Download the book for free
2. Terjebak Lift
Author: LusiaHari pertama dipindahkan ke divisi sekretaris. Jujur, kenapa harus dipindahkan secara mendadak? Tidak ada alasan, mengapa dan kenapa, Pevita mendadak dipindahkan ke bagian divisi sekretaris. Jangan-jangan ada sesuatu?
Tidak mungkin dipindahkan tanpa alasan. Mungkin karena kritik dari sang fotografer? Rasanya tidak mungkin, pasalnya fotografer baru pertama kali ini mengkritik Pevita.
Lantas kenapa?
"PEVITA, BANGUN!" Sahabat Pevita berteriak dari luar rumah kos Pevita. Semalam Pevita dan Serly berpesta di halaman rumah kos mereka sambil menikmati keindahan kota Jakarta di malam hari, melihat gedung tinggi yang satu per satu lampu meredup hingga gelap. Itu artinya jam para pekerja telah selesai.
Dulu Pevita memimpikan bekerja di perusahaan, sekarang sudah terkabulkan, ternyata melelahkan juga bekerja di kantor. Tidak apa, Pevita senang menjadi bagian orang-orang yang bekerja di perusahaan lalu lembur.
Akibat semalam begadang, Pevita belum terbangun dari mimpi. Serly berusaha keras membangunkan Pevita, karena semalam Pevita mengatakan padanya akan bekerja menjadi sekretaris Direktur. Jadi, Serly menyarankan agar Pevita berangkat pagi. Yeah, untuk memberi kesan pertama baik sebagai sekretaris, dimata boss baru Pevita dan para senior sekretaris.
"PEVITA GRIZELDA ..., BANGUN ...!"
Astaga. Serly mendecak kesal berkali-kali. Pevita tidak kunjung bangun padahal Serly sudah menaikkan nada oktaf tinggi. "BANGUN ... VITA ...!!!" teriaknya lagi. Andai pintu tidak dikunci, Serly sudah masuk ke kamar Pevita dan membangun Pevita dengan mengguyurkan air. "KAMU TERLAMBAT KERJA!!!"
Serly masih menggedor-gedor pintu dengan sangat keras. "VITAAAA!!! BANGUN! PEVITA BANGUN!!!!" Suara Serly keras sekali. "ASTAGA! PEVITA LAZY!" gerutu Serly, mengarah. Pevita tidurnya seperti kebo.
Di dalam rumah kos kecil, Pevita terganggu dengan teriakan Serly yang menelusup perlahan menjadi terdengar keras. Terdengar suara teriakan diiringi gedoran cukup keras di pintu depan rumah kos Pevita. Setengah sadar, Pevita membuka mata dan langsung melompat dari tempat tidur saat melihat jam dinding menunjukkan pukul delapan siang.
"What?! Jam delapan? Sial!!!" Pevita kaget melihat jam dinding.
Gawat, hari ini adalah hari pertama menjadi sekretaris baru dan Pevita terlambat bangun? Oh, tidak. Seharusnya diawali dengan baik, tetapi kenyataannya tidak sama sekali.
"Aduh, gimana, nih." Pevita panik, berjalan ke sana kemari, mencari handuk, setelah melihat letak dimana handuk digantung–secepat kilat dia meraih handuk dan segera masuk ke kamar mandi, melakukan ritual.
Bad day!
Setelah mandi, Pevita masih panik dan gelisah. Detik jam semakin bergerak dan waktu semakin siang. "Baju, baju!" Pevita bergumam pada diri sendiri sembari mencari busana yang cocok dikenalan dihari pertama menjadi sekretaris.
Meski pun terlambat, Pevita harus dandan super feminim dengan rambut ter-blow rapi membuat tampil tampak sempurna. "Jam tangan udah. Yang kurang apa, ya? Ponsel, iya ponsel." Pevita mencari ponsel, dia lupa dengan keberadaan ponsel miliknya. Kapan dia memegang ponsel dan dimana dia meletakan ponsel.
Ketemu! Ternyata ponsel dibalik selimut.
Sudah siap semua. Sambil berlari menuruni tangga halaman menuju jalan raya, dia berlari memakai high heels setinggi sebelas cm dan memanggil taxi yang lewat. Sulit sekali untuk berlari menggunakan sepatu hak tinggi.
"Taxi!" teriak Pevita kepada taxi yang akan lewat.
"Pevita! Sukses, ya ... semoga hari pertama menjadi sekretaris Direktur menyenangkan!" Serly berteriak dari ujung tangga atas sana, posisi Pevita di tepi jalan raya.
"Thanks, ya! Doain semoga lancar!" sahut Pevita membalas lambaian Serly.
Untung Serly membangunkan Pevita, jika tidak mungkin Pevita akan tertidur hingga matahari berada di ubun ubun manusia.
Pevita sempat terharu, dia hendak berbalik untuk memeluk sahabat gendut yang sedang menggigit roti sandwich setelah meneriaki memberi semangat. Okay, sebaiknya Pevita harus cepat-cepat pergi ke kantor, hari ini benar-benar sudah terlambat.
"FIGHTING!!!!" Serly memberi semangat lagi kepada Pevita yang sudah masuk ke mobil taxi dan hendak menjauh, membawa pergi Pevita ke kantor.
****
Sampai di kantor, Pevita berlari sambil menenteng high heels, dia mencari lift untuk menuju ruangan divisi sekretaris. Akhirnya Pevita berhasil menemukan lift yang akan membawanya ke lantai sepuluh.
"Tunggu, please! Jangan ditutup dulu pintu liftnya." Teriakan Pevita membahana dari ujung koridor untuk menghentikan pintu lift yang sempat tertutup. "Aku mau masuk, tunggu!" teriak Pevita lagi.
Hari ini perlu mengeluarkan tenaga yang banyak. Pevita sudah berkeringat, membanjiri dahinya, keringat sebiji jagung. Sambil terengah-engah—mengatur napas, Pevita berlari kencang memasuki lift. "Tunggu! Jangan ditutup dulu!" teriak Pevita memohon.
Pintu lift terbuka. Tidak jadi tertutup sepenuhnya.
"Akhirnya ...." Wanita itu menghela napas lega, untungnya pintu lift belum sepenuhnya tertutup. Kenapa Pevita tidak menunggu saja lift selanjutnya? Satu alasan, waktu, Pevita sudah sangat terlambat. Pevita sudah masuk ke dalam lift. Pintu lift pun tertutup sempurna. "Untunglah aku berhasil menghentikan lift ini. Jadi, aku tidak akan menunggu lama," gumam Pevita lirih.
"Ehem." Suara lelaki berdehem.
Tadinya Pevita mengatur napas, sekarang napas Pevita tercekat di tenggorokan, berhenti bernapas. Kepala Pevita memutar ke sisi pojok lift. Pevita mati kutu. Dia baru menyadari ada lelaki di belakangnya sedang bersandar sambil membaca sebuah jurnal. Waduh, pasti lelaki itu mendengar gumaman Pevita dan teriakan Pevita.
Lelaki itu mengangkatkan kepala, melirik ke arah Pevita. Tanpa seulas senyuman, hanya tatapan heran. Pevita menjadi malu sendiri ketika lelaki itu melihat ke arahnya. Astaga keberuntungan macam apa ini? Sudah terlambat berangkat kerja, eh berada dalam satu lift bersama pangeran yang .... Pevita tidak tahu harus menyebut apa. Mungkin pangeran oppa Korea.
Pevita merasa canggung, dia tersenyum paksa lalu mengangguk memberi hormat, bentuk kesopanan.
Pria yang tampan seperti pangeran turun dari langit. Sungguh pria ini sangat menarik. Mengabaikan senyuman Pevita yang bersanding, gayanya acuh, tetapi berhasil menarik perhatian dan Pevita terpesona. Seriously? Baru pertama kali bertemu sudah terpesona? Haha. Pevita juga tidak menyangka akan terpesona kepada lelaki itu. Benar-benar tampan seperti Jae Joong di drama Korea protect the boss. Dengan rambut menutupi dahinya. Tubuhnya jangkung, tinggi dan berbadan atletis. Belum lagi bibirnya, ah ... menggoda, tipis dan berwarna merah muda.
Sempurna bukan?
"Upss ..., idaman aku banget," batin Pevita tergila-gila akan ketampanan lelaki itu. Astaga, dia berhasil menarik perhatian Pevita hanya dalam waktu satu detik saja. "Omg! Kulitnya ...bersih dan berwarna kuning langsat. Pasti lembut dan halus seperti kulit wanita." Mata Pevita semakin mencari kesempatan dari kesempurnaan lelaki itu. “Perfect!"
Setelah puas, kepala Pevita memutar ke depan, berdehem juga untuk menghilangkan keheningan namun tetap saja keheningan tercipta. Satu lift bersama pangeran? Wow. Apakah Pevita bermimpi.
Dalam lift turun sebanyak dua puluh lantai. Pevita dan lelaki itu hanya mendiamkan diri, tidak saling berbicara atau menyapa. Hening sekali sampai lift mencapai lantai empat, tiba-tiba terdengar bunyi berderak lift. Lift pun sedikit terguncang beberapa sesaat membuat lift langsung berhenti bergerak dan lampu padam seketika.
Gelap. Pandangan Pevita gelap. Dia menjadi was-was sendiri dalam kegelapan yang secara tiba-tiba. "Astaga? Ini kenapa? Kok tiba-tiba menjadi gelap, sih? Akhh! Lampu padam. Tolong, tolong!" Tanpa sadar Pevita berteriak histeris. Ketakutan.
Pevita takut gelap. Takut sekali. Dia menjadi tidak suka gelap. Kegelapan adalah hal pertama yang Pevita benci dan tidak sukai. Gelap tanpa penerangan lampu atau pun cahaya bulan, ditengah kegelapan Pevita berteriak histeris dan jantungnya sudah berdetak kencang, keringat dingin bercucuran, kembali membasahi seluruh kulit di tubuh. Alasan Pevita tidak menyukai gelap yaitu kegelapan menjadikan dirinya ingat masa lalu. Kenangan masa lalu ketika Pevita diculik oleh orang yang tidak dikenal, kenangan itu mulai menghantui ingatannya dan kembali kepermukaan. Sejak itu Pevita menjadi sosok wanita yang membenci kegelapan tanpa adanya cahaya, termasuk tanpa adanya lampu penerang.
"Tolong! Tolong!" Pevita berteriak meminta tolong lagi. Lampu tidak menyala-nyala, Pevita kira hanya beberapa saat saja lampu padam. Kini Pevita menjadi bertambah takut gegelapan. "A-a-aku. Ta-kut gelap---" gagap Pevita dengan suara bergetar.
Tanpa sadar Pevita menangis terisak-isak, histeris kembali tanpa bisa mengendalikan diri. Pevita tidak tahu tanganya sekarang harus berpegang pada apa, sekarang dia membutuhkan seseorang di samping untuk menemani dan menenangkan dirinya. Pevita tidak mau sendirian di tempat gelap.
"Aku takut, aku benci gelap ...." Pevita mengadu pada dirinya sendiri. Pevita masih menangis terisak-isak. Dalam hati Pevita berharap lampu menyala kembali, semoga saja–Pevita tidak kuat lagi melawan kegelapan.
Sesaat kemudian Pevita merasakan tangan kuat memeluk dirinya dari samping, dan suara lelaki itu berusaha menenangkan membuat Pevita sadar, dia tidak sendirian yang terjebak lift dan terjebak dalam kegelapan.
"Tenang, kamu yang tenang .... Jangan takut. Hanya lampu mati biasa. Kamu tidak sendiri di sini. Ada saya di sampingmu. Jangan takut, kamu harus tenang, kamu aman." Suaranya lembut menelusup telinga Pevita. "Jangan takut, jangan takut."
Sepersekian detik kemudian perasaan Pevita jauh lebih tenang dan suara itu sungguh menenangkan Pevita. Tiba-tiba tangan besar mengelus-elus rambut Pevita dengan sangat lembut. Perlahan-lahan, ketakutan Pevita berkurang. Pevita merasakan aman dipelukannya.
Tidak ada lagi isakan dari Pevita. Jurus dari lelaki itu yang sangat ampuh ketika menenangkan wanita sedang ketakutan. "Jangan takut, ya. Lift hanya macet sebentar, tidak lama. Mungkin karena sedikit kesalahan teknis. Ini sudah biasa," ucap lelaki itu.
Isakan Pevita sudah mereda, barulah Pevita sadar cukup lama berada dipelukkan seorang lelaki yang tidak dikenal. Kesadaran Pevita kembali, dia membatin, "Ingat Pevita, sekarang kamu sedang berada di lift bersama lelaki tampan! Jangan mempermalukan diri sendiri! Cengeng sekali!"
Jarak antara mereka berdua sungguh dekat sampai Pevita merasakan detak jantung lelaki itu, aroma parfum maskulin menyeruak indra penciuman Pevita. Harum, Pevita sangat menyukai aroma ini. Semakin lama Pevita semakin nyaman berada dalam pelukan.
Beberapa menit kemudian, tiba-tiba lampu menyala terang. Pandangan pertama yang Pevita liat, di sampingnya, ada dua mata hitam menatap penuh kekhawatiran. Mereka berdua saling menatap lekat, bertukar pandangan.
Sepersekian sekon, barulah Pevita mulai merasakan sekujur tubuhnya tidak enak berada dalam pelukan, dia segara melepaskan pelukan itu karena tubuh Pevita yang menolak pelukan. Pevita menjauh dan tangan mengelus leher yang terasa kotor.
"Are you okay?" tanya lelaki itu masih dengan khawatir.
Pevita sudah menjauhkan tubuhnya, masih dengan mengelus leher yang terasa kotor. Bukannya Pevita menjawab pertanyaan itu, melainkan Pevita meminta maaf, "Maaf, aku tadi panik. Sejak kecil aku tidak menyukai kegelapan seperti tadi," tutur Pevita jujur.
Lelaki itu mengangguk, memakluminya. "It's ok. Tidak apa-apa."
Pevita melihat jelas jas lelaki tersebut agak basah karena air matanya. Wajah Pevita mulai panas dan memerah karena malu. "Maaf, jas kamu jadi basah," ujar Pevita bersalah. Pevita melirik sebentar jas yang dipakai lelaki itu. Balutan jas itu seakan-akan khusus dirancang untuknya.
"No problem." Singkat dan jelas. Lelaki itu benar-benar sedikit dingin.
"Untung ganteng," batin Pevita. Kemudian Pevita berkata dengan nada tidak enak hati, "Aku harap kamu tidak berfikir macam-macam, tadi aku hanya merasa takut dan histeris. Sekali lagi, maaf."
"Tidak. Saya yang harus meminta maaf karena membuat kamu merasa tersinggung karena perlakuan saya tadi."
"Kamu tidak salah, aku yang salah. Kamu tidak perlu minta maaf," kata Pevita kekeuh pada pendirian bahwa lelaki itu tidak bersalah sama sekali.
Lelaki itu tersenyum tipis, setipis kertas tetapi manis. "Saya tau, ini adalah pengalaman yang tidak menyenangkan untukmu," ujarnya memaklumi.
Pevita tertawa kecil. Memang, kejadian ini memang baru pertama kali, sebelumnya Pevita tidak pernah terjebak lift. Pengalaman pertama, haha.
"Kamu lantai berapa?" tanya lelaki itu.
Oh, rupanya dibalik sikap dingin, lelaki itu mempunyai rasa kepo dan penasaran juga.
"Lantai sepuluh, tapi aku harus ke lantai delapan dahulu," jawab Pevita memencet nomor delapan. Saat itu juga pintu lift terbuka di lantai 8. "Kamu lantai berapa?" Pevita bertanya balik.
"Lantai sepuluh," jawab lelaki itu.
Pevita terdiam, pikirannya bertanya. Bukankah lantai sepuluh itu ruangan khusus untuk para Direktur dan sekretaris? Jangan-jangan orang yang bersama Pevita dalam lift itu seorang Direktur atau mungkin lelaki itu juga sekretaris?
Entah, Pevita tidak tahu pasti. Karena dirinya awalnya bekerja di bagian departement fashion lalu dipindahkan menjadi sekretaris Direktur.
Pevita segera keluar. Sebelum pintu tertutup, Pevita sempat membalikkan badan menghadap lift yang detik-detik akan tertutup. "Terima kasih, ya. Sampai jumpa lagi di lantai 10. Oh, ya. Namaku Pevita." Pevita setengah berteriak memberi tahu namanya.
Lelaki itu sempat terkekeh geli namun tidak mengomentari ucapan Pevita karena pintu lift sudah tertutup. Pevita berlari tergopoh-gopoh untuk menemui bagian atasannya, Bu Sindy.
"Maaf Bu, aku terlambat terjebak lift. Macet sampai lampu padam," lapor Pevita.
Sindy tertawa renyah. "Hahaha, apes banget kamu ya. Padahal waktu kamu dibagian departement fashion tidak pernah terjebak lift," komentar Sindy.
Pevita tertegun. Dia baru tahu, karakter Sindy itu penuh canda tawa dan enak diajak ngobrol, maksud tidak kaku.
"Iya, parah banget. Baru pertama terjebak lift, Bu."
"Lift emang berulah lagi, ha ... ha ... ha. Tidak menyangka kamu menjadi korban. Ya sudah, ini berkas Pak Raffa yang harus dikerjakan. Kamu langsung ke lantai sepuluh." Bu Sindy menyodorkan berkas. "Jangan kaget, pas ketemu Direktur Raffa." Bu Sindy tersenyum aneh.
Pevita mengernyit, tidak paham. Apa maksudnya dari perkataan Bu Sindy?
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
It's Okay That's Love (INDONESIA) 45. Mengajarkan Rasa Malu
Sonia mengadu pada Ibunya tentang keputusan Presdir Satya tentang hasil rapat mengenai penerus perusahaan. Dia merasa hal tersebut tidak adil karena Sonia menganggap Dave lebih bertanggung jawab dibandingkan Raffa yang pemalas dan tidak tegas.Sonia berdiri tepat di depan meja Nenek Choi. "Bu, Ibu bisa melihat sendiri? Satya memaksa Raffa untuk menjadi Presdir. Bukannya sudah jelas kemampuan Raffa tidak ada apa-apanya, dari pada Dave? Dave, pintar dan bertanggung jawab dengan segala hal.""Ibu mengerti." Nenek Choi memberi alasan, "Tapi Ibu sudah tidak dapat memutuskan apapun karena aku bukan menjadi bagian dari perusahaan ini. Perusahaan ini sudah di pimpin kakakmu, bukan aku lagi.""Tapi, Bu ...." Sonia menganggap nenek Choi masih memiliki pengaruh untuk menghalangi keputusan Presdir Satya yang lebih mengarah ke keputusan yang semena-mena. "Aku yakin, Ibu masih punya kekuasaan."Nenek Choi hanya diam. Kulit keriput dan mata sayu memandang Sonia dengan ekspr
It's Okay That's Love (INDONESIA) 44. Penerus Perusahaan
Rapat penting dilakukan lagi di pagi ini. Presdir Satya sudah setia di kursinya menyaksikan diskusi rapat ini tentang kemajuan perusahaan. Seperti yang dia dikatakan kemarin, tentang penerus dan penerus generasinya.Tetapi di rapat penting itu Raffa tidak hadir. Akhirnya Dave membuktikan dirinya untuk melakukan yang terbaik. Dave berhasil mengendalikan media dan publikasi dengan menepis rumor kalau pihak mereka tidak memiliki uang untuk pembelian saham. Dan dia bersama ibunya melakukan penandatangan akuisisi yang membuat ibunya bangga dan tersenyum.Semua bertepuk tangan meriah atas pencerahan dan pidato dari Dave. Menurut mereka pidato Dave tidak berbelit-belit, tetapi mudah dipahami, didengar dan mudah masuk ke otak."Sudah terbukti, bukan? Kualitas Direktur Dave memang sangat bagus dan patut menjadi generasi penerus perusahaan?" kata Ibu Dave bangga setelah bertepuk tangan.Seketika di ruangan rapat tampak bising dengan suara orang-orang membicarakan D
It's Okay That's Love (INDONESIA) 43. Merencanakan Sesuatu
Pevita mengalami mimpi buruk, tentang kejadian mengerikan saat dia diculik dan dijadikan sandra ketika masih anak-anak. Dia terbangun dari tidurnya dan napas tersenggal. Mimpi buruk membuat keringat membasahi daginya."Hanya mimpi? Aku mengira ingatanku tidak akan pulih tapi ingatan itu muncul kembali dalam mimpiku. Membuat aku semakin membingungkan." Pevita berdiri dan berjalan menuju dapur, akibat mimpi yang menyapa tidurnya kini dia haus dan merasa takut terhadap mimpi itu. Kenapa mimpi itu hadir kembali? Padahal Pevita sudah berusaha untuk melupakan kenangan masa lalu, dia pernah di culik dan dikurung di tempat gelap. Pevita menjadi takut kegelapan.Ponsel berdering, ada pesan masuk. Pevita segera berjalan ke tempat tidur dan meraih ponsel yang sedang berdering. Keningnya berkerut, menandakan kebingunan setelah membaca nama yang di layar ponsel. Pesan dari Raffa.
It's Okay That's Love (INDONESIA) 42. Epiphany
Raffa menyebut nama Pevita berkali-kali, berharap Pevita datang cepat seperti hewan kuchiyose namun Pevita lama sekali datang ke tempat Raffa. Serangan panik Raffa semakin parah dan kambuh. Pandangan mata mengabur, jantung berdetak kencang dan keringat dingin keluar dari kulit Raffa. Dia semakin sesak napas. Akhirnya Raffa tidak kuat lagi dan berjongkok di lantai, Raffa berada di keramaian orang-orang sedang berjalan lalulalang di sekeliling Raffa.Pevita khawatir saat kembali kepada Raffa sambil membawa satu botol minuman, melihat Raffa dalam keadaan lemas dan wajahnya pucat. Pevita panik dan cemas. Dia berjongkok di depan Raffa dan menyentuh bahu Raffa. “Direktur! Direktur!" kata Pevita berusaha untuk menyadarkan Raffa gejala kecemasan.Kedua mata Raffa tidak berkedip, hanya menatap lurus, dia memegang dadanya dan napas Raffa terengah-engah."Direktur! Please, tatap mataku,” perintah P
It's Okay That's Love (INDONESIA) 41. Ancaman
Dave tersenyum manis lalu menertawakan perkataan Pevita. "Tidak. Jika kamu menerima cincin itu artinya kamu menerima diri saya. Tapi jika kamu mengembalikan cincin itu artinya kamu menolak saya."Jadi? Cincin itu melambangkan cinta Dave? Cinta yang belum tentu dibalas oleh Pevita.Aduh, kenapa makan malam dengan Dave berakhir dengan sebuah cincin untuk Pevita. Jantung Pevita berdetak kencang, di dalam otaknya diantara dua pilihan. Direktur siapakah yang akan dipilih Pevita? Dave atau Raffa."Direktur. Aku—"Pevita gugup. Suaranya tergagap."Kamu menolak saya? Tolong, jangan lanjutkan perkataanmu. Saya sudah tahu jawabmu, saya telah tertolak," kata Dave sedih. Dia bisa menebak jawaban Pevita, walaupun Pevita belum memberikan jawaban.Pevita merasa bersalah. Sungguh. Dia saja belum menjawab, Dave sudah berpikir bahwa dia akan tertolak oleh Pevita. "Bukan, aku belum menjelaskan dan memberi jawaban-" Pevita menghentikan ucapannya ketika seora
It's Okay That's Love (INDONESIA) 40. Ungkapan Hati
Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj
It's Okay That's Love (INDONESIA) 11. Celana Dalam
Kalau dia ...Raffa mulai mencari sesuatu kesalahan dalam dirinya, sedetik kemudian dia baru menyadarinya. Kalau dia hanya memakai celana boxer bergambar Naruto dibagian bawah. Raffa langsung terlonjak dan berteriak heboh, tangannya mengambil alih selimut putih awan tak berdosa—yang
It's Okay That's Love (INDONESIA) 10. Direktur Pemalas
“BRENGSEK!!!” Pevita menggedor-gedor pintu kamar apartement Kenzi—pacar Gita. “BUKA PINTUNYA BRENGSEK!” teriak Pevita menggema.Sial, umpat Pevita dalam hati sambil berusaha mendobrak pintu. Pevita tidak tahu mana menjadi hal yang paling dia benci
It's Okay That's Love (INDONESIA) 9. Hamil
Menghapus nama keluarga? Raffa menggeleng tidak mau. Lelaki itu sudah membayangkan betapa menderitanya ketika namanya dihapus oleh Sang Ayah. Lagian ada-ada saja Presdir Satya mengenai penghapusan nama Raffa di kartu keluarga. ***Pintu lift terbuka dan Pevita tersadar dari la
It's Okay That's Love (INDONESIA) 39. Kekhawatiran
Pevita menghela napas legah. "Kenapa? Direktur! Kenapa kamu memanggilku?!" tanya Pevita menuntut dengan setengah kesal. Raffa tidak berhenti tersenyum sambil menepuk pundak Pevita. "Menakjubkan. Pevita, setiap kali aku berteriak memanggil namamu, kamu selalu datang dan muncul
