loading
Home/ All /Nur Cahaya Cinta/BAB. 4

BAB. 4

Author: Rustina Zahra
"publish date: " 2020-09-19 14:50:26

Setelah Nur pergi, Wahyu terdiam di tempatnya, meski Nur tidak mengungkapkan secara nyata, tapi Wahyu tahu kalau Nur merasa marah kepadanya, itu bisa ia rasakan dari nada bicara, dan sikap Nur.

Wahyu tidak ingin berpura-pura bisa menerima Nur. Ia ingin Nur tahu, kalau ia tidak tertarik sedikitpun pada Nur. Tapi untuk berpisah dengan Nur ia belum bisa, karena kondisi kesehatan Neneknya. Neneknya ternyata yang mengusulkan pada kedua orang tuanya agar ia menikahi Nur. Wahyu tidak ingin kondisi kesehatan Neneknya semakin memburuk, kalau ia, dan Nur berpisah.

Wahyu menatap makanan di hadapannya. Sop ikan haruan sungguh menggodanya, apa lagi ia merasa sangat lapar, karena belum makan sejak semalam. Biasanya kalau tidak makan di luar, Wahyu makan dengan memesan on line. Tapi karena sakit sejak tadi malam, ia merasa tidak ada selera makan. Baru pagi ini, Wahyu merasakan perutnya lapar.

Wahyu mulai menyuap makanannya, ia terdiam sejenak untuk merasakan masakan Nur yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Harus ia akui kalau rasanya enak, lebih enak dari sop haruan buatan ibunya. Wahyu terus mengunyah, tanpa terasa makanan di piring, dan di mangkok sudah berpindah semua ke dalam mulutnya.

Wahyu menatap piring, dan mangkok kosong di depannya dengan perasaan gamang. Tak bisa ia ingkari, masakan Nur sangat enak. Menggugah selera makan, sehingga semua yang Nur hidangkan, habis tak bersisa ia makan.

'Harus kuakui, masakan Nur enak' puji Wahyu di dalam hatinya. Wahyu mengelus perutnya yang terasa kenyang.

Wahyu masuk ke kamar, mengambil obat di atas meja. Lalu ia kembali ke ruang tengah, dan kembali duduk di sofa. Di minum obat, setelahnya ia kembali berbaring, sambil menikmati acara televisi. Tanpa sadar ia tertidur di sofa di depan televisi.

☘☘🏵☘☘

Meski merasa marah pada Wahyu, tapi Nur merasa hatinya tidak tenang, karena meninggalkan Wahyu yang sedang sakit sendirian. Ia tidak bisa konsentrasi bekerja, dan klrasa gelisahanya terbaca oleh Bunda Aira pemilik butik. Bunda Aira mendekati Nur, yang tampak jelas terlihat tidak seperti biasanya.

"Kamu baik-baik saja, Nur?" Tanya Bunda Aira.

"Iya, Bun." Nur tersenyum, sambil menganggukkan kepala.

"Tapi kamu kelihatan tidak tenang, kalau kamu merasa kurang enak badan, sebaiknya istirahat saja." Bunda Aira menyentuh lembut bahu Nur.

"Maaf Bun, kalau boleh saya ingin pulang." Akhirnya Nur mengungkapkan juga keinginannya.

"Tentu saja boleh, pulang, dan istirahatlah. Kamu ingin pulang sendiri atau ingin diantar supirku, Nur? Aku takut kamu tidak bisa mengayuh sepedamu dalam keadaan kurang sehat" tawar Bunda Aira.

"Insya Allah saya masih kuat naik sepeda, Bun," jawab Nur, ia tidak ingin merepotkan bossnya yang sangat baik.

"Ya sudah, pulanglah. Kalau ada apa-apa kabari saja Bunda ya." Bunda Aira kembali mengusap lembut bahu Nur.

"Iya Bun, terimakasih banyak." Nur menganggukkan kepala, lalu bangkit dari duduk, dan membereskan pekerjaannya.

Nur berpamitan pada Bunda Aira, dan  teman-temannya. Setelah itu ia segera pulang dengan mengayuh sepeda seperti hari-hari sebelumnya.

Tiba di rumah, Nur segera membuka kunci pagar, dan memasukan sepedanya. Setelah kembali mengunci pagar, ia membuka kunci pintu depan. Nur masuk ke dalam rumah, ia tergugu di tempatnya saat tiba di ruang tengah. Televisi masih menyala, tapi yang menonton tengah tertidur di atas sofa. Wahyu terlihat sangat lelap dalam tidurnya, tidak terpengaruh oleh suara dari televisi yang menyala.

Perlahan Nur mengambil piring, mangkok, dan gelas bekas Wahyu. Dibawa ke dapur, dan langsung ia cuci. Setelah selesai, Nur membuka pintu kulkas, di dalam kulkas masih ada sayur, dan ikan yang dibelinya. Nur mengambil bayam, labu merah, kacang panjang, dan gambas,dari kulkas. Begitu pintu kulkas ditutup, ia terperanjat, dan bergerak mundur. Sayur di tangannya jatuh berhamburan di lantai dapur.

"Haaa! Astaghfirullah hal adzim!" Nur berseru kaget, ia mengusap dadanya,  karena keberadaan Wahyu, yang tiba-tiba saja ada di hadapannya.

"Kamu sedang apa?" Tanya Wahyu dingin.

"Mau masak makan siang, Kak." sahut Nur sambil berjongkok memunguti sayuran.

"Beberapa hari ini mungkin aku harus makan masakanmu, nanti kamu hitung saja berapa aku harus membayar semua yang aku makan," ucap Wahyu, ia berbalik, dan pergi tanpa menunggu jawaban dari Nur. Nur menatap Wahyu dengan mata berkaca-kaca.

'Jika Kak Wahyu tidak bisa menganggapku sebagai istri, tidak bisakah Kak Wahyu menganggapku sebagai teman. Agar hubungan kita tidak sedingin, dan sekaku ini'

Ingin sekali Nur mengucapkan kalimat itu, tapi sayangnya ia hanya bisa menyimpan di dalam hatinya. Setelah meletakan sayuran di atas meja dapur, Nur berniat mengambil ikan di dalam kulkas. Tapi suara bell dari pagar depan membuatnya membatalkan niatnya. Setengah berlari Nur ke luar dari dapur.

"Biar aku yang buka, Kak," ujar Nur saat melihat Wahyu berusaha bangkit dari berbaringnya di sofa.

Ternyata yang datang adalah Bayu adik Wahyu.

"Assalamuallaikum, Nur."

"Walaikum salam Kak Bayu" meski Bayu adik iparnya, tapi tidak merubah panggilannya kepada Bayu. Nur mendorong pintu pagar, agar mobil Bayu bisa masuk ke halaman rumah. Setelah Bayu memasukan mobil, Nur kembali menutup pagarnya.

Bayu turun dari mobil dengan beberapa map di tangannya.

"Kak Wahyu sakit ya Nur?"

"Iya Kak."

"Sudah ke dokter?"

"Belum, kalau bisa Kak Bayu saja yang membawa Kak Wahyu ke dokter, kalau menyetir sendiri takut kenapa-kenapa."

"Makanya kamu belajar menyetir, Nur, masa Ibu Boss tidak bisa menyetir."

Nur hanya tersenyum mendengar ucapan adik iparnya.

"Kak Bayu ingin minum apa?" Tanya Nur pada adik iparnya.

"Es sirop saja Nur."

"Baik Kak." Nur segera masuk ke dapur.

"Bayu!" Wahyu menatap Bayu yang langsung duduk di sofa single, di samping sofa yang jadi tempatnya berbaring.

"Mau aku antar ke dokter?" Tawar Bayu.

"Tidak perlu, aku hanya demam biasa. Aku sudah minum obat," jawab Wahyu.

"Aku membawa berkas yang harus segera Kakak tanda tangani." Bayu menunjuk berkas yang ia letakan di atas meja.

"Sekarang?" Wahyu menatap Bayu.

"Tahun depan, ya sekaranglah Kak. Kalau nanti buat apa aku antar ke sini." Bayu menjawab dengan wajah cemberut.

Nur datang dengan segelas es sirop, dan segelas teh hangat di atas nampan yang dibawanya.

"Kak Bayu mau ikut makan siang di sini?" Tanya Nur.

"Masak apa Nur?" Bayu balik bertanya.

"Sayur bening, ikan sepat siam goreng, sama sambal acan," jawab Nur.

"Waah siip tuh, aku makan siang di sini saja, sesekali merasakan masakan kakak ipar, ayo aku bantu Nur biar cepat," sahut Bayu sambil terkekeh, lalu ia bangkit dari duduknya, dan mengikuti langkah Nur menuju dapur. Wahyu diam saja, ia meraih map-map yang dibawa oleh Bayu, dan mulai memeriksanya satu persatu, sebelum ia tanda tangani. 

Wahyu mengangkat kepala dari berkas-berkas di depannya, saat mendengar tawa Bayu, dan Nur dari dalam dapur. Entah apa yang mereka bicarakan, sehingga tawa mereka terdengar begitu riang.

☘☘🏵BERSAMBUNG🏵☘☘

Want to know what happens next?
Continue Reading
Previous Chapter
Next Chapter

Share the book to

  • Facebook
  • Twitter
  • Whatsapp
  • Reddit
  • Copy Link

Latest chapter

Nur Cahaya Cinta   BAB. 19

Nur ke luar dari kamar setelah selesai mandi. Nur mengernyitkan keningnya saat tak melihat siapa-siapa di ruang tengah."Kak!" Nur memanggil Wahyu yang tidak terlihat, ia menuju ruang tamu. Dilihatnya Wahyu menutup pintu pagar dengan payung di tangannya. Nur menunggu Wahyu di teras rumah, Wahyu berjalan mendekatinya."Sudah pulang ya, Kak""Iya""Aku jadi malu, pasti ibu pikir aku ....""Aku sudah jelaskan ke ibu dan nenek, kalau kamu kelelahan karena harus kerja rodi semalam" Wahyu masuk ke dalam rumah diikuti oleh Nur."Kerja rodi?""Hmmm, yang tadi malam""Yang tadi malam?" Nur mendongakan wajahnya dengan kening berkerut menatap Wahyu, ia sungguh tidak mengerti apa yang dimaksud Wahyu dengan kerja rodi.

Nur Cahaya Cinta   BAB. 18

Begitu melihat nama orang yang menelponnya, Wahyu memutuskan untuk mengabaikannya. Ia hanya mematikan suara ponselnya. Wahyu kembali naik ke atas ranjang. Sebelumnya ia melepas celananya, mata Nur melotot saat melihat Wahyu yang tanpa busana. Cepat Nur membuang pandangannya, jantungnya berdegup lebih cepat lagi, ia merasa tubuhnya panas dingin jadinya.Wahyu langsung menindih Nur yang masih memakai penutup segi tiganya."Siapa Kak?" Tanya Nur saat tatapan mereka bertemu. "Tata" jawab Wahyu singkat."Tata?" Nur mengernyitkan keningnya, karena merasa asing dengan nama itu."Orang yang ingin beli rumah""Kenapa tidak dijawab, Kak""Saat ini, ini lebih penting dari segalanya" Wahyu mengecup bibir Nur, membuat Nur tersipu ka

Nur Cahaya Cinta   BAB. 17

Sesaat hanya kesunyian yang ada di antara mereka, meski Wahyu cukup berpengalaman dalam hal wanita, tapi baginya tetaplah ini menjadi hal yang berbeda. Ia belum sampai pada tahap 'bercinta' dengan teman wanitanya.Nur merapikan rambutnya yang tergerai, digelungnya asal, rambut panjangnya yang hitam bergelombang. Wahyu menolehkan kepalanya. Ditatap dari samping, lekukan bibir Nur terlihat sangat seksi. "Aku kembali ke kamarku ya Kak" pamit Nur pada Wahyu. Ia merasa jengah duduk berduaan tanpa ada yang dibicarakan."Nur" Wahyu menahan lengan Nur yang ingin berdiri. Wahyu menggeser duduknya lebih dekat. Nur menolehkan kepalanya, tangan Wahyu terangkat, dibukanya gelungan rambut Nur, sehingga rambut Nur tergerai kembali. Mata Nur mengerjap gelisah, ia merasa berdebar-debar karena paha Wahyu yang masih terbungkus celana pendek menempel di pahanya yang tertutup daster panjangnya.Jemari Wahyu meraih dagu Nur. Mata Wahyu menatap

Nur Cahaya Cinta   BAB. 16

Makan malam mereka berjalan dalam kesunyian, sesekali Wahyu melirik Nur. Ia gemas sekali melihat pipi Nur saat Nur mengunyah makanannya. Pipi itu benar-benar seperti bakpao berwarna coklat saja. Jemari Nur yang pendek dan terlihat gemuk tidak luput dari rasa gemasnya. Rasanya Wahyu ingin menggigitnya.'Argghh, ini semua karena mimpi tadi, kenapa semua yang ada pada Nur jadi terasa menggemaskan. Padahal selama ini aku sukses mengabaikannya, tapi...argghhhh'Tanpa sadar Wahyu menggerutukan giginya, karena kesal pada dirinya sendiri. Niatnya mendekati Nur agar rencananya untuk membuat Nur hamil sebelum 6 bulan terlaksana, tanpa harus ada embel-embel cinta. Tapi sekarang justru hatinya yang mulai liar, tak bisa untuk diperintah otaknya.Nur menjilat bibirnya, lalu meneguk air minumnya. Wahyu menundukan kepalanya, menutup matanya, mengutuki dirinya.'Ya Allah, apa ini hukumanmu atas sikapku

Nur Cahaya Cinta   BAB. 15

Nur pulang ikut dengan Lisna, teman kerjanya yang naik motor. Tapi hujam yang mendadak turun membuat mereka harus berteduh di emperan sebuah ruko. Dan seperti beberapa hari yang lalu, Nur kembali bertemu dengan Raffi di situ. Raffi tidak sendirian, ia bersama Arif temannya. Merekapun terlibat pembicaraan yang mengasyikan, sambil menunggu hujan mulai reda. Tapi, hari mulai gelap, hujan tak kunjung reda juga, justru seperti bertambah derasnya. Nur jadi khwatir kalau Wahyu lebih dulu tiba di rumah sebelum dirinya.Tiba-tiba sebuah mobil berbelok ke halaman ruko tempat Nur berteduh. Nur tahu betul siapa pemilik mobil itu. Nur melangkah untuk mendekati mobil. Dan benar dugaannya, kalau Wahyulah yang berada di dalam mobil itu."Kak Wahyu!""Masuk""Sebentar Kak, aku pamit dulu sama temanku" sahut Nur, Nur berpamitan pada Lisna, Raffi, dan Arif. Setelah itu baru ia masuk ke dalam mobil Wahyu. Nur melirik Wahyu ya

Nur Cahaya Cinta   BAB. 14

Nur menatap mobil Wahyu sampai hilang dari pandangannya.Nur masuk lewat pintu yang ada di samping butik."Assalamuallaikum" Nur mengucap salam begitu membuka pintu."Walaikum salam, diantar siapa Nur?" Tanya Bunda Aira."Kak Wahyu" jawab Nur dengan rona merah di wajahnya."Tumben diantar suami""Karena hujan Bunda, jadi diantar""Ehmm, ayo Nur masuk ke ruanganku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu" Bunda Aira menggamit lengan Nur."Ada apa ya Bunda?""Jangan tegang dan cemas begitu, ayo duduk" Bunda Aira mempersilahkan Nur untuk duduk di depannya."Begini Nur, butik kita akan meluncurkan produk terbaru, dan aku butuh bantuanmu untuk itu" "Butuh bantunku bagaimana ya Bunda? Aku kan kerja di sini, sudah pasti aku akan membantu Bunda semampu aku bisa" "Ini bukan tentang pekerjaanmu memasang payet, kancing, dan sebagainya, Nur""Lalu tentang apa, Bunda?""Aku ingin kau jadi model produk terbaru butik kit

Nur Cahaya Cinta   BAB. 9

"Aku mau lewat, Kakak mau ke ...." Nur menghentikan ucapannya, saat Wahyu berbalik dan pergi meninggalkannya. Wahyu ke luar dari kamar tanpa mengucapkan apa-apa. Nur menatap punggung Wahyu dengan resah di dalam dadanya. Sampai subuh Nur tak bisa memejamkan matanya, dan Wahyu kembali lag

Nur Cahaya Cinta   BAB. 8

"Kita harus bicara soal keinginan nenek. Ini memang rumit, dan ....""Ini bukan masalah rumit, Kak. Kakaklah yang membuat ini jadi rumit" potong Nur cepat."Apa maksudmu?" Wahyu membalas tatapan Nur yang terarah tepat ke matanya."Pilihan ada di tangan Kakak. Jika Kakak t

Nur Cahaya Cinta   BAB. 13

Suara ketukan di pintu kamar mengagetkannya. Nur membuka pintu kamar dan menemui Wahyu yang berdiri di depannya."Oleskan salep ini di kulitmu yang terkena air panas tadi" Wahyu mengangsurkan salep di tangannya pada Nur."Terimakasih Kak" Nur menerima salep yang disodorkan Wahyu.

Nur Cahaya Cinta   BAB. 12

Listrik belum menyala juga. Nur meletakan di atas meja 3 batang lilin yang masing-masing ia tempatkan dibekas kaleng kue berwarna biru tua yang berukuran kecil. Kue kering yang di atasnya bertabur gula, kue kering paling digemari oleh Wahyu. Nur t

More Chapters
Download the Book
GoodNovel

Download the book for free

Download
Search what you want
Library
Browse
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystemFantasyLGBTQ+ArnoldMM Romancegenre22- Englishgenre26- EnglishEnglishgenre27-Englishgenre28-英语
Short Stories
SkyMystery and suspenseModern urbanDoomsday survivalAction movieScience fiction movieRomantic movieGory violenceRomanceCampusMystery/ThrillerImaginationRebirthEmotional RealismWerewolfhopedreamhappinessPeaceFriendshipSmartHappyViolentGentlePowerfulGory massacreMurderHistorical warFantasy adventureScience fictionTrain station
CreateWriter BenefitContest
Hot Genres
RomanceHistoryUrbanWerwolfMafiaSystem
Contact Us
About UsHelp & SuggestionBussiness
Resources
Download AppsWriter BenefitContent policyKeywordsHot SearchesBook ReviewFanFictionFAQFAQ-IDFAQ-FILFAQ-THFAQ-JAFAQ-ARFAQ-ESFAQ-KOFAQ-DEFAQ-FRFAQ-PTGoodNovel vs Competitors
Community
Facebook Group
Follow Us
GoodNovel
Copyright ©‌ 2026 GoodNovel
Term of use|Privacy