GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest

All Chapters of It's Okay That's Love (INDONESIA): Chapter 21 - Chapter 30

Home /  All /  It's Okay That's Love (INDONESIA) /  Chapter 21 - Chapter 30
45 Chapters

21. Masalah

Keesok paginya, Pevita menaiki bus, berdesak-desakan. Sebelum pergi ke kantor, Pevita pergi ke rumah Raffa. Tidak mempunyai uang banyak, uang Pevita semakin menepis membuat Pevita harus hidup hemat, jadi dia harus menaiki bus, lebih murah, dari pada menaiki taxi.Pevita berdiri di dalam bus bersama penumpang lainnya. Bus penuh dengan orang-orang, sebenarnya Pevita tidak suka menaiki bus secara berdesakan. Pevita berharap bus cepat sampai ke rumah Raffa, sudah tidak tahan lagi di dalam bus.Kejadian buruk bagi Pevita ketika keluar dari bus, satu high heels tanpa sengaja diinjak oleh penumpang bus, high heels tertinggal di dalam bus. Sial, saat Pevita berusaha mengambil high heels, namun bus sudah melaju pergi.Pevita berlari, tetapi bus melaju cepat."HEY!!! Berhenti! High heels aku tertinggal di dalam bus!" Pevita bert
Read more

22. Kecemasan

Hari ini, Pevita ingin meminta maaf secara langsung kepada Presdir Satya. Pevita tidak peduli jika sekretaris Haris melarangnya untuk bertemu dengan boss besar. Pevita tidak akan kabur dari kesalahannya, saham perusahaan menurun karena Pevita. Kejadian di club malam bersama Raffa, mengakibatkan kerugian perusahaan.Kenapa? Karena Raffa anak dari pemilik perusahaan Andromeda company. Pemilik club malam meminta kerugian kepada perusahaan Andromeda. Padahal hanya kejadian kecil. Berita itu menyebar dan membuat perusahaan Andromeda mendapatkan penilaian buruk. Tentu saja Presdir tidak terima.Ketika Pevita akan pergi ke ruangan Presdir Satya, dia bertemu dengan Direktur Dave. Entah apa yang membuat Pevita malu saat berpapasan dengan Dave. Pevita menggigit bibirnya, terpesona melihat ciptaan Tuhan.Dave adalah lelaki idaman Pevita, tidak heran lagi jika Pevita bertemu dengannya menjadi salah tingkah. Pevita tidak kuat lagi meng
Read more

23. Panic Disorder

Tatapan mata yang biasanya tajam dan tegas berubah menjadi lemah dan nanar. Bahkan Presdir Satya menangis dipelukan Nenek Choi, air matanya membasahi pipinya. Betapa bodohnya, ketika Raffa mempunyai gangguan kecemasan, namun Presdir Satya tidak sadar.Presdir Satya menyesal, selalu marah kepada Raffa. Ketika Raffa pergi begitu saja waktu presentasi, ketika Raffa selalu kabur dari rapat. Ternyata, Raffa mempunyai panic disorder.Seorang anak tetap menjadi anak walaupun sudah menjadi ayah. Presdir Satya menangis di pelukan ibunya. Kenapa dari dulu tidak mengetahui anaknya punya panic disorder? “Aku menjadi ayah yang buruk. Raffa mempunyai gangguan panik dan aku tidak mengetahuinya. Aku tidak berguna menjadi seorang ayahnya,” kata Satya dengan parau.Hati n
Read more

24. Terungkap

Prang!! Pevita sadar apa yang telah Raffa lakukan kepadanya, menciumnya? Dia menjauhkan tubuh dari Raffa dan siap mengayunkan tinjunya, sementara Raffa otomatis menangkup kedua tangan, memohon ampun, mengatakan bahwa Raffa salah.Mereka berdiri dengan jarak jauh. Pevita memegang tengkuk leher dan mengelus-elus karena merasa kotor dan pegal. Sudah biasa bagi Pevita merasa tidak enak badan jika berciuman dengan lelaki."Maafkan aku." Raffa meminta maaf kepada Pevita. Dia takut akan dipukul oleh Pevita. "Aku tidak berniat menciummu," kata Raffa jujur.Pevita tidak langsung menjawab. Dia diam, kemudian  berkata, “Aku akan memaafkanmu, tetapi Direktur merenungkan perbuatan apa yang tadi dilakukan,” jelas Pevita. “Aku akan memaafkanmu kali ini,” kata Pevita melanjutkan perkat
Read more

25. Kebahagiaan

Pagi, jam tujuh. Raffa bangun tidur. Nenek Choi berkata kepada Raffa, bahwa kamarin ayahnya bertemu Pevita di taman Havanna.  Mendengar perkataan dari neneknya, Raffa berlari keluar rumah. Menghampiri ayahnya yang sedang duduk merawat tanaman. Raffa kesal. Kenapa Pevita tidak berkata dengan jujur kepadanya dan membohongi dirinya? “Ayah!” teriak Raffa dengan suara keras, menghampiri ayahnya. Satya terkonsentrasi merawat tanaman, tidak peduli Raffa memanggilnya.Tidak malu, Raffa keluar dari rumah dan berjalan ke arah Satya. Raffa menggunakan celana pendek bergambar naruto pantat Raffa. "Ayah! Apa ayah tidak mendengarku?" Raffa menggerutu."Ada apa? Kenapa kamu berteriak?" tanya Satya. Hari ini mood Satya sedan
Read more

26. Merebut Wanita

“So, it's a date?” tanya Dave dengan manis.Kencan? Pevita mengedipkan mata, bingung dengan perkataan Dave. Pevita make sure pertanyaan yang dibuat oleh Direktur Dave adalah untuk wanita itu.Dave tertawa kecil, dia mengelak lalu menjelaskan jika Dave ingin mengajak Pevita makan siang di restourant. Tentu saja bukan date. “Bukan ... bukan date,” kata Dave berusaha meluruskan perkataan tadi. “Kita hanya makan siang di restourant, mungkin membuat otak akam lebih fresh atau segar dan melepaskan stres.”Senyum Pevita memudar, dia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa dia mengharapkan kencan bersama Dave? "Aha..." Pevita malu.Dave lebih malu, dia telah berani bertanya, apakah ini sebuah date atau bukan. Pertanyaan tadi secara spontan saat mereka duduk di restourant yang berada tidak jauh dari kantor.“Aku hanya bertanya karena aku tidak tahu,” ungkap Dave jujur."I know." Pevita terkekeh me
Read more

27. Pertikaian

Pevita yang sedari tadi mengawasi mereka, masuk dan mencoba menengahi pertikaian mereka dengan tergopoh-gopoh mendekati.“Hentikan, Direktur!” Pevita mencoba mencari selah di tengah keduanya agar mereka memisahkan diri, hasilnya nihil.Raffa malah mengatakan secara provokatif kalau Dave yang tak mau mempermalukan dirinya. “Kau tak ingin punya malu, 'kan? Sejak dulu. Sekarang aku akan mengajarkan rasa malu itu,” tuturnya.Dengan memukul balik Dave di depan umum demi Pevita. Penghuni restaurant mulai terganggu adanya kegiatan dua manusia bertengkar fisik. Mereka di sana langsung menonton gratis.Maka Dave tak mau kalah, dia pun menampar Raffa.Dan apa yang kemudian terjadi? Tentu saja, Girl’s fight! Kedua Direktur itu saling memukul, mendorong, menjambak, dan semakin menarik perhatian pengunjung restoran yang sudah sedari tadi memperhatikan mereka. “Rasakan jambakan ini!” sentak Raffa sembari menjambak r
Read more

28. Perasaan Pevita

Presdir Satya menyuruh Dave keluar dan tinggal Pevita dan Raffa tentunya. Dan dia pun melanjutkan interogasinya. “Siapa yang memukul lebih banyak?”Bwahaha. Meskipun Presdir bersikap kasar terhadap Raffa, dia tetap menjadi ayah terbaik yang mengkhawatirkan anaknya sendiri. Bentuk kasih sayang secara tidak langsung.“Kenapa ayah bertanya seperti itu? Tentu saja aku yang memukul lebih banyak.” Raffa memastikan dirinya yang memukul lebih banyak. Raffa sangat bangga, kali ini seperti menjadi sosok lelaki—tidak seperti dulu di insiden bar—tidak bisa apa-apa.Pevita tak kuasa menahan senyumnya mendengar pertanyaan Presdir Satya. “Tidak hanya aku, sebagai orang tua pasti mengkhawatirkan anaknya setelah berkelahi.” Presdir Satya berkilah kalau memang seperti itulah perasaan orang tua pada anaknya. “Anak tengik sekarang kamu boleh keluar dan Sekretaris Vita tetap di sini beberapa saat.”
Read more

29. Melatih Gejala Raffa

Hari minggu, para pekerja kantor libur. Termasuk Pevita, dia meluangkan waktu memulai melatih gejala panic disorder milik Raffa dengan cara lari pagi. Pertama yang ingin Pevita lakukan adalah menormalkan detak jantung Raffa dan melatih Raffa berbicara di depan publik. Sungguh Pevita melakukan itu murni dari ketulusan hatinya, karena pada dasarnya setiap orang mengingikan kesembuhan. Dia selalu bertanya sendiri, kapan waktu itu datang—seseorang yang benar-benar mencintainya dan menyembuhkan phobianya.Mereka berdua berlari memutari taman bermain di jalan setapak. Raffa mengeluh tak kuat berlari lagi. “Apa kamu berniat membuat aku pingsan, Sekretaris Vita?” ujar Raffa di sela nada terangah-tengah berlari kecil menyusul Pevita yang masih segar dan tidak kelelahan berlari. “Latihan macam apa ini. Latihan ini lebih konyol dari konsultasi dengan psikolog. Bahkan sangat konyol. Aku tidak mau olahraga karena detak jantungku berdetak lebih cepat da
Read more

30. Dinner

Pevita tidak tahu, hari ini merasa sangat lelah sekali. Satu hari penuh bersama Raffa rasanya puas sekali. Hidupnya tidak pernah seperti ini sebelumnya, dulu saking sibuknya sampai tidak ada waktu luang dan sekarang bisa sedikit untuk mengistirahatkan otaknya, walaupun bersama Raffa. Itu lebih dari kata cukup, bisa tertawa bersama dan melakukan hal yang tidak pernah mereka lakukan.Di sinilah Pevita, berdiri manatap mobil Raffa yang mulai menjauh dari penglihatannya. Wanita mengembangkan senyuman tipis dari bibir cantiknya yang lipstick sudah agak hilang, ada secercah perasaan lega karena sedikit demi sedikit akan membuat Raffa sembuh dari phobianya. Bagi Pevita terpenting pertama melakukan hal agar Raffa bisa berpidato ketika rapat, karena menurut Pevita itu yang paling utama, menyangkut masalah pekerjaan. Ya kali, seorang Direktur tidak bisa membawakan hasil kerjanya untuk presentasi.Saat mobil itu benar-benar tidak terlihat, Pevita mulai menaiki tangga
Read more
Previous Page
Next Page
Download the Book
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy