GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest

All Chapters of It's Okay That's Love (INDONESIA): Chapter 11 - Chapter 20

Home /  All /  It's Okay That's Love (INDONESIA) /  Chapter 11 - Chapter 20
45 Chapters

11. Celana Dalam

Kalau dia ...Raffa mulai mencari sesuatu kesalahan dalam dirinya, sedetik kemudian dia baru menyadarinya. Kalau dia hanya memakai celana boxer bergambar Naruto dibagian bawah. Raffa langsung terlonjak dan berteriak heboh, tangannya mengambil alih selimut putih awan tak berdosa—yang Pevita jatuhkan ke lantai—pemuda itu langsung menutupi tubuhnya.Raffa merasa kaget dan malu seseorang ada di kamarnya. “Kamu gila?! Mengapa ke sini, ke kamar aku?!” Raffa tidak terima. “Wah, sekretaris Vita. Beraninya kamu ke kamar bosmu.” Raffa berdecak, kepalanya menggeleng tak percaya.“A—anu ... disuruh Pak Presdir,” jawab Pevita gugup tak berani menurunkan telapak tangan di mata. “Maaf, aku minta maaf Direktur,” tambah Pevita tak enak hati. Dia mengintip Raffa dari celah jari yang dibuka sedikit.Syukurlah, Direktur sudah menutupi—artinya Pevita bisa membuka mata bebas.“Keluar! Keluar d
Read more

12. Putus Hubungan

Kedai ramen Paman Yato.Lelaki tua itu asli dari negara Jepang. Kedai ramen miliknya memang tidak begitu besar tapi cukup ramai pengunjung dan pembeli. Meskipun umur sudah tua, dia bekerja keras mencari uang.Pevita dan Raffa berada di kedai Paman Yato, kedai ramennya terkenal karena rasa kuah enak dan tekstur mie punya ciri khas membuat siapapun pasti akan ketagihan dengan ramen buatan Yato.“Hey! Kenapa kamu mengajakku ke kedai ramen kecil ini?” ucap Raffa tidak suka dan wajahnya malas, patut mendapat perhatian. “Tidak adakah tempat yang lebih berkelas dan menarik dari kedai ramen?” Raffa mengejek.Pevita tidak peduli dengan komentar Raffa tentang kedai rame. Pevita menarik baju Raffa dan menyeret paksa supaya ikut masuk ke dalam. “Direktur, Anda harus hidup hemat. Jangan membuang uang untuk makan di restaurant mewah.”“Tidak, tidak. Aku tidak mau makan siang di sini!” Raffa menggeleng kepala. Lel
Read more

13. Tersambar Petir

Sepanjang perjalanan pulang guyuran hujan. Pevita terus menangis terisak, meraung-raung membuat orang-orang yang melihatnya tertawa atau sedikit merasa iba dan kasihan.Tanpa tahu malu, Pevita manangis. Jujur, dalam hatinya masih mencintai Alex. Dia berharap hubungan langgeng sampai ke pelamian dan Alex bersedia menyembuhkan phobianya. Tetapi, tidak sesuai keinginan Pevita. Pevita mengutuk mantan kekasih yang akan meraih kebahagiaanya, tetapi lelaki itu mempunyai niat merusak masa depan dan kehidupan Pevita.“Alex! Brengsek!” Pevita memaki menyebut Alex dengan kata brengsek. Dada Pevita semakin bergemuruh tidak karuan dan sesak.“Aku kutuk, Alex menderita selamanya. Tidak punya anak, mandul sekalian baru tahu rasa,” kutuk Pevita. “Kalau tidak, menjadi bujang lapuk. Tidak ada yang mau sama dia untuk menjadi suami, mampus!”Semakin tidak jelas berkata, Pevita semakin tidak waras.Pevita tidak sadar, a
Read more

14. Nasib Sial

Di dalam ruang kerja, Direktur Raffa berbicara panjang lebar, marah dan kesal kepada sekretaris. Karena Pevita tidak menjawab panggilan ponselnya dan Raffa berteriak tidak ada balasan dari Pevita.Kemana Pevita pergi?Raffa berteriak di dalam ruang kerja. "Sekretaris Vita!" Untuk ke lima kali Raffa berteriak keras memanggil nama sekretaris Vita. Di dalam hati Raffa berkata kotor, hatinya sudah panas. Raffa bertanya kepada diri sendiri, kemana perginya sekretaris Vita? Apakah Pevita tidak membawa ponsel? Seharusnya, jika Pevita pergi, harus meminta izin kepada boss atau menghubungi lewat ponsel, mengirim pesan. Jadi, Raffa tidak kebingungan ketika membutuhkan dan mencari sekretaris.Boss pemalas itu harus berdiri dari duduk lalu keluar ruang kerja dan mencari Pevita di meja kerja. Raffa berdecak melihat meja kerja kosong, tidak ada Pevita di sana. Tapi, tas dan ponsel tergeletak di atas meja. Itu artinya, Pevita masih berada di kanto
Read more

15. Wahana Permainan

Pagi. Pevita sudah berangkat ke kantor. Dia sengaja untuk berangkat pagi, karena tidak mau mendapat hukuman dari Erlin. Pevita menaiki bus, tidak memesan taxi. Karena taxi lebih mahal dari pada bus kota. Hidup harus hemat. Raffa berangkat ke kantor terlambat, tidak heran lagi. Direktur itu pemalas sejak Dalu. Ketika sampai di kantor, Raffa memanggil Pevita untuk masuk ke ruang kerja. Raffa marah kepada Pevita. Kemarin malam, Pevita mematikan panggilan Raffa tanpa mengucapkan kata."Kenapa, Direktur memanggil saya? Ada apa?" Pevita bertanya dengan polos."Pevita, tau kesalahan kamu?" Raffa bertanya balik, menompangkan dagunya, memandang wajah Pevita datar. "Sudah aku bilang, jawab telepon sebelum dua puluh detik."Masalah panggilan telepon? Ya, Pevita baru ingat. Mati! Direktur akan marah kepada Pevita. "Bagaimana ini?" batin Pevita gelisah."Jawab!""Ya. Aku tahu kesalahan. Ma
Read more

16. Diusir

Selesai bekerja di kantor, para karyawan dan Direktur pulang ke rumah. Raffa sudah malas untuk berada di kantor sampai larut malam. Akhirnya, pekerjaan selesai.Raffa pulang ke rumahnya setelah mengantar Pevita pulang. Raffa baru sadar, sebelumnya dia tidak pernah mengantar sekretaris untuk pulang ke rumah. Tetapi? Raffa bersedia meluangkan waktu untuk mengantar sekretarisnya.Raffa bertanya kepada diri sendiri. “Mengapa aku terlalu baik dengan sekretaris Vita? Dan aku selalu memaafkan kesalahannya.” Di dalam mobil, Raffa berpikir. Heran, bingung kepada diri sendiri. Kenapa dia mau melakukan kegiatan mengantar pulang sekretaris ke rumah. “Berhenti! Jangan memikirkan sekretaris Vita!” Raffa kembali fokus mengendarai mobil, dia sampai di halaman rumah mewah dan mobil masuk untuk diparkirkan.Cahaya senja sudah berubah menjadi gelap, tentu saja waktu sudah berganti malam hari. Ra
Read more

17. Hari Berhujan

Sudah satu jam di dalam mobil, mengendarai tanpa arah. Ada satu alamat di otak Raffa. Ya, rumah sekretaris Pevita. Raffa datang ke rumah Pevita untuk meminjam uang. Malam ini, Raffa ingin tidur di hotel. Jadi, dengan berani meminjam uang kepada Pevita. Raffa berjanji akan membayar hutangnya, gaji Pevita lebih besar. Raffa keluar dari mobil, berlari menaiki tangga rumah Pevita, tidak peduli baju putih dan tipis basah akibat air hujan. Hujan semakin deras dan lebat.  Sampai di depan pintu, Raffa mengetuk pintu rumah Pevita dengan keras. Berharap, Pevita segera keluar dari rumah. Raffa sudah tidak bisa menahan dingin air hujan. Dengan penuh kes
Read more

18. Telat

Telat ke kantor lagi.Pevita dan Raffa berangkat bersama ke kantor, menaiki taxi. Di dalam taxi, Raffa dan Pevita tidur sampai supir taxi membangunkan mereka. Karena sudah sampai di halaman kantor yang luas.Raffa susah sekali untuk bangun, akhirnya Pevita membangunkan Raffa dengan paksaan, menggoncang tubuhnya. "Direktur bangun!" kata Pevita.Mata Raffa terbuka, dia menguap lebar dan matanya melihat ke arah kaca mobil."Direktur, kamu tidak menggosok gigi?" tanya Pevita tanpa malu. Raffa menatap Pevita. "Apakah napas mulutku bau?" Dia bertanya balik kepada Pevita. "Kamu tahu. Aku tidur di rumahmu tanpa membawa baju dan sikat gigi. Jadi, kamu jangan bertanya.""Maaf. Direktur bisa mandi di toilet kantor." Pevita memberi saran."Diam. Kamu tidak perlu bertanya, aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan."Pevita mengacuhkan perkataan R
Read more

19. Rumor

Pevita berdiri di depan toilet, menunggu Raffa keluar dari toilet. 'Apakah Direktur tidak apa-apa?" tanya Pevita khawatir, nada suara gemetar.Raffa tidak menjawab. Dia baru saja keluar dari toilet setelah mengganti celana, celana tadi basah karena air teh yang tumpah. Kesal! Bagaimana Raffa tidak kesal? Tadi pagi, dia sudah mengganti pakaian dan celana, sekarang harus mengganti lagi?Wajah Raffa memandang Pevita, sorot mata tajam. Dia menggerakkan giginya, kenapa mempunyai sekretaris sangat ceroboh dan selalu membuat masalah?Pevita tidak nyaman ketika Raffa menatapnya seakan seperti singa kelaparan, menerkam Pevita. Pevita menunduk kepala, merasa bersalah. "Maafkan aku, Direktur. Aku tidak sengaja," kata Pevita menyesali kecerobohan."Untuk apa kamu meminta maaf? Maafmu tidak akan mengembalikan celana yang basah menjadi kering," ketus Raffa."Maaf...." Pevita mengucapkan kata maaf lagi.
Read more

20. Di Pecat

Raffa pulang ke rumah setelah bekerja di kantor, amarahnya telah mereda dan hilang. Baru pertama kali ini merasa sangat kesal kepada sekretaris. Masalah setiap kali Raffa hadapi adalah dipaksa sekretarisnya untuk menghadari rapat dan presentasi. Tapi? Sejak Pevita menjadi sekretarisnya, hidup Raffa selalu mendapat kesialan dan kutukan. Raffa memikirkan Pevita, dia menjadi ingat hari kemarin. Di ingatan otak Raffa. Dia mengingat moment di taman hiburan bersama Pevita, Raffa mengajak Pevita kabur dari rapat. Duduk di kursi besi berwarna putih dan melihat orang berlibur di taman hiburan. Raffa tersenyum sendiri di kamar. Flashback on. “Kalau kamu punya phobia apa ak
Read more
Previous Page
Next Page
Download the Book
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy