Download the book for free
BAB. 6
Author: Rustina ZahraSetelah sholat Isya, dan makan malam. Nur membereskan meja makan, dan langsung mencuci semua perabotan yang kotor, dibantu oleh asisten rumah tangga orang tua Wahyu.
"Nur!" Tiba-tiba ibu Wahyu memanggil."Ya Bu." Nur menolehkan kepala, lalu memutar tubuhnya, untuk bisa berdiri berhadapan dengan ibu mertuanya. "Kalau besok mau menengok orang tuamu, atau mau sekalian ke rumah orang tua Cantika, kamu pergi saja ya. Biar nanti Paman Akim yang mengantarmu. Karena besok Wahyu, Bayu, dan Ayah mau meninjau lokasi perumahan yang baru." Ibu Wahyu menatap wajah Nur. Nur adalah menantu pertama baginya."Iya Bu." Kepala Nur mengangguk pelan. Bibirnya menyunggingkan senyuman."Ya sudah, kalau semua sudah selesai, kamu istirahat saja Nur." Ibu Wahyu menepuk lembut lengan Nur."Ya Bu." Nur kembali menganggukan kepala. Kebaikan keluarga Wahyu, menjadi salah satu alasan, ia tetap bertahan dalam pernikahan yang memberinya kesedihan."Ibu duluan masuk ke kamar ya.""Iya Bu."Ibu Wahyu meninggalkan dapur, tinggal Nur, dan Acil Jannah, ART orang tua Wahyu di dapur.
"Kamu beruntung, Nur. Memiliki mertua sangat baik. Tidak cerewet, tidak pemarah, tidak terlalu menuntut, dan tidak ingin mengatur rumah tangga anaknya," ujar Acil Jannah.
"Alhamdulillah, semua sangat baik. Aku memang sangat beruntung bisa menjadi bagian dari keluarga ini," sahut Nur.
Setelah semuanya selesai, Nur langsung masuk ke dalam kamar. Ia tahu Wahyu, Bayu, dan Ayahnya sedang berbincang di ruang tengah. Itu membuat Nur merasa lebih santai perasaannya.Nur membuka lemari, ia mencari selimut, dan seprai. Ia memutuskan untuk tidur di atas lantai saja, dengan alas seprai. Nur membuka lipatan seprai, tapi tidak ia buka seluruhnya. Lalu digelar di atas lantai, di sudut kamar, dekat dengan dinding. Diambil bantal dari atas ranjang, lalu dibaringkan tubuhnya perlahan, tanpa ia melepaskan hijabnya. Nur memilih posisinya sekarang, agar saat Wahyu berbaring di ranjang, pandangannya tidak langsung pada Nur.
Nur memejamkan mata, ia berdoa sebelum mengistirahatkan semua panca inderanya. Nur menarik napas dalam, lalu dihembuskan perlahan. Ia sudah memutuskan, hanya akan mengikuti arus ke mana akan membawanya. Jika Wahyu tak bisa menerimanya, ia tak akan memaksa. Jika Wahyu ingin mereka berpisah, ia pun akan menurut saja. Jika Wahyu ingin hubungan mereka begini selamanya, ia akan bersabar menerimanya. Saat ini ia sedang memikirkan untuk kembali melanjutkan pendidikannya. Ia bisa kuliah setelah pulang dari bekerja, tapi ia harus menabung dulu untuk mewujudkan keinginannya itu.
'Ya Allah, jika takdir hidupku harus begini, aku pasrah pada kehendakMu. Aku hanya ingin memohon, agar Kau lapangkan dadaku untuk menerima semua yang sudah Kau gariskan untukku, aamiin'
***
Nur terbangun dari tidurnya, ditolehkan kepala ke arah ranjang. Keningnya berkerut dalam, karena ranjang itu kosong. Tidak ada Wahyu di sana. Nur mengusap wajahnya, ditarik napas perlahan, terasa sesak di dadanya. Ada air mata yang menggantung di pelupuk matanya.
'Sebenci itukah Kak Wahyu kepadaku, sampai ia tak ingin tidur satu kamar denganku, meski hanya untuk sebuah sandiwara saja'
Batin Nur terasa perih, tapi ia sudah memutuskan untuk bertahan. Mengalah bukan berarti kalah, diam bukan berarti terdiam. Ada hal lebih besar yang ingin dilakukannya, dari pada hanya sekedar bersedih, karena memikirkan sikap Wahyu yang mengabaikannya.
Nur bangun dari berbaring, ia merapikan letak jilbabnya, lalu ia menatap jam yang ada di dinding kamar. 02.15, entah Wahyu tidur di mana, Nur enggan untuk memikirkannya.
Nur ke luar dari kamar, ia berniat mengambil minum di dapur. Begitu ia membuka pintu kamar, suara televisi terdengar dari arah ruang tengah. Nur melangkah ke ruang tengah, ternyata ada Wahyu, dan Bayu yang sedang asik menonton sepak bola."Nur!" Bayu adalah orang pertama yang menyadari kehadirannya.
"Kedinginan ya Nur tidur sendirian? Kak Wahyu nih pakai acara ikut nonton bola segala. Sudah Kak, masuk sana!' Usir Bayu ditujukan pada Kakaknya. Tapi Wahyu seperti tidak mendengarkan ucapan adiknya, tatapannya fokus ke layar televisi di depannya."Aku haus, cuma ingin mengambil air minum ke dapur, mendengar suara televisi, aku pikir televisinya lupa dimatikan. Permisi, aku ingin ke dapur," pamit Nur."Nur, tolong buatkan kami kopi sekalian ya," pinta Bayu."Baik Kak." Nur menganggukan kepala. Dilirik Wahyu sekilas, tapi yang dilirik tak menghiraukannya sedikitpun juga.Nur kembali ke ruang tengah, dengan nampan berisi dua gelas kopi, dan sebotol kecil air mineral beserta gelas kosong. Diletakannya dua gelas kopi di atas meja, di depan Wahyu, dan Bayu.
"Terimakasih Nur." ucap Bayu."Sama-sama Kak." Nur tersenyum pada Bayu."Kak Wahyu bilang terimakasihnya nanti di dalam kamar saja, iyakan Kak," goda Bayu."Hmmm" Wahyu hanya bergumam saja."Aku kembali ke kamar ya," pamit Nur, sebelum meninggalkan dua saudara yang tengah asik menonton siaran langsung sepak bola.Nur meletakan nampan berisi air mineral, dan gelas kosong di atas meja. Sebenarnya ia sudah minum tadi di dapur, tapi ia tetap membawa air ke kamar, takut terbangun, dan haus lagi nantinya. Nur kembali membaringkan tubuhnya di tempat semula. Ia berusaha untuk kembali tidur lagi. Tapi pembicaraan siang tadi dengan ibu, dan nenek Wahyu mengganggu pikirannya. Ia kasihan pada nenek Wahyu yang sudah sangat tua, beliau mengharapkan bisa melihat buah dari pernikahan mereka. Tapi kunci dari semua itu ada di tangan Wahyu. Wahyu yang tidak mau memperlakukan dirinya, sebagaimana seharusnya seorang suami memperlakukan istrinya.
Nur terjengkit bangun saat pintu kamar dibuka. Wahyu berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengarah kepadanya.
Tatapan mereka bertemu sesaat, kemudian Wahyu menutup, dan mengunci pintu. Ia masuk ke dalam kamar mandi. Nur menarik napas dalam, sebelum kembali membaringkan tubuhnya. Ia berbaring dengan membelakangi ranjang.Wahyu menatap wajahnya di cermin.
'Syukurlah dia tahu diri, tidak tidur di atas ranjangku' gumam Wahyu di dalam hatinya.
Wahyu menatap wajahnya sendiri di dalam cermin dengan sangat intens. Pembicaraan dengan neneknya siang tadi terngiang di telinganya. Neneknya sangat ingin melihat buyutnya, itu satu-satunya harapan beliau saat ini. Wahyu memejamkan mata, menarik napas sedalam-dalamnya.
'Aku bisa saja memenuhi keinginan nenek, tapi masalahnya aku tidak yakin bisa menerima Nur tidur di atas tempat tidurku. Aku tidak yakin bisa membangkitkan hasrat di dalam diriku kepadanya. Nur, tidak ada menarik-menariknya sebagai seorang wanita. Kulit wajahnya hitam, punggung tangannya hitam, dan aku yakin sekuruh tubuhnya juga hitam, meski aku belum pernah melihat bagian tubuhnya yang lain. Hhhh maafkan aku nenek, mungkin aku tidak akan bisa memenuhi keinginanmu'
Wahyu ke luar dari kamar mandi. Tanpa sadar matanya mengarah kepada Nur yang tidur membelakanginya. Wahyu membaringkan tubuhnya, pikiran tentang ucapan neneknya membuatnya terus terjaga, dan begitupun dengan Nur juga. Matanya terpejam, tapi pikirannya berkelana.
BERSAMBUNG
Share the book to
Facebook
Twitter
Whatsapp
Reddit
Copy Link
Latest chapter
Nur Cahaya Cinta BAB. 19
Nur ke luar dari kamar setelah selesai mandi. Nur mengernyitkan keningnya saat tak melihat siapa-siapa di ruang tengah."Kak!" Nur memanggil Wahyu yang tidak terlihat, ia menuju ruang tamu. Dilihatnya Wahyu menutup pintu pagar dengan payung di tangannya. Nur menunggu Wahyu di teras rumah, Wahyu berjalan mendekatinya."Sudah pulang ya, Kak""Iya""Aku jadi malu, pasti ibu pikir aku ....""Aku sudah jelaskan ke ibu dan nenek, kalau kamu kelelahan karena harus kerja rodi semalam" Wahyu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nur."Kerja rodi?""Hmmm, yang tadi malam""Yang tadi malam?" Nur mendongakan wajahnya dengan kening berkerut menatap Wahyu, ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Wahyu dengan kerja rodi.
Nur Cahaya Cinta BAB. 18
Begitu melihat nama orang yang menelponnya, Wahyu memutuskan untuk mengabaikannya. Ia hanya mematikan suara ponselnya. Wahyu kembali naik ke atas ranjang. Sebelumnya ia melepas celananya, mata Nur melotot saat melihat Wahyu yang tanpa busana. Cepat Nur membuang pandangannya, jantungnya berdegup lebih cepat lagi, ia merasa tubuhnya panas dingin jadinya.Wahyu langsung menindih Nur yang masih memakai penutup segi tiganya."Siapa Kak?" Tanya Nur saat tatapan mereka bertemu. "Tata" jawab Wahyu singkat."Tata?" Nur mengernyitkan keningnya, karena merasa asing dengan nama itu."Orang yang ingin beli rumah""Kenapa tidak dijawab, Kak""Saat ini, ini lebih penting dari segalanya" Wahyu mengecup bibir Nur, membuat Nur tersipu ka
Nur Cahaya Cinta BAB. 17
Sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka, meski Wahyu cukup berpengalaman dalam hal wanita, tapi baginya tetaplah ini menjadi hal yang berbeda. Ia belum sampai pada tahap 'bercinta' dengan teman wanitanya.Nur merapikan rambutnya yang tergerai, digelungnya asal, rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Wahyu menolehkan kepalanya. Ditatap dari samping, lekukan bibir Nur terlihat sangat seksi. "Aku kembali ke kamarku ya Kak" pamit Nur pada Wahyu. Ia merasa jengah duduk berduaan tanpa ada yang dibicarakan."Nur" Wahyu menahan lengan Nur yang ingin berdiri. Wahyu menggeser duduknya lebih dekat. Nur menolehkan kepalanya, tangan Wahyu terangkat, dibukanya gelungan rambut Nur, sehingga rambut Nur tergerai kembali. Mata Nur mengerjap gelisah, ia merasa berdebar-debar karena paha Wahyu yang masih terbungkus celana pendek menempel di pahanya yang tertutup daster panjangnya.Jemari Wahyu meraih dagu Nur. Mata Wahyu menatap
Nur Cahaya Cinta BAB. 16
Makan malam mereka berjalan dalam kesunyian, sesekali Wahyu melirik Nur. Ia gemas sekali melihat pipi Nur saat Nur mengunyah makanannya. Pipi itu benar-benar seperti bakpao berwarna coklat saja. Jemari Nur yang pendek dan terlihat gemuk tidak luput dari rasa gemasnya. Rasanya Wahyu ingin menggigitnya.'Argghh, ini semua karena mimpi tadi, kenapa semua yang ada pada Nur jadi terasa menggemaskan. Padahal selama ini aku sukses mengabaikannya, tapi...argghhhh'Tanpa sadar Wahyu menggerutukan giginya, karena kesal pada dirinya sendiri. Niatnya mendekati Nur agar rencananya untuk membuat Nur hamil sebelum 6 bulan terlaksana, tanpa harus ada embel-embel cinta. Tapi sekarang justru hatinya yang mulai liar, tak bisa untuk diperintah otaknya.Nur menjilat bibirnya, lalu meneguk air minumnya. Wahyu menundukan kepalanya, menutup matanya, mengutuki dirinya.'Ya Allah, apa ini hukumanmu atas sikapku
Nur Cahaya Cinta BAB. 15
Nur pulang ikut dengan Lisna, teman kerjanya yang naik motor. Tapi hujam yang mendadak turun membuat mereka harus berteduh di emperan sebuah ruko. Dan seperti beberapa hari yang lalu, Nur kembali bertemu dengan Raffi di situ. Raffi tidak sendirian, ia bersama Arif temannya. Merekapun terlibat pembicaraan yang mengasyikan, sambil menunggu hujan mulai reda. Tapi, hari mulai gelap, hujan tak kunjung reda juga, justru seperti bertambah derasnya. Nur jadi khwatir kalau Wahyu lebih dulu tiba di rumah sebelum dirinya.Tiba-tiba sebuah mobil berbelok ke halaman ruko tempat Nur berteduh. Nur tahu betul siapa pemilik mobil itu. Nur melangkah untuk mendekati mobil. Dan benar dugaannya, kalau Wahyulah yang berada di dalam mobil itu."Kak Wahyu!""Masuk""Sebentar Kak, aku pamit dulu sama temanku" sahut Nur, Nur berpamitan pada Lisna, Raffi, dan Arif. Setelah itu baru ia masuk ke dalam mobil Wahyu. Nur melirik Wahyu ya
Nur Cahaya Cinta BAB. 14
Nur menatap mobil Wahyu sampai hilang dari pandangannya.Nur masuk lewat pintu yang ada di samping butik."Assalamuallaikum" Nur mengucap salam begitu membuka pintu."Walaikum salam, diantar siapa Nur?" Tanya Bunda Aira."Kak Wahyu" jawab Nur dengan rona merah di wajahnya."Tumben diantar suami""Karena hujan Bunda, jadi diantar""Ehmm, ayo Nur masuk ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Bunda Aira menggamit lengan Nur."Ada apa ya Bunda?""Jangan tegang dan cemas begitu, ayo duduk" Bunda Aira mempersilahkan Nur untuk duduk di depannya."Begini Nur, butik kita akan meluncurkan produk terbaru, dan aku butuh bantuanmu untuk itu" "Butuh bantunku bagaimana ya Bunda? Aku kan kerja di sini, sudah pasti aku akan membantu Bunda semampu aku bisa" "Ini bukan tentang pekerjaanmu memasang payet, kancing, dan sebagainya, Nur""Lalu tentang apa, Bunda?""Aku ingin kau jadi model produk terbaru butik kit
Nur Cahaya Cinta BAB. 9
"Aku mau lewat, Kakak mau ke ...." Nur menghentikan ucapannya, saat Wahyu berbalik dan pergi meninggalkannya. Wahyu ke luar dari kamar tanpa mengucapkan apa-apa. Nur menatap punggung Wahyu dengan resah di dalam dadanya. Sampai subuh Nur tak bisa memejamkan matanya, dan Wahyu kembali lag
Nur Cahaya Cinta BAB. 8
"Kita harus bicara soal keinginan nenek. Ini memang rumit, dan ....""Ini bukan masalah rumit, Kak. Kakaklah yang membuat ini jadi rumit" potong Nur cepat."Apa maksudmu?" Wahyu membalas tatapan Nur yang terarah tepat ke matanya."Pilihan ada di tangan Kakak. Jika Kakak t
Nur Cahaya Cinta BAB. 13
Suara ketukan di pintu kamar mengagetkannya. Nur membuka pintu kamar dan menemui Wahyu yang berdiri di depannya."Oleskan salep ini di kulitmu yang terkena air panas tadi" Wahyu mengangsurkan salep di tangannya pada Nur."Terimakasih Kak" Nur menerima salep yang disodorkan Wahyu.
Nur Cahaya Cinta BAB. 12
Listrik belum menyala juga. Nur meletakan di atas meja 3 batang lilin yang masing-masing ia tempatkan dibekas kaleng kue berwarna biru tua yang berukuran kecil. Kue kering yang di atasnya bertabur gula, kue kering paling digemari oleh Wahyu. Nur t
