Download the book for free
BAB. 5
Author: Rustina ZahraWahyu berusaha fokus pada berkas-berkas yang harus ia tanda tangani. Tapi suara tawa dari dapur sungguh membuatnya ingin beranjak dari duduknya, dan segera masuk ke dapur.
Wahyu sungguh penasaran, apa sebenarnya yang Nur, dan Bayu bicarakan, sehingga mereka bisa tertawa selepas itu. Seakan yang mereka bicarakan adalah hal yang sangat lucu sekali. Akhirnya Wahyu beranjak dari duduknya, lalu melangkah menuju dapur, untuk memuaskan rasa penasaran di dalam hatinya.
"Apa yang kalian tertawakan, mengganggu pekerjaanku saja!" Serunya dari ambang pintu dapur. Sontak Bayu, dan Nur menolehkan kepala.
"Maaf Kak, kami berdua lagi mengenang masa kecil," jawab Bayu sambil memasukan ikan yang sudah digoreng ke dalam mulutnya."Hhhhh, jangan tertawa terlalu keras!" ujar Wahyu, sebelum meninggalkan ambang pintu dapur."Kak Bayu sih, Kak Wahyu jadi marahkan," Nur menatap Bayu dengan wajah cemberut.
"Dia memang pemarah, kamu sering dimarahinya juga, Nur?" Tanya Bayu. Nur menggelengkan kepala, bibirnya berusaha mengukir senyuman. Nur tidak ingin, apa yang terjadi di dalam rumah tangganya selama satu tahun ini, terungkap pada siapapun."Kalau dia marah, tabahkan saja hatimu ya Nur. Dia marah tidak pernah lama, meledak-ledak, lalu padam dengan sendirinya" ujar Bayu."Iya Kak Bayu," kepala Nur mengangguk."Hari minggu ini kalian pulangkan?" Tanya Bayu."Iya," Nur kembali menganggukkan kepalanya."Nenek baru pulang dari rumah sakit di Jakarta, beliau ingin kalian menginap di rumah nanti" ucapan bernada datar dari Bayu membuat Nur tersentak kaget."Menginap?" Nur menatap Bayu dengan mata, dan mulut terbuka, karena rasa kaget, mendengar ucapan Bayu. Selama satu tahun menikah, Nur, dan Wahyu belum sekalipun menginap berdua di rumah orang tua mereka. Biasanya, mereka hanya berkunjung saja, datang pagi, pulang malam."Iya, kenapa? Selama menikah, kalian belum pernah menginap di rumah kamikan?""Iya." Nur menganggukan kepala dengan wajahnya yang terlihat pucat. Kedua keluargapun bisa dikatakan tidak pernah berkunjung ke rumah mereka, hanya mereka yang datang berkunjung ke sana.Kalau mereka menginap, tidak mungkin tidur di kamar yang terpisah. Lalu bagaimana kalau mereka harus tidur satu kamar, sedang Wahyu saja tidak ingin melihat wajah Nur.
"Nur ... Nur."
"Eeh, ooh ya Kak. Kakak tunggu di ruang tengah saja dengan Kak Wahyu, biar aku selesaikan ini sendiri. Tinggal membuat sambal saja" ujar Nur tergagap. Persoalan menginap sungguh menjadi beban pikiran Nur sekarang. Nur tidak bisa memperkirakan, apa nanti yang akan dikatakan, atau dilakukan Wahyu."Aku bantu menyiapkan di meja makan ya. Piring, sendok, garpu. Aah makan kaya ini nyamannya betangan ja, kada usah basinduk (makan begini lebih enak pakai tangan saja, tidak perlu pakai sendok)" "Terserah Kak Bayu saja," sahut Nur.Saat makan, Bayu mengutarakan keinginan nenek mereka, agar Wahyu, dan Nur menginap di kampung. Wahyu hanya bereaksi dengan ber 'ooh' saja, meski terkejut, ia bisa untuk tidak menunjukan keterkejutannya.
Setelah makan, Bayu pamit pulang. Tinggalah Wahyu, dan Nur berdua di rumah. Wahyu masuk ke kamarnya, sementara Nur membereskan meja makan, dan dapur. Pikiran Nur terus pada pembicaraannya dengan Bayu soal menginap.
'Bagaimana ini, kalau menginap di sana pasti harus tidur di kamar yang sama. Apa aku akan menerima penghinaan lagi dari Kak Wahyu nantinya. Ya Allah, aku pasrahkan semuanya hanya kepadaMu'
Wahyu sendiri juga duduk di tepi ranjang di dalam kamarnya. Ia juga memikirkan hal yang sama dengan Nur. Jika mereka menginap, itu artinya ia harus berada di dalam kamar yang sama dengan Nur. Sedang ia sendiri tidak suka melihat Nur, tapi ia juga tidak mungkin menolak keinginan neneknya. Wahyu meremas rambutnya, kepalanya terasa pusing, matanya terasa berat. Akhirnya ia berbaring di atas ranjang, dan membiarkan kantuk membawanya berlayar ke alam mimpi.
☘☘🏵☘☘
Mereka tiba di rumah orang tua Wahyu. Selama perjalanan tidak ada sepatah katapun yang ke luar dari mulut mereka berdua.
Begitu Wahyu memarkir mobilnya di samping rumah orang tuanya, dengan membawa tas berisi pakaiannya, Nur langsung ke luar dari dalam mobil. Nenek, dan ibu Wahyu menyambut kedatangan mereka di teras rumah. Nur mengucapkan salam sebelum mencium punggung tangan keduanya. Begitupun dengan Wahyu juga."Nenek rindu sekali pada kalian berdua," nenek Wahyu menepuk pipi Wahyu lembut. Wahyu menggenggam telapak tangan neneknya.
"Bagaimana keadaan Nenek?" Tanya Nur sambil menuntun lengan nenek Wahyu yang satu lagi, untuk masuk ke dalam rumah dengan satu tangannya, sementara tangannya yang lain masih memegangi tasnya."Nenek sudah sehat, dan Nenek berharap akan terus sehat, sehingga bisa melihat anak-anak kalian nanti""Aamiin" sahut Nur, dan ibu mertuanya. Mereka duduk di sofa ruang tengah."Kalian tidak menunda-nunda punya anakkan?" Tanya Ibu Wahyu."Tidak Bu," jawab Nur sambil melirik sekilas pada Wahyu, tepat saat Wahyu juga tengah meliriknya."Apa kalian sudah konsultasi ke dokter, kenapa kalian belum juga punya anak?" Tanya ibu Wahyu lagi."Tidak perlu Bu," Wahyu yang menjawab."Sebaiknya kalian berdua memeriksakan diri," saran nenek."Kami menikah baru satu tahun Nek, sabar saja menunggu waktunya tiba," jawab Wahyu lagi."Acil Iti sudah menyiapkan kamar kalian, kalian istirahatlah dulu. Nanti kita sholat maghrib sama-sama," ujar ibu Wahyu.
"Nenek mau istirahat juga," ujar Nenek Wahyu."Biar aku antar Nek," tawar Nur."Boleh Nur," jawab Nenek Wahyu. Nur menuntun lengan nenek untuk masuk ke dalam kamar beliau. Sementara Wahyu masuk ke dalam kamarnya sendiri.Nur membantu nenek berbaring di atas ranjang."Kau bahagiakan menikah dengan Wahyu, Nur?" Pertanyaan nenek yang tidak disangka oleh Nur, membuatnya terkejut. Akhirnya Nur menganggukan kepala."Iya Nek" jawabnya nyaris tak terdengar."Syukurlah, pernikahan kalian ini keinginan Nenek. Kalau kau tidak bahagia, Nenek akan merasa bersalah, Nur.""Nenek jangan khawatir soal itu. Sekarang Nenek istirahatlah.""Terimakasih Nur.""Ya Nek."Nur ke luar dari kamar nenek Wahyu, ia mengambil tas berisi pakaiannya yang ia letakan di ruang tamu. Langkahnya meragu untuk masuk ke dalam kamar Wahyu. Ia berdiri diam terpaku di depan pintu. Sampai pintu itu terbuka, dan Wahyu berdiri di hadapannya. Wahyu sudah mengganti pakaiannya. Nur mendongakkan wajah untuk menatap wajah Wahyu. Wahyu juga tengah menatapnya.
"Enghh ...." Nur bingung harus berkata apa, Wahyu menggeser tubuhnya, memberikan jalan bagi Nur agar bisa masuk ke dalam kamar. Dengan bimbang Nur masuk ke dalam kamar Wahyu. Ini memang bukan pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar ini. Tapi ini pertama kalinya ia akan tidur, dan menginap bersama Wahyu.Nur meletakan tasnya di sudut kamar, sedang Wahyu tak perlu membawa pakaian, karena pakaiannya masih banyak yang tertinggal di rumah orang tuanya. Nur mengambil baju ganti dari dalam tas, lalu membawa pakaian ganti ke dalam kamar mandi. Sedang Wahyu ke luar dari kamar, dan menutup pintu kamarnya.
☘☘🏵BERSAMBUNG🏵☘☘
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Nur Cahaya Cinta BAB. 19
Nur ke luar dari kamar setelah selesai mandi. Nur mengernyitkan keningnya saat tak melihat siapa-siapa di ruang tengah."Kak!" Nur memanggil Wahyu yang tidak terlihat, ia menuju ruang tamu. Dilihatnya Wahyu menutup pintu pagar dengan payung di tangannya. Nur menunggu Wahyu di teras rumah, Wahyu berjalan mendekatinya."Sudah pulang ya, Kak""Iya""Aku jadi malu, pasti ibu pikir aku ....""Aku sudah jelaskan ke ibu dan nenek, kalau kamu kelelahan karena harus kerja rodi semalam" Wahyu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nur."Kerja rodi?""Hmmm, yang tadi malam""Yang tadi malam?" Nur mendongakan wajahnya dengan kening berkerut menatap Wahyu, ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Wahyu dengan kerja rodi.
Nur Cahaya Cinta BAB. 18
Begitu melihat nama orang yang menelponnya, Wahyu memutuskan untuk mengabaikannya. Ia hanya mematikan suara ponselnya. Wahyu kembali naik ke atas ranjang. Sebelumnya ia melepas celananya, mata Nur melotot saat melihat Wahyu yang tanpa busana. Cepat Nur membuang pandangannya, jantungnya berdegup lebih cepat lagi, ia merasa tubuhnya panas dingin jadinya.Wahyu langsung menindih Nur yang masih memakai penutup segi tiganya."Siapa Kak?" Tanya Nur saat tatapan mereka bertemu. "Tata" jawab Wahyu singkat."Tata?" Nur mengernyitkan keningnya, karena merasa asing dengan nama itu."Orang yang ingin beli rumah""Kenapa tidak dijawab, Kak""Saat ini, ini lebih penting dari segalanya" Wahyu mengecup bibir Nur, membuat Nur tersipu ka
Nur Cahaya Cinta BAB. 17
Sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka, meski Wahyu cukup berpengalaman dalam hal wanita, tapi baginya tetaplah ini menjadi hal yang berbeda. Ia belum sampai pada tahap 'bercinta' dengan teman wanitanya.Nur merapikan rambutnya yang tergerai, digelungnya asal, rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Wahyu menolehkan kepalanya. Ditatap dari samping, lekukan bibir Nur terlihat sangat seksi. "Aku kembali ke kamarku ya Kak" pamit Nur pada Wahyu. Ia merasa jengah duduk berduaan tanpa ada yang dibicarakan."Nur" Wahyu menahan lengan Nur yang ingin berdiri. Wahyu menggeser duduknya lebih dekat. Nur menolehkan kepalanya, tangan Wahyu terangkat, dibukanya gelungan rambut Nur, sehingga rambut Nur tergerai kembali. Mata Nur mengerjap gelisah, ia merasa berdebar-debar karena paha Wahyu yang masih terbungkus celana pendek menempel di pahanya yang tertutup daster panjangnya.Jemari Wahyu meraih dagu Nur. Mata Wahyu menatap
Nur Cahaya Cinta BAB. 16
Makan malam mereka berjalan dalam kesunyian, sesekali Wahyu melirik Nur. Ia gemas sekali melihat pipi Nur saat Nur mengunyah makanannya. Pipi itu benar-benar seperti bakpao berwarna coklat saja. Jemari Nur yang pendek dan terlihat gemuk tidak luput dari rasa gemasnya. Rasanya Wahyu ingin menggigitnya.'Argghh, ini semua karena mimpi tadi, kenapa semua yang ada pada Nur jadi terasa menggemaskan. Padahal selama ini aku sukses mengabaikannya, tapi...argghhhh'Tanpa sadar Wahyu menggerutukan giginya, karena kesal pada dirinya sendiri. Niatnya mendekati Nur agar rencananya untuk membuat Nur hamil sebelum 6 bulan terlaksana, tanpa harus ada embel-embel cinta. Tapi sekarang justru hatinya yang mulai liar, tak bisa untuk diperintah otaknya.Nur menjilat bibirnya, lalu meneguk air minumnya. Wahyu menundukan kepalanya, menutup matanya, mengutuki dirinya.'Ya Allah, apa ini hukumanmu atas sikapku
Nur Cahaya Cinta BAB. 15
Nur pulang ikut dengan Lisna, teman kerjanya yang naik motor. Tapi hujam yang mendadak turun membuat mereka harus berteduh di emperan sebuah ruko. Dan seperti beberapa hari yang lalu, Nur kembali bertemu dengan Raffi di situ. Raffi tidak sendirian, ia bersama Arif temannya. Merekapun terlibat pembicaraan yang mengasyikan, sambil menunggu hujan mulai reda. Tapi, hari mulai gelap, hujan tak kunjung reda juga, justru seperti bertambah derasnya. Nur jadi khwatir kalau Wahyu lebih dulu tiba di rumah sebelum dirinya.Tiba-tiba sebuah mobil berbelok ke halaman ruko tempat Nur berteduh. Nur tahu betul siapa pemilik mobil itu. Nur melangkah untuk mendekati mobil. Dan benar dugaannya, kalau Wahyulah yang berada di dalam mobil itu."Kak Wahyu!""Masuk""Sebentar Kak, aku pamit dulu sama temanku" sahut Nur, Nur berpamitan pada Lisna, Raffi, dan Arif. Setelah itu baru ia masuk ke dalam mobil Wahyu. Nur melirik Wahyu ya
Nur Cahaya Cinta BAB. 14
Nur menatap mobil Wahyu sampai hilang dari pandangannya.Nur masuk lewat pintu yang ada di samping butik."Assalamuallaikum" Nur mengucap salam begitu membuka pintu."Walaikum salam, diantar siapa Nur?" Tanya Bunda Aira."Kak Wahyu" jawab Nur dengan rona merah di wajahnya."Tumben diantar suami""Karena hujan Bunda, jadi diantar""Ehmm, ayo Nur masuk ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Bunda Aira menggamit lengan Nur."Ada apa ya Bunda?""Jangan tegang dan cemas begitu, ayo duduk" Bunda Aira mempersilahkan Nur untuk duduk di depannya."Begini Nur, butik kita akan meluncurkan produk terbaru, dan aku butuh bantuanmu untuk itu" "Butuh bantunku bagaimana ya Bunda? Aku kan kerja di sini, sudah pasti aku akan membantu Bunda semampu aku bisa" "Ini bukan tentang pekerjaanmu memasang payet, kancing, dan sebagainya, Nur""Lalu tentang apa, Bunda?""Aku ingin kau jadi model produk terbaru butik kit
Nur Cahaya Cinta BAB. 13
Suara ketukan di pintu kamar mengagetkannya. Nur membuka pintu kamar dan menemui Wahyu yang berdiri di depannya."Oleskan salep ini di kulitmu yang terkena air panas tadi" Wahyu mengangsurkan salep di tangannya pada Nur."Terimakasih Kak" Nur menerima salep yang disodorkan Wahyu.
Nur Cahaya Cinta BAB. 12
Listrik belum menyala juga. Nur meletakan di atas meja 3 batang lilin yang masing-masing ia tempatkan dibekas kaleng kue berwarna biru tua yang berukuran kecil. Kue kering yang di atasnya bertabur gula, kue kering paling digemari oleh Wahyu. Nur t
Nur Cahaya Cinta BAB. 11
"Baiklah, aku pergi. Tapi jika Kak Wahyu membutuhkan bantuanku kapanpun juga, aku akan selalu siap membantu" tanpa rasa malu sedikitpun, Henny bangkit dari duduknya. Wahyu tetap diam di kursinya."Aku pergi""Hmmm" Wahyu menganggukan kepalanya. Ditatapnya punggung Henny yang k
Nur Cahaya Cinta BAB. 10
Nur dan Wahyu sudah berada di dalam mobil Wahyu. Sikap keduanya lebih canggung dari biasanya. Tak ada satupun yang bersuara, bahkan diantara mereka berdua, seperti tak ada yang terdengar bernapas saja. Sunyi senyap di antara mereka berdua. Wahyu memarkir mobilnya di garasi rumah orang t
