Download the book for free
5. Likuid Gamet
Author: LusiaPevita masih tidak percaya yang telah terjadi, kenyataan bahwa Raffa adalah boss baru dan sebelumnya pernah bertemu. Tiga bulan yang lalu? Satu tahun lalu? Apa mungkin Pevita akan bernostalgia? Kenangan cukup melekat di memory otaknya, yaitu insiden pertama kali dan kedua kali. Seakan takdir mempertemukan mereka berdua dengan tidak terduga.
Begitu juga dengan Raffa, lelaki itu tidak habis pikir akan bertemu lagi dengan wanita yang pernah mengatakan dirinya brengsek, hanya karena Raffa mengusir dan menyuruh Pevita turun dari mobil. Di insiden itulah Pevita memberi salam untuk Raffa.
Setelah pulang bekerja, sore menjelang malam. Pevita melepaskan kekesalan kepada sahabatnya, bernama Serly. Ini adalah hari pertama resmi menjadi sekretaris Direktur Raffa dan hari pertama Pevita bekerja sebagai tangan kanan Boss. Pevita merasa lelah dan letih. Otaknya terasa sudah mengepulkan asap panas. Serly, sahabat Pevita mulai menghibur, hiburan itu bermaksud sekedar melepaskan penat.
Huh. Pevita menghela napas kasar dan panjang.
“Aku sama sekali tidak percaya. Itu serius? Atau aku hanya sedang bermimpi?” gumam Pevita geleng-geleng kepala. Terlalu terjadi begitu saja.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Serly bingung, sejak tadi Pevita berbicara sendiri dan bergumam tidak jelas.
“Tidak!” Pevita menggunakan cepat. Dia bahkan mengabaikan Serly yang sedari tadi menghibur Pevita dan Pevita asik dengan dunianya sendiri.
Apalagi saat Raffa mengingat kenangan dua bulan lalu dan satu tahun lalu. Astaga, rasanya Pevita ingin mati saja mendengar pengakuan Raffa yang berniat akan membalas dendam. Dendam? Ah, apa mungkin Raffa serius ingin membalas dendam?
Pevita mendesah frustasi untuk kedua kali, kedua netra cantik melihat rekening tabungan semakin menipis. Sekarang hanya mempunyai uang lima puluh ribu, sementara tagihan kartu kredit sebesar sepuluh juta lebih. Belum lagi Pevita harus melunasi hutang ayahnya, kalau ditotal hutang Pevita sebesar gunung.
Kenyamanan dua wanita itu terusik mendengar suara dobrakan keras pagar besi di halaman rumah kos. Ada apa? Kenapa berisik sekali di luar. Pevita langsung turun dari tempat tidur dan bergegas keluar, disusul oleh Serly dari belakang.
“Ayah?” beo Pevita ketika melihat ayahnya sedang berhadapan dengan dua lelaki bertubuh besar. Di luar sana Ayah Pevita sedang dipukuli oleh dua lelaki yang tidak lain adalah para penagih utang. “A-ayah kenapa di sini?” tanya Pevita kepada ayahnya yang dipukili dua lelaki.
“Tolong, ayah!” Ayah Pevita meminta pertolongan.
“Berhenti! Aku mohon jangan pukul ayahku!” Pevita berteriak histeris. Pevita tidak tega melihat sang ayah dipukul sampai berdarah-darah. “Hentikan! Jangan pukul lagi.” Pevita langsung berlari lalu memeluk ayah, melindungi.
Salah satu penagihan hutang menoleh ke sumber suara, sorot mata elang menatap ke Pevita membuat Pevita bergidik ngeri, namun dengan keberanin membalas tatapan itu.
“Aku mohon, jangan pukul ayahku lagi!”
Senyuman miring terbit. “Kalau begitu lunasi hutang kalian secepatnya!” bentak lelaki itu geram.
“Ya, pasti. Aku akan melunaskan. Tolong beri aku waktu satu hari. Lusa aku akan melunaskan hutang semuanya!” jawab Pevita tegas dan memberi kepercayaan kepada penagih hutang.
Mungkin mengucapkan kalimat itu terasa ringan, tetapi bagi Pevita tidak mudah. Apalagi belum pasti akan membayar hutang dengan cepat. Astaga! Pevita tidak mempunyai uang banyak. Bagaimana mungkin akan melunaskan hutang dalam waktu cepat?
Ayah Pevita memandang Pevita tidak percaya dari jarak jauh. “Hey! Apa yang kamu katakan? Kamu tidak mempunyai uang banyak, kenapa membuat janji dengan penagih hutang.”
Pevita tahu maksud dari Ayahnya, lalu Pevita berkata, “Diam, Ayah. Biarkan aku yang akan mengurus dan melunaskan hutang ayah semuanya,” tegas Pevita cepat.
Dua lelaki penagih hutang itu saling memandang satu sama lain. “Kami tidak percaya!” kata lelaki itu menatap Pevita dengan ragu, seakan tidak mempercayai Pevita “Bagaimana bisa kamu langsung percaya kepadamu?” tanyanya sarkasme.
“Aku janji.” Pevita kembali menyakinkan dan berjanji. “Aku akan membayar hutang ayahku, tolong beri aku waktu untuk melunaskan hutangnya.” Pevita memohon-mohon pada kedua lelaki penagih hutang itu.
Salah satu penagih hutang berpikir, menimang ucapan Pevita. “Baiklah, kami memberi waktu untuk kamu. Tetapi ingat kalau tidak melunaskan. Rumah ayah kamu akan kami sita,” ujar lelaki satunya lagi, nada suara mengancam.
“Terimakasih,” ucap Pevita. Ada perasaan lega menelusup hatinya.
Serly merasa iba melihat sahabatnya hidup terlilit hutang banyak, sampai ada yang menagih hutang dengan cara memaksa untuk membayar dan melakukan kekerasan. Untunglah, Pevita dan Ayahnya sedikit lega dan bebas ketika dua penagih hutang telah pergi.
“Ayah!” Pevita marah. "Kenapa ayah meminjam uang terus kepada mereka?!” tanya Pevita marah dan kesal. Siapa yang tidak kesal? Di kota ini Pevita bekerja banting tulang, sedangkan ayahnya sering meminjam uang dan berhutang.
“Kamu belum mengirim uang untuk ayah. Bagaimana ayah bisa makan. Jadi, ayah terpaksa meminta uang lagi,” jawab Ayah Pevita tanpa dosa.
Pevita meringis kesal mendengar jawaban dari ayah yang terdengar tidak berdosa. “Apa uang yang Vita kirim selama ini tidak cukup? Masih kurang? Kurang banyak, ayah?!” Pevita meninggikan suara.
“Ayah membutuhkan uang untuk makan dan—”
“Iya, bukan untuk makan saja. Tetapi untuk berjudi, bukan?!” Pevita memotong perkataan Ayah, wanita itu menahan emosi yang semakin berkobar. “Kenapa ayah berjudi terus-terusan!" Pevita tidak terima kalau ayahnya bermain judi.
“Kalau ayah menang berjudi akan menjadi kaya.” Ayahnya mengatakan itu tanpa beban.
“Tidak ada yang kaya karena berjudi, ayah!” teriak Pevita gemas. Kesabaran telah melewati batas. “Sudah. Vita peringatkan, ayah jangan berjudi lagi!”
Ayah Pevita tidak menggubris peringatan itu, dia meringis sakit ketika menyentuh luka di area sudut bibir. “Sudahlah, ayah pulang. Berikan ayah uang untuk membayar taxi,” tadah ayah Pevita dengan santai. Ayah Pevita tidak mau mendengarkan cerahaman dari Pevita.
Pevita menghela napas kasar. Kenapa ayahnya selalu bersikap seperti itu? Ingin marah dan membentak, takut menjadi anak durhaka. Akhirnya Pevita memaklumi bahwa sikap ayahnya semakin tergila-gila dunia perjudian. Wanita itu mulai mengambil dompet lipat di kantong celana dan mengeluarkan satu lembar uang.
Pevita memberikan lembaran berharga itu ke tangan sang ayah yang sudah siap untuk menerima. “Ayah harus hidup hemat,” pesan Pevita. “Baik-baik di rumah.” Pevita sedikit misuh-misuh.
“Oke, anak ayah yang cantik!”
****
“Aku emang jahat,” jawab seseorang santai. “Karena aku cinta sama kamu, jadi aku melakukan ini. Mengerti?”
“Bukan begini caranya!”
Lelaki itu diam, tidak peduli.
Kenzi, nama lelaki itu. Ya, Kenzi, dia tertawa jahat. Dipandangi gadis itu lalu dirampas bantal yang digunakan oleh Gita untuk menutupi tubuh tanpa sehelai benang lalu diremas payudara yang mungil.
“Wow. Kecil sekali payudara kamu. Tetapi gue suka, imut,” komentar Kenzi, mengejek.
“Lepas! Kemari bantalnya!” perintah Gita merengek. Gadis itu berusaha mati-matian agar tidak mengeluarkan desahan laknat. Namun sial, dia tidak bisa abai pada desir-desir yang mengeroyok dari dalam sepanjang sentuhan. “Kamu benar-benar jahat sama aku!"
Kenzi tersenyum sinis. “Makanya jangan bodoh kalau jadi cewek. Diajak kemana saja mau. Salah sendiri kenapa mau ketika aku mengajak ke kamar," kata Kenzi tanpa rasa berdosa sedikit pun, sambil meremas dua payudara mungil si gadis dan sesekali memainkan.
“Aku mohon, jangan, Kenzi. Aku mohon. Hentikanlah.”
Desahan Gita terlepas mengudara, lagi. Satu tangan membekap mulut supaya menghentikan kalimat desahan nikmat. Wanita berusaha mengubah posisinya dan menepis kasar tangan Kenzi, tapi usaha sia-sia. Tenaga milik Gita tidak sebanding dengan Kenzi yang mempunyai tubuh kekar dan kuat.
“Aku mohon ... jangan, Kenz. Lepaskan aku, biarkan aku pergi." Gita memohon.
“Pergi? Ha-ha-ha. Tidak semudah itu. Puasin aku dulu.”
Lelaki licik. Sialan Kenzi!
“Kamu apa, Kenzi? Menginginkan sesuatu? Aku akan mengabulkan semua, apa masih kurang sampai ingin merusak masa depan aku?”
Gita kian terisak kembali. Menangis.
“Apa?!” tanya Kenzi pura-pura tidak mendengar ucapan Gita. “Jelas masih kurang. Cuma pakai tangan mana bisa buat aku puas. Kamu sekarang sudah jadi bitch! Kamu tahukan bitch itu apa? Kamu itu jalang pribadi."
Gadis itu terisak lagi bertambah keras dan menyingkirkan tangan si laki-laki dari gundukan kenyal, menangis. “Kamu ... jahat, Ken! Aku tidak nyangka kamu berbuat begini kepada aku,” racaunya. “Tidak punya hati!”
Kenzi mendengus, sama sekali tidak peduli. “Kamu sudah menjadi budak seks aku sekarang. Layanin aku!” delik Kenzi membuat Gita takut dan berhenti terisak.
Kenzi menarik tangan Gita dan memposisikannya dengan paksa. Dilebarkannya kaki Gita dan menggesekkan milik Kenzi ke area sensitif gadis itu.
Gita terus menghindari, tubuhnya bergerak tak keruan. Kenzi tidak peduli lagi, semaikin Gita menolak, semakin juga Kenzi bersikap kasar. Di mencekal tangan Gita keras-keras.
“Kenzi! Jangan ...,” rintih Gita pelan. “Aku mohon jangan.” Sorot mata Gita memohon.
Kenzi mengacuhkan Gita. Ditindihnya tubuh Gita lalu mencintai bibir sang gadis dengan serakah, sementara miliknya berusaha menerobos liang kenikmatan milik Gita yang masih sempit.
Dengan penuh kesabaran, Kenzi terus menekan miliknya tak peduli dengan Gita berteriak kesakitan. Hingga Gita tidak punya tenaga satu pun. Dia pasrah. Butiran air mata lolos begitu saja dengan deras, tangisan kesakitan dan memilukan menghiasi ruang kamar. Sampai benar-benar menyatu, Kenzi mulai dengan permainan yang dia tunggu-tunggu selama ini.
Kenzi memajukan badannya mundur maju dengan tempo sedang, sambil menciumi bibir Gita tanpa ada kasih sayang, melainkan rasa nafsu yang bergolak semata. Pinggulnya bergerak maju-mundur berkala, hal itu lama-lama semakin kuat dan cepat.
Hingga Kenzi menembakkan likuid gamet ke rahim Gita.
****
Sial! Pevita selalu bangun siang. Sudah ke berapa kali dia berangkat ke kontor terlambat? Kalau dihitung sudah puluhan kali, sebelum Pevita bekerja di perusahaan Andromeda Company, dia memang mempunyai hobi terlambat bekerja. Bangun kesiangan menjadi sering terburu-buru. Hal itu membuat Pevita selalu mendapatkan teguran dari senior.
Yap! Sudah bisa dipastikan hari ini Pevita akan mendapatkan teguran karena telat.
Dengan kekuatan super, Pevita berlari ke kantor perusahaan dan langsung menuju ke kantor Direktur yang baru, menjadi sekretaris baru. Di sinilah Pevita berada, di depan lift yang tadi mengantarkan Pevita ke ruangan divisi sekretaris. Kedatangan Pevita di sambut wanita bermake up tebal, ke dua tangan berkacak pinggang, memandang Pevita garang dan tanpa berkedip.
Pevita menelan ludahnya sendiri, kikuk. Dia menggaruk-garuk rambutnya ketika seorang wanita berada dihadapannya. "Maaf, Bu. Saya terlambat," tutur Pevita lirih, mengucapkan kata maaf karena telah terlambat berangkat kerja.
"Ya. Kamu memang sudah terlambat," ketusnya. Sorot matanya mulai melembut dan melembut tetapi ada niat tersembunyi dibalik sorot mata lembut itu. Kedua tangan yang tadinya di pinggang kini berpindah tempat, di telinga Pevita.
"Ibu mau apa? S-saya tadi, 'kan sudah minta maaf." Pevita berusaha melepaskan tangan itu dari telinganya.
"Kamu bilang, mau apa?" Wanita bermake up tebal bertanya balik dengan nada nyalang. "Mau menghukum kamu," lanjutnya.
Mata Pevita melebar, dengan cepat berusaha melepaskan tangan itu dari daun telinga. Namun usaha Pevita kalah cepat, tangan itu sudah mulai melintir dan menjewer daun telinga Pevita. Dengan satu kaki kanan ke atas, dan telinga dipelintir dengan kuat. Pevita mengerang kesakitan.
"Akhh! Sakit, Bu!" adu Pevita sambil meringis.
Ini juga salah Pevita karena sering terlambat ke kantor. Entah saat Pevita bekerja di bagian fashion atau saat menjadi sekretaris Direktur Raffa, dia terlambat lagi.
"Sakit, 'kan?" Wanita itu semakin menjewer telinga Pevita tanpa ampun. "Ini hubungan dari Saya karena kamu sudah terlambat beberapa kali," tegasnya.
"T-tolong lepasin... rumah saya jauh, Bu." Rumahnya lumayan jauh, naik bus sekitar tiga puluh menit perjalanan, belum lagi sedang dilanda kemacetan lalu lintas. Jadi itu bisa dimengerti.
"Ibu tidak peduli rumah kamu jauh atau tidak!" balas Erlin. "Pevita! Pevita, sudah berapa kali kamu telat. Kamu seperti anak kecil yang tidak tahu bagaimana cara datang pagi, bossmu masih membelamu. Pergi kerja, datang masih terlambat. Kamu mengira ini kantor nenekmu, hah?! Kamu sekarang sekretaris Direktur Raffa. Kamu seharusnya datang lebih awal dari bosmu yang pemalas itu. Sekretaris dan boss sama sama pemalas! " Erlin berkata dengan suara tajam dan nyaring, menggelegar.
Iya, namanya Erlin. Dia adalah kepala divisi sekretaris, serta sekretaris senior paling tua. Usia? Empat puluh tahun. Tidak butuh waktu lama untuk memahami karakter seseorang. Pevita sudah paham kalau Pevita mengerti karakter Erlin.
Wanita itu tidak lebih dari sederet wanita jalang yang hobinya memarahi orang karena melakukan kesalahan meski mereka hanya melakukan sedikit kesalahan.
"Lepaskan, Bu... Sakit ---" Pevita meringis lagi dengan kesakitan saat dia mencoba melepaskan tangan Erlin dari daun telinganya. "Saya janji, saya akan berangkat pagi-pagi dan besok tiba, tidak terlambat," kata Pevita meyakinkan.
Dengan wajah galak, Erlin menatap tajam ke arah Pevita. Matanya berkilau. "Aku tidak butuh janji manis," kata Erlin galak. Tangan Erlin terlepas dari telinga Pevita dengan keras, tanpa ampun.
Pevita menahan sakit daun telinga. Tahukah kalian? Telinga Pevita menjadi merah. "Sakit ---" keluh Pevita kesakitan. Benar-benar berani menjewer telinga karyawan dengan tanpa ampun? Apakah Erlin selalu bersikap demikian dengan karyawan lainnya?
Erlin tidak peduli. Mata Erlin tampak membesar karena menggunakan soft lens berwarna hitam. Dia melirik tubuh Pevita dari atas hingga bawah. "Kamu ingin bekerja atau ingin menjadi wanita jalang?" Erlin dengan sinis. Ucapannya sangat pedas seperti cabai.
Sejujurnya, kata-kata Erlin sedikit menyakitkan hati Pevita. Bagi Pevita, berpakaian seksi bukanlah masalah asalkan bisa menjaga dirinya sendiri. Ini adalah kehidupan. Toh, aturan di kantor tidak melarang penggunaan pakaian seksi. Oke, Pevita mengaku. Pakaian seksi Pevita terlalu berlebihan.
Pevita mengelus telinga yang telah memerah. "Ini sudah menjadi fashion style saya Bu," ucap Pevita dengan santai dan jujur. Wajar saja, sebelum dipindahkan. Pevita adalah model di departemen fashion.
"Ternyata itu pintar menjawabmu, Vita. Sudah terlambat bekerja, banyak alasan."
Dengan ekspresi memohon, Pevita menjawab, "Besok saya berjanji tidak akan terlambat lagi. Bu, jangan marah ya. Nanti cepat tua, umur Ibu tidak akan lama, haha." Pevita mengejek.
"Kamu ini. Dengarkan Pevita! Wajahmu yang memelasmu tidak akan mempengaruhi aku!"
Pevita harus ekstra sabar menghadapi neraka Erlin.
"Tapi, Bu sudah kubilang apa itu dan jujur. Bu Erlin tidak terus menerus mencari-cari kesalahanku, apakah tidak bisa dimaafkan?"
"Ti---" Erlin tidak lagi melanjutkan ucapannya.
"Apakah ada masalah? Pevita, Bu Erlin?
Ah, akhirnya pangeran yang terjebak di lift datang menjadi penyelamat. Dave Ascarya, pria itu adalah direktur pemegang saham termuda dan memindahkan Pevita menjadi sekretaris. Menurut Pevita, sutradara Dave lebih ramah dan santun dibanding sutradara Raffa. Belakangan ini Dave sering menyapa Pevita setiap melewati meja Pevita.
"Tidak ada, Direktur Dave. Ini hanya memberikan hukuman yang ringan bagi karyawan yang sering datang terlambat," balas Erlin dengan sikap manis. "Jadi, Direktur Dave tidak perlu khawatir."
"Tapi tidak perlu berlebihan. Dia sekretaris baru di sini, tolong bimbing dia," kata Dave. Tatapan beralih ke Pevita. Dia tersenyum hangat. Ah! SIAL! Detak jantung Pevita! Senyum Dave begitu manis, seperti kue yang manis. "Untuk hari ini, aku memaafkan. Besok jangan telat lagi, ya."
Pevita tersenyum canggung. "Oke. Direktur."
"Oh, ya. Saya ingin bertanya. Mengapa Direktur Dave memindahkan Pevita ke sini? Bukankah banyak orang yang kualitasnya lebih tinggi. Adakah alasannya?"
Pevita kesal sampai mati atas sindiran Erlin.
Dave terkekeh geli. "Tidak ada. Hanya saja dia berbeda dari sekretaris lainnya, dan bonusnya Pevita itu manis, bukan?"
Pevita membelalak matanya. Dia tersentak terkejut mendengar Dave mengatakan Pevita manis?
"Hah ?!" Pevita tercengang dan tidak percaya apa yang dikatakan Dave. Manis????
***
Raffa telah menerima Pevita menjadi sekretarisnya, Raffa menerima Pevita dengan sangat berat hati. Jangan khawatir, Raffa sudah merencanakan sesuatu. Hari ini dia mulai memberi tugas kepada Pevita. Tugas yang banyak dan berat. Raffa yakin, Pevita tidak akan kuat bekerja menjadi sekretarisnya karena Raffa memberi tugas yang sulit untuk dilaksanakan dan shalat menuntut pekerjaan.
Raffa memberikan tugas tersebut kepada Pevita. Dia berkata panjang lebar, tanpa mengulang sepatah kata pun. "Pevita, mulai sekarang kamu akan menjadi sekretaris Vita. Panggilan khusus untukmu, Vita, oke! Dan, jangan panggil aku Pak," jelas Raffa.
"Ya?" Pevita bingung. "Lalu aku harus memanggilmu siapa?" Pevita sedikit mengangkat kepalanya, menatap lurus ke wajah Raffa yang terlihat malas-malasan. "Tuan? Bapak? Boss?" tebak Pevita.
Raffa menggeleng. "Bukan! Tetapi panggil aku, Direktur Raffa." Raffa mulai berdiri dari duduk dan mengelilingi ruangan bercat putih, menekankan bahwa dia tidak suka menelepon seseorang tetapi tidak pernah mengangkatnya. "Angkat telepon dari saya dalam sepuluh detik, dan telepon lain yang tidak saya suka telepon tetapi operator wanita itu yang menjawab. Mengerti?"
Pevita mengangguk mengerti.
Raffa mengacungkan jempol. "Good Girl."
"Dan ruangan ini harus dijaga kesegarannya. Tetap perlu berbau harum. Ruangan ini perlu dibersihkan setiap hari. Bisakah Anda membersihkannya sendiri?" Semoga rencana ini berhasil. Raffa menyuruh Pevita untuk membersihkan ruangannya setiap hari dan banyak sekali perintah serta larangan yang tidak masuk bagi Pevita.
Itu konyol. Membersihkan ruangan bukan pekerjaan Pevita dan mencuci cangkir atau membuat minuman juga bukan tugasnya tetapi tugas seorang OB atau pelayan kantor
"Ya, Direktur." Sedetik kemudian, Pevita menyadari ucapan Direktur Raffa. Membersihkan ruangan dengan bekerja bukan tugas pelayan kantor? Pevita mengerutkan kening. "Maksud Direktur?"
Raffa berbalik badan menghadap Pevita dengan ekspresi datar. "Saya tidak akan mengulangi kata-kata saya, Sekretaris Vita," tegas Raffa.
Seharusnya sejak tadi Pevita menajamkan indra pendengarannya. Jadi tidak perlu meminta Raffa untuk mengulangi kata-kata yang barusan terucap dari bibir. "BAIK." Pevita akhirnya menyerah.
"Terakhir, kamu harus membuat kopi sesuai pesanan saya. Jika rasa tidak enak, saya akan beri kesempatan untuk membuat satu lagi dalam dua menit." Raffa menyodorkan sesuatu kepada Pevita. "Dan, buku ini berisi larangan. Hal-hal yang tidak boleh Anda lakukan."
Larangan? Pevita mengeryit kening bingung.
****
Siangnya Raffa menghadiri rapat di perusahaan ayahnya dengan malas. Hal pertama yang dibenci Raffa adalah pertemuan. Kedua, presentasi di depan banyak orang penting, dan ketiga harus menjelaskan hasil laporan. Raffa tidak bisa melakukan itu dengan lancar.
Lelaki tersebut tidak serius mendengarkan presentasi yang di bawahkan oleh Dave yang sedang berpresentasi, berjalan dengan sempurna. Raffa asik mencoret-coret di atas kertas. Sang ayah, Direktur Utama Satya, semakin marah atas ulah Raffa.
Usai mendapat kesempatan mengutarakan pendapat masing-masing, Direktur Utama Satya meminta Raffa mengutarakan pendapatnya. Lelaki berjiwa pemimpin itu bertanya kepada anaknya sendiri dan dijawab santai oleh Raffa.
"Menurut saya, ini sempurna. Ide yang menarik."
Jawaban Raffa membuat semua orang yang hadir dalam pertemuan itu menggelengkan kepala. Termasuk Direktur Utama Satya. "Anak tengik!" Direktur Satya menahan amarahnya pada Raffa.
****
Seorang wanita menjadi bodoh jika dia telah dibutakan oleh cinta. Meskipun Anda telah disakiti, dibohongi, ditipu, dan segala macam. Tetap bertahan? Alasan satu, cinta. Dia mencintai seseorang dengan sepenuh hati. Bukankah begitu?
"Aku telah dirusak oleh Kenzi. Aku tidak bisa melepaskannya dengan mudah."
"Dia sudah mengeluarkan sperma di dalamnya. Harus bertanggung jawab jika aku hamil."
"Dia mencintaiku, 'kan. Buktinya sering menciumku. Tidak ada cara untuk dia pergi."
Nama gadis itu adalah Gita. Sebenarnya tanpa sepengetahuannya, Kenzi hanya ingin menikmati tubuh Gita. Bukan karena cinta atau kasih sayang. Bodoh, Gita memang bodoh. Dia mengaku sangat menyesal. Tapi nasi sudah berubah jadi bubur, kini yang ditakutkan Gita adalah hamil di luar nikah.
Sementara itu, masalah lain dari wanita bernama Pevita Grizelda, wanita yang seksi tetapi memiliki fobia seks? Tetapi tidak pernah sembuh dari phobia sexnya.
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
It's Okay That's Love (INDONESIA) 45. Mengajarkan Rasa Malu
Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr
It's Okay That's Love (INDONESIA) 44. Penerus Perusahaan
Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D
It's Okay That's Love (INDONESIA) 43. Merencanakan Sesuatu
Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.
It's Okay That's Love (INDONESIA) 42. Epiphany
Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P
It's Okay That's Love (INDONESIA) 41. Ancaman
Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora
It's Okay That's Love (INDONESIA) 40. Ungkapan Hati
Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj
It's Okay That's Love (INDONESIA) 19. Rumor
Pevita berdiri di depan toilet, menunggu Raffa keluar dari toilet. 'Apakah Direktur tidak apa-apa?" tanya Pevita khawatir, nada suara gemetar.Raffa tidak menjawab. Dia baru saja keluar dari toilet setelah mengganti celana, celana tadi basah karena air teh yang tumpah.
It's Okay That's Love (INDONESIA) 18. Telat
Telat ke kantor lagi.Pevita dan Raffa berangkat bersama ke kantor, menaiki taxi. Di dalam taxi, Raffa dan Pevita tidur sampai supir taxi membangunkan mereka. Karena sudah sampai di halaman kantor yang luas.Raffa susah sekali untuk bangun, akhirnya Pev
It's Okay That's Love (INDONESIA) 17. Hari Berhujan
Sudah satu jam di dalam mobil, mengendarai tanpa arah. Ada satu alamat di otak Raffa. Ya, rumah sekretaris Pevita. Raffa datang ke rumah Pevita untuk meminjam uang. Malam ini,
It's Okay That's Love (INDONESIA) 16. Diusir
Selesai bekerja di kantor, para karyawan dan Direktur pulang ke rumah. Raffa sudah malas untuk berada di kantor sampai larut malam. Akhirnya, pekerjaan selesai.Raffa pulang ke rumahnya setelah mengantar Pevita pulang. Raffa baru sadar, sebelumnya dia tidak pernah menga
