Memuat
Beranda/ Semua /Fake Marriage (Indonesia)/Bab 3: Keputusan

Bab 3: Keputusan

Penulis: Renko
"Tanggal publikasi: " 2020-10-18 07:40:33

"Apa Anda berpikir untuk menyembunyikan pernikahan dari semua orang?"

Pertanyaan lainnya dilontarkan kepada Arkan. Sebuah tape recorder mini itu disodorkan padanya. Seketika sekretaris Ham langsung mengambil peran untuk menghalangi para wartawan mengambil gambar ataupun mencari informasi. Merentangkan tangan di depan Arkan agar orang-orang sulit menerobos.

"Mungkinkah kalian hari ini akan pergi ke tempat acara pernikahan?"

Para wartawan tidak mudah berputus asa tampaknya. Mereka beralih mempertanyakan perihal pernikahan pada wanita bergaun pengantin yang mana masih terlihat kebingungan. Mereka melontarkan pertanyaan yang sama berulang kali. Berharap ada informasi penting yang bisa didapatkannya mengenai Arkan, seorang pria yang selalu menjadi sorotan perhatian setelah mengambil alih untuk mengelola perusahaan besar di kota itu.

"Bolehkah kami tahu siapa nama Anda?" Teriak salah seorang wartawan yang berada di barisan belakang.

Suasana menjadi hening usai pertanyaan itu dilontarkan seolah mereka semua sangat penasaran akan jawabannya. Lunar memperhatikan sekeliling dengan mata terbuka lebar. Semua orang mengelilinginya dan juga memelototi tanpa ingin memalingkan perhatian darinya.

"Lunar." Mungkin dengan mengatakan namanya, dia akan berhenti dipelototi.

Sayangnya Lunar semakin diserbu dengan pertanyaan beruntun yang tidak ada habisnya. Wartawan menanyakan tentang hubungannya dengan pria yang bernama Arkan. Nama itu terdengar sangat asing, apalagi dia tidak pernah bertemu. Lantas apa yang harus dijelaskan mengenai hubungannya dengan Arkan kecuali sebagai orang asing?

"S-saya tidak kenal dengan pria yang bernama Arkan." Dia melirik ke arah pria yang berdiri di belakang pria yang merentangkan tangan. Apakah Arkan yang di maksud adalah pria yang mengerutkan dahi tersebut? Dia baru sadar akan siapa orang yang dibahas.

Para wartawan tampak saling berbisik satu sama lain. Mereka yang mendengar pengakuan Lunar kalau tidak mengenal Arkan layaknya bualan saja. Dalam pikiran mereka pengakuan itu hanya siasat agar pernikahan tidak diketahui. Arkan sudah berusaha keras untuk menyembunyikan siapa calon yang akan dinikahi. Sekarang semuanya telah terbongkar karena mereka akhirnya menemukan siapa calon tersebut.

"Lunar adalah calon pengantin yang disembunyikan oleh Arkan. Kita harus menyebarkan beritanya sekarang juga." Ucap salah seorang wartawan menarik kesimpulan.

Arkan yang kian marah di belakang sana karena situasi semakin memburuk, segera menarik Lunar masuk ke dalam mobil bersamanya. Hari itu benar-benar bencana karena semua yang disusunnya secara rapi harus berantakan karena kehadiran wanita yang tidak diketahuinya siapa. Bagaikan hama yang mengganggu, dia sama sekali tidak menginginkan pengacau dalam hidupnya. Terlebih di dalam hubungannya dengan Raya.

Arkan ingin melampiaskan segala kemarahannya pada Lunar saat itu juga namun para wartawan masih berada di sana. Menggedor-gedor jendela yang mana menandakan kalau mereka tidak bisa berbicara di tempat tersebut. Sekretaris Ham datang setelahnya untuk segera melajukan mobil. Meninggalkan kekacauan yang masih meradang di kerumunan.

Mobil yang bergerak membuat Lunar kewalahan bagaimana cara menghentikannya. "K-ke mana kalian akan membawaku? T-turunkan aku." Dia mencondongkan tubuh ke depan agar bisa menghentikan pria yang mengendarai mobil. Menarik lengan pria itu agar berhenti secepatnya. "Berhenti sekarang juga!"

Arkan yang tidak ingin terjadi bencana lainnya menarik Lunar agar menjauh dari sekretaris Ham. Perlawanan terjadi sehingga dia terpaksa menggunakan kekuatan agar kekacauan tidak bertambah. Dia yang masih dalam keadaan posisi duduk merengkuh wanita itu menggunakan kedua tangan. Menahan rontaan sampai Lunar lelah dengan sendirinya. Meskipun begitu dia tidak melepaskan karena bisa saja sekretaris Ham diganggu lagi. Bisa-bisa mereka berada dalam bahaya jika mengganggu konsentrasi pengemudi.

"Kalian bisa terkena hukuman penjara karena telah memaksa seseorang untuk pergi bersama kalian. Ini sama saja dengan penculikan!"

Arkan semakin terpancing kemarahannya karena orang yang membuat kekacauan sama sekali tidak memikirkan kesalahan yang dibuat. Dia mengangkat kedua bahu wanita itu agar bisa tampak bagaimana tanggapan wanita itu dengan jelas. "Kau sudah membuatku berada dalam masalah besar. Apa kau sedang bermain petak umpet dan menjadikan bagasi mobilku sebagai tempat persembunyian?"

Lunar diingatkan akan apa yang terjadi tadi. Dia memang menjadikan bagasi mobil pria yang ada di depannya sebagai tempat persembunyian. "A-aku hanya.."

"Kau pasti seorang wanita gila yang bermain petak umpet dengan gaun pengantin. Dan kenapa kau melibatkan aku dalam permainanmu?"

Lunar meringis kesakitan karena bahunya diremas dengan kuat. Dia dilepaskan setelah itu dan membuatnya mundur ke belakang. Sepertinya memang benar kalau dia telah salah memilih tempat persembunyian. Ternyata dia yang berniat menghindari Nico dan Sora, telah melibatkan kehidupan orang lain.

Sampai perdebatan tadi tidak ada kata-kata yang terucap. Suasana di dalam mobil begitu tegang dengan kemarahan Arkan yang semakin terasa. Sekretaris Ham saja sampai tidak berani untuk melirik ke bangku penumpang. Sementara Lunar yang berada di antara orang asing hanya bisa diam saja sambil mengurut bahunya yang masih sakit.

Hingga mereka sampai di depan sebuah rumah, Arkan menarik Lunar untuk ikut bersamanya. Tidak menggubris penolakan yang diterima. Dia tetap berjalan sampai mereka bisa berada di dalam sebuah ruangan. Tempat itu adalah ruang duduk yang sering dipakai Arkan ketika ada tamu penting yang datang ke rumahnya. Hari ini dia memakai ruangan itu untuk wanita asing yang telah mengacaukan hidupnya.

Kini mereka hanya berdua saja di dalam sana. Sementara itu sekretaris Ham berjaga di luar. Baru Arkan melepaskan cengkeraman tangannya. Dia beralih duduk di sofa tunggal tanpa memedulikan Lunar lagi. Ponsel yang bergetar diambil dan ditempelkan ke telinga. Seperti dugaannya kalau berita mengenai mereka sudah sampai ke telinga ayahnya.

"Sekarang aku berada di rumah bersama wanita yang telah membuat kekacauan." Ucapnya dengan geram tanpa melepaskan tatapan dari Lunar.

Lunar hanya memandang apa yang tampil di hadapannya. Pria itu tidak melepaskan tatapan darinya sejak tadi dan membuatnya diliputi rasa takut. Seolah dia sedang terdampar di pulau asing seorang diri. Tanpa ada orang yang bisa dimintai bantuan. Ke mana dia harus mencari tempat aman untuk berlindung?

"Apa? Aku tidak akan melakukannya, ayah." Arkan tidak lagi melihat ke arahnya. Dari sudut pandang Lunar, pria itu kini terlihat gelisah. Tidak tau hal apa yang membuat kegelisahan tercipta karena dia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang menelepon.

Setelah itu Arkan mematikan ponselnya secara total. Meletakkan ponsel di atas meja sebelum menatap wanita pembuat kekacauan yang dia sebutkan tadi pada ayahnya. Sekali lagi dia memperhatikan penampilan Lunar dari atas sampai bawah. Sangat kotor sebagai seorang pengantin yang akan menikah.

"Apa kau orang gila?"

Lunar menggelengkan kepala sebelum menegakkan tubuhnya yang setengah beringsut. Apa yang dikatakan Arkan padanya jelas sangat menghina. Bagaimana bisa dia yang berdandan cantik dengan gaun pernikahan sebagai penampilan luar biasa, di mana hari ini seharusnya membuat semua orang berdecak kagum dikatakan sebagai orang gila? Dia masih waras!

"Kau yang sudah gila!" Serunya tanpa alasan yang jelas. Lunar hanya ingin membalas penghinaan yang diterima.

"Baguslah." Arkan sangat bersyukur akan hal itu meskipun keputusan sang ayah masih tidak bisa diterima dengan baik. Dia tidak bisa membayangkan akan hidup bersama orang gila untuk ke depannya.

Pintu ruangan yang tadinya tertutup rapat, tiba-tiba terbuka sepenuhnya memunculkan sosok pria yang sudah keriput kulitnya namun tetap bugar untuk berjalan dengan tegap. Pria itu adalah Damien, ayahnya Arkan. Jalannya cepat hingga bisa duduk di kursi yang ditempati anaknya dalam waktu singkat. Dia memperhatikan wanita yang termenung duduk dengan posisi yang sama sejak dia memasuki ruangan.

"Apa alasanmu tiba-tiba muncul dalam kehidupan anakku? Kau membutuhkan uang?" Damien langsung berucap tanpa ada basa-basi. Dia melirik perut yang tidak terlihat datar. "Arkan menghamilimu?"

Mendengar hal itu membuat Arkan langsung menyanggah. "Aku tidak melakukan hal itu, ayah." Bagaimana dia menghamili kalau bertemu saja baru beberapa jam yang lewat. Lagi pula dia tidak mungkin melakukan perbuatan itu pada Lunar yang sama sekali bukan tipenya.

Damien tampaknya tidak ingin mendengar sanggahan apa pun. "Kau tidak bisa menjawab?"

Lunar tampak kebingungan harus menjawab pertanyaan tersebut bagaimana. Dia sudah tidak lagi mempunyai rumah dan tentu saja dia membutuhkan uang. Tetapi terlalu licik jika dia memanfaatkan situasi hanya untuk mendapatkan tempat tinggal. Dia harus ingat kalau posisinya saat ini telah membuat kekacauan di kehidupan seseorang yang seharusnya tidak terlibat dalam pelariannya.

"Saya kabur dari pernikahan dan tidak sengaja menjadikan bagasi mobil Ar-kan," melirik pada orang yang memiliki nama sejenak. Memastikan kalau dia tidak salah dalam menyebutkan nama. "Sebagai tempat persembunyian. Sungguh saya tidak tahu kalau situasinya akan menjadi rumit seperti ini. Maafkan atas apa yang telah saya lakukan, tuan." Lunar langsung duduk di lantai sambil memohon. "Tolong jangan usir saya, tuan. Tidak ada lagi tempat yang bisa saya datangi. Apa saja akan saya lakukan sekalipun harus menjadi pelayan di rumah ini."

Lunar tidak bisa memungkiri kalau dia memang membutuhkan tempat tinggal. Jika luntang-lantung di jalan bisa saja dia tertangkap oleh Nico dan Sora kembali. Melalui pria yang terlihat seperti memiliki kekuasaan untuk melindungi, sepertinya dia bisa menghindari pernikahannya dengan Nico. Tidak apa-apa dia menjadi pelayan, asalkan setelah ini dia bisa bebas. Harga dirinya disingkirkan sementara waktu agar dia mendapatkan tempat tinggal.

Damien melirik anaknya yang mana sepertinya sudah sangat marah. Dia juga begitu kalau tidak karena harus mencari jalan keluar permasalahan yang terjadi. Jika dia meloloskan wanita asing itu bisa saja media datang menemui untuk menggali informasi dan bisa saja hal yang tidak-tidak dikatakan wanita asing itu. Sebaliknya jika dia tidak meloloskan, semua berita akan segera mereda.

"Untuk sekarang pilihan terbaik adalah pernikahan. Kalian akan menikah secepatnya."

"A-apa? M-menikah?"

Arkan yang sudah mengetahui keputusan itu lebih dulu tidak terlalu terkejut lagi. Dia masih tetap tidak menerima kalau dia akan menikah dengan wanita yang tidak dikenali. Apalagi dia sudah memiliki pilihan sendiri untuk pendamping hidup. Semua hancur dalam sekali hantaman saja. Apa dia benar-benar harus menikahi Lunar? Tidak adakah jalan yang lebih baik dari itu?

Damien yang memahami kalau mereka yang direncanakan untuk menikah tidak setuju langsung mengatakan maksudnya lebih jelas. "Hanya satu tahun saja sampai perpisahan kalian diumumkan." Itu adalah keputusan final yang tidak bisa diganggu gugat. Mereka berdua harus menikah.

Ingin tahu kelanjutannya?
Lanjutkan Membaca
Bab Sebelumnya
Bab selanjutnya

Bagikan buku ke

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Bab terbaru

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 17: Situasi Rumit

Lunar memegangi bahu itu dengan kuat sambil menahan desahan yang tidak boleh lepas sepenuhnya. Dia yang selalu terbuai dengan sentuhan lembut Arkan tidak bisa menolak. Padahal seharusnya mereka berada di bawah bersama sang ibu, tetapi apa yang mereka lakukan di dalam kamar?Dia berusaha menyeimbangkan akal sehatnya kembali, "Ibu ... menunggu ...," ucapnya terputus-putus menahan kenikmatan yang menjalar di setiap jengkal jiwanya.Arkan berhenti sebentar untuk melihat wanita yang sudah dipenuhi keringat itu berbaring di bawahnya, "Kalau begitu apa kau ingin kita berhenti?" menyeringai sambil menyentuh paha yang terbuka lebar itu.Lunar menggigit bibir dalamnya mengartikan keraguan. Di harus menemui ibu, tetapi di sisi lain sulit meninggalkan kenikmatan yang telah membuatnya tidak ingin beranjak terlalu cepat."Kita bisa melanjutkannya nanti," ucapnya ada rasa tidak rela di dalamnya.Arkan tersenyum sa

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 16: Menyakiti dan Memiliki

Lunar membuka pintu apartemen yang berbunyi belnya. Tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu. Tamu yang datang ternyata adalah ibunya. Dia mempersilakan ibunya masuk ke dalam apartemen, lalu dengan kecemasan yang masih meliputi dia mengambilkan minuman beserta camilan sebagai sambutan. Dia duduk bersama ibunya tanpa berani mengangkat kepala.Pada akhirnya dia bersuara juga karena terpikirkan kesalahan yang sudah dibuat, "Maaf ....""Kau sangat merepotkan."Ucapan sang ibu membuat Lunar semakin menundukkan kepala. Dia tidak sepenuhnya menyesal, tetapi di balik itu dia juga merasa bersalah karena merepotkan kedua orangtua.Suara helaan napas panjang terdengar, "Kau tidak tahu betapa malunya kami di hadapan semua orang karena kaburnya dirimu di acara pernikahan. Ayahmu sampai sakit karena hal itu."Lunar langsung mengangkat kepala, "Ayah sakit?"Sebelum keluarganya datang ke apar

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 15: Hubungan Terlarang

Arkan yang bersandar di dinding itu tidak langsung menjawab pertanyaan. Dia melirik Lunar yang sibuk menyantap makanan lebih dulu sebelum mengalihkan tatapan ke arah lain. Padahal dia sudah bertekad untuk menghabiskan waktu bersama Raya agar bisa melupakan wanita menjengkelkan yang selalu hinggap di pikiran, akan tetapi sepertinya sia-sia saja karena sampai detik ini pun Lunar tidak berhenti membuatnya berada dalam kesulitan."Ya. Aku bertemu dengan kekasihku," ucapnya berharap apa yang dikatakan bisa menyingkirkan apa yang tidak seharusnya dia pikirkan.Lunar menganggukkan kepala lambat-lambat. Dia mencoba memahami kalau hubungan mereka hanya sebatas orang asing saja, tetapi mendengar Arkan mengatakan hal itu kenapa rasa sesak ikut campur menghiasi dadanya? Dia tidak boleh seperti ini.Larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Lunar tersedak. Arkan yang melihat bergegas ke lantai bawah untuk mengambilkan minuman. Tidak memberika

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 14: Makan Larut Malam

"Memangnya selain dirimu, aku bisa meminta bantuan pada siapa lagi? Hanya ada kita berdua saja di sini. Lagi pula kenapa kau tidak ingin membantuku? Apa kau merasa enggan karena hubungan kita hanya sebagai orang asing? Tidakkah kau bisa membantu orang asing ini?"Sungguh menjengkelkan. Lunar membuat dirinya seperti orang yang mengemis saja. Padahal dia tidak perlu melakukan itu. Dia tidak harus membuat dirinya kesulitan."Kau bisa melupakannya," pada akhirnya menyerah karena sudah terlanjur kesal, "Padahal permintaanku tidak sulit," gumamnya sambil membalikkan badan.Sepeninggal Lunar, tersisa Arkan saja di dalam ruang ganti. Dia memperhatikan telapak tangan yang terbuka. Masih bisa tercium bagaimana aroma pelembap yang dipakai Lunar. Tidak sulit? Seharusnya begitu. Namun, bagaimana tidak sulit jika bau itu memabukkan dan membuat hatinya bergemuruh?"Sial," ucapnya memukul lemari kayu yang ada di hadapan.

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 13: Pose Menggoda

Lunar masih tidak mengerti kenapa Arkan tiba-tiba menciumnya. Bertanya pun percuma karena pria itu hanya diam saja sampai mereka tiba di apartemen tanpa memberikan jawaban apa pun. Kini mereka berada di kamar masing-masing dengan dia yang menempati kamar utama di apartemen tersebut.Kembali pada apa yang membuat dia ingin meluruskan masalah ciuman mereka di dalam mobil. Tadi sungguh membuatnya kehilangan akal saat Arkan menariknya duduk di pangkuan. Walaupun dia tahu kalau mereka hanya berpura-pura dan Arkan ingin mengurungkan rencana, tetapi dia tidak bisa berbuat hal yang sama. Pikirannya sungguh gila tadi. Bagaimana dia bisa berpikir untuk tidur bersama Arkan?Di saat pikirannya berkecamuk, suara ketukan pintu terdengar sebelum Arkan muncul dari luar sana. Memang dia tidak mengunci pintu sehingga Arkan bisa masuk ke dalam kamar tanpa menunggu persetujuan darinya. Kenapa Arkan datang ke kamarnya? Apa karena ingin berbicara mengenai ciuman mereka?

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 12: Tragedi di Dalam Mobil 2

Tangan Arkan masih setia di belakang kepala wanita itu, sedangkan bibir mereka sibuk bertautan satu sama lain. Saling mencecap rasa yang mendebarkan hati. Menciptakan bunyi decak-decak kecil akibat pergulatan yang terjadi. Kedua bibir itu lembap seluruhnya, tetapi masih tidak berniat untuk berhenti.Dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Hasratnya terpacu tanpa bisa ditolak saat Lunar ikut pula dalam gelombang hasrat yang diciptakannya lebih dulu. Apa yang terjadi pada dirinya? Padahal selama bersama Raya, dia tidak pernah merasa sangat ingin untuk melalukan hubungan intim.Bersama Raya, dia hanya bersikap seperti pria yang harus melindungi tanpa menyentuh. Bukan dia yang tidak berhasrat pada kekasihnya, hanya saja dia tidak terpikirkan untuk itu. Baginya Raya sudah seperti seseorang yang harus dilindungi. Walaupun begitu setiap kali mereka berciuman, dia merasa kalau apa yang mereka lakukan salah. Dia merasa tidak bisa melindungi setiap ka

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 8: Memancing Perasaan

Arkan berdiri tegap menatap sekretaris Ham yang menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Apakah benar pikirannya yang mengatakan kalau sekretaris Ham menyukai Lunar? Sampai memberikan gaun tidur yang begitu terbuka itu secara diam-diam. Tidak pernah dia mengetahui bagaimana wani

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 7: Malam Pernikahan

Untuk yang ke-dua kalinya Lunar mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Dibandingkan gaun pernikahannya saat bersama Nico, gaun yang sekarang lebih tertutup. Jika dia kabur dengan menggunakan gaun yang dipakai tampaknya akan sulit karena dia tidak bisa melangkah cepat. Berjalan saja dia harus h

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 6: Wanita Menjengkelkan

Di satu meja makan yang sama mereka duduk bertiga dalam suasana canggung. Lunar tidak berhenti mencuri pandang kedua pasangan itu secara bergantian. Arkan tidak berhenti melonggarkan dasi yang seolah ingin mencekik lehernya. Sementara itu Raya merasa kalau meja yang mana ditempati oleh dua orang

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 5: Kepulangan Raya

Arkan menanti dalam keadaan gelisah di dalam mobil. Usai rencana pernikahannya dengan Lunar diumumkan, dia langsung mendapatkan kabar kalau Raya akan kembali. Hari ini bertepatan pada tanggal mereka akan bertemu untuk memberikan kejutan pada semua orang mengenai hubungan mereka, tetapi rencana it

Bab Lainnya
Unduh Buku
GoodNovel

Unduh Buku Gratis di Aplikasi

Unduh
Cari
Pustaka
Pencarian
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasiLGBTQ+aRnoldMM Romancegenre22- 印尼语genre26- IndonesiaNamegenre27-请勿使用印尼语genre28- IndonesiaName
Cerita Pendek
LangitMisteri dan teka-tekiKota modernSurvival akhir duniaFilm aksiFilm fiksi ilmiahFilm romantisKekerasan berdarahRomansaKehidupan SekolahMisteri/ThrillerFantasiReinkarnasiRealistisManusia SerigalaharapanmimpikebahagiaanPerdamaianPersahabatanCerdasBahagiaKekerasanLembutKuat红安Pembantaian berdarahPembunuhanPerang sejarahPetualangan fantasiFiksi ilmiahStasiun kereta
MenulisKeuntungan PenulisLomba
Genre Populer
RomansayinniHistoricalUrbanMafiaSystemFantasi
Hubungi kami
Tentang kamiHelp & SuggestionBisnis
Sumber
Unduh AplikasiKeuntungan PenulisKebijakan KontenKata kunciPencarian PopulerUlasan bukuFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Komunitas
Facebook Group
Ikuti kami
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Syarat Penggunaan|Kebijakan Privasi