GoodNovel

앱에서 작품을 무료로 다운로드하세요

다운로드
원하는 항목을 검색하세요.
보관함
검색하기
로맨스가상역사도시마피아시스템판타지LGBTQ+아놀드MM Romancegenre22- 韩语genre26-한국어 번역genre27-.请勿使用한국어 번역genre28-한국어 번역
단편 소설
하늘미스터리 추리현대 도시세계 종말 생존액션 영화SF 영화로맨스 영화피비린내 나는 폭력로맨스학원물서스펜스/스릴러상상력물환생현실 감정물늑대인간희망꿈행평화우정똑똑한행복한폭력적인부드러운강력한红安피비린내 나는 대학살살인역사적 전쟁판타지 모험과학 소설기차역
만들기작가 혜택공모전

It's Okay That's Love (INDONESIA) 의 모든 챕터: 챕터 31 - 챕터 40

홈 /  전체 /  It's Okay That's Love (INDONESIA) /  챕터 31 - 챕터 40
45 자

31. Demi Gaji

Kehidupan Pevita setiap hari semakin sibuk. Sejak menjadi sekretaris di perusahaan Andromeda, dia semakin tidak mempunyai waktu luang dan leluasa untuk bersantai. Apalagi menjadi sekretaris dari boss pemalas. Haha. Rasanya ingin mati saja. Tapi tidak apa, demi pekerjaan.Pagi ini, langit biru tampak cerah dengan gumpalan awan putih. Semoga hari sangat menyenangkan. Tidak untuk Raffa, dia malahan sedang mengalami mood buruk dan semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak menjadikan area mata Raffa menghitam.Kenapa semalam tidak bisa tidur? Itu karena Raffa memikirkan Pevita. Ya saat Raffa pulang dari rumah kos Pevita, lelaki itu menghubungi Pevita dan Pevita membohongi dirinya. Nyatanya Pevita sedang berduaan bersama Dave.Cemburu? Ah! Yang benar saja.Di dalam ruangan Raffa menghembuskan napas berkali-kali, tidak konsen sama sekali pada laptop di depannya. Dia menompangkan dahu, melamun  lalu mengacak-acak rambut dengan frustasi lalu melamun lagi dan se
더 보기

32. Otak Geser

Pandangan Raffa sama sekali tidak berkedip, memandang Pevita lekat-lekat dari jarak yang tercipta hanya lima langkah semakin mendekat. Lelaki itu terus mendekati Pevita dan berjalan maju sampai Pevita terpaksa berjalan mundur dengan teratur. Pevita dibuat kebingunan, entah apa yang Raffa akan lakukan. “Apa yang Direktur lakukan?” tanyanya dengan gugup, kedua tangan gemetaran saling bersentuhan agar tidak bergetar lagi. Mungkinkah ini gugup?Sama sekali tidak mendengar pertanyaan Pevita, Raffa terus mendekat Pevita hingga kedua berjarak mereka satu langkah. Raffa masih belum berkedip, seperti akan menerkam Pevita hidup-hidup.“Apa yang akan kamu lakukan, Direktur.” Pevita mengulang kembali pertanyaan dengan nada pelan dan lirih. “Jangan terus mendekatiku!” Pevita mengigit bibir bawahnya.Raffa menghiraukan perkataan Pevita, membuatnya semakin berani mendekat dan mendekat. Hanya satu langkah jarak tercipta, punggung
더 보기

33. Ciuman

Ada keraguan di benak Raffa, seperdetik detik Raffa meyakinkan diri sendiri, semua akan baik-baik saja. Perkataan semangat dari Pevita membuat Raffa punya keberanian untuk berbicara di depan orang-orang. Raffa berjalan ke depan, dia mulai menutupkan matanya dengan kedua tangan dan mulai berkata atau bercerita tentang sesuatu yang ada di pikirannya. Pertama dia menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu lalu dihembuskan. Pevita terus memperhatikan Raffa dan memberi semangat. "Hwaiting." (Dalam bahasa Korea, artinya semangat."“Suatu hari ada batu semesta memukul otak pangeran yang tidak bisa melakukan apa-apa, dia pemalas dan selalu melanggar aturan. Batu itu kecil, tapi membawa sejuta perubahan. Begitu juga dalam kisah galaksi andromeda, menceritakan seorang Putri tersiksa di istana lalu datang seorang pangeran menyelamatkannya. Pangeran itu aku, dan putrinya
더 보기

34. Gejala Phobia

Kejadian itu terjadi begitu saja, tanpa di pikir lebih dulu. Seperti ada magnet menempel kepada mereka berdua dalam gelora napsu, bahkan ciuman yang diberikan Raffa mencoba dinikmati oleh Pevita. Semakin dalam dan semakin dalam menikmati, dan semakin sadar—apa sedang mereka lakukan di danau dan di bawah air terjun.Sepersekian sekon, salah satu dari mereka menarik tubuh dan menyesali perbuatan tadi. Itu hal sangat memalukan. Pevita, dialah lebih dahulu melepaskan tautan ciuman dan menjauhkan tubuhnya dari Raffa, memundurkan langkah setelah men
더 보기

35. Kegagalan

Malam, pukul setelah tujuh pekerjaan selesai dan dilanjutkan besok lagi. Raffa mengantarkan Pevita pulang ke rumah hingga halaman rumah kos milik Pevita, Raffa tidak berbicara dan diam sangat lama. Hal itu membuat Pevita harus membuka topik pembicaraan dan membuka suara lebih dahulu.“Terima kasih, Direktur dan selamat malam,” ujar Pevita lalu membalikan badan, meninggalkan Raffa yang terdiam dan tatapan kosong. Pevita pikir Raffa sedang tidak dalam suasana hati buruk sejak kejadian perdebatan dengan Satya. Jadi Pevita tidak ingin bertanya karena Pevita tahu, Raffa sedang tidak ingin berbicara dengan siapaun, dia takut membuat suasana hati Raffa semakin buruk.“Aku akan libur bekerja beberapa hari. Kamu, Sekretaris Vita boleh libur bekerja,” kata Raffa pelan, suara terdengar dingin. Raffa memberitahu Pevita bahwa dia berencana tidak masuk kerja selama beberapa hari, jadi Pevita juga boleh ikut libur bekerja.Pevita kaget mendengar keputus
더 보기

36. Ulang Tahun Perusahaan

Seluruh direksi, pegawai dan karyawan perusahaan menghadiri acara tersebut. Termasuk nenek Choi, neneknya Raffa dan Dave. Acara dimulai, dengan tepuk tangan meriah mengiringi Raffa naik ke atas podiums dan dia akan membacakan pidato.Acara ulang perusahaan sangat meriah dan  banyak orang yang menghadiri acara tersebut. Raffa berhedem sebentar dan memperbaiki letak mic di depan mulut. Pevita memberi semangat kepada Raffa, semoga acara ulang tahun perusahaan tidak ada kendala.Sebelum mulai membacakan pidato, Raffa menarik napas panjang lalu dihembuskan."Selamat pagi semua. Saya Direktur Cristoffer Raffa. Sekarang adalah hari  perayaan ulang tahun perusahaan Andromeda Company," kata Raffa dengan suara lancar dan tidak tergagap. "Terima kasih telah menghadiri ulang tahun perusahaan." Raffa tersenyum.Semua orang bertepuk tangan kembali. Satya berharap Raffa menepati janjinya dan Raffa tidak ingin mengecewakan ayahnya. Jadi, Raffa beru
더 보기

37. Mungkin Ini Cinta

Presdir keluar dari kamar Raffa dengan berat hati mengerti semua hal yang sudah terjadi. Dia duduk di ruang television dan minum alkohol sambil menatap tangan yang tadi dia pakai untuk menampar Raffa. Seperti ingin menghukum dirinya sendiri, dia kemudian mengangkat botol minumannya perlahan untuk dihantamkannya tangannya.Tiba-tiba nenek Choi datang dan lebih cepat mengambil botol minuman alkohol. Kemudian tanpa ada perasaan, dia menghantamkannya botol minuman alkohol itu ke tangan Satya.Presdir langsung berteriak kesakitan, dia menyebut nama Ibunya dengan kesal dan marah. "AKHHHH! SAKIT, MOM! KENAPA MOM TEGA MENGHANTAMKAN BOTOL MINUMAN KE TANGANKU!"Nenek Choi tidak peduli Satya mengeluh kesakitan. Dia membentak Satya karena telah memarahi Raffa. "Sudah aku bilang kepadamu! Jangan marah kepada Raffa! Dia sedang tertekan, seharusnya kamu memberi dukungan!""Kenapa Ibu selalu menyalahkanku?!" Tanpa menjawab pertanyaan dari Satya, Choi pergi dan Sa
더 보기

38. Ketakutan

Dave mengajak Pevita makan malam dan Pevita menerima ajakan dari Dave dengan malu-malu. Dave mempersiapkan diri berpenampilan keren, untuk kencannya dengan Pevita. Sejak pulang dari kantor, lelaki berwajah Korea itu bersemangat bersiap memakai kemeja putih dan jas hitam hingga tampilan tampak rapi namun cool.Dia memandang cermin memantulkan wajahnya. “Sempurna,” lirihnya sembari bergaya cool di depan cermin. Rambut yang biasanya menutupi dahi kini Dave sudah mencukur rambut.Dave melihat deretan jam tangan mahal bermerk dan bermacam-macam model. Sedikit bingung untuk memilih jam tangan yang sesuai untuknya. ****Di dalam mobil, setelah selesai bekerja di kantor. Raffa dan Satya pulang bersama karena Pevita menolak Raffa untuk mengantarkannya pulang.Di sisi lain Raffa merasa kalau Pevita bertingkah aneh hari ini, memintanya untuk tetap berlatih dari gejala panic disorder, tetapi dia tidak berada di sampingnya lagi.“Ada apa deng
더 보기

39. Kekhawatiran

Pevita menghela napas legah. "Kenapa? Direktur! Kenapa kamu memanggilku?!" tanya Pevita menuntut dengan setengah kesal. Raffa tidak berhenti tersenyum sambil menepuk pundak Pevita. "Menakjubkan. Pevita, setiap kali aku berteriak memanggil namamu, kamu selalu datang dan muncul." Raffa tidak merasa takut lagi, ketakutan hilang ketika dia melihat Pevita dan memeluknya. Pevita tidak tau harus menjawab. Sungguh dia khawatir kepada Direktur tetapi Raffa masih bersikap kekanak-kanakan dan berkata konyol. Semua baik-baik saja saat momen Raffa memeluk Pevita, tapi tidak berlangsung lama karena Raffa merusak suasana dengan meneruskan perkataannya, "Seperti hewan kuchiyose. Pevita kamu anjingku dan aku tuanmu." Pevita dengan kesal mendorong tubuh Raffa hingga dia jatuh ke tanah. Siapa yang tidak kesal? Raffa dengan santai menyebut Pevita hewan peliharaan anjing. "Apa yang kamu bilang? Anjin
더 보기

40. Ungkapan Hati

Bibir Raffa tertutup. Selama ini tidak pernah tau bahwa dirinya membutuhkan Pevita dan menyukai? Raffa tidak pernah membohongi tentang rasa suka dengan Pevita. Ya Raffa menyukai Pevita.“Jawab aku!"Beberapa detik Raffa menjawab, “Ya, kamu benar. Aku membutuhkanmu dan aku menyukaimu.”Pengakuan Raffa cukup membuat hati Pevita sakit. Direktur Raffa dan Direktur Dave menyukai dirinya, siapa yang harus Pevita pilih? Raffa atau Dave?“Sekarang pulanglah, pertama stop taxi memberi isyarat untuk berhenti. Kedua, katakan alamat rumahmu dan ketiga bayar ongkos taxi,” jelas Pevita. Dia sangat lelah mengurus Direktur yang tidak mandiri ini.“Aku tidak bisa karena sekarang sangat ketakutan hingga tidak bisa bernapas saat ini. Karena kamu, hatiku sakit. Bukan itu saja seluruh tubuhku terasa sakit,” keluh Raffa.“Apa hanya kamu yang kesakitan? Aku juga kesakitan sekarang!” balas Pevita suara taj
더 보기
이전 페이지
다음 페이지
작품 다운로드
핫 장르
로맨스가상역사도시마피아시스템판타지
연락처
회사 소개도움말 및 문의비즈니스
자료
앱 다운로드작가 혜택콘텐츠 정작품키워드인기 검색어작품 이뷰팬픽션FAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
커뮤니티
Facebook Group
팔로우하기
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
이용약관|개인정보