تحميل
بيت/ الجميع /Remarry (Indo)/BAB 4 – Ternoda

BAB 4 – Ternoda

مؤلف: Nhovie EN
"تاريخ النشر: " 2020-10-13 22:45:10

Nisa melewatiku begitu saja yang sudah menunggunya didepan pintu kamar mandi tanpa mengucapkan apapun. Aku segera meraih tangannya, memasukkan tubuhnya kedalam pelukanku. Nisa begitu cantik, bahkan lebih cantik saat ini.

Aku dengan cepat melepaskan handuk yang menutupi kepala Annisa, membuat rambutnya yang panjang dan basah terurai. Wanitaku yang begitu sempurna.

“Apa yang kau lakukan Rafa, lepaskan aku. Aku mohon jangan lakukan apapun terhadapku.”

Aku tidak memperdulikan ucapan Annisa, Gairahku sudah memuncak. Aku lalu melepas handuk lainnya yang membalut tubuh Annisa bagian atas. Membuatku nafasku semakin memburu tak beraruran.

“Rafa, ku mohon. Bukankah tadi kau sudah berjanji kalau kau tidak akan menyakitiku lagi. Kumohon Rafa, jangan lakukan ap....” belum selesai Nisa berucap, aku langsung melumat bibirnya. Aku sungguh sangat merindukan momen ini. Walau aku telah menggaulinya selama 10 tahun lebih, itu tidak pernah membuatku bosan terhadapnya.

Birahiku tak terkendali. Aku mendorong Nisa keatas Ranjang, mulai melepas gaun malam yang dikenakannya. Annisa berusaha memberontak, tapi aku terlalu kuat untuknya. Seberapun annisa berusaha memberontak dan melawan, namun aku merasa reaksi tubuhnya merespon serangan yang aku berikan. Aku merasakan sesuatu yang sangat basah dibalik celana dalam Annisa. Aku berusaha tidak bermain kasar. Aku akan membuat permainan yang cantik agar wanitaku ini tidak tersakiti.

Setelah sekian menit akhirnya aku berhasil membuat kami menyatu. Sudah dua tahun aku merindukan semua ini. Aku merindukan penyatuan ini, dan kini bisa aku dapatkan lagi.

“Nikmatilah sayang, keraskan lagi suara desahanmu. Aku menyukainya.” Gumamku pelan di depan telinga Annnisa sembari menciumi telinganya hingga turun ke lehernya.

Aaaaahhhhh....

Aku mengakhiri dengan satu hentakan yang cukup kuat.

-

-

-

POV Annisa

Aaaahhhhhh...

Desahan terakhir Rafa yang cukup kuat mengakhiri perbuatan kejinya. Dia berhasil menodaiku, lagi. Aku mendorong tubuhnya yang mulai lemas agar miliknya keluar dari selangkanganku. Aku tak kalah lemas, bahkan begitu lemah. Rafa membuatku orgasme berkali-kali. Aku merasa sangat jijik terhadap diri ini. Bagaimana bisa aku terbawa arus permainannya?

Aku menangis sejadi-jadinya. Memandang jijik terhadap tubuhku yang tidak tertutupi sehelai benangpun. Rafa langsung tertidur disampingku dengan tangannya berada diatas perutku. Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku hanya bisa menangis dan pada akhirnya ikut terlelap sebelum mengenakan lagi pakaianku.

*****

            Aku terbangun dengan kondisi tubuh terasa ngilu. Aku membuka mata dan melihat sebuah selimut sudah menutupi tubuhku hingga bagian dada. Tidak ada siapapun disampingku.

            “Sudah bangun sayang.” Aku tersentak mendengar suara Rafa.

            “Kenapa? Sedih aku tak ada lagi disebelahmu?” aku berusaha bangkit dan duduk menyandar didinding ranjang. Aku menaikkan selimut lebih tinggi lagi hingga menutupi bagian leher. Aku menyadari bahwa aku masih belum mengenakan pakaian apapun.

            Rafa duduk diatas sofa. Diatas meja bundar yang berada didepannya, terdapat sebuah laptop yang sedang menyala, secangkir minuman dan beberapa snack. Rafa tampak begitu menikmati hidupnya saat ini. Sebenarnya aku heran, bagaimana kehidupan Rafa bisa berubah 180 derajat ?

            Rafa yang dulu adalah seorang pria biasa. Bekerja disebuah perusahaan Supliyer baja dan beton sebagai operator mesin. Digaji bulanan yang besarnya tak lebih dari 3 juta per bulan. Mustahil dengan uang segitu dia bisa berubah sedrastis ini hanya dalam waktu dua tahun. Masih berfikir, aku melihat tiba-tiba Rafa menghampiriku.

            “Maafkan kejadian tadi ya sayang, aku tidak bermaksud menodaimu, aku hanya terbawa suasana.” Rafa membelai rambutku dengan sangat lembut.

            “Tapi jujur saja, aku tidak menyesal melakukannya. Malahan sekarang aku mau lagi.” Rafa mengucapkannya pelan tepat didaun telingaku yang membuatku kembali merinding. Entah kenapa, Rafa suka sekali membuatku merinding dengan cara seperti itu.

Aku tetap membisu. Percuma aku melakukan dan berkata apapun karena hanya akan membuat Rafa kembali terbakar gairah jika aku melawan.

“Bersihkan dirimu sayang, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu.” Rafa terlihat menuju lemari dan mengambilkanku pakaian yang baru, tak lupa sepasang underware.

Aku masih membisu.

“Jangan khawatir, pakaian ini tidak sama seperti tadi, ini jauh lebih sopan. Kau boleh melihatnya lebih dulu.”

Aku mengeluarkan tanganku dari balik selimut. Menerima pakaian yang diberikan Rafa. Benar, pakaian kali ini jauh lebih sopan. Satu stel baju tidur dengan atasan lengan panjang dan bawahan celana panjang. Baju ini bermotif bunga-bunga kecil berwarna pink, sangat manis.

Aku melingkarkan selimut yang cukup besar ini kebadanku agar aku bisa menutupi tubuh polosku menuju kamar mandi.

“hahaha, apa yang kau lakukan sayang. Kau terlihat seperti  pinguin.” Dia kemudian memakaikanku sebuah handuk berlengan dan memberikanku handuk biasa satu lagi.

“Sekarang pergilah bersihkan tubuhmu, sebelum nanti aku berubah fikiran dan melakukannya lagi.” Rafa tersenyum sangat manis.

Tanpa berfikir panjang, aku segera mempercepat langkahku menuju kamar mandi. Disini, diruangan yang dingin ini. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku yakin Rafa mendengar jeritanku yang memilukan.

Setelah puas menangis dan mataku mulai terasa perih, akupun segera membersihkan diri. Sebelum ke kamar mandi, aku lihat jam dinding menunjukkan pukul 14.30. aku belum menunaikan shalat zuhur. Akupun segera mengambil wudlu, keluar dari kamar mandi dan melaksanakan shalat. Aku berdoa dengan sangat khitmat, memohon ampunan kepada Allah atas dosa yang sudah kulakukan tadi. Aku sungguh jijik terhadap diriku sendiri. Aku tidak memperdulikan Rafa yang sedari tadi memperhatikanku.

“Sudah selesai sayang, kemarilah, duduk disini.” Rafa menawariku duduk di sofa lainnya yang berada tepat didepannya.

Kamar ini cukup besar. Dikamar ini ada 3 buah sofa. Satu sofa besar yang langsung menghadap ke televisi besar yang menempel ke dinding. Dua sofa lainnya berukuran kecil yang menghadap balkon. Kamar ini berada dilantai dua dengan dinding luar terbuat dari full kaca. Dibagian luar ada sebuah balkon, dan dibalkon ada sepasang sofa lagi dengan meja persegi ditengahnya. Aku memperhatikan seisi kamar ini dengan sangat detail. Terlebih Rafa memang membuka semua gorden yang menutupi dinding bagian luar hingga aku bisa melihat dengan jelas pemandangan dari luar.

Kembali aku tercenung, bagaimana bisa Rafa memiliki semua ini hanya dalam waktu dua tahun?

“Apa yang kau fikirkan sayang? Kesinilah.” Kembali Rafa menawariku duduk di sofa sebelahnya.

Hari ini Rafa bersikap sangat manis. Dia begitu lembut dan membuatku merasa aman dan damai.

Setelah melipat mukena dan sajadah, aku segera menghampiri Rafa, tak lupa aku mengenakan kerudung yang memang sudah disipkan Rafa disamping ranjang.

“Ada apa?” Kataku Dingin.

“Aku tau kau tidak menyukai minuan bergula, jadi aku buatkan susu untukmu, minumlah. Aku sendiri yang membuatnya.” Rafa menawariku segelas susu hangat. Dan akupun meminumnya karena aku memang sangat haus.

“Kau lapar sayang? Biar aku siapkan makanan. Tenang, kau adalah ratu disini, aku sendiri yang akan melayani ratuku.” Dia tersenyum dan beracking memperagakan adegan kartun seorang pangeran yang menyambut permaisurinya.

Aku tidak mampu menahan tawaku. Sikapnya memang sangat lucu dan menggemaskan.

“Kau tampak sangat cantik tersenyum seperti itu Nisa.” Rafa  kembali duduk dan menggapai telapak tanganku yang memang kusandarkan pada meja bundar ini. Aku hanya bisa membiarkan. Aku tidak ingin mengambil resiko jika melawan, bisa-bisa dia akan menodaiku lagi.

“Apa yang mau kau sampaikan Rafa?” aku berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya, meraih gelas yang masih berisi sedikit susu. Aku melakukannya agar Rafa tidak curiga kalau sengaja ingin menghindarinya.

“Aku tau, kau pasti heran kenapa sekarang aku bisa berubah seperti ini sekarang?”

“Aku tidak berhak tau.”

هل تريد معرفة ما سيحدث لاحقا؟
واصل القراءة
الفصل السابق
الفصل التالي

مشاركة الكتاب إلى

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

أحدث فصل

Remarry (Indo)   BAB 42 – Bertemu Aisyah

“Sekarang bagaimana?” tanya Hendra.“Gue nggak tau. Gue akan coba negosiasi dengan Siska. Gue hanya ingin semua bisa diselesaikan dengan baik. Gue ingin tanggung jawab ke Siska berupa materi, tapi gue juga nggak ingin Annisa mengetahui apapun. Intinya gue nggak ingin Annisa terluka.”“Jadi lu bersedia ngasih perempuan itu 5 miliar? 5 miliar itu banyak bosku ... bisa buat bangun perusahaan baru, ngerti nggak bos ...,” geram Hendra.

Remarry (Indo)   BAB 41 – Semakin Bimbang

Setelah lebih dari 30 menit berlalu, Rafa dan Annisa mengakhiri permainan panas mereka. Annisa tampak sangat kelelahan karena kondisinya yang tengah hamil, membuatnya agak kesulitan mengimbangi permainan Rafa.Annisa tertidur sesaat setelah Rafa menyelesaikan hasratnya. Melihat wanita yang ia cintai tertidur pulas, Rafa bangkit dari ranjang dan menutupi tubuh Annisa dengan selimut. Rafa bergegas mengambil ponselnya untuk melihat siapakah yang sedari tadi menghubunginya.Deg .

Remarry (Indo)   BAB 40 – Gelisah

“Maaf pak, apa bapak memanggil saya?” ucap Jesyka ketika memasuki ruangan Rafa.“Ya, duduk!”“Ada apa pak?” ucap Jesyka ramah.“saya ingin membahas rencana kita tempo hari mengenai pengalihan kepemilikan perusahaan

Remarry (Indo)   BAB 39 – Pendapat Hendra

“Aku akan memberimu 50juta, setelah itu aku mohon agar kau pergi dari kehidupanku selamanya. Perkara Aisyah, jika kau tidak menginginkannya, aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, atau aku akan mencarikan orang tua angkat untuknya.” Kata-kata itu akhirnya keluar dari bibir Rafa setelah beberapa menit ruangan itu hening.“Aku sudah bilang, kalau aku ingin kita menikah. Aku tidak ingin 50jutamu itu. Aku ingin status untuk Aisyah. Aisyah juga berhak bahagia dengan ayah dan ibu kandungnya. Sama seperti Amanda, putrimu.” Siska masih bersikeras dengan pendiriannya.

Remarry (Indo)   BAB 38 – Bertemu Rafa

Tok ...Tok ...Tok ...“Siapa ...?” jawab Rafa yang sedang memeriksa beberapa dokumen penting proyek yang sedang di kerjakan oleh perusahannya.

Remarry (Indo)   BAB 37 – Meninggalkan Batam

“Aku juga ingin ke Padang.” Ucap Siska mantap.“Apa kau yakin?”“Tidak ada pilihan lain. Tapi aku hanya punya uang 2juta. Apa kamu bisa meminjamkanku uang , Ria? Karena di Padang nanti, aku harus mencari kontrakan, alas tidur dan peralatan masak sederhana.”“Me

Remarry (Indo)   BAB 36 - Terusir

“Ibu ... Ayah ....” Siska langsung berdiri, membersihkan sudut bibir dan hidung yang mengeluarkan darah dengan baju daster

Remarry (Indo)   BAB 35 – Ketahuan

Aku mengikuti perawat yang membawa Annisa ke poli kebidanan rumah sakit ini. Sesampai di sana aku duduk di kursi ruang tunggu, Annisa

Remarry (Indo)   BAB 34 - Pendarahan

“Bunda ....” Amanda segera memelukku sesaat setelah aku keluar pintu Bandara Internasional Minangkabau.

Remarry (Indo)   BAB 8 - Kagum

Rafa meninggalkanku sendirian dikamar ini. Aku masih mematung. Ada ke

فصول أخرى
تحميل الكتاب
GoodNovel

تحميل مجاني للكتاب على التطبيق

تحميل
ابحث في ما تريد
مكتبة
تصفح
الرومانسيةالتاريخ الافتراضيالمذؤوبمافياالخيال الغربيآرنولدMM Romancegenre27-请勿使用阿语
قصص قصيرة
سكاي天空المنطق المعلقالمدينة الحديثةعمل فيلمفيلم الخياليلم الخيال العلميعشق .عنيف言情العريس الهارب والعشقالحرم الجامعيالتشويق\الرعبالعريس1العريس العريسnu红安
خلقفائدة الكاتبمنافسة
الأنواع الأكثر شعبية
الرومانسيةالتاريخ الافتراضيالمذؤوبمافياالخيال الغربيآرنولد
اتصل بنا
معلومات عناالمساعدة & الاقتراحاتعمل
موارد
تنزيل التطبيقاتفائدة الكاتبسياسة المحتوىالكلمات الرئيسيةFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
مجتمع
Facebook Group
تابعنا
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
مصطلح الاستخدام|خصوصية