loading
Home/ All /It's Okay That's Love (INDONESIA)/4. Kilas Balik

4. Kilas Balik

Author: Lusia
"publish date: " 2020-08-05 12:47:22

DIA?!!!

Kedua netra Pevita masih membelalak terkejut, menatap tidak percaya dengan apa yang dia liat sekarang. Hampir saja Pevita memekik, untungnya dua telapak tangan siap membekap mulut. Pevita berharap cemas, dalam hati berdoa. Somoga boss barunya tidak mengingat kejadian tiga bulan lalu. Bola mata Pevita berputar ke atas, menandakan sedang berpikir. 

Sebentar .... Bukankah sebelum kejadian tiga bulan lalu, Pevita pernah bertemu dengan Raffa? Pevita tidak ingat jelas, tetapi dia sangat yakin bernah bertemu dengan Raffa pertama kali. Ah, Pevita merasa deja vu.

Ingatan Pevita melayang, ketika satu tahun lalu. Dimana waktu itu Pevita sulit sekali mendapatkan pekerjaan. Yaps, Pevita dulu mendapatkan mengalaman pahit di dalam dunia pekerjaan, dia dipecat puluhan kali. Dan, Pevita dipecat terakhir kalinya saat menjadi seorang waiters di salah satu restourant mewah. Pevita dipecat tanpa mendapatkan pesangon dan gaji terakhir. Hal itu membuat Pevita sempat kecewa, berpikir untuk apa gelar sarjana tinggi tetapi selalu dipecat? Sepanjang jalan, Pevita membaca kertas lowongan pekerjaan yang menempel di dinding toko di tepi jalan. Sialnya, tidak ada salah satu pekerjaan yang cocok untuknya. Kesal, Pevita menendang kaleng minuman yang sempat dia beli, alhasil tendangan Pevita mengenai dahi lelaki. Ternyata lelaki itu adalah Raffa. Insiden itu menjadi pertemuan pertama. Pevita kabur, Raffa mengejar, Pevita terus berlari kencang dan tangannya sambil memungut selembar kertas lowongan pekerjaan. 

Apakah itu sebuah keberuntungan? Isi lowongan pekerjaan itu membutuhkan model untuk departement fashion. Pevita mendaftar diri dengan asal mengisi data dan kalian tahu? Pevita diterima dengan alasan data diri yang tidak masuk akal. Pevita berpikir, mungkin dia di terima perusahaan tersebut karena mempunyai tubuh yang sempurna. Dugaan itu benar.

“Sial!” umpat Pevita dalam hati. Dia berdoa semoga Raffa tidak mengenali dirinya. Semoga saja, semoga!!!! “Mampus kalau ketahuan!” lanjut Pevita.

Saat Raffa melewati meja Pevita dan mengacuhkan, tiba-tiba Raffa tidak melanjutkan langkah, berdiri sejenak lalu dia membalikan badan, memilih berputar ke meja sekretaris barunya. Sekretaris baru? Haha, Raffa tidak terkejut ketika secara mendadak mendapatkan sekretaris baru untuknya. Sudah sering terjadi, Raffa berkali-kali berganti sekretaris. Raffa memakai kemeja putih berkerah dan jas hitam membungkus badan sepinggang, tidak menggunakan dasi pada umumnya untuk memberi kesan rapih, gagah dan disiplin. Tetapi Raffa membuat kesan sangat tidak disiplin dan acak-acakkan, berpakaian semaunya sendiri. Liat, rambut lelaki itu, kalau diliat cukup lucu. Bagaimana tidak lucu? Rambutnya ikal sedikit gondrong terlihat acak-acakkan seperti sarang burung. Lelaki sudah tampan, mengenakan pakaian apapun tetaplah Direktur Raffa berkarisma tampan. Tampan? Haha, mungkin wanita yang mengatakan Raffa tampan, matanya sudah minus.

Tepat di depan meja sekretaris barunya, Raffa berdiri dengan tangan dimasukan ke dalam kantong celana. Sorot mata Raffa dingin tidak tersentuh. “Muka kamu,” kata Raffa memulai ucapannya, tangan yang tadi berada di kantong celana—ditarik dan menunjuk ke wajah sekretaris barunya.

Pevita mengedipkan mata berkali. “Ya?” Pevita cengo. Pevita tidak percaya apa yang Raffa katakan pertama kali, muka? Memangnya muka Pevita kenapa? Perasaan tidak ada yang salah dengan muka Pevita. “Muka Saya?” tanya Pevita bingung, dia ingin meminta Raffa penjelasan lebih jelas. Tubuh Pevita sudah kaku di tempat, menelan ludah, menajamkan pendengarannya. 

Jangan-jangan Raffa mengatakan, “muka kamu pernah aku liat.” Ok, Pevita. Berpikir positif dahulu, jangan berpikir macam-macam.

Dengan mudahnya Raffa berkata, “Muka kamu membuat mood pagiku menjadi buruk,” jelas Raffa tanpa beban.

Mata Pevita yang tadi tidak berkedip , sekarang menyipit heran. Itu adalah kalimat pertama yang Raffa ucapkan ketika melihat wajah Pevita, muka Pevita menjadikan mood pagi Raffa buruk? Dari jutaan manusia yang memuji kecantikan paras Pevita, hanyalah Raffa yang berkata muka Pevita menjadi mood pagi buruk. 

“Entah kenapa, setelah melihat muka kamu. Mood pagi buyar dan buruk,” terang Raffa lagi. Raffa tidak peduli ucapan itu menyinggung hati Pevita. Ya, Raffa sama sekali tidak peduli. 

Bukannya tersinggung, Pevita merasa lega tentang perkataan Raffa, perkiraan Pevita salah. Raffa tidak mengungkit pertemuan pertama dengan Pevita di emperan toko. Mungkin saja Raffa telah melupakan. Demi pekerjaan Pevita harus menjaga etiket. Pevita memperkenalkan diri kepada Raffa dengan sopan. “Aku Vita yang akan menjadi sekretaris Direktur Pak Raffa, mohon bantuannya.”

Tanpa memperkenalkan diri, Raffa sudah tahu. Raffa tahu akan ada sekretaris baru yang menggantikan sekretaris terdahulu. “Tidak usah basa-basi,” ketus Raffa dingin. “Kamu bukan seorang sekretaris. Tetapi kamu seorang mata-mata, 'kan?” tebak Raffa.

Mata-mata? Apa mungkin Raffa sedang bercanda? 

Pevita tertawa garing ketika dirinya disebut sebagai mata-mata. Tentu saja Pevita langsung membantah. “Tentu saja bukan. Aku sekretaris baru di sini dan pernah bekerja dibagian departement fashion. Ini instruksi dari Presdir Satya. Direktur Dave yang memilih aku untuk menjadi tangan kanan Pak Raffa.”

Raffa berdecih. “Kamu pikir aku percaya?”

“Aku mengatakan dengan jujur bahwa aku bukan seorang mata-mata,” jelas Pevita sedikit tegas.

Raffa terdiam sebentar. Matanya melirik sekilas tubuh Pevita, sebagai lelaki normal pasti merasakan sesuatu jika melihat wanita bertubuh sexy seperti Pevita. Apalagi paras Pevita cantik seperti Park Min Young di drama Korea What's Wrong With Secretary Kim. Raffa menelan ludah, tetapi semakin ke sini biasa saja. 

Raffa mendecak, kesadaran kembali. Matanya mengalihkan pandangan, tidak seharusnya Raffa memperhatikan Pevita seperti itu. “Aishh! Kenapa orang penggangu itu mengirim mata-mata,” gumam Raffa lirih dan terdengar oleh Pevita.

“Aku bukan seorang mata-mata.” Pevita menegaskan.

Raffa memandang Pevita tajam. Tanpa merespon ucapan Pevita, Raffa membentak Pevita. “Keluar! Kamu keluar sekarang!” Raffa menyuruh Pevita untuk keluar kantor saat itu juga. “Jangan datang lagi ke kantor!” Raffa juga bilang kepada Pevita, sebaiknya Pevita pindah ke bagian lain. Karena Raffa akan memilih sendiri seseorang yang pantas menjadi sekretaris.

“Aku akan memilih sekretaris sendiri!”

****

Raffa berpikir, sikap kemarin sudah Keterlaluan, mengusir sekretaris barunya dengan tidak sopan hingga membentak. Bukannya menyesal telah membentak, Raffa tersenyum miring. Lelaki senang, sudah dipastikan ketika datang ke kantor—sekretaris barunya sudah tidak ada lagi dan sudah mengundurkan diri.

Pagi ini Raffa pergi ke kantor dengan ceria, pintu lift terbuka, saatnya masuk ke ruangan miliknya dan Raffa kaget melihat Pevita di sana. Ternyata pikiran Raffa mengenai sekretaris barunya tidak ada di meja kerja, tetapi masih ada. “Okay, tenang. Baru satu hari,” batin Raffa.

“Selamat pagi, Pak Raffa,” sapa Pevita.

Raffa tetap mengacuhkan. Hari kedua, Raffa tetap melihat Pevita di meja pekerja. Hari-hari berikutnya, tetap saja Raffa tidak menggublis Pevita, Pevita masih menyapa Raffa dengan hangat. Raffa pikir dengan mengacuhkan Pevita, Pevita akan menyerah untuk menjadi sekretarisnya. Karena kesal, dia menyuruh Pevita masuk.

“Masuk dan bawa CV kamu.”

Pevita sempat tidak percaya dan mungkin salah dengar. Tidak! Pevita tidak salah dengar. Wanita seksi itu menurut dengan perasaan senang mengekori Raffa dari belakang. Bagaimana pun juga dia harus menjadi sekretaris tetap di sini, bukan hanya gajinya yang besar. Namun para Direktur Andromeda Company sangatlah tampan. Apalagi, manager pemegang saham, Direktur Dave. Pokoknya Dave, top banget deh. Berbeda dew Raffa, dia Direktur paling bar-bar dan pemalas.

Raffa duduk di belakang meja besar, menompangkan dagunya. Sedangkan mata Pevita mengedarkan pandangan seisi ruangan tersebut. Terasa nyaman, beginikah rasanya bekerja di kantor perusahaan, apalagi menjabat sekretaris Direktur. Suasana dingin dan ruangan yang begitu mewah, pasti dirinya merasa betah.

Tatapan mereka beradu satu sama lain kemudian Pevita meletakkan CVnya di meja. Lelaki itu membuka CV Pevita dan membacanya sebentar, hanya memerika.

“Pevita Grizelda, 21 tahun, S2 dari bidang informatika?” tanya Raffa memastikan.

Ucapan dari Raffa itu membuat Pevita mengangguk seraya berkata, “Iya, Pak,” jawab Pevita sopan.

Raffa menatap Pevita dengan saksama dan tidak berkedip. “Aku baru sadar. Kayanya kita pernah bertemu? Wajahmu tidak asing bagiku,” tutur Raffa.

“AH! Sial,” umpat Pevita dalam hati. Matanya memejam sebentar, harap-harap cemas. Tangan meremas garis rok ketatnya bertanda dilanda gelisah.

Padahal Pevita sudah berharap. Lelaki di depannya tidak akan mengenalinya. Ternyata harapan Pevita musnah. Raffa mengingat kejadian bersama Pevita. Ingatan macam apa itu? Bahkan kejadian sudah tiga bulan lalu dan satu tahun lalu.

Pevita tertawa kecil, “Mana mungkin, Pak. Kemarin-kamerin baru bertemu dengan Pak Raffa pertama kali.” Pevita mencoba menyakinkan.

Raffa menggelengkan kepala. “Aku tidak lupa, Pevita Grizelda. Jangan membohongi bossmu,” tegur Raffa terdengar lebih dingin. “Pertemuan pertama dan kedua kalinya.”

“Mati aku!” Pevita menelan ludah dengan susah payah. “Maaf ....” kata Pevita menahan ucapannya.

Raffa mengetuk-etuk jari telunjuk di meja, matanya menatap Pevita dengan lekat. “Kamu masih ingat denganku?” tanyanya sarkasme. “Kejadian tiga bulan lalu. Kamu mengatakan aku sebagai lelaki brengsek dan kejadian satu tahun lalu kamu melempar kaleng minuman hingga mengenai dahiku.”

Pevita mengangguk kaku. Ingatan melayang kejadian tiga bulan lalu, pertemuan kedua dengan Raffa.

Flashback On.

Pevita berlari dengan bertelanjang kaki dan dress di atas lutut. Bagaian dadanya pun terdapat sedikit robekan, sambil berlari  Pevita terus memegangi robekan agar tidak memperlihatkan belahan gundukan daging kenyal. Pevita berlari sekuat tenaga dan berhasil kabur dari seorang laki-laki yang merupakan pacarnya. Pevita merasa lelah, dia menghentikan larinya untuk mengatur napas sembari kepalanya menoleh ke belakang.

“Selamat juga,” gumam Pevita dengan deru napas. 

Ternyata dugaannya salah, pacarnya muncul dengan cepat. Pevita kembali berlari sekuat-kuatnya. Dia menyesali kenapa jalan malam ini nampak sepi, padahal Pevita sudah berteriak namun hasilnya nihil tidak ada seorangpun yang merespon. Akhirnya Pevita berlari ke pintu apartement dengan cepat dan hati-hati. Dari jauh Pevita melihat sinar lampu mulai mendekat, pastinya dia akan selamat. 

TINNNNN !!!

Pengemudi mobil itu menekan klakson panjang. Seorang wanita melintas di depannya begitu saja membuat pengemudi mengerem mobilnya secara mendadak hingga menimbulkan bunyi decitan memekik telinga. 

Pevita sudah merentangkan kedua tangannya seolah ingin bunuh diri. “STOP! STOP!” jerit Pevita keras. “STOP!!!”

Brak. Dug!

Mobil tersebut berhenti mendadak. 99℅ seperti dugaannya. Pevita sudah bisa memastikan bahwa dirinya tidak akan pernah mati konyol karena tertabrak mobil. Ternyata benar. Pevita tidak akan mati konyol, okay!

Lelaki di dalam mobil mengelus-elus keningnya akibat terhantam kemudi, hampir saja menabrak tubuh seseorang. Wanita gila yang menjadi penghalang perjalanan pulang, mata tajamnya menatap tajam wanita itu dibalik kaca mobil. Kesal. Lelaki yang di dalam mobil langsung membuka kaca dan menyembulkan kepalanya keluar jendala. “Heh wanita gila! Kamu mau cari ma—” ucapannya terpotong melihat wanita yang hampir dia tabrak tidak ada di depannya. Kemana dia? Aneh, jangan-jangan tadi hantu? Lelaki itu menjadi merinding.

Tok, tok, tok. Suara kaca mobil diketuk keras, lelaki itu menoleh ke samping mendapati wanita gila di sana. Lelaki sempat kaget mendengar bunyi ketukan kaca mobil. Apakah dia manusia? 

“Buka pintunya! Buka pintunya!” perintah Pevita tidak sabar.

Lelaki itu tidak sempat berpikir, apakah wanita itu manusia atau hantu?

“Buka pintunya! Buka pintunya!” perintah Pevita secara paksa, dia berkali-kali menarik pintu mobil.

Karena sudah tidak tahan dengan paksaan, Lelaki itu membuka pintu mobil. Pintu terbuka, Pevita langsung masuk ke dalam mobil tersebut. Tidak peduli siapa pemilik di dalamnya, Pevita harus menyelamatkan diri dari kejaran lelaki.

“Jalan!!!” suruh Pevita dingin. Mata cantik sama sekali tidak melirik ke samping, dimana pemilik mobil tengah memandang Pevita dari samping dengan heran dan kesal. “Gue bilang jalan!” suruh Pevita lagi.

“Keluar!!!” tajam seorang lelaki di sampingnya. 

Pevita menoleh sebentar. “Gue bilang jalan! Ya jalan!” balas Pevita tidak kalah tajam. Pevita tidak peduli ketika lelaki itu menyuruh untuk keluar. Sama sekali tidak peduli!!!

Tok ... tok ... tok!!!

Lelaki itu mengerutkan kening bingung melihat seseorang lelski mengetuk kaca mobilnya, sedangkan Pevita menghela napas dan sama sekali tidak menoleh. Sudah bisa ditebak lelaki itu adalah pacarnya.

Sial!!!

“VITA!!! DENGERIN GUE DULU! KELUAR DARI MOBIL SEKARANG! GUE MA—”

“Jalan mobilnya, sekarang!” Pevita mendelik lelaki pemilik mobil. Kepalanya terasa pening mendengar ocehan Alex di luar sambil mengetuk kaca mobil bak orang gila. “Aku bilang jalan! Budek ya kamu!”

Pengemudi mobil itu menelan ludahnya sedikit kaget, kemudian menurut menjalankan mobil meninggalkan Alex yang sedari tadi berteriak tidak jelas. Mobil pun melesat mulai menjauhi tempat itu. 

Kira-kira di tengah perjalanan, lelaki yang tidak Pevita ketahui namanya membuka suara lebih dulu. 

“Kamu siapa dan mau kemana?” tanyanya. Dia sempat melirik Pevita sebentar, menelan saliva lagi melihat baju bagian atas sobek dan memperlihatkan belahan dada.

Pevita tersenyum miring. “Tidak penting kamu tau siapa aku,” jawabnya ketus. 

Pevita tidak peduli kalau dia berpikir macam-macam tentang dirinya, mau menyebut wanita malam. Sama sekali tidak peduli, karena nyatanya Pevita tidak seperti itu. Biarkan saja, toh manusia memang hanya menilai karena tampilan.

Lelaki itu mendecak kesal. Tiba-tiba mobil yang mereka tumpangi berhenti di tepi jalan, lelaki itu menatap Pevita tajam, setajam elang.

“Keluar!!!”

“Tidak!!!”

Lelaki memijat keningnya, tidak sabar. “Keluar sekarang!” perintahnya lagi.

Mata Pevita mengedarkan melihat ke jalanan yang tampak sepi sekali karena hari sudah mulai tengah malam. Pevita bergidik ngeri, takut kalau ada preman yang akan menjahati.

“Aku bilang keluar! Budek ya kamu!” usirnya tajam, menirukan ucapan Pevita.

Pevita mendesah pasrah, mau tidak mau harus keluar dari mobil itu. Sebelum benar-benar keluar, Pevita sempat memberi salam kepada lelaki di sampingnya.

“LELAKI BRENGSEK! TIDAK PUNYA HATI NURUNIN WANITA DI PINGGIR JALAN! DASAR BRENGSEK!!!”

Flashback Off.

Mengingat semua, Pevita meruntuki diri sendiri. Nasib sial beberapa bulan lalu! Bertemu dengan lelaki yang pernah dia katakan brengsek, ternyata lelaki itu adalah bosnya Pevita. Takdir apa-apa ini?!   

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

It's Okay That's Love (INDONESIA)   45. Mengajarkan Rasa Malu

Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr

It's Okay That's Love (INDONESIA)   44. Penerus Perusahaan

Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D

It's Okay That's Love (INDONESIA)   43. Merencanakan Sesuatu

Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.

It's Okay That's Love (INDONESIA)   42. Epiphany

Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P

It's Okay That's Love (INDONESIA)   41. Ancaman

Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora

It's Okay That's Love (INDONESIA)   40. Ungkapan Hati

Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj

It's Okay That's Love (INDONESIA)   15. Wahana Permainan

Pagi. Pevita sudah berangkat ke kantor. Dia sengaja untuk berangkat pagi, karena tidak mau mendapat hukuman dari Erlin. Pevita menaiki bus, tidak memesan taxi. Karena taxi lebih mahal dari pada bus kota. Hidup harus hemat. Raffa berangkat ke kantor terlambat, tidak heran la

It's Okay That's Love (INDONESIA)   14. Nasib Sial

Di dalam ruang kerja, Direktur Raffa berbicara panjang lebar, marah dan kesal kepada sekretaris. Karena Pevita tidak menjawab panggilan ponselnya dan Raffa berteriak tidak ada balasan dari Pevita.Kemana Pevita pergi?Raffa berteriak di dalam ruang kerja. "Sekret

It's Okay That's Love (INDONESIA)   13. Tersambar Petir

Sepanjang perjalanan pulang guyuran hujan. Pevita terus menangis terisak, meraung-raung membuat orang-orang yang melihatnya tertawa atau sedikit merasa iba dan kasihan.Tanpa tahu malu, Pevita manangis. Jujur, dalam hatinya masih mencintai Alex. Dia berharap hubungan langgeng sam

It's Okay That's Love (INDONESIA)   12. Putus Hubungan

Kedai ramen Paman Yato.Lelaki tua itu asli dari negara Jepang. Kedai ramen miliknya memang tidak begitu besar tapi cukup ramai pengunjung dan pembeli. Meskipun umur sudah tua, dia bekerja keras mencari uang.Pevita dan Raffa berada di kedai Paman Yato, kedai ram

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy