Download the book for free
6. Club Malam
Author: LusiaJika Pevita tidak mendapatkan tuntutan hutang karena dua penagih hutang sudah memaksa Pevita agar melunaskan hutang secepatnya. Hutang ayahnya seperti gunung membuat Pevita semakin kesal, sang ayah berhutang untuk berjudi. Astaga! Pevita tidak tahan dengan tagihan hutang dari sang ayah.
Pevita tidak tahu lagi harus mencari uang untuk melunasi hutang, dia benar-benar bingung. Tabungan tidak cukup untuk membayar hutang. Jadi terpaksa Pevita harus meminjam uang. Satu harapan dalam benak Pevita, dia harus meminta pinjaman kepada Direktur Raffa. Semoga saja Direktur Raffa berhati emas dan mempunyai rasa kasihan.
Apa? Rasa kasihan? Haha. Pevita tidak suka dirinya mendapatkan simpatik kasihan. Oke, demi melunaskan hutang secepatnya. Pevita harus membuang rasa gengsi dan malu. Jam istirahat para karyawan, Pevita memutuskan masuk ke ruangan Raffa. Padahal sejak tadi Pevita menunggu Raffa keluar dari ruangan, tetapi Raffa tidak keluar dari ruang kerja. Akhirnya dengan tekat dan penuh keberanian, Pevita masuk ke dalam ruang kerja Raffa.
Pevita mengetuk pintu dan Raffa menyuruh Pevita masuk. Pevita menjadi canggung ketika sudah berada di dalam ruang kerja Raffa. Tarik napas panjang, Pevita memberanikan diri berucap, “Maaf, Direktur. Aku membutuhkan gaji, hari ini.” Pevita meminta Raffa supaya memberi upah kerja bulanan sekarang.
Perkataan itu tiba-tiba terucap dari bibir sexynya, bukankah sejak tadi pagi Pevita sudah merencanakan meminjam uang? Bukan meminta upah kerja. Waduh, Pevita sepertinya salah berkata. Tak apa, meminta gaji bulanan lebih baik dari pada memimjam.
Raffa terbingung-bingung. Sekretarisnya meminta gaji? Bekerja belum satu minggu sudah menagih upah kerja? Raffa tertawa garing. “Gaji? Kamu baru bekerja satu minggu sudah meminta upah kerja. Tanggal gaji bulanan kamu masih lama, Pevita. Apa kamu bercanda?" Raffa tidak mengabulkan permintaan Pevita.
Pevita sedikit kecewa dengan jawaban Raffa, tetapi Pevita tidak ingin putus asa. “Iya, aku tahu. Tapi ....” Suara Vita pelan, dia menggigit bibir bawah dan tidak melanjutkan ucapan. Seperti tidak ada keberanian untuk mengatakan secara frontal.
Raffa menatap lurus ke arah Pevita yang berdiri terpaku di depan meja Raffa. “Tapi apa?” tanya Raffa. Raffa tahu, Pevita meminta gaji bulanan secepatnya, pasti ada sesuatu. Apa mungkin Pevita sedang membutuhkan uang secepatnya?
Pevita menarik napas lalu dihembuskan. “Aku sangat membutuhkan uang hari ini juga,” jawab Pevita, suara Pevita nyaris tidak terdengar di telinga Raffa.
Raffa mendengar perkataan Pevita meskipun suara Pevita lirih. “Untuk apa, Sekretaris Vita?” tanya Raffa lagi. Dia menyipitkan mata, berusaha untuk menyelidiki. “Bukankah sebelum kamu dipindahkan menjadi sekretarisku, kamu mendapatkan bonus gaji bukan?”
Pevita menggeleng kepala. Waktu dipindahkan dia tidak mendapatkan gaji terakhir. “Alasan pribadi, uang digunakan untuk apa. Direktur tidak perlu tahu alasanku. Yang jelas aku membutuh uang secepatnya.” Pevita tidak mengatakan alasannya, tidak ingin membuka dirinya.
Raffa terdiam beberapa menit, diamnya Raffa membuat Pevita menelan saliva dan berharap Raffa akan mengabulkan permintaan Pevita.
Raffa memutuskan secara langsung, “Tidak bisa. Jangan membawa masalah pribadimu ke kantor. Tunggu tanggal tiga puluh, upah kerja kamu akan keluar.”
Kaki Pevita melemas dalam sekejab, seakan tidak mampu lagi berdiri. Harapan Pevita telah dihempas jauh. Raffa tidak mengabulkan Pevita, mau bagaimana lagi? Apa Pevita harus mengemis-ngemis dan bersujud? Tidak.
****
Pevita tidak tahu harus bagaimana lagi. Bingung. Frustasi. Kepada siapa dia akan meminta pinjaman untuk melunasi hutang?
Di sini Pevita sekarang, di club malam di Jakarta. Sepulang kerja, Pevita langsung pergi menuju club malam. Suara dentuman musik terdengar memekak telinga. Banyak wanita mengobral tubuhnya dan para pria hidung belang sedang mencari mangsa. Dengan pakaian sexy dan celana maupun rok jauh di atas lutut, mereka meliuk-liukkan tubuhnya mengikuti alunan musik. Lampu berkelap kelip indah menjadi penerang cahaya kegelapan malam di ruangan tersebut.
Pevita duduk santai seorang diri di sofa panjang yang tersedia di sana, kedua mata melihat orang-orang sedang berjoget tidak jelas. Tubuhnya masih di club malam, tetapi pikiran Pevita melayang entah kemana. Memikirkan hutang yang belum sempat bisa dia bayar. Tadi siang, Pevita meminta gaji bulanan kepada Direktur Raffa, tetapi tidak mendapatkan dan tidak dikabulkan oleh Raffa.
Jadi, Pevita memutuskan untuk pergi ke club malam, untuk menjernihkan pikirannya.
Ini sudah ke sepuluh kali bagi Pevita menolak tawaran lelaki untuk meminum minuman keras dan mengajak Pevita berjoget. Jujur, kedatangan ke sini Pevita hanya ingin melupakan semua masalah hutang. Tetapi sudah satu jam duduk di sofa, tangan tidak bergerak untuk menyentuh minuman alkohol.
“Selamat malam, Nona. Mau menari denganku?”
Suara seseorang ditengah kebisingan mulai terdengar telinga Pevita. Lamunan Pevita buyar, matanya melirik, mengamati lelaki tua berjas hitam. Maksudnya, tidak terlalu tua melainkan seperti duda muda. Pevita bisa menebak, lelaki itu sama persis dengan pria hidung belang dan pasti membutuhkan jalang untuk menemani tidur malam ini.
Pevita tersenyum paksa. “Malam juga, Bapak ?” sapa Pevita tanpa ragu.
Lelaki itu tertawa kecil. “Bapak? Apakah wajahku terlihat tua? Aku masih muda,” jawabnya. “Jangan memanggilku seperti itu. Jahat sekali,” candanya.
Tanpa rasa bersalah, Pevita menjawab, “Oh, maaf.” Tetapi kenyataan memang benar, lelaki itu seperti sudah cukup berumur dan seperti om-om kaya raya.
“Maukah kamu menari denganku? Aku melihat kamu sejak tadi hanya duduk di sofa dan melamun.” Tangan besar itu mengajak Pevita untuk berjoget, senyuman nakal terukir di bibir tebalnya. “Kemarilah.”
Pevita sempat berpikir. “Tentu,” kata Pevita. Daripada duduk merenungkan hutang, Pevita akhirnya mulai bermain di club malam ini. Tangan mulus Pevita terulur bertanda menerima ajakan lelaki itu. Mereka berdua berjalan menuju ke tengah, dimana ada banyak kumpulan lelaki dan wanita sedang menggoyangkan tubuh sesuai irama musik. “Kamu sendirian di sini?" Maksud perkataan dari Pevita di sini adalah club.
“Yeah. Untuk melepaskan rasa jenuh," jawab lelaki itu.
Oh, ngomong-ngomong Pevita belum mengetahui nama lelaki itu. Pevita juga tidak merasa penasaran dengannya, jadi untuk apa mengetahui namanya?
Jangan salah mengira, Pevita menerima ajakan lelaki itu, hanya ingin bermain sebentar dengan lelaki itu dan sedikit memberi pelajaran jika menyentuh bagian tubuh tertentu. Liat saja jika lelaki itu dengan berani menyentuh tubuh Pevita, akan Pevita memukul.
“Kau sangat cantik, Nona,” bisiknya menggoda. Lelaki itu berdiri di belakang Pevita, tangannya memegang pinggul ramping Pevita. “Dan kau sangat sexy,” katanya dengan nakal. Pujian itu tidak mampu membuat Pevita melayang, malahan terdengar jijik di telinga.
Pevita tersenyum sinis. Tebaknya benar bukan? Mereka pasti akan menggoda dirinya. Pevita melirik lelaki itu dari ekor matanya, lelaki itu sepertinya harus mendapatkan pukulan darinya.
Lelaki itu mengendus-endus tubuh Pevita dan menyentuh kulit mulus Pevita. “Aku sangat menyukai harum parfummu,” katanya. Dia membisikan lagi sambil mengikuti gerakan Pevita berjoget. “Kamu memakai parfum apa?”
Pevita menggeleng kepala lalu menjawab, “Aku tidak pernah menggunakan parfum, itu bau jeruk dari sampo rambutku.”
Lelaki tersenyum senang. Pantas saja aroma Pevita sangat enak dengan bau jeruk. “Sure?” tanyanya menggoda Pevita.
Pevita mengangguk.
Di tengah malam dengan cahaya lampu bekelap kelip. Kedua mata Pevita melihat lelaki dan wanita berjoget setengah sadar, karena efek terlalu banyak meminum alkohol. Bahkan ada yang bercumbu mesra, berciuman penuh napsu tanpa ada rasa malu, lalu kedua pasangan itu berlanjut menaiki lantai atas—menyewa kamar.
Perut Pevita seketika mual, setelah melihat adegan mesum yang tidak pantas dilakukan di depan publik seperti ini. Tetapi wajar bagi mereka. Di sini adalah club malam.
“Menjijikkan!” komentar Pevita lirih sambil memegang perut bawahnya, mual.
“Kamu kenapa? Kenapa perut kamu mual?” tanya lelaki itu. Tangannya membalikkan tubuh Pevita agar menghadapnya. “Muka kamu terlihat pucat, kamu sakit?” tanyanya lagi, khawatir.
Pevita menjawab dengan menggeleng kepala.
“Really, are you ok?”
Pevita menganggukkan kepala lagi.
Meskipun sedikit ragu dengan jawaban Pevita, lelaki tetap percaya dengan Pevita. “Oh ya, nama aku Arlansah,” ucapnya memperkenalkan diri. “Panggil saja Arlan. Kalau nama kamu siapa?” Arlan bertanya nama Pevita.
“Huh. Sejak tadi kenapa tidak bertanya? Kenapa baru sekarang memberi tahu namanya. Ah, tapi tidak penting juga,” kata Pevita dalam hati.
“Pevita.” Pevita memberitahu namanya kepada lelaki itu.
Arlan tersenyum manis. “Nama yang bagus, cocok untukmu,” tanggap Arlan. “Mau minum?” Arlan menawarkan Pevita alkohol. Sejak tadi mereka hanya berjoget mengikuti alunan musik tanpa meminum segelas alkohol.
Belum menjawab dan tanpa persetujuan dari Pevita, Arlan sudah pergi menuju stand minuman beralkohol lalu membawa dua gelas. Arlan menelan ludah, terkagum dengan lekukan tubuh Pevita yang menggoda hasrat dan bikin horny. Matanya tanpa berkedip melihat pemandangan dua gundukan besar terbungkus blazer.
Arlan mendekati Pevita dan berjoget kembali. “Kadar alkohol rendah, tidak akan membuat kamu sangat pusing hingga mabuk, hanya saja sedikit pusing,” kata Arlan. Mata Arlan memberi kode agar Pevita menerima minuman itu. “Aku tahu kamu haus, Pevita.”
Pevita berusaha untuk mengacuhkan tawaran minuman itu, tetapi tangannya bereaksi dan otak menyuruh Pevita agar menerima meminum tersebut. Di sisi lain, Pevita sejak tadi menahan dahaga.
“Terima kasih.”
Menit setiap menit berlalu. Pevita masih berjoget sexy bersama Arlan, mengikuti suara musik. Sedikit demi sedikit minuman itu hampir tandas, ada sedikit sisa cairan dalam gelas. Kepala Pevita semakin berat, pusing dan mata berkunang-kunang.
Sialan!
Pevita tidak tahu jenis minuman alkohol apa. Rasanya berbeda dengan minuman yang sering Pevita minum. Pasalnya Pevita jarang sekali mencoba berbagai minuman alkohol, dia hanya menyukai vodka. Minuman keras (arak) Rusia.
“Kamu membuat aku terangsang, Pevita. " Arlan menggoda Pevita membuat Pevita berhenti berjoget. Arlan semakin berani menyentuh kulit Pevita dengan lama. “Mau bermain lebih denganku?” Dia mengerlingkan mata.
Pevita memandang wajah Arlan saksama. Wanita itu tahu maksud dari Arlan memberi minuman alkohol, tidak lain Arlan menginginkan sesuatu yaitu bermain di atas ranjang. Haha. Jebakan apa ini? Pevita membayangkan saja sudah membuatnya merasa jijik. Apalagi melakukan?
Lalaki bagi Pevita sama saja hanya mencari kepuasan, termasuk Alex, pacarnya. Eh, jadi ingat Alex. Alex sudah satu minggu tidak ada kabar. Ah. Sudahlah. Pevita tidak peduli lagi dengan Alex.
Arlan mengambil alih gelas dari tangan Pevita, namun ditahan oleh Pevita. Akhirnya hanya gelas Arlan yang diletakan ke meja. “Sejak tadi aku ingin menyentuh kulitmu yang mulus. Karena Kulitmu halus, mulus dan wangi.” Arlan mengendus leher Pevita dan hendak mendaratkan kecupan di leher.
Kedua tangan Arlan mulai berani menyentuh nakal payudara Pevita, rasanya gatal tidak tertahan awal melihat Pevita—ingin sekali menyentuh area tersebut. Benar-benar lelaki mesum.
Bukan menikmati sentuhan dari Arlan, Pevita langsung menepis kasar kedua tangan itu. Tidak ada emosi dalam diri Pevita, hanya saja rasa jijik yang semakin menjijikkan.
"Kenapa? Bukankah kamu menyukai sentuhan?" tanya Arlan heran dengan penolakan kasar dari Pevita.
“Kau bilang menyukai sentuhan?” Pevita tertawa sambil tersenyum sinis. Lalu Pevita menampar keras pipi kiri Arlan. “Rasakan. Ini balasan buat kamu, karena berani menyentuh tubuhku!” Tamparan kedua mendarat pipi kanan Arlan. “Tamparan ini kedua buat kamu supaya tidak menganggap wanita di sini menjadi jalang! Paham?"
Arlan terdiam, sadar dengan respon lancang dan penolakan kasar dari Pevita. Wanita itu benar-benar berani menampar kedua pipi Arlan tanpa ampun.
Byurr!
Pevita menumpahkan sisa air alkohol tepat di muka Arlan. “Mampus! Ini sebagai salam perkenalan dariku, Aku ... Pevita Grizelda!”
Setelah puas dengan permainan kecil, Pevita meraih tas miliknya yang berada di sofa dan kaki panjangnya berjalan cepat keluar dari bar dengan perasaan jijik tertahan. Pevita keluar dari bar dan mengelus leher yang terasa kotor. Tanpa rasa bersalah Pevita keluar dari bar, menjauhi tempat itu secepat mungkin.
“BERHENTI, HEI! WANITA JALANG!”
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
It's Okay That's Love (INDONESIA) 45. Mengajarkan Rasa Malu
Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr
It's Okay That's Love (INDONESIA) 44. Penerus Perusahaan
Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D
It's Okay That's Love (INDONESIA) 43. Merencanakan Sesuatu
Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.
It's Okay That's Love (INDONESIA) 42. Epiphany
Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P
It's Okay That's Love (INDONESIA) 41. Ancaman
Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora
It's Okay That's Love (INDONESIA) 40. Ungkapan Hati
Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj
It's Okay That's Love (INDONESIA) 23. Panic Disorder
Tatapan mata yang biasanya tajam dan tegas berubah menjadi lemah dan nanar. Bahkan Presdir Satya menangis dipelukan Nenek Choi, air matanya membasahi pipinya. Betapa bodohnya, ketika Raffa mempunyai gangguan kecemasan, namun Presdir Satya tidak sadar.
It's Okay That's Love (INDONESIA) 22. Kecemasan
Hari ini, Pevita ingin meminta maaf secara langsung kepada Presdir Satya. Pevita tidak peduli jika sekretaris Haris melarangnya untuk bertemu dengan boss besar. Pevita tidak akan kabur dari kesalahannya, saham perusahaan menurun karena Pevita. Kejadian di club malam bersama Raffa, menga
It's Okay That's Love (INDONESIA) 21. Masalah
Keesok paginya, Pevita menaiki bus, berdesak-desakan. Sebelum pergi ke kantor, Pevita pergi ke rumah Raffa. Tidak mempunyai uang banyak, uang Pevita semakin menepis membuat Pevita harus hidup hemat, jadi dia harus menaiki bus, lebih murah, dari pada menaiki taxi.
It's Okay That's Love (INDONESIA) 20. Di Pecat
Raffa pulang ke rumah setelah bekerja di kantor, amarahnya telah mereda dan hilang. Baru pertama kali ini merasa sangat kesal kepada sekretaris. Masalah setiap kali Raffa hadapi adalah dipaksa sekretarisnya untuk menghadari rapat dan presentasi. Tapi? Sejak Pevita men
