Libreng I-download ang libro sa App
Bab 2: Pertemuan
Author: RenkoLunar berlari keluar dari hotel secepat mungkin. Sepatu tinggi yang dikenakan untuk mempercantik penampilan dibiarkan tinggal begitu saja ketika membuatnya kesulitan melangkah. Dia tidak bisa membuang-buang waktu karena penata rias yang dimintai bantuan pasti kini sedang sibuk mengulur waktu agar keputusannya untuk kabur tidak ketahuan dengan cepat. Biar bagaimanapun semua orang pasti akan menyadari kenapa dia tidak kunjung muncul di tempat acara.
Belum lama dia berlari tiba-tiba suara teriakan yang memanggil namanya terdengar. Dia menoleh ke belakang yang mana Nico dan Sora sedang berlari pula. Tampaknya penata rias itu tidak bisa mengulur waktu lebih lama. Sungguh membuatnya sangat frustrasi bagaimana harus pergi dari hadapan mereka secepatnya. Kalau terus seperti ini dia akan tersusul. Dia tidak ingin menikah dengan pria pengkhianat seperti Nico.
Di basemen parkir dia celingak-celinguk mencari tempat persembunyian. Berjalan perlahan sambil membungkukkan badan agar dirinya bisa tertutup semua. Suara entakan kaki yang riuh rendah di lantai basemen terdengar berhenti kemudian. Menandakan kalau orang yang mengejar tidak lagi berlari dan suara terakhir yang dia dengar berada tidak jauh darinya saat ini. Dia menekuk lutut di lantai, lalu menundukkan kepala di salah satu mobil agar bisa melihat ke mana arah Nico dan Sora melangkah. Seperti itu dia bisa memperhitungkan ke mana harus menghindar.
"Lunar, lebih baik kau keluar sekarang. Jangan membuat acara pernikahan menjadi kacau. Nama baik keluarga kita akan tercoreng nanti. Ayah dan ibu juga akan kecewa dengan tindakanmu." Dua pasang kaki tampak melewati mobil yang dijadikannya sebagai tempat persembunyian.
Lunar menegakkan kepalanya kembali sambil menahan tubuh yang berjongkok dengan memegangi bagian belakang mobil. Mendengar Sora mengatakan tentang kedua orangtua mereka membuat dia terpikir akan hal itu. Meskipun menikah bukanlah keputusan yang dia inginkan, tetap saja dia tidak ingin mengecewakan siapa-siapa.
Namun, dia harus bagaimana lagi? Nico bukanlah pria yang baik seperti yang diperkirakan. Kalau saja ada yang mempercayai perkataannya dan membatalkan pernikahan, mungkin dia tidak akan berpikir untuk kabur. Dia pun tidak tahu harus ke mana setelah ini. Tujuan yang dia punya setiap hari hanya rumah di mana tempat keluarganya berkumpul. Setelah ini dia akan hidup luntang-lantung di jalan dengan gaun pernikahan. Orang-orang pasti mengira kalau dia menjadi gila karena gagal menikah.
Dia yang sudah beranjak pindah bersembunyi ke mobil yang lain, terkejut karena tiba-tiba saja tempat sandarannya bergerak dan membuatnya harus menjauhkan tubuh dari sana segera. Bagasi mobil terbuka dengan sendirinya tanpa bisa dihindari. Dia kewalahan bagaimana harus menutupnya kembali. Terlebih suara yang diciptakan bagasi mobil bisa menjadi pusat perhatian di lantai basemen yang hening.
Suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Dia yang tidak tahu harus bersembunyi di mana, menjadikan bagasi mobil sebagai tempat persembunyian. Menggunakan kain berwarna gelap yang ada di dalam bagasi mobil, dia menutupi seluruh tubuh agar tidak terlihat. Dalam penantian suara langkah yang kian mendekat, dia berharap kalau keberadaannya tidak diketahui oleh orang lain. Tidak ada yang tahu betapa kencang detak jantungnya saat ini.
Suara pintu kabin terdengar membuka dan menutup seolah seseorang baru saja masuk ke dalamnya. Dia berpikir kalau yang datang adalah Nico dan Sora namun sepertinya salah perkiraan. Saat mendengar suara benda di samping kepalanya, dia melebarkan mata. Ada seseorang yang berada dekat dengannya saat ini. Sepertinya orang itu baru saja meletakkan sesuatu yang tidak diketahuinya dengan jelas.
"Apa selimut ini tadi terbuka seperti ini?"
Lunar membuka mata lebar-lebar saat suara asing tengah membicarakan perihal selimut yang dia pakai untuk menutupi diri. Apakah dia akan ketahuan secepat itu? Dia berharap siapa pun itu tidak mengetahui keberadaannya. Sungguh dia hanya ingin pergi jauh dari hotel saat ini juga.
Di saat yang bersamaan suara pintu kabin terdengar kembali. "Hanya meletakkan koper saja, kenapa lama sekali?"
Sepertinya ada dua orang yang dia hadapi saat ini. Mereka adalah pria bersuara lembut dan juga pria bersuara berat yang terdengar maskulin. Untuk saat sekarang bukan saat yang tepat membayangkan seperti apa pria bersuara maskulin itu. Dia kembali fokus pada harapan di mana dia tidak ingin keberadaannya diketahui. Bahkan napasnya diembuskan dan dihela lambat-lambat agar tidak menimbulkan kecurigaan.
"Saya akan segera menutup bagasi mobilnya, tuan."
Suara yang cukup keras terdengar memekakkan telinga setelahnya. Itu adalah suara bagasi mobil yang ditutup. Dia segera membuka selimut untuk melihat situasi. Kini dia terjebak di dalam bagasi mobil dan tidak bisa keluar. Tidak lama kemudian suara deruan mobil terdengar. Membawanya pergi entah ke mana.
Dia bisa bebas dari kejaran Nico dan Sora, tetapi harus menghadapi situasi yang lebih mengerikan lagi. Tidak mungkin hidupnya berhenti di sana saja setelah kabur dari pernikahan yang tidak diinginkan. Dia harus keluar secepatnya agar tidak mati konyol. Tetapi bagaimana cara dia untuk keluar dari bagasi mobil itu?
Dia meraba-raba bagian bagasi mobil perlahan. Berharap ada hal yang bisa dia lakukan agar bisa keluar dari sana. Dia tidak bisa berlama-lama meringkuk dan juga bertahan di ruangan yang pengap. Sekarang saja terasa sesak untuk dia bernapas di ruangan sempit dan gelap. Terlebih tubuh yang tidak bisa digerakkan dengan bebas mulai keram karenanya.
Bersusah payah dia mencari-cari apa pun yang bisa menolongnya. Bahkan koper berukuran kecil yang ada di sampingnya juga dibuka. Tidak bisa dilihat jelas apa saja yang ada di dalam koper itu, tetapi dia bisa membayangkan apa yang dipegangnya saat ini. Pemilik koper itu sungguh licik karena menyimpan pakaian dalam wanita.
Dia berusaha memikirkan sesuatu yang positif mengenai hal itu. Mungkin pria pemilik koper memiliki seorang kekasih. Apalagi mobil yang terparkir berada di hotel, maka bukan hal mengejutkan lagi baginya. Tampaknya dia sudah salah bersembunyi di dalam bagasi mobil, tetapi tidak menyesal karena berhasil kabur dari acara pernikahan.
Selain pakaian dalam dan alat kosmetik, tidak ada lagi yang bisa dia temukan di sana. Pencariannya berujung pada kata sia-sia. Dia menggerak-gerakkan tubuhnya di dalam bagasi dengan brutal. Memukul-mukul penutup bagasi yang ada di atasnya dengan kuat. Berharap seseorang bisa menolongnya. Dia juga berteriak agar bagasi mobil segera dibuka. Sungguh dia tidak bisa bertahan lagi berlama-lama di sana.
***
Arkan adalah seorang pebisnis ternama di kota tempat dia tinggal. Hari ini dia baru saja selesai menemui klien bisnis di sebuah hotel. Dia yang duduk santai di belakang bangku penumpang, menutup dokumen yang dibaca, lalu melepaskan kacamata yang dikenakan. Kedua benda itu ditempatkan di samping tempat duduknya. Dia bersandar dengan menopang siku di pintu kabin sambil memejamkan mata.
Sebentar saja dia ingin beristirahat sebelum alisnya mengernyit dalam. Dia diam sejenak sambil menelaah suara gaduh yang didengarnya barusan. Kepalanya menoleh untuk melihat bagian belakang mobil yang mana baik-baik saja. Tidak ada mobil lainnya di belakang mereka. Lantas kenapa ada suara gaduh dari arah belakang?
"Apa tuan baik-baik saja?" Tanya sekretaris Ham yang sedang mengemudikan mobil.
"Apa aku terlihat tidak baik-baik saja?" Arkan tampak ingin sekali mendengar sebuah jawaban memuaskan dari sekretaris Ham karena dia merasa aneh dengan dirinya saat ini.
Sekretaris Ham bergumam sebentar. "Tuan tampak sedikit pucat, maka dari itu saya bertanya apakah tuan baik-baik saja?"
Arkah berdeham sambil melonggarkan dasinya. "Sepertinya aku perlu beristirahat sejenak." Ucapnya kemudian bersandar di kursi penumpang tersebut.
Saat suara berisik terdengar kembali, dia mengamati ekspresi sekretaris Ham untuk memastikan kalau apa yang didengar hanya halusinasi saja. Sekretaris pribadinya itu tampak fokua mengemudi. Pada akhirnya dia bisa mengabaikan suara yang menurutnya sangat asing. Telinganya juga diurut perlahan dengan harapan suara berisik itu cepat pergi dari pendengaran.
Beberapa saat setelah itu dia sampai di depan gedung kantor. Di depan sana sudah banyak wartawan yang berkumpul. Memang berita pernikahannya sangat tiba-tiba sehingga banyak pihak yang ingin menggali informasi mengenai hal itu. Tidak masalah baginya karena memang dia sudah memutuskan untuk menikahi Raya dalam waktu dekat. Hubungan mereka sudah berjalan lama namun baru sekarang dia berani untuk mengumumkannya pada semua orang.
Sekretaris Ham turun lebih dulu dan membukakan pintu keluar untuknya. Dia turun dari mobil, lalu melangkah ke gedung kantor. Hanya beberapa langkah saja karena setelah itu tanpa diduga para wartawan datang mengerumuni. Alhasil dia harus mundur agar keamanannya terjaga. Membiarkan sekretaris Ham menghadapi mereka di luar, sementara dia kembali masuk ke dalam mobil sampai situasi bisa ditenangkan.
Lagi-lagi dia mendengar suara gaduh dari belakang sana, padahal setelah dilihat tidak ada orang. Apakah suara itu berasal dari para wartawan? Sepertinya dia harus memeriksa kondisi kesehatannya setelah ini. Mungkin saja beban pekerjaan telah membuat halusinasinya meningkat.
Dia menoleh ke luar jendela yang mana kerumunan orang yang tadinya riuh mendadak senyap. Mereka semua menghadap ke satu arah yaitu belakang mobilnya. Tidak hanya itu saja karena mereka juga berjalan lambat-lambat ke arah suara yang dia dengar sejak tadi. Apa yang mereka lakukan di sana? Dia yang sudah dilanda rasa penasaran menarik diri untuk turun dari mobil dan melihat apa yang terjadi.
Seketika semua orang beranjak ketika dia ikut di dalam kerumunan. Sekretaris Ham langsung membuka bagasi mobil dan perlahan sumber suara semakin jelas terdengar. Mereka melebarkan mata ketika melihat seseorang berada di dalam sana. Tidak terkecuali Arkan yang sangat terkejut karena mendapati orang asing berada di dalam bagasi mobilnya.
"Aku.. hampir saja.. mati.."
Wanita asing itu terengah-engah dengan keringat yang bercucuran. Berusaha mengambil napas dan turun dari dalam bagasi dengan gerakan tidak beraturan. Dia terpaksa memegangi tubuh yang seolah lemas itu ketika hampir saja terjatuh. Mengalihkan tatapan dari mata wanita itu, dia melirik ke arah bagasi mobil yang mana isi koper sudah berserakan.
Sekretaris Ham yang ikut melihat pemandangan tidak terduga langsung menutup bagasi mobil. Tidak membiarkan ada wartawan yang mengambil foto. Setelah itu dia menarik wanita yang masih bersandar dan membuat wanita itu berdiri tegak kembali.
"A-apakah wanita ini calon istri yang di maksud?" Ucap salah seorang wartawan setelah menilai penampilan yang dia lihat.
Ibahagi ang nobela sa
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Pinakabagong kabanata
Fake Marriage (Indonesia) Bab 17: Situasi Rumit
Lunar memegangi bahu itu dengan kuat sambil menahan desahan yang tidak boleh lepas sepenuhnya. Dia yang selalu terbuai dengan sentuhan lembut Arkan tidak bisa menolak. Padahal seharusnya mereka berada di bawah bersama sang ibu, tetapi apa yang mereka lakukan di dalam kamar?Dia berusaha menyeimbangkan akal sehatnya kembali, "Ibu ... menunggu ...," ucapnya terputus-putus menahan kenikmatan yang menjalar di setiap jengkal jiwanya.Arkan berhenti sebentar untuk melihat wanita yang sudah dipenuhi keringat itu berbaring di bawahnya, "Kalau begitu apa kau ingin kita berhenti?" menyeringai sambil menyentuh paha yang terbuka lebar itu.Lunar menggigit bibir dalamnya mengartikan keraguan. Di harus menemui ibu, tetapi di sisi lain sulit meninggalkan kenikmatan yang telah membuatnya tidak ingin beranjak terlalu cepat."Kita bisa melanjutkannya nanti," ucapnya ada rasa tidak rela di dalamnya.Arkan tersenyum sa
Fake Marriage (Indonesia) Bab 16: Menyakiti dan Memiliki
Lunar membuka pintu apartemen yang berbunyi belnya. Tanpa pikir panjang dia langsung membuka pintu. Tamu yang datang ternyata adalah ibunya. Dia mempersilakan ibunya masuk ke dalam apartemen, lalu dengan kecemasan yang masih meliputi dia mengambilkan minuman beserta camilan sebagai sambutan. Dia duduk bersama ibunya tanpa berani mengangkat kepala.Pada akhirnya dia bersuara juga karena terpikirkan kesalahan yang sudah dibuat, "Maaf ....""Kau sangat merepotkan."Ucapan sang ibu membuat Lunar semakin menundukkan kepala. Dia tidak sepenuhnya menyesal, tetapi di balik itu dia juga merasa bersalah karena merepotkan kedua orangtua.Suara helaan napas panjang terdengar, "Kau tidak tahu betapa malunya kami di hadapan semua orang karena kaburnya dirimu di acara pernikahan. Ayahmu sampai sakit karena hal itu."Lunar langsung mengangkat kepala, "Ayah sakit?"Sebelum keluarganya datang ke apar
Fake Marriage (Indonesia) Bab 15: Hubungan Terlarang
Arkan yang bersandar di dinding itu tidak langsung menjawab pertanyaan. Dia melirik Lunar yang sibuk menyantap makanan lebih dulu sebelum mengalihkan tatapan ke arah lain. Padahal dia sudah bertekad untuk menghabiskan waktu bersama Raya agar bisa melupakan wanita menjengkelkan yang selalu hinggap di pikiran, akan tetapi sepertinya sia-sia saja karena sampai detik ini pun Lunar tidak berhenti membuatnya berada dalam kesulitan."Ya. Aku bertemu dengan kekasihku," ucapnya berharap apa yang dikatakan bisa menyingkirkan apa yang tidak seharusnya dia pikirkan.Lunar menganggukkan kepala lambat-lambat. Dia mencoba memahami kalau hubungan mereka hanya sebatas orang asing saja, tetapi mendengar Arkan mengatakan hal itu kenapa rasa sesak ikut campur menghiasi dadanya? Dia tidak boleh seperti ini.Larut dalam pikiran masing-masing, tiba-tiba Lunar tersedak. Arkan yang melihat bergegas ke lantai bawah untuk mengambilkan minuman. Tidak memberika
Fake Marriage (Indonesia) Bab 14: Makan Larut Malam
"Memangnya selain dirimu, aku bisa meminta bantuan pada siapa lagi? Hanya ada kita berdua saja di sini. Lagi pula kenapa kau tidak ingin membantuku? Apa kau merasa enggan karena hubungan kita hanya sebagai orang asing? Tidakkah kau bisa membantu orang asing ini?"Sungguh menjengkelkan. Lunar membuat dirinya seperti orang yang mengemis saja. Padahal dia tidak perlu melakukan itu. Dia tidak harus membuat dirinya kesulitan."Kau bisa melupakannya," pada akhirnya menyerah karena sudah terlanjur kesal, "Padahal permintaanku tidak sulit," gumamnya sambil membalikkan badan.Sepeninggal Lunar, tersisa Arkan saja di dalam ruang ganti. Dia memperhatikan telapak tangan yang terbuka. Masih bisa tercium bagaimana aroma pelembap yang dipakai Lunar. Tidak sulit? Seharusnya begitu. Namun, bagaimana tidak sulit jika bau itu memabukkan dan membuat hatinya bergemuruh?"Sial," ucapnya memukul lemari kayu yang ada di hadapan.
Fake Marriage (Indonesia) Bab 13: Pose Menggoda
Lunar masih tidak mengerti kenapa Arkan tiba-tiba menciumnya. Bertanya pun percuma karena pria itu hanya diam saja sampai mereka tiba di apartemen tanpa memberikan jawaban apa pun. Kini mereka berada di kamar masing-masing dengan dia yang menempati kamar utama di apartemen tersebut.Kembali pada apa yang membuat dia ingin meluruskan masalah ciuman mereka di dalam mobil. Tadi sungguh membuatnya kehilangan akal saat Arkan menariknya duduk di pangkuan. Walaupun dia tahu kalau mereka hanya berpura-pura dan Arkan ingin mengurungkan rencana, tetapi dia tidak bisa berbuat hal yang sama. Pikirannya sungguh gila tadi. Bagaimana dia bisa berpikir untuk tidur bersama Arkan?Di saat pikirannya berkecamuk, suara ketukan pintu terdengar sebelum Arkan muncul dari luar sana. Memang dia tidak mengunci pintu sehingga Arkan bisa masuk ke dalam kamar tanpa menunggu persetujuan darinya. Kenapa Arkan datang ke kamarnya? Apa karena ingin berbicara mengenai ciuman mereka?
Fake Marriage (Indonesia) Bab 12: Tragedi di Dalam Mobil 2
Tangan Arkan masih setia di belakang kepala wanita itu, sedangkan bibir mereka sibuk bertautan satu sama lain. Saling mencecap rasa yang mendebarkan hati. Menciptakan bunyi decak-decak kecil akibat pergulatan yang terjadi. Kedua bibir itu lembap seluruhnya, tetapi masih tidak berniat untuk berhenti.Dia belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Hasratnya terpacu tanpa bisa ditolak saat Lunar ikut pula dalam gelombang hasrat yang diciptakannya lebih dulu. Apa yang terjadi pada dirinya? Padahal selama bersama Raya, dia tidak pernah merasa sangat ingin untuk melalukan hubungan intim.Bersama Raya, dia hanya bersikap seperti pria yang harus melindungi tanpa menyentuh. Bukan dia yang tidak berhasrat pada kekasihnya, hanya saja dia tidak terpikirkan untuk itu. Baginya Raya sudah seperti seseorang yang harus dilindungi. Walaupun begitu setiap kali mereka berciuman, dia merasa kalau apa yang mereka lakukan salah. Dia merasa tidak bisa melindungi setiap ka
Fake Marriage (Indonesia) Bab 10: Pertemuan Mendadak
Di salah satu toko besar itu Lunar sibuk memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan. Dibantu oleh beberapa orang pegawai toko pekerjaannya menjadi lebih mudah. Sebenarnya dia tidak akan sesibuk ini jika tidak Arkan yang memintanya untuk membeli sebanyak-banyaknya.Pria itu mengat
Fake Marriage (Indonesia) Bab 9: Tontonan Gratis
Lunar hanya terkejut saat beberapa orang pria bertubuh kekar memasuki apartemen. Dia tidak bisa berkata-kata sampai tamu terakhir sudah melintasi garis pintu. Pandangan yang berada pada sekretaris Ham dialihkan pada orang yang diseret. Lantas dia yang merasa hal tidak beres terjadi di apartemenny
Fake Marriage (Indonesia) Bab 8: Memancing Perasaan
Arkan berdiri tegap menatap sekretaris Ham yang menunduk sambil sesekali mencuri pandang ke arahnya. Apakah benar pikirannya yang mengatakan kalau sekretaris Ham menyukai Lunar? Sampai memberikan gaun tidur yang begitu terbuka itu secara diam-diam. Tidak pernah dia mengetahui bagaimana wani
Fake Marriage (Indonesia) Bab 7: Malam Pernikahan
Untuk yang ke-dua kalinya Lunar mengenakan gaun pengantin berwarna putih. Dibandingkan gaun pernikahannya saat bersama Nico, gaun yang sekarang lebih tertutup. Jika dia kabur dengan menggunakan gaun yang dipakai tampaknya akan sulit karena dia tidak bisa melangkah cepat. Berjalan saja dia harus h
