loading
Home/ All /Fake Marriage (Indonesia)/Bab 4: Pria Menjengkelkan

Bab 4: Pria Menjengkelkan

Author: Renko
"publish date: " 2020-10-20 22:02:52

Di luar ruangan yang mana tertutup pintunya Lunar berdiri. Menunggu dua orang pria yang masih berbicara di dalam ruangan. Dia memperhatikan sekeliling yang mana setiap sudutnya memiliki nilai estetika tersendiri. Dia tidak terkejut lagi kalau pria yang akan menikah dengannya adalah orang kaya karena dia saat ini sedang berurusan dengan pebisnis besar di kota tempat dia tinggal. Apalagi sejak tadi pemandangan yang disuguhkan membuatnya tercengang berulang kali. Dia pernah mendatangi rumah Nico yang juga mewah, tetapi apa yang dilihat sekarang jauh lebih mewah.

Dari kaca luar ruangan itu dia memperhatikan bagaimana Arkan seperti memprotesi keputusan yang dibuat. Memang mereka tidak mengenal sama sekali dan menikah dalam keadaan yang seperti itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima, kecuali dia yang membutuhkan tempat tinggal. Mau tidak mau dia harus membuang harga diri dengan memohon untuk tidak diusir.

Lama memandang baru dia sadar setelah perhatian teralihkan. Penampilannya! Dia merapikan penampilannya yang tampak di pantulan kaca itu. Rambut yang berantakan, riasan yang luntur, keringat di mana-mana, dan telapak kaki yang sejak pergi dari hotel tidak lagi memakai alas. Pantas saja dia dianggap orang gila karena apa yang dia lihat saat masih berada di ruang rias sungguh berbeda dari yang sekarang.

Suara tawa kecil terdengar dari pria yang sejak tadi berdiri di depan pintu. Pria itu adalah orang yang mengemudikan mobil tadi. Tawa langsung berhenti saat pintu terbuka dan membuat pria tersebut cepat beranjak. Menepi sambil menunduk hormat pada mereka yang baru saja keluar. Spontan Lunar juga ikut melakukan hal yang sama karena berpikir kalau dia yang meminta tempat tinggal harus menghormati orang yang akan memberikan tempat tinggal.

Hanya sepasang kaki saja yang pergi melesat dengan cepat, sedangkan sepasang kaki lagi tidak lagi melangkah. Lunar mengangkat sedikit kepalanya agar bisa melihat siapa yang pergi di antara dua pria itu. Tanpa direncanakan dia langsung bertemu tatap dengan Arkan, membuatnya langsung menundukkan kepala. Ekspresi wajah Arkan tetap saja tidak bersahabat sampai saat ini.

"Ikuti aku."

Lunar mengangkat kepalanya dengan cepat. Apa Arkan tadi berbicara dengannya? Dia melirik pria yang tidak lagi menunduk di sampingnya. Sebuah anggukan seolah mengatakan kalau Arkan memang memintanya untuk ikut. Ragu-ragu dia menoleh ke arah Arkan yang sudah jauh punggungnya. Lantas dia berlari menyusul pria tersebut dan berjalan di belakang.

Mereka sampai di sebuah ruangan yang mana di dalamnya terdapat tempat tidur. Arkan tidak melangkah lebih jauh dan sengaja membiarkan Lunar masuk lebih dulu. Setelah itu pintu ditutup agar mereka bisa mendapatkan tempat untuk berbicara secara empat mata. Lunar yang masih memperhatikan sekeliling tidak sadar akan bahaya yang sedang mengancam.

Lunar sadar setelah Arkan berada di dekatnya dan membuat dia harus menatap ke arah lain ketika tatapan mereka bertemu. Entah kenapa dia merasa tersudutkan oleh pria yang tidak menunjukkan keramahan sedikit pun. Dia seperti sedang berhadapan dengan penjahat yang menakutkan. Langkahnya sedikit mundur untuk membuat pertahanan diri.

"K-kita tidak perlu menikah. Aku bisa jadi pelayan saja di rumah ini. C-cukup memberikan aku tempat tinggal saja sampai waktuku untuk pergi tiba." Pada akhirnya Lunar memberanikan diri untuk berbicara.

Arkan mengembuskan napasnya lambat-lambat, lalu memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Dia sama sekali tidak melepaskan tatapan dari Lunar yang tersudutkan seperti seekor kucing kecil. Siapa yang menyukai rencana yang kacau? Dia memang membenci hal itu, tetapi tidak pula harus berlama-lama menyulitkan diri dengan merasakan kebencian tersebut.

"Kita akan menikah secepatnya. Sampai satu tahun nanti, kita akan berpisah. Selama itu lebih baik kau tidak mengubah rencanaku lagi."

Lunar menatap wajah yang tidak lagi menunjukkan ekspresi kemarahan. Namun, apa yang dikatakan Arkan barusan adalah menikah. Apa mereka benar-benar akan menikah? Itu jelas bukan berada pada jalur rencananya yang ingin kabur dari pernikahan karena Nico yang berkhianat. Di sini dia terjebak dalam pernikahan lainnya yang mana membuatnya tidak bisa menghindar. Apakah ini merupakan karma karena dia menentang keputusan orangtuanya?

"Kita tidak perlu menikah. Aku bisa menjadi pelayan di rumah ini untuk satu tahun ke depan." Lunar mengulang permintaan yang menjadi penolakan atas pernikahan untuk ke-dua kalinya. Kali ini tidak lagi bercampur dengan kegugupan seperti tadi.

Arkan mengangkat dagu wanita itu dengan telunjuk sehingga membuat mereka bisa menatap jelas bersama jarak yang dekat dari sebelumnya. "Kau tidak mengerti ucapanku? Jangan mengubah rencanaku lagi dengan rencana yang kau punya. Cukup duduk diam dan ikuti rencanaku." Dia memperhatikan penampilan Lunar yang bisa dia pandang sekilas. "Bersihkan dirimu yang bau dan kotor."

Lunar hanya menatap bagaimana Arkan membalikkan badan, lalu pergi dari ruangan meninggalkan dia seorang diri. Dia tidak membantah kalau tubuhnya memang dipenuhi keringat untuk berkeliaran. Mungkin sebelum mengetahui bagaimana penampilannya, dia bisa berbangga diri dengan mengatakan kalau orang gila sebenarnya adalah Arkan. Sekarang setelah menyadari apa yang dilihatnya di kaca tadi, dia tidak bisa mendebat Arkan yang mengatakan kalau dia bau dan kotor.

Lunar menghampiri sebuah pintu yang terdapat di kamar itu. Seperti perkiraan pintu yang dibuka adalah pintu kamar mandi. Dia tidak langsung masuk ke dalamnya karena ingin mencari pakaian ganti terlebih dahulu. Tidak mungkin setelah mandi dia memakai pakaian yang sama. Lemari yang ada di dalam kamar dihampiri dan dibuka pintunya. Tidak disangka isi lemari penuh akan pakaian, terlebih lengkap dengan pakaian dalam.

Semua yang dilihat saat ini membuatnya teringat akan apa yang ditemukannya di dalam koper. Dia menelan ludahnya sendiri membayangkan segala kemungkinan yang terjadi. Keberadaannya di rumah besar ini bukanlah akibat perangkap Arkan, bukan? Dia bukan wanita yang dipersiapkan untuk dijual atau semacamnya, bukan?

Seperti informasi yang dia dapatkan, pebisnis seperti Arkan tidak memiliki saudara perempuan. Arkan adalah anak tunggal di dalam keluarga Grey. Apa Royal Grey memiliki bisnis terselubung di belakang bisnis yang mereka miliki? Mungkinkah dia berada dalam bahaya sekarang? Oh, tidak! Dia harus segera pergi dari rumah ini jika hal itu benar adanya.

Sebelum itu dia harus membersihkan diri lebih dahulu karena tidak mungkin pergi dalam keadaan buruk seperti saat sekarang. Sehelai pakaian yang menggantung diambil, lalu diletakkan di atas ranjang. Dia membuka gaun pengantin yang sudah tidak lagi rapi. Menjatuhkannya begitu saja di lantai tanpa memungutnya kembali. Hanya menyisakan pakaian dalam, dia masuk ke dalam kamar mandi.

Di dalam sana dia menenangkan diri dan menyegarkan pikiran. Menyusun rencana bagaimana dia harus pergi dari bisnis terselubung. Pokoknya dia tidak boleh terjebak dalam perangkap jahat tersebut. Tidak masuk akal jika orang kaya seperti mereka menginginkan dia yang mana hanya seorang wanita biasa untuk dijadikan sebagai anggota keluarga Grey. Apalagi dia akan menikah dengan pewaris satu-satunya Royal Grey.

Dia keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk menutupi tubuh. Baru saja membalikkan badan setelah pintu ditutup, dia harus dibuat terjekut oleh kehadiran Arkan yang duduk di tepi ranjang. Bergegas dia menutupi bahu yang terbuka seluruhnya dengan menyilangkan tangan. Langkahnya mundur kembali sampai ke tepi pintu dalam keadaan mulut yang masih menganga. Pembicaraan mereka telah selesai, lalu untuk apa Arkan kembali? Apakah pria itu akan memulai rencana untuk menjualnya? Bukankah itu terlalu cepat? Bahkan dia masih belum mengenakan apa pun sebelum dibawa pergi.

"Siapa yang mengizinkanmu mengambil pakaian dari dalam lemari?"

Lunar melemaskan tangan yang menyilang karena perhatiannya teralihkan akan topik yang dibahas. "Bukankah itu untukku?" Dia langsung menyanggah pikirannya sendiri yang menyetujui kalau dia ingin dijual. "M-maksudku, pakaian itu ada di dalam lemari dan bukankah kau membawaku ke kamar ini untuk aku tempati? Itu berarti semua yang ada di dalam kamar ini bisa aku gunakan, bukan?"

Tangan yang lemas berubah erat cengkeramannya saat Arkan menghampiri. Tatapannya tidak dilepaskan untuk memastikan kalau Arkan tidak melihat ke arah yang tidak seharusnya dilihat. Dia tidak rela jika tubuhnya dilihat pria yang ingin menjualnya. Tidak! Dia tidak akan membiarkan pria mana pun melihat dirinya, terutama Arkan.

"Semua yang ada di dalam ruangan ini adalah milik Raya dan aku tidak mengizinkanmu menggunakan apa pun yang menjadi kepunyaan Raya."

"R-raya?" Lunar menyadarkan diri dengan cepat sebelum meloloskan pertanyaan yang semakin membingungkan, "Lalu untuk apa kau membawaku ke kamar ini?"

"Untuk.. berbicara denganmu karena hanya di kamar ini aku bisa tenang." Ucap Arkan sedikit goyah karena dia membahas perihal dirinya pada orang asing. Sesuatu yang tidak harus diucapkannya dengan mudah.

Lunar menganggukkan kepala mengerti sekarang. Jadi dia salah paham mengenai bisnis terselubung di Royal Grey. Dia tidak akan dijual seperti apa yang dipikirkannya tadi. Terlebih dari itu dia berada di kamar seseorang yang bernama Raya. Tentu saja dia tidak peduli siapa Raya karena dia sama sekali tidak ingin ikut campur dalam urusan pria yang hanya akan hidup satu tahun bersamanya. Itu pun mereka akan menjadi orang asing seperti kesepakatan yang telah dibuat karena interaksi hanya diperlukan di depan orang-orang saja. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk dekat selama itu.

"Sepertinya Raya adalah orang yang sangat berarti bagimu, Arkan. Baiklah," dia meletakkan kedua belah tangan di pinggang sambil menatap lurus dengan penuh keberanian. "Aku tidak akan menggunakan apa pun yang menjadi milik Raya. Sekarang apa kau bisa menunjukkan di mana tempat untukku bisa beristirahat? Karena aku akan menjadi istrimu sebentar lagi dengan kesepakatan, kau akan menyediakan tempat tinggal dan segala kebutuhanku."

Arkan menaikkan sebelah alisnya tidak mengerti pada wanita yang seharusnya menjadi pusat permasalahan dalam hidupnya. Dia memang menikahi Lunar agar tidak ada berita buruk mengenai hubungan mereka, keuntungannya Lunar akan mendapatkan tempat tinggal dan segala kebutuhan sebagai calon anggota keluarga Grey. Tidak disangka jika Lunar sangat berani dengan mengatakan kejelasan itu secara terus terang tanpa ada rasa malu sama sekali. Lebih menyedihkannya lagi dia tidak bisa menolak perkataan itu.

"Kalau begitu biarkan aku mengantarmu." Ucap Arkan kemudian menaikkan sebelah bibirnya.

Lunar membeliak saat lengannya ditarik dan dia dibawa keluar ruangan dengan hanya mengenakan handuk. Ada banyak pelayan di lorong rumah itu dan semua menatap ke arahnya. Sungguh pria yang sangat menjengkelkan. Tidak bisakah Arkan memberikannya pakaian terlebih dahulu sebelum mereka keluar dari ruangan?

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 17: Situasi Rumit

Lunar memegangi bahu itu dengan kuat sambil menahan desahan yang tidak boleh lepas sepenuhnya. Dia yang selalu terbuai dengan sentuhan lembut Arkan tidak bisa menolak. Padahal seharusnya mereka berada di bawah bersama sang ibu, tetapi apa yang mereka lakukan di dalam kamar?Dia berusaha menyeimbangkan akal sehatnya kembali, "Ibu ... menunggu ...," ucapnya terputus-putus menahan kenikmatan yang menjalar di setiap jengkal jiwanya.Arkan berhenti sebentar untuk melihat wanita yang sudah dipenuhi keringat itu berbaring di bawahnya, "Kalau begitu apa kau ingin kita berhenti?" menyeringai sambil menyentuh paha yang terbuka lebar itu.Lunar menggigit bibir dalamnya mengartikan keraguan. Di harus menemui ibu, tetapi di sisi lain sulit meninggalkan kenikmatan yang telah membuatnya tidak ingin beranjak terlalu cepat."Kita bisa melanjutkannya nanti," ucapnya ada rasa tidak rela di dalamnya.Arkan tersenyum sa

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 16: Menyakiti dan Memiliki

Lunar membuka pintu apartemen yang berbunyi belnya. Tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu. Tamu yang datang ternyata adalah ibunya. Dia mempersilakan ibunya masuk ke dalam apartemen, lalu dengan kecemasan yang masih meliputi dia mengambilkan minuman beserta camilan sebagai sambutan. Dia duduk bersama ibunya tanpa berani mengangkat kepala.Pada akhirnya dia bersuara juga karena terpikirkan kesalahan yang sudah dibuat, "Maaf ....""Kau sangat merepotkan."Ucapan sang ibu membuat Lunar semakin menundukkan kepala. Dia tidak sepenuhnya menyesal, tetapi di balik itu dia juga merasa bersalah karena merepotkan kedua orangtua.Suara helaan napas panjang terdengar, "Kau tidak tahu betapa malunya kami di hadapan semua orang karena kaburnya dirimu di acara pernikahan. Ayahmu sampai sakit karena hal itu."Lunar langsung mengangkat kepala, "Ayah sakit?"Sebelum keluarganya datang ke apar

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 15: Hubungan Terlarang

Arkan yang bersandar di dinding itu tidak langsung menjawab pertanyaan. Dia melirik Lunar yang sibuk menyantap makanan lebih dulu sebelum mengalihkan tatapan ke arah lain. Padahal dia sudah bertekad untuk menghabiskan waktu bersama Raya agar bisa melupakan wanita menjengkelkan yang selalu hinggap di pikiran, akan tetapi sepertinya sia-sia saja karena sampai detik ini pun Lunar tidak berhenti membuatnya berada dalam kesulitan."Ya. Aku bertemu dengan kekasihku," ucapnya berharap apa yang dikatakan bisa menyingkirkan apa yang tidak seharusnya dia pikirkan.Lunar menganggukkan kepala lambat-lambat. Dia mencoba memahami kalau hubungan mereka hanya sebatas orang asing saja, tetapi mendengar Arkan mengatakan hal itu kenapa rasa sesak ikut campur menghiasi dadanya? Dia tidak boleh seperti ini.Larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Lunar tersedak. Arkan yang melihat bergegas ke lantai bawah untuk mengambilkan minuman. Tidak memberika

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 14: Makan Larut Malam

"Memangnya selain dirimu, aku bisa meminta bantuan pada siapa lagi? Hanya ada kita berdua saja di sini. Lagi pula kenapa kau tidak ingin membantuku? Apa kau merasa enggan karena hubungan kita hanya sebagai orang asing? Tidakkah kau bisa membantu orang asing ini?"Sungguh menjengkelkan. Lunar membuat dirinya seperti orang yang mengemis saja. Padahal dia tidak perlu melakukan itu. Dia tidak harus membuat dirinya kesulitan."Kau bisa melupakannya," pada akhirnya menyerah karena sudah terlanjur kesal, "Padahal permintaanku tidak sulit," gumamnya sambil membalikkan badan.Sepeninggal Lunar, tersisa Arkan saja di dalam ruang ganti. Dia memperhatikan telapak tangan yang terbuka. Masih bisa tercium bagaimana aroma pelembap yang dipakai Lunar. Tidak sulit? Seharusnya begitu. Namun, bagaimana tidak sulit jika bau itu memabukkan dan membuat hatinya bergemuruh?"Sial," ucapnya memukul lemari kayu yang ada di hadapan.

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 13: Pose Menggoda

Lunar masih tidak mengerti kenapa Arkan tiba-tiba menciumnya. Bertanya pun percuma karena pria itu hanya diam saja sampai mereka tiba di apartemen tanpa memberikan jawaban apa pun. Kini mereka berada di kamar masing-masing dengan dia yang menempati kamar utama di apartemen tersebut.Kembali pada apa yang membuat dia ingin meluruskan masalah ciuman mereka di dalam mobil. Tadi sungguh membuatnya kehilangan akal saat Arkan menariknya duduk di pangkuan. Walaupun dia tahu kalau mereka hanya berpura-pura dan Arkan ingin mengurungkan rencana, tetapi dia tidak bisa berbuat hal yang sama. Pikirannya sungguh gila tadi. Bagaimana dia bisa berpikir untuk tidur bersama Arkan?Di saat pikirannya berkecamuk, suara ketukan pintu terdengar sebelum Arkan muncul dari luar sana. Memang dia tidak mengunci pintu sehingga Arkan bisa masuk ke dalam kamar tanpa menunggu persetujuan darinya. Kenapa Arkan datang ke kamarnya? Apa karena ingin berbicara mengenai ciuman mereka?

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 12: Tragedi di Dalam Mobil 2

Tangan Arkan masih setia di belakang kepala wanita itu, sedangkan bibir mereka sibuk bertautan satu sama lain. Saling mencecap rasa yang mendebarkan hati. Menciptakan bunyi decak-decak kecil akibat pergulatan yang terjadi. Kedua bibir itu lembap seluruhnya, tetapi masih tidak berniat untuk berhenti.Dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Hasratnya terpacu tanpa bisa ditolak saat Lunar ikut pula dalam gelombang hasrat yang diciptakannya lebih dulu. Apa yang terjadi pada dirinya? Padahal selama bersama Raya, dia tidak pernah merasa sangat ingin untuk melalukan hubungan intim.Bersama Raya, dia hanya bersikap seperti pria yang harus melindungi tanpa menyentuh. Bukan dia yang tidak berhasrat pada kekasihnya, hanya saja dia tidak terpikirkan untuk itu. Baginya Raya sudah seperti seseorang yang harus dilindungi. Walaupun begitu setiap kali mereka berciuman, dia merasa kalau apa yang mereka lakukan salah. Dia merasa tidak bisa melindungi setiap ka

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 11: Tragedi di Dalam Mobil

“Apa? Kau menikah dengan Arkan Grey?”Lunar menganggukkan kepala sebelum berkata, “Bagaimana kabar ibu dan ayah? Apa mereka baik-baik saja?” Baginya yang sudah lama tidak melihat kehadiran orangtua yang selalu dilihat setiap harinya membuat perasaan rindu muncul untuk bertemu. Me

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 10: Pertemuan Mendadak

Di salah satu toko besar itu Lunar sibuk memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan. Dibantu oleh beberapa orang pegawai toko pekerjaannya menjadi lebih mudah. Sebenarnya dia tidak akan sesibuk ini jika tidak Arkan yang memintanya untuk membeli sebanyak-banyaknya.Pria itu mengat

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 9: Tontonan Gratis

Lunar hanya terkejut saat beberapa orang pria bertubuh kekar memasuki apartemen. Dia tidak bisa berkata-kata sampai tamu terakhir sudah melintasi garis pintu. Pandangan yang berada pada sekretaris Ham dialihkan pada orang yang diseret. Lantas dia yang merasa hal tidak beres terjadi di apartemenny

Fake Marriage (Indonesia)   Bab 8: Memancing Perasaan

Arkan berdiri tegap menatap sekretaris Ham yang menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Apakah benar pikirannya yang mengatakan kalau sekretaris Ham menyukai Lunar? Sampai memberikan gaun tidur yang begitu terbuka itu secara diam-diam. Tidak pernah dia mengetahui bagaimana wani

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy