku?"

"Pevita sudah menolak buat ciuman, bukan? Kenapa kamu memaksa. Kalau bukan bodoh apa lagi?" kata Audrey sedikit menyalahkan Alex.

"Benar kata Justin!"

Alex terdiam, mencerna perkataan kedua sahabatnya.

Satu minggu? Waktu yang cukup lama, terkadang dua hari atau tiga hari hubungan sudah membaik. Seperti yang mereka tahu, hubungan Alex dengan Pevita selalu ada pertengkaran lalu damai kembali.

“Tapi aneh juga. Kadang Pevita dan Alex bersatu lagi,” ujar Audrey.

“Iya. Tanpa bantuan dari kita. Alex sudah maju memperbaiki kesalahan,” sahut Justin.

Alex memandang sahabatnya secara bergantian. “Sekarang masalah aku dengan Pevita berbeda. Lebih berat,” jelas Alex, memejamkan mata sejenak.

“Tetapi hubungan kalian belum berakhir bukan? Lima tahun kalian pacaran sejak SMA dan berhenti karena masalah. Aku menjadi orang pertama yang akan mengatakan kata selamat. Lima tahun itu lama, Lex. Terus kamu mau menyerah?”

Penjelasan dari Audrey membuat Justin terkagum, Justin bertepuk tangan. Karena Audrey tidak pernah memberi saran, eh sekarang dia mengatakan kalimat saran yang baik.

Alex menatap Audrey lekat-lekat, dia berpikir.

“Apapun masalahnya, pasti ada jalan keluar.” Audrey menepuk pundak Alex. “Sebelum Pevita menjadi milik orang lain dan sebelum Pevita menikah. Kamu masih bisa mendapatkan Pevita kembali."

Alex diam. Harus dia akui, dia membutuhkan Pevita. “Makasih. Aku sekarang tau apa yang harus dilakukan." Alex tersenyum lebar.

Gustong malaman kung ano ang mangyayari?
Patuloy ang Pagbabasa
Nakaraang Kabanata
Sunod na kabanata

Ibahagi ang nobela sa

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Pinakabagong kabanata

It's Okay That's Love (INDONESIA)   45. Mengajarkan Rasa Malu

Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr

It's Okay That's Love (INDONESIA)   44. Penerus Perusahaan

Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D

It's Okay That's Love (INDONESIA)   43. Merencanakan Sesuatu

Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.

It's Okay That's Love (INDONESIA)   42. Epiphany

Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P

It's Okay That's Love (INDONESIA)   41. Ancaman

Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora

It's Okay That's Love (INDONESIA)   40. Ungkapan Hati

Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj

It's Okay That's Love (INDONESIA)   27. Pertikaian

Pevita yang sedari tadi mengawasi mereka, masuk dan mencoba menengahi pertikaian mereka dengan tergopoh-gopoh mendekati.“Hentikan, Direktur!” Pevita mencoba mencari selah di tengah keduanya agar mereka memisahkan diri, hasilnya nihil.Raffa malah mengatakan secara provokatif ka

It's Okay That's Love (INDONESIA)   26. Merebut Wanita

“So, it's a date?” tanya Dave dengan manis.Kencan? Pevita mengedipkan mata, bingung dengan perkataan Dave. Pevita make sure pertanyaan yang dibuat oleh Direktur Dave adalah untuk wanita itu.Dave tertawa kecil, dia mengelak lalu menjelaskan jika Dave ingin mengajak Pevi

It's Okay That's Love (INDONESIA)   25. Kebahagiaan

Pagi, jam tujuh. Raffa bangun tidur. Nenek Choi berkata kepada Raffa, bahwa kamarin ayahnya bertemu Pevita di taman Havanna. Mendengar perkataan dari neneknya, Raffa berlari keluar rumah. Menghampiri ayahnya yang sedang duduk merawat tanaman.

It's Okay That's Love (INDONESIA)   24. Terungkap

Prang!! Pevita sadar apa yang telah Raffa lakukan kepadanya, menciumnya? Dia menjauhkan tubuh dari Raffa dan siap mengayunkan tinjunya, sementara Raffa otomatis menangkup kedua tangan, memohon ampun, mengatakan bahwa Ra

Higit pang Kabanata
I-download ang Libro
GoodNovel

Libreng I-download ang libro sa App

Download
Maghanap
Library
Maghanap
RomancefeiyHistoryUrbanMafiaSystemFantasyLGBTQ+arNoldMM Romancegenre22-菲语genre26-Pilipinoipinogenre27-请勿使用菲语genre28-Pilipinoipino
Maikling Kwento
KalangitanPagka-misteryo at panghihinalaMakabagong lungsodPag-survive sa katapusan ng mundoPelikulang aksyonPelikula ng agham-piksyonPelikulang romansaDugong na karahasanpag-asapangarapkaligayahanKapayapaanPagkakaibiganMatalinoMasayaMarahasMaamoMalakas红安Madugong pagpatayPagpatayKasaysayan ng digmaanPangarap na pakikipagsapalaranAgham-piksyonIstasyon ng tren
GumawaWriter BenefitCONTEST
Popular na Genre
RomancefeiyHistoryUrbanMafiaSystemFantasy
Makipag-Ugnayan
Tungkol sa AminHelp & SuggestionBusiness
Mapagkukunan
Download AppsWriter BenefitContent PolicyKeywordsMga Hot na PaghahanapMga Review ng AklatFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunidad
Facebook Group
Sundan Kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy