loading
Home/ All /It's Okay That's Love (INDONESIA)/3. Mencari Alasan

3. Mencari Alasan

Author: Lusia
"publish date: " 2020-08-05 12:34:42

Pevita tidak tahu dibalik ucapan dari Bu Sindy, wanita itu mengatakan kepada Pevita agar tidak kaget melihat boss barunya? Emangnya ada apa dengan Direktur Raffa? Yang Pevita tahu, Raffa sosok direktur yang pemalas, hanya itu. Jadi, untuk apa terkejut dan kaget?

Pevita mengangkat kedua bahunya dengan acuh, dalam hati dia berkata, "Okay, Vita. Lupakan! Lebih baik sekarang ke lantai sepuluh dan mulai bekerja!" Pevita menyemangati diri sendiri. "Fighting!" Tangannya bergerak mengepal.

Bu Sindy melihat tingkah konyol Pevita hanya tersenyum geli. Wanita lanjut usia itu sudah berpiki, bagaimana nasih Raffa mempunyai sekretaris seperti Pevita? Pevita terkenal dengan wanita yang ahli bela diri dan memiliki tenaga yang kuat. Selama ini yang menjadi sekretaris Raffa, tidak lebih jajaran wanita yang takut dengan bossnya. Mungkin Pevita tidak, dia akan melawan Raffa ketika melakukan kesalahan.

Ini sebuah rencana dari ide seorang Direktur pemegang saham, bukan ide dari Bu Sindy.

Pevita keluar dari ruangan Bu Sindy. Kaki panjangnya berjalan indah, tas selempang mengantung indah di pundak kanan ikut bergerak sesuai gerakan tubuh Pevita, kedua netra menatap tajam, lurus ke depan. Pevita mengabaikan suara yang perlahan menyeruak Indra telinga, terdengar kata-kata pujian dengan menggebu-gebu.

“Itu lewat bro, lewat,” kata Rio bersemangat sambil menyenggol siku tetangga. “Wah gila,” imbuhnya kagum, matanya tidak berkedip sama sekali melihat seorang wanita berjalan menuju lift dan hendak melewati meja pekerja mereka—khusus untuk karyawan bawah.

“Siapa?” tanya Radit yang sedari tadi bermain ponsel, sikunya terus dipukul-pukul oleh tetangga sebelah. “Apa sih, Yo,” gemas Radit, tergantung.

Kini Rio menepuk pundak Radit. “Itu, yang kemarin gue bilang,” tunjuk Rio dengan dagu walaupun tidak terlihat oleh Radit. “Pevita, cewek dari department fashion pindah jadi sekretaris Direktur Raffa.”

Radit tidak minat. “Ohh,” kata Radit tidak terlalu menanggapi.

“Beruntung banget kita, anjir. Ketemu dia di sini. Seger nih mata.” Rio kesenangan sendiri.

“Kenapa memang?” tanya Radit tidak mengerti, ekspresinya menautkan kedua alisnya.

Rio membisikan sesuatu membuka Radit setengah sadar langsung mendongak, tatapan mata menangkap mahluk sempurna tengah melewati meja mereka dengan senyuman sangat tipis tetapi manis.

Di sana ada seorang wanita body goals.

Rok span hitam ketat dan kemeja putih yang memberikan kesempatan bra hitam terjeblak indah membungkus dua gundukan besar. Dan, high heels setinggi sebelas sentimeter. Pandangan kaum adam di ruangan itu tidak pernah lepas dari Pevita, melihat siluet lelekukan tubuh itu dari belakang. Naluri lelaki mengatakan bahwa tidak normal jika melewati pemandangan itu. Sampai cewek itu menghilang di balik pintu lift. Sumpah serapah terdengar ribut seketika, termasuk Rio tidak kalah seru.

“Anjing tuh badan!” maki lelaki dengan penuh hasrat.

“Gila! Sexy bener plus cantik!”

“Mulus lagi! Anjir! Mont0k!”

“Bangke!” Rio ikut mengumpat sumpah serapah. “Di liat dari jauh udah bikin horny aja! Apalagi deket,” lanjut Rio dengan nada penuh hasrat.

Kali ini suara penuh pujian, hasrat dan nada gairah lelaki menyeruak telinga Radit hingga menyadari sosok wanita tadi sudah hilang dari penglihatannya. Tidak ada lagi sosok wanita yang berjalan di depan meja mereka

“Menurut lo ukurannya berapa, Dit?” Pertanyaan dari Rio, pertanyaan yang seharusnya tidak perlu ditanyakan. Memangnya, para lelaki mau ikut campur dengan ukuran bh para wanita? Astaga Rio, pertanyaan macam apa itu?!

Lamunan Radit buyar setelah mendengar pertanyaan Rio. Dia menoleh memandang Rio, dahinya mengernyit tidak paham sama sekali dengan arah pembicaraan Rio. “Maksud lo?” tanya Radit bego.

“Toket, Dit! Toket!” seru Rio tidak sabar. “Polos amat sih, Lo,” komentar Rio.

Radit membulatkan mulut, mencoba mengerti arah pembicaraan Rio. “Berapa emang?” tanya Radit polos. “D?” tebak Radit asal.

Rio berdecak kemudian menjawab dengan semangat api. “Nggak mungkin segitu! Menurut gue EF lah,” bantah Rio. “Lo nggak liat gede? Segede bola voly, nggak mungkin D kali.” Rio tidak setuju dengan tebakan Radit.

“Menurut gue, E-lah,” sahut cowok berkacama minus di sebrang meja pojok. “Kalau nggak D!”

Rio refleks menoleh ke sumber sahutan. “Mata lo minus sih, gede gitu dibilang E. EF baru pas,” balas Rio sok tahu. 

“Menjijihkan.” 

Cibiran dari karyawan wanita tengah memandangi ubun-ubun dua lelaki ketika mendengar obrolan Rio dan Radit. Ekspresi antara tidak suka dan jijik. Wanita mana sih yang tidak iri ketika kaum adam memuji wanita lain secara terang-terangan?

Apalagi membicarakan ukuran bh wanita? 

Lol.

****

Pevita menaiki lift nomor sepuluh, bukannya tidak sadar. Pevita tahu, Pevita merasa kalau dirinya sedang digosipkan para karyawan tadi. Namun Pevita sama sekali tidak peduli dengan ocehan mereka, apalagi perkataan penuh hasrat dan nada napsu.

Pintu lift terbuka, jantung berdetak kencang. Satu langkah dilanjutkan langkah berikutnya, di sinilah tempat baru Pevinta bekerja dan dihari pertama. Untuk alasan detail tentang kenapa dipindahkan secara mendadak. Pevita tidak tahu.

Saat sudah masuk ke ruangan sekretaris, tanggapan dingin yang dia dapatkan. Tetapi, Pevita tak patah semangat. Ya, Pevita tidak ingin dihari pertama sudah patah semangat, lelucon apa itu? Demi untuk menjadi pekerja baik, harus tetap bersiap sopan kepada para senior, itu point' pertama agar mendapatkan kesan baik. Sejujurnya, Pevinta enggan menyapa karena setelah melihat wajah sinis dari senior membuat Pevita ingin sekali mengajak mereka berkelahi.

Lagipula, senior tidak seharusnya bermuka masam dan sinis bukan? Mentang-mentang menjadi senior dan bekerja lebih Dalu dari Pevita, jadi tidak menyambut hangat sekretaris baru? Sekretaris baru yang akan menjadi tim mereka.

“Ok, Vit. Inget ini di Kantor. Taati peraturan, figthing!” Pevita sekali lagi memberi semangat pada diri sendiri. “Yang pertama harus senyum, sapa dan memperkenalkan diri.”

“Salam kenal semua, saya Pevita. Sekretaris baru di sini. Mohon bantuannya.” Pevita memperkenalkan diri dengan nada seceria mungkin.

Tidak ada yang merespon. Waduh, nasib Pevita. Belum mulai bekerja sudah mendapatkan kesan buruk dari senior  Sekretaris lainnya mencoba mengacuhkan Pevita. Pevita tetap tersenyum paksa sambil memperkenalkan diri sebagai sekretaris baru di sana.

Masih belum mendapatkan sapaan kedatangan, Pevita tersenyum kecut. Dia berjalan tidak menentu, bingung. Pevita belum tahu dimana meja kerjanya. “Permisi, sa–" Pevita tidak melanjutkan ucapannya ketika dia bertanya kepada sekretaris terdekat, namun sekretaris itu seolah tidak ada Pevita.

Pevita mendesah kasar. Dalam hati menyelutuk. Apa-apaan dengan sikap mereka, mereka seperti tidak mau bekerja sama dan tidak mau satu tim divisi sekretaris dengan Pevita. Wah, Pevita geleng-geleng kepala, heran bercampur tidak percaya.

“Pevita Grizelda, sekretaris baru Direktur Raffa?” Pertanyaan dari wanita berambut sebahu. 

Pevita menganguk pelan. “Ya, saya Pevita.” Perasaannya tidak enak mulai terasa sejak tadi, sekarang sedikit legah ketika ada sekretaris lainnya mengajak berbicara.

“Mari ikut saya,” perintahnya.

Pevita mengekori langkah wanita berambut sebahu.

Ternyata masih ada yang peduli dengan Pevita, meski suara wanita tadi terdengar dingin. Tidak mau pikir panjang, Pevita mengikuti langkahnya hingga sampai pada meja besar yang hanya ada beberapa berkas. Rapih, seperti barang-barang di meja itu baru dipindahkan.

Wanita itu menunjuk meja besar. “Ini tempat kerja kamu.” Setelah mengucapkan kalimat itu, dia melenggang pergi ke meja kerjanya. Sedikit cuek kepada Pevita, tidak apa-apa, setidaknya sekarang Pevita sudah tahu meja kerjanya.

Pevita duduk di kursi empuk itu, dirinya tidak menyangka akan bekerja menjadi sekretaris boss. Pevita tahu, pekerjaan itu tidak mudah dan Pevita belum mempunyai pengalaman. Tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?

Pevita mulai membaca semua yang ada di meja, termasuk jurnal Direktur Raffa. Kegiatannya terusik oleh dua sekretaris senior, menghampiri meja Pevita. Gaya serta ekspresi angkuh sekali.

“Permisi.” Salah satu dari mereka mengeluarkan suara lebih dahulu. 

Sepersekian detik, kepala Pevita mendongak dan langsung berdiri. “Ya, ada apa?” tanya Pevita sopan. Kedua netra Pevita memandang senior sekretaris secara bergantian. Astaga, ekspresi macam apa mereka? Merendahkan? Sombong?

Dua senior itu menyilangkan kedua tangannya tepat di bawah dada. Tatapan tidak suka terlihat begitu jelas dan mudah terbaca oleh Pevita. Oke, inilah Pevita Grizelda, hari pertama yang menyenangkan, baru pertama kali menjabat sekretaris sudah mempunyai musuh. Nikmatilah....

“Ehem.” Salah satu senior berdehem. “Kau tahu gosip salah satu lift yang macet? Ada seorang wanita yang menerobos masuk, di dalamnya ada Direktur Dave,” ungkap sekretaris berambut cepol.

“Waduh, enak benar tuh wanita. Terperangkap bersama Direktur Dave kita yang terhormat,” lamun sekretaris berponi pagar. Seakan sadar, tiba-tiba dia melontarkan pertanyaan, “Gadis itu bukan kamu, 'kan?”

Pevita terkesiap. Pertanyaan itu membuat Pevita berpikir keras. Pikirannya dipenuhi dengan kejadian sial terjebak lift setengah jam lalu. Jangan-jangan yang dimaksud dua senior itu adalah Pevita? Ah, itu tidak mungkin. Pevita sangat yakin, yang pasti seseorang bersamanya adalah pangeran oppa Korea bukan Direktur yang dua sekretaris itu bilang.

“Tentu saja bukan Aku,” jawab Pevita setengah geli menjawab pertanyaan. “Mana mungkin itu aku.” Terdengar nada biasa, namun berdusta dengan hiasan lelehan kecil dan ekspresi meyakinkan.

Dua senior itu memandang Pevita aneh, ada sesuatu janggal di sini. “Kamu tidak bohong, 'kan?” tanyanya tidak percaya. “Ayo akui saja,” paksanya.

“Tentu,” balas Pevita meyakinkan sekali lagi. “Ngomong-ngomong ruangan Direktur Dave di mana, ya? Aku ada keperluan sama dia.” Pevita mengganti topik pembicaraan.

Dua senior masih tidak percaya. “Untuk apa kamu bertemu dengannya?” tanya senior sekretaris berambut cepol.

“Hanya ada keperluan saja.”

Ingin menyelidiki kebenaran info yang  Pevita dapatkan mengenai kenapa dirinya dipindahkan menjadi sekretaris Direktur Raffa—yang katanya Direktur itu sangat pemalas—dan sering gonta-ganti sekretaris. Pevita bertanya kepada Direktur Dave, karena orang yang memindahkan Pevita adalah Direktur Dave, perintah dari Dave.

Pevita menemui Direktur Dave dan langsung mengenalnya saat itu juga. Ternyata Direktur Dave adalah pangeran yang bersamanya terjebak di lift. Oh, Tuhan. Rasanya mustahil. Pantas saja para senior terlihat sinis dan menyuruh Pevita mengakui kebenaran orang yang terjebak di lift.

“Seperti yang kamu bilang, kita akan bertemu di lantai sepuluh. Pevita Grizelda?” Secercah senyum manis terukir dari bibir tipis dan pink dari Dave. Kedatangan Pevita disambut hangat olehnya. 

Pevita masih kaget kalau lelaki yang bersamanya di lift adalah Direktur Dave. Jadi ...? Lelaki yang menenangkan Pevita dan memeluk Pevita adalah Dave? Oh, God! Pevita menjadi malu sendiri.

“Ah iya! Direktur Dave?” Bibir Pevita agak terbuka sedikit setelah mengetahui siapa lelaki itu. Kedua pipi sudah merah, dia ingin keluar dari ruangan itu, namun Pevita harus bertanya kepada Dave mengenai dirinya. 

Dave mengangguk paham. “Sudah saya diduga kamu bakalan berani menemui saya,” katanya seperti peramal. 

“Iya, Direktur. Aku menemui Direktur karena ....”

Pevita mulai bertanya alasan mengapa dirinya dipekerjakan menjadi sekretaris, sedangkan waktu di deparment fashion tidak pernah melakukan kesalahan lantas apa yang membuatnya dipindahkan secara mendadak? Walaupun dihari terakhir dia sempat mendapat kritikan pedas dari fotografer. 

“Lalu? Kenapa Pak Dave meminta aku menjadi sekretaris Pak Raffa,” tanya Pevita lagi. “Apa karena aku cantik dan mirip dengan cinta pertama Anda?” tanya Pevita lagi dengan sedikit ngawur. 

Sepertinya Pevita sering menonton drama Korea, nih. Pevita menjadi percaya diri. Lol.

Dengan geli, Dave membantah kedua dugaan itu. “Tidak,” bantah Dave. Bersamaan dengan itu, ponsel milik Dave berbunyi di meja pekerjaan. Ternyata dari Presdir Bapak Satya, pemimpin perusahaan AC (Andromeda Company).

Dave mulai berkata dengan Presir lewat telepon.

Pevita menjadi lebih sangat yakin mendengar obrolan telepon Dave dan Presdir Satya yang menanyakan kenapa Dave memilih Pevita menjadi sekretaris, karena Raffa membutuhkan sekretaris seperti Pevita. 

Pevita semakin penasaran. 

Kata Dave, Pevita juga mempelajari tentang kepemimpinan. Tahu dari mana? Pevita bukan orang seperti itu, dulu di sekolah, dia menjadi berandalan dan mempunyai geng, sering berkelahi. Menjadi pemimpin geng, itu sudah pasti. Jangan-jangan Dave mengatakan itu karena sudah tahu masa lalu Pevita?

“Sudah jelas, bukan? Jawaban yang kamu ingin tahu,” kata Dave setelah selesai berbicara dengan Presir Satya.

Senyuman Pevita merekah. Jadi itu alasannya kenapa Dave mempercayai Pevita untuk menjadi sekretaris Raffa? Setelah puas, Pevita keluar menuju meja kerjanya kembali. Sementara Dave menyuruh sekretarisnya yang bernama Yuni untuk memberi arahan pada Pevita. Sekretaris Yuni ternyata adalah wanita yang memberi tahu dimana meja Pevita bekerja. Mungkin Dave sudah berpesan kepada sekretaris Yuni agar memberitahu letak meja Pevita.

Sepertinya para sekretaris yang menyukai Dave menganggap Pevita sebagai saingan karena kenyataan wanita yang terjebak lift adalah Pevita. Sudah terungkap. Hot news!

Di tengah gosip panas yang sedang dibicarakan, muncullah Raffa. Direktur Raffa melewati meja Pevita dan Pevita menyapa sopan boss barunya. Pevita mendesah kasar, lagi-lagi mendapatkan tanggapan dingin oleh orang lain. 

Dan, mata Pevita membelalak lebar setelah mengamati wajah Direktur dan Pevita menyadari siapa boss barunya sedang melewati meja Pevita dengan gaya acuh dan penampilan acak-acakan. Busana yang Raffa pakai sama sekali tidak rapih, bahkan tidak memakai dasi.

Bibir Pevita ternganga lebar. Oh, shit! Ternyata boss barunya .....

DIA?!!!! 

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

It's Okay That's Love (INDONESIA)   45. Mengajarkan Rasa Malu

Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr

It's Okay That's Love (INDONESIA)   44. Penerus Perusahaan

Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D

It's Okay That's Love (INDONESIA)   43. Merencanakan Sesuatu

Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.

It's Okay That's Love (INDONESIA)   42. Epiphany

Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P

It's Okay That's Love (INDONESIA)   41. Ancaman

Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora

It's Okay That's Love (INDONESIA)   40. Ungkapan Hati

Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj

It's Okay That's Love (INDONESIA)   31. Demi Gaji

Kehidupan Pevita setiap hari semakin sibuk. Sejak menjadi sekretaris di perusahaan Andromeda, dia semakin tidak mempunyai waktu luang dan leluasa untuk bersantai. Apalagi menjadi sekretaris dari boss pemalas. Haha. Rasanya ingin mati saja. Tapi tidak apa, demi pekerjaan.Pagi ini, langit b

It's Okay That's Love (INDONESIA)   30. Dinner

Pevita tidak tahu, hari ini merasa sangat lelah sekali. Satu hari penuh bersama Raffa rasanya puas sekali. Hidupnya tidak pernah seperti ini sebelumnya, dulu saking sibuknya sampai tidak ada waktu luang dan sekarang bisa sedikit untuk mengistirahatkan otaknya, walaupun bersama Raffa. Itu lebih da

It's Okay That's Love (INDONESIA)   29. Melatih Gejala Raffa

Hari minggu, para pekerja kantor libur. Termasuk Pevita, dia meluangkan waktu memulai melatih gejala panic disorder milik Raffa dengan cara lari pagi. Pertama yang ingin Pevita lakukan adalah menormalkan detak jantung Raffa dan melatih Raffa berbicara di depan publik. Sungguh Pevita melakukan itu

It's Okay That's Love (INDONESIA)   28. Perasaan Pevita

Presdir Satya menyuruh Dave keluar dan tinggal Pevita dan Raffa tentunya. Dan dia pun melanjutkan interogasinya. “Siapa yang memukul lebih banyak?”Bwahaha. Meskipun Presdir bersikap kasar terhadap Raffa, dia tetap menjadi ayah terbaik yang mengkhawatirkan anaknya

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy